3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
HAL GILA


__ADS_3

Suka ria begitu menyemarakkan suasana malam ini di kediaman Yu. Saking bahagianya, Kepala Keluarga Yu yang terkenal tegas dan bertemperamen buruk pun ternyata bisa memberikan kesempatan kepada para bawahannya untuk merasakan kebahagiaan yang sama dengan yang keluarganya rasakan.


Apalagi kalau bukan bahagia atas kematian Yu Rayan.


Terdengar gila memang. Tapi, itulah kenyataannya. Ketaatannya dalam mengabdikan diri pada Keluarga Besar Yu yang tak dapat dibendung lagi membuat pria berstatus kakek itu begitu membenci ketidaksempurnaan. Contohnya, Yu Rayan. Hanya karena dia adalah anak yang lahir di luar nikah membuat pria tua itu teramat membencinya. Padahal, bila mau di cermati lebih dalam. Yang patut di benci adalah Yu Ran Yuan selaku pusat dari segala masalah yang terjadi di Keluarga itu.


Namun, sayang. Entah teori apa yang di pakainya, sehingga Yu Rayan lah yang terkena imbasnya.


Saat ini seluruh penghuni Kediaman Yu sedang berpesta. Karena itu, sesuai perintah. Semuanya tersedia guna menyempurnakan acara. Mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, hidangan penutup, juga camilan untuk menunjang kenikmatan selama pesta berlangsung dan jangan lupakan arak yang sudah menjadi kewajiban bagi setiap perayaan untuk selalu dihidangkan.


Semua orang begitu terbuai oleh pesta. Sementara, di salah satu kamar di bagian timur kediaman Yu terdapat seorang gadis yang belum lama ini berganti menjadi wanita plus hamil, padahal ia belum menikah.


Kalau sudah begini siapapun tahu siapa gerangan perempuan itu. Ya! Dia adalah Yu Ming Luo.


Sendirian dikamar memandang keluar jendela seraya menatap langit malam tanpa bulan dan bintang, terlihat cukup menyedihkan. Apalagi telinganya tidak tuli untuk bisa mendengar bagaimana meriahnya pesta malam ini di adakan. Akan tetapi, bagi wanita hamil itu tidak demikian. Kesedihannya akan kepergian sang pujaan hati cukup untuk menarik segala rasa bahagianya keluar dari hatinya. Ia seolah menjadi mati rasa.


Terpuruk adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Sambil mengelus perutnya yang masih terlihat datar tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam, ia berseru lirih dan sendu.


"Fei Rong... Apa kau melihatku dari atas sana?! Apa kau lihat... Aku disini bersama buah hati kita... Aku mencintainya seperti aku mencintaimu! Jangan khawatir... Kenangan mu akan aku jaga dengan baik." senyum tipis sarat akan rindu terukir. Yu Ming Luo tampak jauh lebih baik, ia sudah bisa mengikhlaskan kepergian kekasihnya namun kalau diminta untuk kembali seperti sedia kala itu akan sulit untuk dia lakukan. Pasalnya, setengah jiwanya serasa dibawa pergi bersama sang kekasih.


Ia pun tak lagi memusingkan hukuman dari keluarganya. Karena, kini yang ia tahu dan ia inginkan adalah bertahan hidup di dunia ini meski hanya berdua dengan sang anak yang kelak akan menemaninya di kehidupan barunya.


Bicara soal hukuman atas kondisinya membuat ia mengingat akan Yu Rayan. Kilasan tentang kekejamannya saat dulu yang begitu licik menindas anak kecil yang selalu dia dan sanak saudaranya sebut sebagai anak haram. Bagaimana ia bisa bertindak sehina itu dengan bermuka dua, dimana bersikap manis hanya untuk menekan mental sepupunya itu. Ya, ia sepertinya mulai menyadari kesalahannya dan mulai marasa bersalah. Namun, ia juga tak bisa berbuat apa-apa.


Mengingat kembali seberapa menderitanya Yu Rayan kala dijadikan budak dan di tindas, di hina, di olok-olok, bahkan tidak di akui oleh keluarganya sendiri. Kini, layaknya bumerang. Ia pun akhirnya ikut merasakannya.


Senyum miris sarat akan menertawakan diri sendiri terlihat jelas di wajahnya. "Inikah yang di maksud, 'apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai...'?!" gumamnya lirih tersayat. Tak menyangka akan menjadi seperti sekarang ini. "Apa kemudian aku juga akan berakhir mati di tangan keluargaku?!" celetuknya dengan pertanyaan yang jelas tidak memiliki jawaban. Itu ia tanyakan karena ia tahu kalau Yu Rayan telah di hukum mati dan kini nasibnya tidak jauh berbeda dengan sepupu tidak sahnya itu.


