
Sepasang ayah dan anak gadisnya tampak tengah berjalan-jalan santai meninggalkan kediaman yang sudah dirasa tidak lagi menyimpan kenyamanan sebagaimana tempat yang ditinggali oleh sebuah keluarga.
Tanpa mempedulikan sekitar, mereka terlihat berjalan berdampingan sembari bergandeng tangan. Tampak sekali kedekatan yang seolah tak memiliki jarak, padahal ini adalah kali pertama mereka memiliki waktu dan keakraban bersama.
Bohong, bila Rayan tidak ikut merasakan kebahagiaan walau harus berperan sebagai Yu Rayan. Setidaknya ia punya kesempatan untuk tahu seperti apa rasanya di cintai oleh seorang ayah.
"Kau tidak membenci pria tak berguna ini 'kan?" tutur Yu Ran Yuan sendu. Bagaimanapun ia pernah menjadi tak berdaya padahal dia adalah seorang ayah.
Rayan tersenyum mendengarnya. "Ayah menyayangi ku sudah dari lama, benarkan?" bukannya menjawab, Rayan justru memberikan pertanyaan lain.
"Tentu. Jangan katakan kalau aku tidak menyayangi mu. Aku hanya tidak memiliki kemampuan untuk bersikap berani. Aku terlalu pengecut!" tukasnya dengan nada yang semakin lirih. Ia sedih dan marah pada dirinya sendiri.
Rayan lagi-lagi tersenyum. "Kalau ayah sungguh-sungguh menyayangi ku. Maka, aku tidak punya alasan untuk membencimu." dihentikan langkahnya, lalu berbalik menatap tulus Yu Ran Yuan. "Masa lalu yang buruk, bukanlah alasan untuk seseorang membangkitkan rasa benci atau dendam. Sakit memang... Tapi, kalau tidak ada masa lalu yang bagaimanapun ceritanya... Entah baik atau tidak masa lalu itu... Maka, tidak akan pernah ada diri kita yang sekarang disini! Benarkan?" katanya yang mana mampu membuat Yu Ran Yuan berkaca-kaca karena tersentuh, setelahnya iapun menarik sang putri tersayang kedalam pelukannya. Di usap penuh kasih rambut panjang putrinya dengan sesekali dikecup keningnya sayang.
Tak bisa dipungkiri, inilah saat-saat yang paling ia nantikan dalam hidupnya. Walaupun ia sudah memiliki putri lainnya. Tapi, akan beda bila putri satunya tak bisa ia limpahkan kasih sayangnya dengan sama besar seperti putrinya yang lain. Dan kini ia tak akan melewatkan kesempatan yang sudah diberikan.
"Huhuhu... Aku dipeluk... Huhuhu... Aku dipeluk... Aku tidak tahu kalau rasanya akan senyaman ini! Ditambah lagi, ayah Yu Rayan termasuk tampan. Luar biasa! Hahaha!" senangnya dalam hati. Ia hanya membalas pelukan pria paruh baya itu guna mengambil kesempatan untuk berpartisipasi dalam perannya sebagai seorang anak.
Lagipula, ia belum pernah berada dalam posisi seperti ini. Biasanya, dulu dia hanya bisa memeluk kedua sahabatnya. Dan, jelasnya pasti akan berbeda rasanya.
"Terima kasih... Ayah sangat berterima kasih padamu, nak!" setitik air mata pun keluar dari sudut matanya yang terpejam dengan segala rasa bahagia yang membuncah. "Seandainya, ibumu ada disini. Kebahagiaan ku pasti akan lengkap." lanjutnya lirih pedih sembari membayangkan masa lalu dirinya dengan sikap buruknya dulu kepada wanita yang hingga kini masih mengisi ruang hatinya.
"Eum... Ayah!" Rayan mendongak dalam pelukan sang ayah. "Sejak kecil aku tidak pernah mendengar cerita tentang ibuku. Kenapa? Bisakah aku mendengarnya sekarang?" pinta Rayan ingin tahu.
