3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
AKHIR CINTA TERLARANG


__ADS_3

Seorang pelayan perempuan bergegas menuju paviliun Bunga Malam langsung kearah kamar tempat dimana Meng Pei Yun sedang berada saat ini. Dia kesana hendak menyampaikan informasi yang telah didapatkan kepada junjungannya.


Sesampainya disana, dengan lancar pelayan itu memasuki kamar junjungannya. Tanpa ba-bi-bu dia langsung membungkuk memberikan hormatnya kepada wanita didepannya saat ini yang sedang bersantai sembari menikmati racikan teh kesukaannya.


Meski terlihat santai, seharusnya tidak demikian didalamnya.


Melihat pelayan sebelumnya diperintahkan untuk memantau situasi diluar sana kembali, dia segera bertanya dengan tidak sabar.


"Apa yang kau dapatkan?"


"Lapor, Nyonya. Sejauh dari yang telah pelayan rendah ini pantau, semuanya berjalan normal. Kecuali, tadi Tuan Ye sempat pergi mendatangi halaman Tetua Ye. Karena pelayan ini tidak bisa masuk, maka pelayan ini tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi, pelayan menemukan hal lain." terangnya dengan semua informasi yang dimiliki.


Mengerutkan keningnya sedikit, ia kembali bertanya. "Hal lain apa itu?"


Lagi, pelayan ini menjawab dengan patuh. "Anggota keluarga kerajaan Es datang berkunjung. Ini berkemungkinan mereka datang, karena mendengar kabar pernikahan Tuan Ye yang sebentar lagi akan dilangsungkan, Nyonya." jawabnya dengan kehati-hatian. Takut-takut kalau sampai salah bicara.


Tapi, tampaknya dia masih tidak sadar, kalau ada sepenggal kalimat yang memang tidak seharusnya diucapkan.


Tangan Meng Pei Yun mengepal kuat begitu mendengarnya atau tepatnya mendengar sepotong kalimat akhir dari mulut pelayannya itu. Kata 'pernikahan' itu benar-benar mengganggu hatinya.


"Lalu, dimana mereka sekarang?" dia masih berusaha untuk tetap tenang.


"Mereka sedang berada di paviliun tamu bersama Yang Mulia Kaisar Agung Bai dan lainnya, Nyonya." pelayan itu masih memberitahu dengan hati-hati, takut kalau sampai kata-katanya memancing amarah junjungannya. Bagi mereka yang selalu didekat Meng Pei Yun jelas tahu orang seperti apa dia.


"Pergilah. Tetap awasi keadaan sekitar. Aku memiliki kecurigaan, sebab ini terlalu tenang." dia tak bisa menutupi kecemasannya barang sekecil apapun, lantaran tidak ada konfirmasi dari Ye Zi Xian terkait masalah ini.


Apakah dia bersalah atau tidak, masih belum diketahui.


Hal ini malah tidak bisa membuatnya tenang. Bisa saja dia berpikir kalau putra sambungnya itu tidak begitu menjunjung tinggi takdirnya setelah melihat tidak ada gerakan khusus untuk masalah yang sedang terjadi ini. Tapi, dia sangat tahu pria seperti apa Ye Zi Xian itu. Inilah yang membuatnya tidak tenang.


Setelah pelayan yang menyampaikan informasi undur diri, Meng Pei Yun tetap tidak bisa menahan ketenangannya meski sedang duduk santai didalam kamarnya sendiri.


"A-Shi." panggilnya kepada kepala pelayan pribadinya.


"Saya, Nyonya." jawabnya seraya bergerak sedikit lebih dekat kearah Meng Pei Yun.


"Apa kau sudah mendapatkan kabar dari organisasi itu? Kenapa sampai sekarang belum juga memberi ku kabar tentang keberhasilan mereka?" tanyanya dengan kegelisahan tertentu.


"Mohon maaf, Nyonya. Memang, sampai sekarang pelayan ini belum menerima kabar apapun dari organisasi itu." baru saja kalimatnya selesai diucapkan ketika tiba-tiba seekor burung pembawa pesan muncul dan langsung bertengger di bibir jendela.


Melihat kehadiran burung tak dikenal tersebut sukses menimbulkan tanda tanya dibenak dua orang yang ada didalam kamar itu. Merasa aneh, karena baru kali ini ada burung yang tersesat ketempat mereka.


Tanpa menunggu perintah junjungannya, A-Shi menghampiri burung itu dan menangkapnya yang ternyata dia cukup jinak untuk dianggap sebagai hewan liar yang tersesat. Tapi, tak sampai ia berpikir banyak kala matanya melihat kalau ada sesuatu yang terikat di kaki burung tersebut.


