3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SAYEMBARA 2: TIDAK PANDANG BULU


__ADS_3

Srak...


Srak...


Krieet...


Keluarlah Ryura dari kamar mandinya. Di luar kamar mandi ia sudah di suguhkan penampakan beberapa pria sedang membereskan kekacauan yang ia buat sebelumnya. Melihat sekilas kearah pakaian mereka, bisa langsung ia ketahui kalau mereka adalah para pekerja di penginapan itu.


Sementara para pekerja pria disana begitu mendengar suara pintu dibuka, semuanya langsung menghentikan kegiatan mereka dan menoleh ke asal suara tersebut. Seketika mereka tersentak kaget, saat tahu kalau penyewa kamarlah yang keluar. Yakni, Ryura. Tanpa sadar, mereka semua sampai menahan nafas saking takutnya.


Berbagai pemikiran buruk melayang-layang di benak mereka. Sedang yang di pikirkan acuh saja.


Keacuhan Ryura, ternyata tak cukup untuk membuat mereka tenang. Terlebih ketika mereka melihat tangan Ryura bergerak tampak sedang merogoh sesuatu ke saku pakaiannya. Tak bisa di pungkiri, jantung mereka berdegup kencang seakan mau lepas dari tempatnya. Berbagai spekulasi memasuki otak kecil mereka.


Nafas sebelumnya saja belum benar-benar dihembuskan dengan baik, kini malah harus kembali menahan nafas dengan kewaspadaan yang meningkat tajam. Mata mereka memandang awas pada gadis manis, namun menakutkan itu.


Tapi, siapa yang menduga kalau detik berikutnya raut wajah mereka justru berubah melongo tak percaya. Beberapa kali secara bersamaan, mereka mengerjapkan mata mencoba meyakinkan. Namun, apa yang dilihat sungguh nyata adanya.


Disana, di tempat Ryura berdiri. Dimana sikapnya selalu membuat orang-orang yang belum mengenalnya memandang waspada padanya, ternyata sedang mengeluarkan beberapa keping uang tael peraknya sejumlah dengan para pekerja pria di sana masing-masing dua. Lalu, meletakkannya di atas lemari pendek yang berada dekat dengannya tepat di samping pintu kamar mandi dan pergi begitu saja usai mengatakan dua kata tanpa peduli di dengar atau tidak oleh mereka yang sepertinya masih menatap tak percaya padanya.


"Untuk kalian."


Tak lama gadis itu sudah menghilang saja dari kamar dan dari hadapan mereka, meninggalkan beberapa pria itu dalam kebingungan sekaligus rasa tak percaya kalau ternyata gadis yang tak pernah ragu membunuh orang itu juga adalah orang yang tak ragu dalam berbagi.


"Kalian lihat itu?" tanya salah satunya, masih dalam mode cengongnya.


"Eumm. Lihat." jawab salah satunya mewakili. Matanya masih memandang beberapa tael perak itu dengan tatapan tak percaya.


"Itu nyata. Apakah dia benar-benar sejahat yang orang-orang katakan?" salah satunya lagi mulai mempertanyakan kebenaran yang sebenarnya. Hingga rekannya yang lain langsung menimpali.


"Aku ingat! Pak tua yang bertubuh pendek itu pernah bilang. Kalau, gadis itu tak akan membunuh bila tidak ada yang memancingnya untuk membunuh. Itu berarti, dia hanya akan kejam bila ada yang berbuat buruk padanya. Tidakkah kalian lihat, begitu dermawannya dia?" terang lainnya lagi.


Mendengar itu yang lainnya pun langsung mengangguk setuju.


Tanpa menunggu lagi, dengan hati riang mereka segera mengambil uang itu dan membaginya rata. Dalam hati mereka berterimakasih pada Ryura yang ternyata tak pelit pada rakyat jelata seperti mereka. Selama mereka bekerja di manapun dan apapun bentuk pekerjaannya, ini adalah kali pertama mereka menemukan orang yang tak pelit pada orang rendahan seperti mereka. Mengingat perbedaan kasta amat mencolok, jelas saja seketika rasa takut mereka menghilang menjadi rasa kagum.


Sedang gadis yang membuat semua itu terjadi tampak dengan santainya berjalan keluar dari penginapan itu dengan tujuan untuk mencari makan. Ia lapar saat ini.


Sebenarnya, yang dilakukannya tadi kepada para pekerja itu bukanlah hal baru baginya. Itu hanya kebiasaannya sejak masih hidup di zaman modern dulu. Dimana saat ia menginap di hotel, ia tak pernah lupa soal tips untuk pelayanan kamar yang ia tempati. Tak hanya itu, ia memang tak pernah pelit kalau soal materi. Dari ketiga sahabat itu, Ryura adalah yang paling royal.


Tapi, jangan salah paham dulu. Dia royal bukan karena benar-benar memiliki kedermawanan ataupun suka menolong. Ingat bukan, dia adalah orang paling tidak peduli pada sekitarnya. Maka, untuk soal yang satu ini adalah karena ia tak menganggap materi itu penting untuk dirinya. Bagi seorang Ryura Jenna, mencari uang tidaklah sulit. Oleh sebab itu, menghamburkannya pun sama-sama tidak ada sulitnya.