Bukan maksud ingin memiliki kedua orang tua Yu Rayan yang asli, melainkan hanya ingin tahu saja. Siapa tahu, saat ia berkelana nanti dirinya akan mendapat kesempatan untuk bertemu dengan ibu si pemilik tubuh. Bila wanita itu masih hidup. Ia sangat ingin melihat seperti apa rupa wanita yang melahirkan pemilik tubuhnya saat ini. Apakah akan seimut dan se-menggemaskan tubuhnya sekarang ini?!
"Hhh... Tentu saja. Kenapa tidak." senyum teduh di tampakkan. "Tapi, sebelum itu. Kita harus mendatangi suatu tempat lebih dulu. Disana barulah kita akan bicarakan soal apapun yang kamu ingin dengar. Setuju?" saran Yu Ran Yuan. Rayan mengangguk mengiyakan.
Setelahnya, merekapun beranjak pergi ketempat yang akan dituju.
Disinilah mereka berada sekarang. Disebuah rumah kecil di ujung paling belakang kediaman Yu, dimana tempat itu sudah lama tidak di kunjungi bahkan tempatnya sangat tidak terawat. Dulunya tempat itu merupakan paviliun kecil yang menjadi tempat bermain ketiga anak laki-laki di Keluarga Yu -generasi Yu Ran Yuan-, akan tetapi tempat itu sudah tidak lagi terpakai sejak ketiga anak laki-laki itu mulai disibukkan dengan pendidikan menuju kedewasaan dan pada akhirnya paviliun itu terbengkalai dan terlupakan.
Namun, tidak dengan Yu Ran Yuan. Dia selalu mengingatnya. Karena, dengan berada di paviliun itu ia bisa bernostalgia tentang keharmonisan keluarga sebelum sang ibu pergi untuk selamanya. Hingga lambat-laun paviliun tersebut ia ubah menjadi tempat rahasianya dengan merapikan bagian dalam namun tidak untuk bagian luar. Diluar ia biarkan tampak buruk.
"Wah... Ini tempatnya?" sedikit terkejut kala tahu betapa tak terawatnya paviliun yang terpampang di depan matanya.
"Haha... Jangan terkejut begitu. Ini hanya tampilan luarnya saja. Kau akan lebih terkejut kalau melihat apa yang ada didalamnya." tangannya bergerak membuka pintu reyot didepannya. "Kemarilah. Masuk dan lihat..." ajak Yu Ran Yuan.
__ADS_1
Mereka pun melangkah masuk. Dan benar saja, Rayan tak bisa bila tidak terkejut. Didalamnya sungguh indah. Ada banyak karya seni disana, mulai dari patung sampai lukisan. Semuanya terpajang indah didalam sana. Rayan yang notabenenya menyukai keindahan langsung terhipnotis oleh apa yang ia lihat.
Sembari menutup mulutnya yang menganga lebar, ia berkata spontan. "Haa... Astaga! Indah sekali! Ini sungguh luar biasa!" berjalan mendekati salah satu patung yang terbuat dari batu giok. "Lihat ini...!" dielusnya dengan hati-hati, lalu berjalan lagi ke karya seni yang lain. "Ini juga... Ya ampun, aku kehilangan kata-kata..." terus seperti itu hingga ia puas, sedang Yu Ran Yuan hanya menyaksikan tingkah sang putri dari kursi yang ia duduki dekat jendela. Ia senang melihat apa yang ada di depan matanya.
"Rayan sungguh mirip dengan dirimu. Dimana kau sekarang... Aku sungguh minta maaf dan aku merindukanmu..." gumamnya lirih tanpa melepaskan pandangannya dari Yu Rayan.
Usai melihat-lihat, kini Rayan mengambil tempat duduk disamping Yu Ran Yuan yang dihalangi oleh sebuah meja.
"Huh! Ini menakjubkan! Aku sangat terkesan! Ini... Hah... Aku tak bisa mengatakan apapun! Ini... Wow!" kagum Rayan tak ditutup-tutupi.
Yu Ran Yuan tersenyum sembari mengambil sebuah gulungan yang terletak di dalam sebuah kotak berukiran indah nan rumit di atas sebuah meja tak jauh dari tempat pria itu duduk. Dibukanya kotak itu dan diambilnya gulungan yang berada didalamnya.
Ia memandang sesaat gulungan berwarna merah muda itu dengan sendu dan rindu. Rayan hanya mengamatinya dari samping. Yu Ran Yuan menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai...