Kabar akan eksekusi mati atas Yu Rayan jelas terdengar sampai ke telinganya. Namun lagi-lagi, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia termenung dalam lingkaran rasa bersalah dan tak berdaya sambil terus memeluk perutnya erat. Tak bisa di pungkiri kalau dia juga takut apa yang terjadi padanya berkemungkinan untuk terjadi juga pada calon anaknya.


"Kita akan memulai hidup baru. Ibu tidak akan membiarkan mu menerima karma dari apa yang telah Ibu lakukan." lirihnya.


Kemudian secara tak terduga, sesuatu tiba-tiba saja melesat tepat di sisi wajahnya. Hal itu sukses membuat ia terkejut. Lalu, di carinya apa itu...


Wush...


Tak!


Mata Yu Ming Luo membola kala sebuah belati menancap apik di tiang peraduannya begitu tertangkap oleh indera penglihatannya. Tubuhnya mulai meremang takut, namun detik berikutnya apa yang di bawa bersama belati itu menarik perhatiannya.


Yu Ming Luo bergerak untuk mengambilnya. Ketika, belati itu ia pegang. Bisa ia lihat ada sebuah kain berwarna merah muda yang lembut melilit gagang belati tersebut. Yang ia lihat itu mampu menghilangkan rasa takutnya dalam sekejap.


Kembali, karena rasa penasaran yang tinggi. Ia pun menarik ikatan simpul kain tersebut lalu membukanya. Yu Ming Luo ingin melihat apa ada sesuatu yang membungkusnya.


Deg!


Sayangnya, serangkai kalimat pendek meningkatkan ketakutannya dalam sepersekian detik tanpa aba-aba, membuat ia gemetar begitu saja.


***Membunuh kalian terlalu mudah... Bagaimana kalau aku berikan hadiah saja...?! Rayan!***


Diremasnya kain lembut selembut warnanya itu kuat. Mulai mencerna apa maksud dari isi kalimat tersebut. Belum lagi tentang tanda nama didalamnya. Bulu kuduknya berdiri, ia mulai berpikir keras. Bingung dan tidak mengerti.


Ia ingat kalau sang kakek telah berhasil menyingkirkan Yu Rayan. Lantas, Rayan mana kali ini yang harus dihadapi oleh keluarganya?! Otaknya penuh dengan tanda tanya dan semua pertanyaan itu tak bisa ia jawab. Buntu rasanya.



"Minum lagi! Malam ini kita akan memuaskan diri kita sendiri dari terlepasnya beban terkutuk itu! Karena sekarang Yu Rayan telah tiada! Hahaha...!" seru Yu Zhao Yan lantang dengan bahagianya di susul dengan yang lainnya.


Anak, menantu, dan cucu-cucunya kini berkumpul bersama di ruang keluarga. Mereka masih tetap memisahkan diri dari para budak, karena lagi-lagi mereka beranggapan budak dan majikan tak akan pernah bisa setara.


"Ayo, minum lagi!" seraya menuangkan arak kembali ke cangkirnya. "Bersulang!" lanjut Yu Chen mewakili.


"BERSULANG!"


Kemudian, merekapun meneguknya bersamaan.


"Aaah... Ini benar-benar luar biasa! Jujur saja, kini aku merasa bebas. Seolah beban berat selama ini terangkat sempurna dari pundakku!" kata Yu Zhao Yan tak bisa menutupi rasa bahagianya.


"Benar itu, Kakek! Mei Lin juga merasa senang sekali!" timpal Yu Mei Lin sama senangnya.


"Hahaha... Kau selalu tak bisa menyembunyikan ekspresi mu itu, ya...! Selalu terang-terangan. Haha.. tapi, tak apa. Lagipula, tidak ada juga gunanya berpura-pura baik kalau hanya untuk berhadapan dengan anak haram itu." pungkasnya tak ragu-ragu.


"TEPAT SEKALI!" sahut yang lainnya bersamaan, kemudian mereka kembali tertawa.


"Cukup!" lugas Yu Zhao Yan. "Lupakan dia! Jangan lagi menyebut namanya! Kini hanya ada kita Keluarga Yu yang sesungguhnya." jedanya. "Aku melarang siapapun menyebutkan namanya dimanapun kalian berada mengerti?!" lanjutnya menurunkan perintah.