Dengan perasaan penasaran dia mengambilnya hanya untuk mengetahui ternyata itu adalah kertas surat. Berbagai macam tebakan langsung berseliweran dibenaknya.


Tak ingin menunda lebih lama lagi, segera dibawanya surat itu kepada Meng Pei Yun dan menyerahkannya usai melepas pergi burung pembawa pesan sebelumnya.

__ADS_1


Meng Pei Yun tak punya waktu untuk bertanya sebab dia juga tahu kalau pelayannya tidak tahu menahu soal kedatangan burung itu. Jadi, dia langsung menerima surat tak bertanda dari tangan pelayannya. Meng Pei Yun sudah melihat sebelumnya dari mana asal surat itu, sehingga dia hanya ingin bergegas untuk melihat apa isinya.


Alhasil, dia segera membukanya dengan cepat.


Dibacanya isi surat tersebut. Yang mana, apa yang baru saja dia baca menyebabkan kedua bola matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. Setelahnya, surat itu diremas hingga berbentuk bola lalu melemparkannya ke sembarang arah dengan marah.


"SI*LAN!" pekiknya keras dengan umpatan. Dadanya naik turun dengan nafas tersengal.


Jelas kalau dia marah hingga nafasnya memburu.


"Dasar baj*ngan itu! Dia sudah mengambil uang ku, tapi tak bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Sekarang dia malah tak mau mengembalikan uang ku! Bagus! Sangat bagus!" nada bicaranya penuh sarkasme dan hinaan berbalut amarah yang begitu menyesakkan.


"Dia pikir, siapa yang sedang dihadapinya! Beraninya dia menipuku!"


Dia marah karena kegagalan yang diberitakan melalui surat itu. Marah karena gagal membunuh Ryura, juga marah karena dia sudah mengeluarkan begitu banyak uang, tapi hangus begitu saja tanpa adanya hasil apapun.


Bagaimana bisa dia tidak marah?!


Dia marah besar!


Amarahnya membuat para pelayan kelimpungan mencoba menenangkan junjungan mereka.


A-Shin yang terdekat hanya bisa menghela nafas tak berdaya melihat junjungannya menjadi seperti ini. Dia ingin sekali menghentikannya dari kegilaannya, tapi dia jelas tahu 'siapalah dia di mata junjungannya sekarang?'.


Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk junjungannya.



Masuk dengan tenang hanya untuk mengambil sesuatu, lalu keluar kembali dengan sama tenangnya tanpa meninggalkan jejak apapun. Dia bagaikan udara.


Tak ada yang tahu, tak ada yang menyadarinya.


Semuanya berjalan begitu mulus dan lancar.


Mungkin, hanya langit malam dengan titik-titik bintang dan dinginnya suhu dimalam hari yang bisa dijadikan saksi bisu akan sosoknya saat tengah melakukan sesuatu dengan hanya dia yang tahu apa itu.



Di kamar 3Ry tempati, sudah ada 3Ry dan 3 siluman.


Siapa yang merindukan mereka?


Keenamnya sedang mendiskusikan tentang suatu hal yang tentunya tidak lepas dari masalah yang masih berlangsung hingga saat ini atau lebih kepada masih dalam proses penyelesaian.


"Masalah ini hanya tinggal 'wanita itu'. Karena Ryura sudah membereskan para pembunuh bayaran. Jadi, kini hanya perlu membereskan satu hama lagi." kata Furby yang sedang dalam wujud manusianya dengan nada permusuhan yang terasa.


Saat ini dia sedang berbicara mengenai pertarungan Ryura dengan para pembunuh bayaran yang hendak datang untuk menyerang mereka akibat kabar hilangnya anggota mereka tanpa jejak.

__ADS_1


Rayan mengangguk paham. "Bagus. Aku juga sudah menyelesaikan bagian ku bersama Reychu. Kini hanya perlu melihat apakah dia cukup masuk akal atau tidak. Jika, dia memilih berpihak pada wanita itu. Maka, kita hanya perlu lakukan rencana kedua." jelasnya.


"Haha... Aku masih ingat wajah kaget bercampur ketakutannya saat melihat bagaimana kita bisa dengan mudah mengekspos aib tuannya. Ekspresi itu benar-benar menghibur. Aku selalu tertawa jika mengingatnya. Hahaha..." ujar Reychu sambil bersandar malas di kursinya.


