
Brak!
Pintu ruangan yang dimasuki di banting begitu saja hingga suara keras terdengar. Itu bukan karena si pelaku bermaksud untuk membantingnya, hanya saja saat ini suasana hati sedang tak bersahabat menyebabkan si pemilik hati hampir lepas kendali.
Orang lain di sampingnya dengan tak berdosanya malah berceletuk ria.
"Hei! Kau akan merusak pintunya kalau seperti itu! Kasihan sekali, padahal dia tak salah apapun..." cetusnya seraya menoleh melihat kearah daun pintu yang sudah menutup rapat dengan tatapan prihatin.
Si pelaku hanya abai terhadap celetukan itu. Dia punya hal lainnya yang lebih difokuskan.
Tangan kekar yang masih menggenggam tangan lembut itu bergerak kuat namun tanpa menyakiti, menarik pemilik tangan lembut itu untuk lekas duduk di kursi yang di pilihkan untuknya.
Greek...
"Duduklah!"
"Terimakasih!" nadanya masih bisa bermanis-manis di tengah-tengah kedinginan yang dipancarkan oleh pria yang menuntunnya duduk dan saat ini tengah berdiri tegak dibelakangnya seolah sedang menunggu gadisnya duduk dengan nyaman di kursinya.
Baru kemudian dia mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya.
Merasakan suasananya tidak mengenakkan gadis itu yang tak lain adalah Reychu segera menyadari kalau prianya tengah tidak sabaran akan suatu hal.
"Ada apa, hm...?" tanya Reychu penuh perhatian sembari memainkan rambut panjang berwarna merah milik prianya.
Bila biasanya pria yang memainkan rambut wanitanya, maka disini justru sebaliknya. Berhubung Reychu tak begitu suka memiliki rambut panjang, tapi setelah datang ke dunia kuno ini dia mulai suka melihat pria berambut panjang.
Ingat! Pria, bukan dirinya.
Seperti saat ini.
"Rambutnya wangi. Dia pakai apa untuk rambutnya, ya?!" batin Reychu seraya menciumi rambut Kaisar Agung Bai yang sejak tadi memandangi kelakuannya.
Tindakan Reychu membuatnya bimbang. Sebelumnya dia menduga kalau Ryura mungkin berniat untuk membawa dua gadis lainnya guna memisahkan diri dari dia dan kedua sahabatnya. Tapi, melihat betapa melekatnya Reychu dalam bertingkah laku mesra saat bersamanya membuatnya mulai meragukan dugaannya.
Mungkinkah benar kalau kekasihnya tidak akan lama di dunia ini dan bukannya ingin kabur meninggalkannya?!
"Yang di katakan Ye Zi Xian tidak benar kan?" tanyanya langsung keintinya.
"Ye Zi Xian?! Pria beruban itu?! Memang apa yang dikatakannya padamu?" bukannya menjawab, Reychu justru bertanya kembali dengan sedikit bingung di awal karena sempat tidak mengingat siapa pemilik nama yang disebutkan oleh Kaisar Agung Bai tadi.
Meski tertegun dengan cara Reychu menjuluki sahabatnya, tapi dia tak terlalu menanggapi karena ada hal yang lebih penting daripada itu.
"Dia bilang, kau dan dua sahabat mu tidak akan lama disini. Benarkah itu?" was-was yang dirasa Kaisar Agung Bai lantaran belum siap mendengar jawaban yang ditakutkannya.
"Jadi, Ryura benar-benar sudah mengatakannya..." senyum tipis sarat akan ketidakberdayaan terukir di bibirnya.
Mendongak untuk menatap langsung kedalam bola mata Kaisar Agung Bai yang kini sudah bertahta dihati Reychu. Dapat dilihat olehnya, siratan kesedihan begitu mendominasi sinar matanya.
Reychu turut sedih atas hal itu.
Mengangguk membenarkan. "Ya, itu benar. Apa dia juga mengatakan siapa kami?" pertanyaan Reychu dijawab anggukan kepala oleh Kaisar Agung Bai.