"Mengerti Ayah!" Yu Ji Xu dan Yu Chen serta istri mereka bersamaan. Kecuali, Lin An Lie. Ia masih merasa janggal dengan semuanya, hingga ia memilih diam.


"Mengerti Kakek!" begitu pula para cucunya. Kelompokkan tampak jelas disana.


Seandainya mereka bersuka cita dengan cara yang benar. Maka, keseruan dan kekompakan mereka akan mendapatkan sanjungan. Namun, sayangnya bukan itu yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita ganti topik pembicaraannya." usul Yu Ji Xu. Tanpa pikir panjang, yang lainnya langsung menyetujuinya.


Kini mereka disibukkan dengan canda tawa yang belum pernah mereka lakukan dan rasakan sebelumnya. Cukup menikmati suasana saat ini dengan percakapan seru yang entah apa isinya.


Semuanya berlangsung dengan bahagia.



Tak terasa malam semakin larut. Sebagai Kepala Keluarga Yu. Apabila ia yang membuka acara pesta, maka menutup acara pun demikian.


Pria tua itu tahu diantara mereka hanya Lin An Lie yang terlihat jelas kalau ia sama sekali tidak menikmati pestanya. Hal itu mengusik jiwa kebapakannya.


"Menantu Lin..." spontan yang dipanggil menoleh ke pemilik suara.


"Ya, Ayah." balasnya.


"Kemarilah!" pintanya sambil mengayunkan tangannya sebagai isyarat agar wanita yang baru memegang status janda itu mendekat padanya.


Tanpa berkata lagi, Lin An Lie pun bergerak mendekati Ayah mertuanya.


Kemudian, diraihnya tangan sang menantu dan...


Deg!


Deg!


Jantung keduanya berdetak kencang sekali. Tubuh mereka bahkan menegang seketika begitu keduanya saling berpegangan. Sesuatu dari dalam diri mereka seolah meronta-ronta ingin di keluarkan.


"Ada apa ini?!" batin keduanya tanpa sadar berseru sama.


Ingin segera melepaskan genggaman tangannya, namun tidak bisa. Sesuatu seolah mengendalikannya. Karena, entah bagaimana genggaman tangan itu terasa nyaman. Keduanya merasakan itu. Tapi, otak mereka berseru menolaknya.


"Kalian kembalilah lebih dulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan menantu Lin." canggung. Itu yang ia rasakan. Mendengar suaranya sendiri yang mulai terdengar aneh. Namun, berusaha ia normalkan. Untungnya, anak, menantu, juga cucu-cucunya tidak menanggapi hal itu lantaran beberapa dari mereka terutama yang muda mulai sempoyongan.


Ucapan salam di serukan sebelum akhirnya tinggal mereka berdua yang ada di ruangan itu.


Sesuatu mulai tidak bisa di kendalikan.


"Kenapa bisa begini?! Ada yang aneh?!" seru Lin An Lie dalam hati. Ia tak tahu mengapa ia merasa genggaman tangan pria tua yang tak lain adalah mertuanya begitu nyaman kala melingkupi kedua tangannya. Ia sampai menggelengkan kepalanya kecil guna mengusir hala yang tidak masuk diakal itu.


Tak tahu saja dia, kalau nyatanya Yu Zhao Yan pun merasakan hal yang sama. Lantas, sebagai lelaki normal ia tahu apa yang kini ia rasakan.


"Si*lan! Kenapa aku malah menginginkannya?!" umpatnya dalam hati seraya terus memandangi wajah Lin An Lie tanpa bisa mengalihkannya. Padahal jiwa dan otaknya sudah memaki-maki dirinya untuk tidak berbuat gila.


Dilema! Itulah yang kini mereka rasakan. Bagaimanapun mereka adalah Ayah dan anak walau statusnya mertua dan menantu. Akan tetapi, dorongan gila itu semakin menjadi-jadi.


Cukup lama mereka berusaha bertahan dalam diam dengan tangan yang tak bisa melepaskan. Hingga akhirnya, Yu Zhao Yan menyerah kala bisikan setan menghampiri.


Ditatapnya wajah Lin An Lie dengan tatapan seolah siap menerkam. Sedang Lin An Lie yang keadaannya tak jauh berbeda pun membalas tatapan itu.


Entah siapa yang memulai duluan. Kini mereka saling mendekatkan.


"Menantu Lin..."


"Ayah mertua..."


Suara lirih nan berat mereka terdengar indah di pendengaran saat berucap bersamaan. Tak tahu bagaimana bisa seperti itu.