Rayan hanya menggelengkan kepalanya tak berdaya melihat kelakuan Reychu. Jadi, memilih untuk tidak peduli.


Jika, ingin tahu apa yang sedang mereka bahas. Saat ini mereka sedang membahas tentang langkah selanjutnya untuk melawan Meng Pei Yun yang kukuh pada pendiriannya yang tidak mau mengakui kesalahannya.


"Jadi, apa yang sudah kalian temukan sejauh ini?" tanya Rayan kepada Ruobin dan Chi-chi.


Rayan bertanya begitu, pasalnya selama beberapa waktu mereka tidak muncul di sekitar 3Ry. Itu juga karena Rayan memberikan keduanya tugas, yaitu untuk mencari tahu siapa itu Meng Pei Yun atau tepatnya latar belakangnya. Mereka butuh itu untuk memperlancar proses pembasmiannya.


"Cukup mengejutkan, menurut ku. Faktanya, dia berasal dari keluarga yang bersih dan menjadi putri satu-satunya dalam keluarga itu. Agak aneh dan menyayangkan saat melihat bagaimana dia menjadi seperti ini." jawab Ruobin atas hasil yang ia dan Chi-chi temukan.


"Bersih bukan berarti baik." celetuk Reychu dengan sebelah alis terangkat.


Rayan mengangguk membenarkan. "Ya, mereka hanya bersih bukan baik. Jadi, ada kemungkinan bila masalah ini pecah suatu hari nanti. Pihak keluarga wanita itu pasti tidak akan tinggal diam. Apalagi, kau bilang dia putri satu-satunya. Pasti menjadi putri kesayangan." menoleh kearah Ryura yang sejak tadi diam. "Bagaimana menurutmu, Ryu?"


Rayan bertanya mengenai status Meng Pei Yun yang berkemungkinan akan menjadi lawan Ryura bila masalah ini berakhir dengan Meng Pei Yun mati.


Mengangkat kepalanya dengan lambat, tapi pasti tak lupa pula tatapan kosong yang sulit diubahnya itu. "Tidak masalah."


Rayan mengangguk lagi. "Baik kalau begitu."


Furby terlihat memberangus tidak setuju sekaligus khawatir setelah mendengar jawaban sahabat manusianya. "Ryura, kau yakin tidak masalah?! Ini keluarga pihak wanita itu. Tinggal di lingkungan ahli beladiri, keluarganya pasti tidak bisa menjadi orang yang mudah disingkirkan. Artinya, wanita itu harus termasuk mampu. Bagaimana bisa tidak masalah?"


Bukan Ryura yang menjawab melainkan Reychu, dengan alis menyatu heran dia berkata. "Kau mengigau, ya? Cara mu bicara seperti Ryura akan mati bila berhadapan dengan mereka. Kau lupa siapa Ryura?"


Diam sejenak lantaran kesal, sebelum akhirnya menjawab dengan sabar. "Nona Reychu, aku bukannya tidak tahu siapa Ryura. Justru, karena aku tahu... Aku harus mengingatkan bahwa dunia ini luas. Mungkin Ryura tergolong orang yang tak mudah di bunuh, tapi itu bukan berarti dia tak bisa dibunuh."


"Aku paham. Tapi, kau perlu yakin satu hal. Ryura tidak akan mati di tangan orang lain atau siapapun." nada Reychu agak serius, tatapannya juga agak tajam dan tegas. "Karena ia terlahir untuk membunuh siapapun... Tentunya, selama orang-orang itu mencari kematian kepada Ryura." tandasnya.


"Tapi..." Furby tergugu untuk melanjutkan. Dia tahu bahwa dia terlalu khawatir, tapi kekhawatirannya bukannya tidak berdasar.


Namun, kembali lagi... Dia tak bisa mengatakan apapun untuk membantahnya.


"Sudah. Percaya saja pada Ryura. Dia bukan orang yang sombong, apalagi impulsif. Dia berpikiran luas. Jika, dia berkata bisa maka itu berarti dia sudah memiliki persiapan. Jangan melihat ketiadaan nya atas emosi dan perasaan. Karena diluar itu semua adalah keunggulannya." timpal Rayan menengahi percakapan yang nyaris memasuki tahap debat.


Furby hanya bisa diam dan tak lagi menjawab, namun matanya tetap tertuju pada Ryura yang tampak seperti tengah tertidur, gadis itu tak berkata apapun lagi selain dua kata sebelumnya.


Menghela nafas lah yang bisa dilakukannya.



saranghae... LeoveRa's ❤️❤️❤️


Thor Lele up lagi...😜

__ADS_1


__ADS_2