3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
15 Hari?!


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, rombongan Keluarga Ye mulai melakukan perjalanan menuju Akademi Zhilli atau tepatnya ke Kediaman Zhilli Shin untuk memenuhi undangan yang diberikan.


Didalam gerbong kereta utama terdapat Ye Zi Xian dan Ryura, gerbong kereta berikutnya diisi oleh Tetua Ye dan Ye Xiao Nan, gerbong-gerbong setelahnya adalah orang-orang dari tempat yang sama yang turut menerima undangan. Mereka bersama-sama melakukan perjalanan menuju Kediaman Zhilli Shin. Jangan lupakan Furby yang menjadi kuda penarik gerbong sahabatnya beserta suami.


Dari dalam gerbong kereta, Ye Zi Xian tidak henti-hentinya mengambil kesempatan untuk bermanja-manja ria dengan istrinya, sedang Ryura diam sambil memandang keluar jendela kereta yang tirainya setengah disingkap dan membiarkan suaminya melakukan semaunya pada dirinya.


"Sayang... Apa yang menarik di luar sana dibandingkan dengan ku, hm? Sampai kau asik melihat keluar sana." suaranya rendah bertanya seraya memeluk erat tubuh Istrinya dengan mengusel hidungnya di lekukan leher Ryura.


"Masa depan." jawab Ryura yang berhasil menarik perhatian pria itu.


"Masa depan?" tanyanya bingung setelah mengambil jarak agar dapat melihat wajah sang istri yang masih tak mengalihkan pandangannya dari luar jendela. Jangan lupakan wajahnya yang tak berekspresi.


"Hm." Ryura membalas dengan deheman.


"Aku tidak mengerti." usai mengatakan itu, Ye Zi Xian kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terpotong tadi.


Seandainya hidup ini hanya tentang dia dan Ryura, Ye Zi Xian pasti tak akan pernah melepaskan Ryura dari rengkuhannya.


"15 hari setelah pernikahan Rayan. Aku akan pergi bersama Rayan menuju Negara Es." pernyataan tersebut menyentak akal sehat Ye Zi Xian dari kenikmatan yang tengah dia teguk.


Kembali mengambil jarak agar dapat menatap sepenuhnya wajah Ryura dengan raut kaget, bingung, tajam, dan serius. Pengumuman itu terdengar mengejutkan sekaligus menakutkan bagi Ye Zi Xian.


Bukankah itu artinya keduanya akan berpisah, pikirnya.


"Apa? Apa yang baru saja kau katakan? Untuk apa kesana? jangan bercanda!" serbu Ye Zi Xian menggebu-gebu. Jelas terlihat kalau dia tak percaya dan tak terima dengan apa yang baru saja didengarnya.


Mendengar itu pun membuat Ryura menoleh guna menatap wajah gundah suaminya. Dia tahu, Ye Zi Xian tidak akan senang mendengarnya, tapi inilah yang memang harus dilakukan. Lama dia terdiam sambil memandangi wajah tampan itu.


"Kau bisa menyusul setelah pekerjaan mu selesai. Lagipula, inilah yang seharusnya kami lakukan sebelum kembali." terang Ryura yang masih tak dapat meluluhkan hati Ye Zi Xian yang ketakutan. Apalagi setelah mendengar kata kembali yang berarti bukan kembali ke kediaman mereka melainkan kembali ketempat asal wanitanya yang sebenarnya.


Jantungnya berdetak amat kencang hingga rasanya akan lepas dari tempatnya.


"Tidak adakah cara yang lain tanpa harus meninggalkan ku? Ku yakin, Shin Mo Lan pun akan merasa ini tidak adil. Dia pasti belum puas berduaan dengan istrinya!" bujuk Ye Zi Xian berharap bisa merubah pikiran sang istri.


"Lebih tidak adil bila kami tidak melakukannya." ini membuatnya bingung.


"Kenapa?"


"Karena kita tidak akan memiliki kesempatan untuk bersama bila kami memilih diam."


Deg!


Jawaban tersebut langsung menusuk relung hati Ye Zi Xian yang paling dalam. Dia terdiam membisu tak tahu harus berkata apa. Dia pun tak sanggup membayangkan kalau mereka tidak ditakdirkan bersama lagi.


"Tidak! Itu tidak boleh terjadi!" batinnya meraung keras.


"Tapi, bukankah kau bilang kalau kita sudah ditakdirkan. Kau mengatakan bahwa ada kemungkinan kita bertemu kembali di duniamu!" ingin memekik, tapi tak bisa. Perasaannya campur aduk belum lagi dia tak bisa bersuara keras didepan Ryura-nya.


"Memang. Tapi, itu akan terjadi bila kami mampu mempertahankan apa yang seharusnya kami pertahankan." jedanya sambil saling pandang. "Kau tidak ingin takdir kita terputus bukan?" Ye Zi Xian menggeleng tanda tak mau.