Tangan yang agak keriput itu tanpa bisa di cegah sudah bergerak naik ke lengan atas Lin An Lie menuju tengkuknya.


"Maaf... Aku menginginkannya!" dalam dan berat bercampur desah keluar dari mulut Yu Zhao Yan dan gilanya Lin An Lie menanggapi hal itu.


"A..aku juga, Ayah mertua." tak kalah menggetarkan suara Lin An Lie di telinga Yu Zhao Yan.


Setelahnya, hal gila yang tak bisa di terima pun terjadi. Mereka telah dikuasai oleh nafsu, sehingga otak mereka tak lagi bisa berpikir jernih.


Dan malam itupun menjadi sejarah baru untuk mereka.



Setelah mereka keluar dari ruang keluarga. Mereka lebih memilih berjalan menuju kamar masing-masing. Dalam keadaan diri yang mulai tak bisa di mengerti.


"Ayah, Ibu. Kami akan kembali ke kamar sekarang. Selamat malam!" kata Yu Chun Yang mewakili saudarinya yang lain. Mendengarnya dua pasang orang tua itu pun memberi izin.


"Istirahatlah yang nyenyak. Ini sudah larut." seru Hwang Minsu mengingatkan.


Usai mendengar perkataan Hwang Minsu, semua anak gadis Keluarga Yu pun beranjak pergi dari sana. Kini, tinggallah dua pasang suami istri.


Tanpa ada yang menyadari kalau saat ini Yu Chen dan Ru Jinyu tengah membeku ditempat. Itu terjadi kala tanpa sengaja punggung tangan mereka saling bergesekan, menimbulkan getaran aneh yang tak bisa di cegah. Bahkan tanpa dapat di kendalikan tangan Ru Jinyu bergerak cepat menggenggam tangan adik iparnya. Rasa nyaman menyeruak seketika. Tak hanya Ru Jinyu, bahkan Yu Chen pun merasakan hal demikian.


Akan tetapi, ia berusaha untuk terus menatap wajah istrinya dan berniat memanggilnya agar bisa segera membawa dirinya pergi dari sesuatu yang mungkin akan dia sesali dikemudian hari. Namun sayang, apa yang ingin ia katakan tak bisa ia keluarkan. Suaranya seolah terkunci.

__ADS_1


Keinginan lebih untuk menyentuh kulit yang kini dirasa dalam telapak tangan mereka membuat mereka hilang akal.


Yang tak terduga adalah, Ru Jinyu malah menyenggol Hwang Minsu hingga limbung dan menubruk dada Yu Ji Xu membuat pria yang tak lain suaminya itu mau tak mau harus menahan tubuh Hwang Minsu dan sialnya aroma harum rambut adik iparnya itu mengusik akal sehatnya.


Yu Chen yang melihat gelagat tak jauh berbeda dengannya pun langsung bertindak. anggaplah ia sudah gila. tapi, nyataya kini mereka sedang di luar kendali.


Dan sepenggal kalimat bencana pun terucap.


"Mari bertukar!" seru Yu Chen dengan hasrat yang kian melambung.


Mendengar itu, awalnya membuat ketiga insan yang berdiri di depannya terkejut. Tapi, tak bisa di pungkiri kalau mereka tak bisa melepaskan apa yang kini di genggam.


Ru Jinyu tak bisa melepaskan keinginannya akan diri Yu Chen dan begitu pun Yu Ji Xu yang tak rela bila harus melepaskan apa yang kini mampu memabukkannya kala Hwang Minsu berada didepannya.


Akan tetapi, Hwang Minsu masih sadar dan hendak mencegah apa yang membuatnya takut. Namun, sayangnya. Sang suami sudah lebih dulu menarik pergi Ru Jinyu. Kini tinggallah ia dan kakak iparnya.


"Tunggu... I..ni ada apa..." belum usai kalimat tanyanya ia ucapkan. Sebuah kecupan dilayangkan ke pipinya, membuat saraf di tubuhnya mendidih seketika.


Yu Ji Xu yang tahu kalau sentuhan membuahkan hasil pun segera membawa pergi adik iparnya dari sana.


Dan kembali...


Malam bersejarah itupun terjadi.



Dalam perjalanan menuju kamar Yu Mei Lin sudah sempoyongan namun enggan untuk dibantu. Tak beda jauh dengan Yu Chang Ni yang kamarnya berda di sebelah kemar Yu Mei Lin.