"Lihatlah. Ini adalah lukisan wajah ibumu yang ayah buat." disodorkan gulungan itu dan Rayan menerimanya.
Melihat sekilas ayah pemilik tubuh sebelum akhirnya ia membukanya. Didalam gulungan itu tampak potret seorang gadis yang cukup imut dan menggemaskan, Rayan yang melihatnya saja sampai tak bisa mengungkapkan kekagumannya pada lukisan itu. Potret wajah ibu si pemilik tubuh bagaikan khayalan atau imajinasi manusia. Sebagaimana yang sering ia lihat di dunia modern dulu. Anime, manga, dan lain sebagainya. Ini luar biasa menurutnya dan jangan lupakan siapa yang melukiskannya.
"Yan Yue. Itulah namanya..." kata Yu Ran Yuan dengan mata terus melihat kearah lukisan yang sedang dipegang oleh Rayan. Mendengar itu Rayan sempat melirik sekilas, kemudian kembali memandangi lukisan seorang perempuan yang ternyata bernama 'Yan Yue'.
"Dia masih sangat muda saat menjadi pelayan di kediaman ini..." Yu Ran Yuan tampak mulai bercerita, matanya mulai menerawang jauh ke masa lalu. Rayan hanya menyimaknya.
"Aku tak ingat pasti berapa usianya... Tapi, sepertinya. Saat itu, ia berusia lebih muda dariku. Jauh lebih muda... Karena saat itu aku sudah menikah dengan Lin An Lie. Tapi, belum dikaruniai anak..." nadanya sendu seakan itu adalah awal dimana ia akan menjemput kesedihannya.
"Dia yang paling menarik perhatian bagi penghuni kediaman Yu. Karena, parasnya yang luar biasa cantik dan menggemaskan. Aku sering mendengar dari pembicaraan para pelayan yang lain, kalau ia sering berusaha merubah tampilannya menjadi buruk rupa. Tapi sayangnya, itu tidak terjadi. Kecantikannya tidak bisa ditutupi meskipun ia melumurinya dengan lumpur ataupun kotoran. Jujur saja, aku terpesona dengan apapun yang ia gunakan. Seolah tak ada celah untuk membuatnya menjadi jelek. Sekalipun, ia sudah mencobanya. Hehe..." pria itu terkekeh mengingat apa yang ada dalam benaknya. Rayan hanya ikut tersenyum tipis menanggapi sikap ayah pemilik tubuh yang sepertinya begitu mencintai wanita mungil dan imut itu.
"Yu Ran Yuan, begitu mencintai Yan Yue! Cinta sejati!" batin Rayan berkata manis.
"Kehadirannya di sini, sedikit demi sedikit mengusik pikiran dan hatiku. Terlebih, meskipun aku menikah dengan Lin An Lie. Tapi, aku tidak memiliki rasa yang sebagaimana seharusnya ada diantara pasangan suami istri. Hubungan kami baik, tapi tidak sebaik hubungan kedua kakak laki-laki ku dengan istri mereka. Kami hanya berperan sebagaimana mestinya saja. Tapi, aku tahu Lin An Lie menaruh rasa padaku. Sayangnya, aku tidak sebaik itu hingga mau membalasnya padahal aku tahu dihatiku tidak terukir namanya." katanya dengan nada yang dalam.
"Akan tetapi, ibumu... Dia berbeda. Apalagi setelah dia di tugaskan untuk menjadi pelayanku bersama beberapa orang lainnya. Dimana segala kebutuhan ku di urus olehnya, walaupun bersama yang lain juga... Hahaha! Aku tidak bisa menutupi rasa bahagiaku akan hal itu, seolah aku tengah benar-benar di urus oleh istriku sendiri. Selalu ada kesempatan untuk dapat melihatnya dari dekat..." senyum itu merekah bak bunga yang bermekaran di musim semi.
"Dia bisa membuatku selalu ingin melihatnya... Dia bisa membuatku selalu ingin mendengar suaranya... Dia bisa membuatku selalu ingin berada dekat dengannya... Namun, sayang... Ibumu tidak sedikitpun menaruh rasa padaku. Hal itu membuatku merasa kalau itu adalah karma karena aku mengabaikan perasaan Lin An Lie padaku..." tangannya mengepal tanpa sadar. Rayan mendapati emosi yang seperti tidak di terima.