Pria itu tak sanggup berkata-kata, karena rasa sesak yang menyusup relung hatinya. Itu benar-benar menyakitkan.
Setelah mendapatkan jawaban. Reychu segera bangkit dari duduknya dan berjalan secara acak seperti sedang mencari sesuatu. Kaisar Agung Bai hanya memandanginya tanpa berniat menghentikannya, karena pria itu tahu penjelasan ini belum selesai.
Begitu kembali ketempat duduknya, Reychu sudah membawa alat tulis. Beberapa lembar kertas, kuas dan tinta.
Walau bingung dengan apa yang akan Reychu lakukan, tapi dia tetap diam menunggu.
Tanpa banyak bicara, Reychu mulai menggoreskan garis demi garis di atas kertas itu menggunakan kuas yang sudah di baluri dengan tinta.
Kaisar Agung Bai hanya memperhatikan dari samping.
Setengah jalan menggambar diatas kertas, barulah Reychu mulai bercerita.
Pada dasarnya, Reychu memiliki bakat menggambar namun itu bukan hobinya sehingga gambarnya tidak lebih dari 'yang penting rapi'. Dibilang pemula, dia bahkan dibawahnya pemula.
Sebuah bangunan pencakar langit terpampang dalam gambar pertamanya.
"Ternyata aku masih bisa menggambar. Haha..." celetuknya mengagumi diri sendiri.
Kaisar Agung Bai sama sekali tidak tahu apa yang digambar gadisnya. Dimatanya gambar bangunan pencakar langit itu hanya sebatas garis horizontal dan vertikal.
"Ini adalah tempat tinggal aku dan yang lain di dunia kami." melirik sejenak kearah Kaisar Agung Bai guna ingin tahu seperti apa reaksinya.
Dan, dapat dilihat olehnya bagaimana kening lebar pria itu berkerut aneh dengan ekspresi yang jelas mengartikan. 'Bagaimana bisa tumpukan garis seperti ini menjadi tempat tinggal?'
Reychu hanya terkekeh tanpa suara melihatnya dan kembali melanjutkan.
"Ini namanya apartemen. Ini semacam penginapan. Tapi, bisa di jadikan hak milik selama kau memiliki cukup uang untuk membelinya." jedanya sambil terus menggambar. "Hanya... Jangan kau bayangkan seperti benar-benar kamar di penginapan. Apartemen itu adalah rumah dengan banyak ruang didalamnya seperti halnya rumah pada umumnya. Ada kamar tidur, ada dapur, dan ruang lainnya. Disana aku dan dua sahabat ku tinggal." jelas Reychu baru sedikit memberikan Kaisar Agung Bai pemahaman, walau jujur saja pria itu masih belum bisa membayangkan ada rumah setinggi itu hingga hampir menyentuh langit.
Berapa banyak anak tangga yang digunakan untuk bisa mencapai bagian paling atas? Pikirnya konyol.
Srek...
Lembar kertas diganti yang baru.
Reychu kembali menggambar apapun yang dapat diingatnya dari kehidupan modernnya.
__ADS_1
Gambar berikutnya adalah gambar kota metropolitan tempatnya tinggal dari sudut pandang atas. Memperlihatkan banyaknya gedung-gedung tinggi dan pendek memenuhi satu tempat dalam bidang yang luas.
Kerutan di dahi Kaisar Agung Bai semakin dalam melihatnya. Kini, dimatanya itu seperti tumpukan balok kayu yang semarak hingga memusingkan matanya dalam menafsirkan arti gambar itu. Benar-benar penuh sesak sampai rasanya ia ingin meratakannya.
"Ini adalah penampakan kota dari ketinggian. Kota tempat tinggal ku. Penuh dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Aku tidak meminta mu untuk membayangkannya, kau cukup memahaminya saja kalau aku benar-benar bukan berasal dari dunia yang sama denganmu." terang Reychu lagi.