Para pelayan mereka yang tak berani untuk mabuk meski dibebaskan turut merayakan pesta, karena itulah aturannya pun hanya bisa berhati-hati saat akan membawa junjungan mereka ke kediamannya.


Salah seorang pelayan berkata. "Kau... Angkat Nona Mei Lin dan bantu aku membawanya kembali ke kediaman. Kau juga, angkat Nona Chang Ni dan bawa ia kembali ke kamarnya." nada perintah yang terkesan terpaksa dan lelah pun terdengar. Tapi, tak ada pelayan lain yang membalasnya. Bukan karena takut, melainkan karena mereka pun juga ingin segera beristirahat.


Sampailah di dalam kamar kedua gadis itu.


Saat hendak menurunkan tubuh Yu Chang Ni dari gendongan pelayan pria yang sudah memberanikan diri menggendongnya, tiba-tiba saja Yu Chang Ni menahannya. Dengan mata berkabut ia berseru serak dalam suaranya.


"Jangan pergi... Temani aku, ya..." entah sadar atau tidak ia berujar demikian yang pasti suaranya itu membekukan jiwa bujang pelayan pria itu.


Masih sadar kalau yang berbicara demikian adalah majikannya iapun memilih bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar tidak terlibat masalah yang lebih dari ini.


Tapi, sepertinya itu tidak mudah. Yu Chang Ni malah tidak mau melepasnya.


Memandang melas pada pelayan lainnya. "Tolonglah. Nona tak ingin dilepaskan!"


Pelayan lain yang mendengarnya pun bergerak cepat untuk membantu rekan mereka yang sepertinya sedang terjebak.


Sayangnya...


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! LEPASKAN AKU! KELUAR! KELUAAAR!" teriak Yu Chang Ni tampak menggila kala tubuhnya dilepaskan dari tubuh yang memabukkan baginya dan membuatnya menginginkannya.


Dengan tergopoh-gopoh mereka -para pelayan- pun bergegas pergi dari sana usai mendengar teriakkan menggelegar dari Nona mereka. Namun sialnya, pelayan pria yang menggendong Nonanya tadi ditahan dengan kuat oleh Yu Chang Ni sendiri.


Bahkan pelayan lainnya tak tahu kalau salah satu rekan mereka terjebak di dalam kamar Nona Yu Chang Ni.


"Siapa yang mengizinkan mu pergi, hm...?!" lirihnya diiringi desahan sembari memeluk tubuh pelayan tersebut dari belakang.


Dan... Bohong bila jiwa laki-lakinya tidak meronta terlebih ia belum berkeluarga. Namun, akal sehatnya masih bekerja dengan baik.


"Ma..af... Nona. Ini tidak benar. Anda lekaslah istirahat, saya akan pamit undur diri." gagapnya.


Langsung saja ia bersiap kabur. Lagi dan lagi, ia tak bisa mencegah saat Yu Chang Ni malah menariknya kuat hingga jatuh ke peraduan sang majikan. Hal itu sudah cukup membuatnya terkejut, tapi kejutan berikutnya kembali ia terima. Dimana Yu Chang Ni dengan secepat kilat menaiki tubuh pelayan pria itu dan langsung menyerangnya.


Sebagai laki-laki normal yang telah lama berpuasa, maka akan berujar begini. "Nona... Kau yang memintanya. Aku tidak akan sungkan lagi!" setelah itu iapun ikut bermain bersama Nona majikannya. Sambil bergumam dalam hati, kalau setelah malam ini ia akan melarikan diri guna menjaga nyawanya tetap berada di raganya.



Hal yang tak jauh berbeda pun terjadi pada Yu Mei Lin, Yu Chun Yang, dan Yu Ran Ran dengan pelayan pria sebagai sasarannya.


Entah apa yang akan terjadi saat pagi hari tiba dan mendapati mereka dalam keadaan yang benar-benar menghancurkan segalanya. Mungkin mereka hanya bisa menggunakan kekuasaan dan kekuatan kedudukan mereka untuk menutupi keburukan yang telah mereka lakukan. Tanpa tahu kalau ada yang menyaksikan semua itu.



tralalalalalalala....


Yu Rayan akan menuju episode terakhir... jangan lupa ditunggu yaaa...


bocoran sedikit. setelah Yu Rayan baru author akan lanjutin ke Han Ryura...


ditunggu ya... ditunggu ya...


oke tinggalin jejak buat author ya... guna memberikan author semangat. karena semakin Thor semangat maka semakin lancar idenya. hehehe

__ADS_1


okok... sampai jumpa lagi di episode berikutnya...😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2