"Jujur saja... Aku tidak bisa menerima kenyataan itu. Aku tidak bisa menerima kalau itu adalah karma untukku... Karena itu... Aku marah! Aku kesal! Aku berpikir seolah takdir tidak mengizinkan ku bahagia dengan cintaku sendiri! Oleh sebab itu, aku bertekad mengejarnya hingga dapat!" lugasnya penuh penekanan akan rasa yang membludak tiba-tiba.
Rayan tak bersuara. Ia membiarkan Yu Ran Yuan mengeluarkan semuanya. Meski, sebenarnya itu tidak penting untuk Rayan. Setidaknya, ini bisa menjadi pengetahuan tambahan untuknya. Walaupun bukan ilmu.
"Keinginanku terlalu kuat... Sehingga, setiap kali ia berada di dalam jangkauan ku. Membuatku selalu ingin menariknya dalam pelukan ku." Rayan menggeleng pelan kepalanya, karena sedikit tak percaya kalau pria paruh baya yang lumayan tampan didepannya ini memiliki obsesi yang terbilang besar.
__ADS_1
"Sampai hari itu tiba..." kini mata itu menatap Rayan dalam, seperti ingin menyalurkan segala yang dirasanya bahkan kalau bisa sekaligus dengan memorinya tentang hari yang dimaksud.
"Hari... Dimana aku mengambil segalanya darinya... Dari wanitaku... Dari Yan Yue..." jedanya, Rayan mendengarkan. "Aku melakukannya tepat saat istriku mengunjungi kediaman keluarganya karena suatu hal... Melakukannya di dalam kamar ku, ketika dia ku perintahkan untuk menyediakan air minum sebagai alibiku..." nadanya mulai lirih seperti penuh penyesalan namun juga tidak.
"Aku mengabaikan penolakannya, karena di sisi lain bayangan tentang karmaku akan cinta Lin An Lie yang tidak bisa ku balas membuatku gelap mata. Aku tak bisa menerimanya! Aku tidak bisa!" keningnya berkerut, menunjukkan emosi yang pernah terjadi hari itu.
"Aku mengambil apa yang ia jaga selama ini! Aku merenggutnya! Aku menikmatinya dengan bahagia karena ternyata aku yang pertama baginya... Hingga aku melupakan bahwa ia terluka karena ulahku..." intonasinya yang awalnya menggebu, meredup di akhir kalimatnya.
"Miris..." batin Rayan iba.
Yu Ran Yuan tersenyum sedih. "Malam itu juga menjadi malam terakhir aku melihatnya..." ditatap lagi Rayan dengan mata sendunya. "Ia pergi. Aku perkirakan ia pergi di pagi buta dari kamarku. Kamar yang sejak saat itu selalu membuatku mengingatnya. Semua yang kulakukan, aku mengingatnya. Bagaimana aku merengkuhnya dalam pelukanku." Yu Ran Yuan bercerita dengan gamblang tanpa ragu, padahal putrinya terbilang masih muda. Sedang Rayan tak menyadarinya, karena ia masih terbawa perasaan akan usianya yang ada di dunia modern. usianya yang sudah 27 tahun, jelas saja itu bukanlah hal tabu untuk diperdengarkan. Lagipula, ia bahkan sering melihatnya secara langsung.
"Kepergiannya mengusik ku! Aku marah karena ia pergi meninggalkan kediaman Yu tanpa pamit! Aku sadar mengapa itu terjadi. Tapi, aku tetap tidak bisa menerimanya! Jadi, aku menugaskan orang-orang kepercayaan ku untuk mencarinya. Mencarinya sampai dapat." ada kekesalan dalam perkataannya.
"Lama aku menunggu. Mencoba bersabar dan menanti... Aku merindukan nya hingga aku selalu terbayang akan dirinya. Parahnya, aku sampai melakukan hubungan dengan Lin An Lie sambil menganggapnya sebagai Yan Yue!" jedanya. "Untungnya, Lin An Lie tidak mengetahui hal itu..." Rayan menahan nafas mendengarnya. Ketidakpercayaannya sedikit membesar kala mendengar cerita pria itu.