Reychu tak berniat menjelaskan dengan detail, karena itu kaan percuma. Disini pemikiran orang belum semaju orang di jamannya. sedetail apapun dia menjelaskan, imajinasi mereka tetap tak akan sampai.
Begitulah yang Reychu pikirkan.
Srek...
Kertas kembali di ganti dan Reychu lanjut ke gambar berikutnya.
Dia menggambarkan beberapa orang baik laki-laki maupun perempuan dengan maksud untuk menunjukkan pada prianya bagaimana orang-orang di jamannya berpakaian.
"Dunia tempat ku berasal bisa dikatakan adalah dunia modern. Dimana segala sesuatunya sudah di permudah. Salah satunya cara kami berpakaian." jari telunjuk Reychu diarahkan ke gambar orang-orang berpenampilan modern. "Ini adalah cara kami berpakaian. Baju-baju ini simpel dan santai. Sangat nyaman dikenakan untuk sehari-hari. Tapi, tentu saja semua orang memiliki gaya berpakaian mereka sendiri. Lihat yang ini..." jarinya menunjuk bolak balik ke gambar laki-laki berpakaian kasual dan perempuan berpakaian minim.
"Di dunia ku, perempuan boleh berpakaian terbuka. Aku juga sering berpakaian seperti itu. Hahaha... Yang pasti sangat nyaman kalau dipakai saat musim panas!" riang Reychu kala berbagi cerita sekaligus bernostalgia.
Terdengar dengusan jijik dari sebelahnya. Sepertinya, dengusan Kaisar Agung Bai ditujukan untuk ketidaksukaannya pada perempuan berpenampilan seperti itu.
"Itu kau bilang bagus! Sama sekali tidak! Kelak kau tidak boleh mengenakan pakaian semacam itu lagi! Aku tidak suka!" lugas Kaisar Agung Bai benar-benar menunjukkan keposesifannya atas diri Reychu sekalipun sebenarnya ia sendiri belum benar-benar menerima cerita Reychu sebagai suatu kebenaran.
"Hihihi... Lihat betapa posesifnya dirimu..." goda Reychu sama sekali tidak merasa di kekang dari apa yang sudah Kaisar Agung Bai ucapkan.
Reychu justru senang. Itu karena dia pernah menekankan pada dirinya kalau dia butuh laki-laki yang bisa mengendalikan keliarannya yang gila.
"Tentu. Kau adalah milikku. Hanya aku yang boleh melihat penampilan mu tanpa mengenakan apapun." selorohnya tanpa maksud vulgar. Dia hanya mengikuti kata hatinya saja.
Tetapi, kata-katanya memang cukup blak-blakan.
"Baik... Baik..." situasi saat ini sedang tidak cocok bila Reychu mulai bercanda. Alhasil, dia memilih mengalah dan kembali ke topik pembicaraan mereka dengan serius.
Srek...
Kertas berikutnya diisi dengan gambar kendaraan yang ada di masa modern.
Reychu menjelaskan sembari menggambar.
"Ini adalah berbagai jenis transportasi yang ada di duniaku... Bila disini sejenis kereta kencana, gerobak sapi, dan menunggang kuda." jedanya sambil terus menggambar. "Ini disebut kendaraan roda empat..." katanya kala menggambar mobil dan beberapa transportasi yang lainnya lagi. "Kendaraan ini biasa disebut mobil... Ini bus... Ini truk... Dan masih banyak lagi!"
Reychu menyebutnya sambil menunjuk-nunjuk kearah gambar yang dibuatnya.
"Kau pasti bingung dengan apa yang aku katakan. Tapi, kau tak punya pilihan lain selain mencoba untuk memahaminya."
"Kendaraan itu... Tidak membutuhkan kuda? Semua itu tidak jauh berbeda dengan kereta kuda. Ya, walau bentuknya benar-benar aneh." akhirnya Kaisar Agung Bai kembali berekspresi dengan segala rasa penasarannya.