Jelas tak akan mau. Ryura segalanya bagi Ye Zi Xian.

__ADS_1


"Maka, dengarkan aku." final Ryura yang sukses membuat Ye Zi Xian lemas tak hanya fisik tapi juga pikiran dan hatinya.


Ini berat baginya. Sangat berat.


Lantas, dipeluknya erat-erat tubuh Ryura seperti tak ingin dilepaskan. Dia berat untuk melakukannya, tapi bila tidak seperti ini dia lebih tak mau kalau sampai takdir mereka terputus. Ryura adalah hidupnya, masa depannya akan berakhir gelap bila tanpa Ryura.


"Berjanjilah! Hanya kali ini kita berjauhan! Berjanjilah! Bahwa ini adalah awal dari kehidupan bersama kita dimasa depan! Berjanjilah, Ryura! Berjanjilah, sayang! Berjanjilah!" tuntut Ye Zi Xian dengan suara parau yang teredam akibat wajahnya ditenggelamkan di ceruk leher Ryura.


Mendengar lirihan sedih sang suami tercinta karena tak ingin berpisah darinya, ternyata menimbulkan rasa baru dihatinya. Yaitu, ikut sakit dan sedih ketika melihat pujaan hatinya sedih seperti saat ini.


Ternyata seperti ini rasanya...


Kemudian, di elusnya surai panjang berwarna putih keperakan milik suaminya dengan penuh cinta yang jarang diperlihatkannya, lalu berkata dengan suara rendah yang hanya dapat didengar oleh Ye Zi Xian.


"Janji!"



Setelah perjalanan panjang yang rombongan Tuan Ye lewati, kini mereka akhirnya tiba di Kediaman Zhilli Shin yang ternyata sudah dipenuhi oleh tamu undangan yang datang dari jauh. Mereka bahkan ada yang menginap sejak dua atau tiga hari yang lalu seperti halnya rombongan Keluarga Kerajaan Es yang sudah tiba lebih dulu, sementara rombongan Ye Zi Xian tiba sehari sebelum hari pernikahan diadakan.


Semuanya kembali berbaur satu sama lain, entah itu untuk saling menyapa atau hanya untuk sekedar mengambil kesempatan agar dapat menjilat penguasa-penguasa Kekaisaran Utara.


Entahlah, semuanya bisa terjadi.


3Ry juga mengambil kesempatan untuk berkumpul bersama sebelum esoknya Rayan sudah sah menjadi istri Tuan Muda Shin Mo Lan.


"Siapa ini? Calon pengantinnya kah?" goda Reychu saat ketiganya sedang berkumpul.


"Hahaha... Berbahagialah, karena nanti malam aku akan buat suamimu mabuk hingga tak bisa melakukan malam pertama dengan mu!" terbahak Reychu usai mengutarakan rencana jahilnya.


"Sial*n! Awas kau ya kalau berani macam-macam! Jangan sampai aku melewatkan malam pertama ku, maka kau yang akan menjadi tersangka utamanya! Huh!" marah Rayan membuang muka sebab merajuk kepada Reychu yang masih menyebalkan baginya.


"Hahaha... Aku takuuut... Bagaimana ini... Ryura, tolong aku... Hahaha..." senang rasanya membuat sahabatnya marah. "Tapi, menurut ku itu bukan ide yang buruk. Hm... Bisa di coba." ujar Reychu berlagak seperti orang yang berpikir keras dengan penuh pertimbangan.


Melihat itu, Rayan geram bukan kepalang hingga keduanya pun berakhir dengan saling kejar-kejaran. Sementara Ryura, wanita itu hanya diam memandang kedua sahabatnya tanpa ikut masuk kedalam kesenangan keduanya.


Ryura masih penuh misteri bahkan hingga detik ini.



Hari bergulir ke keesokan harinya, dimana akan menjadi hari yang tak akan dilupakan baik oleh Rayan maupun Shin Mo Lan. Pasangan itu akan selalu ingat hari tersebut, mengingat hari itu adalah hari jadi mereka mengikat satu sama lain dalam ikatan pernikahan.


Kebahagiaan terpancar nyata diwajah keduanya.


Sama seperti prosesi pernikahan pada umumnya. Pasangan Shin Mo Lan dan Rayan pun melakukan ritual yang sama dengan kegiatan tambahan yang tak jauh berbeda dengan yang dilakukan kala Ye Zi Xian menikah dengan Ryura.


Seharian penuh mereka -para tamu undangan- menikmati pesta tersebut dengan antusias.