"Mengerikan!" tukasnya membatin.
"Sampai hari yang ku tunggu datang... Orang-orang ku menemukannya! Mendengar itu aku langsung bergegas kesana dengan meninggalkan berbagai macam alasan agar tidak di curigai." nafasnya terdengar memburu. "Dan pada akhirnya aku kembali mendapatkan dirinya. Rasa rinduku bisa kukatakan sangat mengerikan! Aku bahkan langsung melampiaskannya begitu saja sesampainya disana..." Rayan kesulitan meneguk air liurnya sendiri. Ia paham maksud dari kata 'melampiaskan' itu. "Aku bahkan tak ingat sampai berapa kali aku melakukannya..." tambahnya.
"Yang aku sendiri masih tak bisa percaya, adalah... Aku sampai hati menyekapnya, karena tak ingin kembali kehilangan... Huh!" lirih katanya terasa menyayat. "Tapi, pada akhirnya aku juga kehilangan dirinya..." tandasnya.
"Aku mencoba menerima kepergiannya meski sulit. Sangat sulit..." terdengar berat. "Sampai hari dimana salah seorang pelayan yang kutahu dekat dengan ibumu, datang menemui ku di paviliun ini. Karena, tahu aku sering kesini." ditariknya nafas dalam dan panjang. "Dia datang sambil membawa mu dalam bungkusan selimut agar tak terlihat." senyum kebahagiaan tersirat di bibirnya. "Ketika aku diberitahu kalau itu adalah anakku dengan Yan Yue. Aku tak bisa membendung air mata bahagia yang meledak keluar dari dalam hatiku. Meski di lain sisi aku juga sedih karena ibumu tak kembali bersamamu. Seolah kedatangan mu kesini adalah bentuk ketidak-inginnya untuk meminta pertanggungjawaban dariku." kini senyum itu berubah sendu. "Tapi, aku cukup mengerti akan apa yang ia rasakan. Semua ini salahku... Salahku yang tidak bisa memendam perasaan cintaku yang pertama kali aku rasakan. Sehingga, hanya ada luka yang berbekas dalam dirinya..." bergerak memandang sayang kedalam mata Rayan.
"Kehadiran mu dalam hidupku... Ku anggap sebagai hadiah terindah darinya. Karena, setidaknya... Dia tidak menggugurkan mu saat kau hadir dalam rahimnya. Kehadiranmu pula, menjadi alasan kuat untuk aku mencoba mengikhlaskan kepergiannya dari hidupku..." katanya tulus.
"Aku hanya bisa berdoa dan berharap. Ia bisa menemukan kebahagiaan yang dia inginkan menggantikan duka yang aku torehkan padanya. Itu sudah lebih dari cukup!" senyum itu terpatri tulus. "Dan selebihnya, kau sudah mendengarnya secara singkat tadi di ruang rapat Keluarga. Haah..! Kekacauan yang terjadi kala aku mengungkapkan siapa dirimu pada seluruh anggota keluarga. Aku bahkan sampai lupa kalau Lin An Lie tengah mengandung anakku juga saat itu." akhirinya.
"Benar-benar kisah yang sedih dan... Entahlah, aku tak tahu apa kata yang tepat untuk menggambarkannya. Untungnya itu bukan sungguhan cerita tentang ibuku. Aku tak tahu akan jadi apa perasaan ini kalau itu benar tentang ku. Syukurlah aku hanya meminjam tubuhnya Yu Rayan. Maaf, ayah Ran Yuan..." batinnya berseru prihatin dan sedikit bersalah.
Ia kembali menggulung lukisan itu dan dikembalikan kepada pemiliknya. Pria paruh baya itu menerimanya, kemudian meletakkan kembali ketempatnya semula.
Setelahnya, mereka pun memilih mengakhiri perbincangan itu karena merasa belum makan siang. Mereka bergi meninggalkan paviliun tersebut dan kembali kekediaman utama.
Selamat membaca gaess...
Semoga kalian terus menyukainya...
__ADS_1
aku akan berusaha keras untuk memberikan yang terbaik... versiku... hahaha...
Bai-bai...πππ