"Benar! Semua ini di kendalikan oleh mesin, makanya tidak perlu menggunakan tenaga kuda lagi... Dan mesin itu sendiri adalah ciptaan orang-orang jenius di bidangnya. Sama seperti disini, setiap orang memiliki kelebihan mereka masing-masing." jelas Reychu semangat dalam mengenalkan dunianya kepada Kaisar Agung Bai.
Sepenggal cerita pendek itu ia ceritakan kepada Kaisar Agung Bai untuk meyakinkan pria itu kalau dia benar-benar berada dari masa yang lain.
"Dan cepat atau lambat... Aku dan yang lainnya akan kembali kesana. Ketempat kami yang sebenarnya." dia mengatakan kalimat terakhir itu sembari beradu pandangan dengan Kaisar Agung Bai yang langsung merasa hatinya di tusuk oleh ribuan belati.
Mendengar kekasihnya tetap akan pergi pada akhirnya, membuat dia tak bisa membayangkan betapa gelapnya hidup yang akan dia jalani dikemudian hari tanpa adanya sang belahan jiwa.
"Tak bisakah... Tetap disini..." permohonan yang sulit diucapkan itu akhirnya terucap juga.
Hening sejenak, Reychu gunakan untuk memandangi wajah tampan pujaan hatinya yang begitu menggetarkan jiwa raganya.
Hatinya bergetar. Dia yang biasanya tak mempedulikan perasaan orang lain kala bersikap, kini harus dibuat terenyuh oleh pria didepannya saat ini.
Seulas senyum manis terpatri dengan begitu tulus. "Aku ingin... Seandainya bisa..."
Sesaat setelah ditinggalkan oleh sepasang kekasih itu -Reychu dan Kaisar Agung Bai-, kini Rayan hanya menikmati kesendirian sembari merenungkan apa yang mungkin akan terjadi kedepannya.
Lamunannya sampai membuat ia tak sadar kalau Shin Mo Lan telah datang menemuinya.
Ketika Rayan menghela nafas berat, suara akrab seorang pria yang menyebutkan namanya menggema di telinga membuat ia segera menoleh ke asal suara tersebut.
"Rayan..."
"Tuan Muda Shin?!" kagetnya.
"Panggil aku dengan panggilan yang lebih akrab." cetusnya yang membuat Rayan tertawa kecil nyaris tak terdengar.
"Baik. Aku akan memanggil dengan nama Mo Lan saja. Tidak masalah, kan?" putusnya.
Tuan Muda Shin hanya menjawab dengan senyuman manis dan sedikit anggukan persetujuannya.
Kemudian, pria menawan itu tergerak untuk merapikan jubah bulu yang dikenakan Rayan, meski sebenarnya masih terlihat rapi. Tapi, pria itu tetap melakukannya semata-mata juga untuk menenangkan hatinya yang tengah dilanda kegundahan.
Rayan menangkap perasaan rumit itu dari raut wajahnya yang seperti tak bisa disembunyikan lagi. Membuatnya -Shin Mo Lan- tampak tidak seperti dirinya sebelumnya yang mampu menyembunyikan perasaan sendiri.
"Jangan di tahan... Apapun yang kau rasakan didalam hati mu, jangan di tahan... Tidak baik." kata Rayan dengan suara rendah nan lembut.
Mendengar itu, Shin Mo Lan justru menatap dengan seksama keseluruhan wajah Rayan guna memastikan kalau gadis yang berada didepannya sesungguhnya bukanlah sosok aslinya.
__ADS_1
Lama diam sampai akhirnya, Shin Mo Lan memberanikan diri untuk bertanya hal yang mungkin sebenarnya dirahasiakan. Tapi, mengingat Ye Zi Xian mengetahui sebuah fakta langsung dari mulut Ryura. Dia jadi berharap juga akan mendapatkan penjelasan yang lebih dari mulut pujaan hatinya sendiri.
Menarik nafas dalam-dalam sebelum ia bertanya dengan yakin. "Siapa... Kau sebenarnya?"