Sementara didalam kamar pengantin, sudah ada Rayan yang duduk dengan perasaan membuncah bahagia tak terkira di pinggir peraduannya. Sesekali masih tak percaya kalau dia sudah menjadi istri dari seorang master alkimia di era kuno ini. Bukan sembarang master lagi. Hal tersebut membuat bayangannya terbang jauh kembali ke zaman modern, dia bertanya-tanya 'kira-kira, akan jadi apa suaminya di dunia tempatnya berasal?'


Dia benar-benar ingin tahu.

__ADS_1


Dia bahkan gereget untuk segera melepas penutup kepala merah yang dikenakannya. Dia juga gugup-gugup tak sabar menunggu kedatangan suaminya untuk mulai saling memadu kasih bersama malam ini.


Otaknya mulai eror sepertinya. Bisa-bisanya dia berkhayal hal kotor itu. Tapi, kalau dipikir-pikir... Tidak ada salahnya, bagaimanapun mereka sudah suami istri. Jadi, sah-sah saja.


Saat sedang asyik-asyiknya dengan pemikirannya yang ia sibukkan agar dapat menghilangkan bosan karena menunggu sang suami. Suara derit peraduan disebelahnya tiba-tiba terdengar, dia juga merasakan kalau ada seseorang yang bergerak duduk disampingnya.


Dia tak tahu siapa itu. Walaupun demikian, dia tak takut.


Baru akan bertindak, suara yang paling dikenalnya langsung masuk tanpa aba-aba kedalam pendengarannya.


"Persiapkan dirimu."


"Ryura?" Rayan kaget sampai hampir membuka penutup kepalanya kala mengetahui siapa yang datang seperti hantu, tapi berhasil ia tahan dan memilih melanjutkan dialog mereka tanpa membuka penutup kepala tersebut.


"Apa yang kau lakukan disini? Jika, ada yang melihatnya, kau akan dalam masalah. Lagipula, apa maksudmu dengan persiapkan diri ku?" bingungnya. "Kalau yang kau maksud persiapkan diri untuk malam ini. Kau tak perlu memberitahunya... Aku sudah siap sedari tadi." lanjutnya seraya tersenyum malu-malu.


"15 hari lagi... Kita berdua berangkat ke Kerajaan Es." ujar Ryura tanpa menggubris perkataan Rayan sambil tersipu-sipu itu. Tak peduli malah, walau dia sudah menjadi yang pertama merasakan nikmatnya surga dunia diantara 3Ry.


"Hah? Buat apa?" Rayan menolehkan kepalanya seakan tengah menatap Ryura tanpa


Ryura menoleh seolah keduanya saling melempar pandangan. "Ini ada langkah terakhir untuk bisa bersama. Kau tak mau takdir kalian terputus 'kan?"


Rayan terkejut bukan main mendengarnya. Antara bingung atau apa. "Kau serius?" tapi, Ryura hanya diam tak bergerak.


Bila sudah begini, tidak ada alasan untuk tidak percaya.


Ryura bukan peramal. Tapi, dia selalu bisa memberikan petunjuk-petunjuk untuk segala sesuatu yang diperlukan. Entah bagaimana caranya dia melakukannya. Namun, satu yang pasti...


Insting dan intuisi Ryura tak pernah meleset.


Ditundukkan kepalanya dan mulai berpikir. Di cerna baik-baik semua yang keluar dari mulut Ryura-nya. Tak lama, suaranya yang penuh keyakinan pun terdengar.


"Aku ikuti saja katamu. Demi kita bersama dia masa depan!" jedanya. "Tapi... Apakah Reychu tahu tentang ini?" tanyanya kemudian.


Pertanyaan itu dijawab gelengan oleh Ryura.


Sambil mengernyit Rayan bertanya lagi. "Kenapa?"


Menatap lurus ke depan, Ryura kembali menjawab dengan suara datar khasnya.


"Jika, dia tahu. Maka, musuhnya pun akan tahu."


Baru kemudian Rayan paham. "'Aaa... Aku mengerti. Kau pernah bilang kalau musuhnya cukup kuat. Tentu, kita tak bisa begitu saja tertangkap. Dengan Reychu tetap dengan aktivitasnya yang mungkin selalu dalam pengawasan, maka kita akan stand by di belakangnya." Rayan mengangguk mengerti.


Menegakkan punggungnya seraya berkata. "Ryu! Mari kita akhiri semuanya dan kembali pulang! Kemudian, menunggu ketiga pria itu menyusul kita untuk melanjutkan kehidupan yang sebenarnya!" seru Rayan penuh semangat.


Ryura hanya diam tak menanggapi, tapi dia setuju dengan apa yang Rayan katakan.


Ini memang harus segera diakhiri...


__ADS_1


ni buat kalian yang pingin cepet2 ke masalahnya Reychu. tapi, Thor tentu gak bisa langsung lompat ok. jadi, sabar ya sayang...😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2