Itulah pertanyaan yang paling utama ingin dia ketahui. Sosok didepannya meski imut dan mampu membuatnya jatuh hati, tapi tetap saja sosok itu adalah wadah dari jiwa pujaan hatinya.
Dia butuh kebenaran yang nyata. Meski ia tahu itu pasti tidak mudah.
Rayan tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Dia tahu, Ryura pasti sudah bergerak untuk memberitahukan sebuah rahasia kepada kekasihnya.
Dan kini, giliran dirinya.
"Aku Rayan. Kau sudah tahu itu."
"Bukan itu yang ingin ku dengar. Dirimu... Jati dirimu... Kau yang sebenarnya... Itulah yang ingin kudengar." jedanya. "Kau tahu... Aku takut... Aku tak siap kehilanganmu." tambahnya dengan suara yang semakin lirih.
Rayan jadi tidak tahan mendengarnya, tapi dia juga tak bisa apa-apa.
Menghembuskan nafas berat guna menyiapkan diri untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin akan aneh dan mustahil kedengarannya.
"Baik. Tidak ada yang perlu ku takutkan juga. Lagipula, Ryura sudah lebih dulu bertindak." jedanya sesaat sambil menuntun Shin Mo Lan untuk duduk disebelahnya, menemaninya memandang pemandangan putih didepan mereka saat ini.
Sedang, Shin Mo Lan hanya membiarkan dirinya dituntun oleh Rayan.
"Namaku benar adalah Rayan. Tubuh yang ku tinggali juga bernama Rayan. Hanya saja, tubuh ini bernama lengkap Yu Rayan... Sedangkan namaku yang sebenarnya adalah Rayan Monica. Karena tidak mungkin menggunakan nama seperti itu disini, jadi aku menyingkatnya menjadi Rayan Mo setelah berhasil keluar dari keluarga pemilik tubuh ini." dia bercerita sambil bergelayut di lengan Shin Mo Lan dan pria itu membiarkannya saja. Karena, sejujurnya diapun menyukainya.
Kapan lagi bisa bersama seperti saat ini. Ditambah dengan fakta yang sulit ia terima itu, membuat dia harus ekstra meluangkan waktu untuk bersama pujaan hatinya.
"Jangan berprasangka buruk dulu, ya. Aku tidak bermaksud mencuri tubuh ini dari keluarganya. Hanya saja, hidup si pemilik tubuh ini juga tidak berada di situasi yang baik. Dia gadis yang malang dengan hidup yang penuh penderitaan sampai ajal menjemputnya. Itu juga terjadi pada pemilik tubuh yang ditinggali oleh Ryura dan Reychu." Rayan menjeda penjelasannya dan Shin Mo Lan setia mendengarkan sampai selesai.
"Kami bertiga memiliki nama panggilan yang sama dengan nama pemilik tubuh. Han Ryura dan Ahn Reychu, adalah nama asli dari tubuh yang mereka pakai. Nama asli mereka adalah Ryura Jena dan Reychu Velicia. Kami berasal dari dunia yang sama. Kami hidup hanya bertiga sejak masih kecil. Tanpa orang tua dan keluarga. Kami hanya bergantung satu sama lain... Sebenarnya, usia kami sudah hampir menginjak 30 tahun." Rayan tersenyum kecil mengingatnya. Ini benar-benar nostalgia, menurutnya.
Sedang, Shin Mo Lan sempat tertegun kala mendengar kalau usia pujaan hatinya yang sebenarnya sudah cukup matang.
"... Dan kami masih sendiri. Kami belum pernah berhubungan dengan pria manapun bahkan dari kehidupan sebelumnya. Ryura bilang, kami datang kesini hanya untuk mencari cinta sejati kami." jedanya tanpa mengalihkan pandangan dari warna putih yang bertebaran dihadapannya.
Shin Mo Lan disisi lain tak lepas dari memandang dalam wajah imut gadisnya atau tepatnya wajah dari tubuh yang ditinggali oleh kekasihnya. Jujur saja, dia menjadi sangat penasaran dengan sosok asli Rayan.
Akan jadi seperti apa Rayan dalam wujud aslinya.
"Mungkin kau juga bertanya-tanya kenapa kami bisa menjadi begitu ahli dalam bertarung... Sebenarnya, karena pekerjaan kami tidak jauh dari itu." menoleh membalas tatapan Shin Mo Lan dengan senyum tipisnya.
"Di dunia tempat kami berasal... Aku dan dua sahabat ku berkerja sebagai pembunuh bayaran..." mendengar itu Shin Mo sedikit terkejut. Tak menyangka kalau pujaan hatinya akan menggeluti profesi yang begitu beresiko juga mengerikan.
Mereka itu 'kan perempuan!!
Tapi, dia tetap diam untuk mendengarkan lebih lanjut tanpa sedikitpun niat untuk menyela penjelasannya.
"Kami mengalami kematian yang... Ya... Bisa dikatakan konyol dan menggelikan. Walau itu juga cukup normal." Rayan membicarakan tentang kematiannya bersama kedua sahabatnya kala di sambar petir.
Mungkin itu tak terkesan lucu atau apapun. Hanya saja, yang membuat Rayan berpikir begitu adalah karena latar belakangnya yang seorang pembunuh bayaran yang sadis. Dia pernah berpikir kalau seharusnya kematiannya juga tak kalah tragis. Tapi, ini...
Disambar petir?
Berulang kali ia membayangkannya, tetap terasa menggelitik.
"Hahaha... Kami mati karena tersambar petir beberapa waktu setelah misi kami selesai dilakukan. Oleh sebab itu, kami ada disini." jedanya.
"Kupikir, aku akan hidup didunia ini untuk sisa umur ku. Tapi, setelah Ryura memberitahukan kalau kami masih memiliki kesempatan untuk kembali ke kehidupan kami yang sebenarnya. Aku jadi berpikir kalau itu artinya kami memiliki peluang untuk kembali." terdiam untuk menatap langsung kedalam bola mata Shin Mo Lan yang tampak bergetar sedih.
"Akan tetapi, aku jadi ragu dan takut untuk benar-benar kembali sekarang. Disini aku memiliki tempat untuk bersandar. Bagaimana bisa aku meninggalkannya begitu saja?!" perkataan itu bagai musim semi yang muncul di tengah-tengah musim dingin berkepanjangan.
Shin Mo Lan senang mendengarnya.
Tapi, itu tidak bertahan lama sampai perkataan Rayan yang selanjutnya.
"Sayangnya, aku tidak punya pilihan selain pasrah dan menerima segala sesuatunya yang akan terjadi nanti. Bila pada akhirnya aku harus pergi, aku hanya berharap giliran kau yang mendatangiku ke dunia ku."
"Bagaimana kalau tidak..." nada Shin Mo Lan jelas tertekan.
"..." hening lama sebelum Rayan mengangkat kedua tangannya untuk menakup wajah tampan prianya.
"Maka, aku akan berdoa semoga kau bahagia selalu, ada atau tidak adanya aku disisi mu."
Begitu kalimat yang cukup menghujam jantung itu usai, Shin Mo Lan langsung mendekapnya dalam pelukan eratnya yang jelas sarat akan penolakan atas kenyataan pahit yang baru didengarnya.
"Aku hanya akan bahagia bersamamu, Rayan. Itu mutlak!" sumpah Shin Mo Lan sampai menitikkan air mata karena tak sanggup membayangkan perpisahan suatu hari nanti.
Keduanya pun hanyut dalam kegalauan.
huhuhuhuuu... sedihnyaaa...
sedih gak? sedih dong! hahaha
kali ini panjang Yo. jadi bacanya jangan ngebut biar berasa gitu...
ok, next dh gak ada galau2 lagu... eh lagi maksudnya.🤣🤣
__ADS_1
yup. selamat membaca gaess...🥰🥰🥰