Cukup tinggal habiskan saja. Kemudian cari lagi saat sudah benar-benar habis.

__ADS_1


Begitulah...



Seperti hari-hari sebelumnya, ia kembali menjelajahi ibukota untuk mencari makanan yang ingin ia jadikan pengganjal perut dengan Furby yang setia menemani. Bedanya, kali ini ia sedang tak ingin menunggangi Furby.


Hanya saja, ada perbedaan hari ini dengan hari sebelumnya. Yaitu, karena pelaksanaan sayembara yang sudah di umumkan. Ia dapat merasakan banyak mata dari segala penjuru arah menatapnya bak karung berisikan emas. Tatapan yang menyiratkan keinginan untuk menyerang agar mendapatkan imbalan, namun juga tak memiliki cukup keberanian.


Ryura tahu dan ia mengabaikannya. Lain dengan Furby, yang seperti induk ayam yang bersikap waspada bila ada yang ingin mengganggu anaknya.


"Kau terlihat seperti buronan, Ryu!" celetuk kuda bulan itu melalui telepatinya sambil memandang sekitar. Yang di ajak bicara diam, mengabaikan.


"Lihat! Apa-apaan itu?! Banyak sekali yang memandangmu lapar! Tapi, tak memiliki nyali untuk menyerangmu! Hahaha." gerutu dan ejekan Furby layangkan melalui telepatinya. Geram juga gemas melihat orang-orang pada bersikap seperti orang bodoh.


Saat sedang asik berjalan, tiba-tiba seorang anak berusia 6 tahun menghampirinya dengan berani membuat langkahnya berhenti sampai orang-orang yang melihatnya menahan nafas dengan pikiran buruk yang sudah muncul di otak mereka.


Takut, seandainya anak kecil itu tak memiliki umur panjang. Tapi, ada juga orang-orang yang berpikir. Mungkin saja Ryura tak akan bermain kasar dengan anak kecil.


"Hiyaa... Mati kau" terjang bocah laki-laki itu dengan sebuah pisau kecil ditangannya. Pisau itu berhasil melukai lengan kiri Ryura.


Mendapati penyerangan konyol itu bukannya merasa sakit, Ryura justru menangkap tangan mungil bocah itu yang memegang senjata dengan tangannya yang terluka. Membiarkan darah mengalir bebas disana. Lalu, mengangkatnya dengan mudah hingga kaki bocah itu tak lagi menyentuh tanah.


Seketika, bocah laki-laki itu meronta. "Apa yang kau lakukan? Turunkan aku! Aku harus membunuhmu dulu! Dengan begitu aku akan mendapatkan 100 tael emas nantinya! Cepat turunkan aku! Orang jahat seperti mu pantas dibunuh! Orang jahat seperti..." kalimat makiannya terpotong kala Ryura memukul telak perutnya tanpa rasa bersalah.


Bugh!


Furby yang sejak tadi sudah terkejut dengan keberanian bocah lemah itu saat menyerang Ryura, kini kembali terkejut saat Ryura dengan santainya memukul perut bocah itu. Tak hanya dirinya, hal itu juga berhasil menarik suara pekikan yang menyaksikan untuk keluar.


Wajah bocah itu memerah, karena kesakitan. Matanya sudah memerah ingin menangis. Tapi, sayang... Ia langsung tak memiliki tenaga untuk kembali melawan. Bocah itu hanya menunduk dengan tangan satunya yang bebas memegangi perutnya yang sakit, sementara yang satunya lagi masih di genggam oleh Ryura dan di tariknya keatas hingga ia kini melayang.


"Kau terlalu lemah untuk dapat membunuhku!" katanya santai, namun pasti sambil menatap datar bocah laki-laki tersebut.


Kembali menegakkan kepalanya dan mengedarkan pandangan. "Anak siapa ini?" tanyanya tanpa mengeraskan suara, sebab sudah hening sejak ia memukul bocah itu tanpa malu. Mengingat perbedaan usia yang mengharuskan dia sebagai yang lebih tua untuk menjadi contoh teladan bagi yang muda.


Tak lama dari pertanyaan itu di ucapkan, seorang wanita berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. "No..nona... Ma..maafkan sa..saya! Ini salah saya... Tolong... Lepaskan a..anak saya..." pintanya memohon. Ryura memandang intens wanita itu, sampai membuat yang dipandang gugup.


"Sebagai seorang Ibu. Tidak pantas menyuruh anaknya untuk melakukan hal ini!" tukas Ryura membekukan wanita itu.


Jleb!


Ibu bocah itu tak menyangka kalau akan ketahuan secepat itu, padahal sudah jelas kalau tak ada yang tau bila ia menjadikan putranya untuk melakukan aksi berbahaya itu hanya untuk 100 tael emas. Seharusnya, wanita itu berpikir. Akankah nyawa anaknya seharga 100 tael emas saja?!


Tak berbeda jauh dengan wanita yang adalah ibu bocah itu. Warga ibukota yang ada di tempat dimana Ryura berada sekarang juga terkejut mendengarnya. Merasa tak percaya kalau ada yang rela mempertaruhkan anaknya hanya untuk sebongkah emas. Mengerikan! Begitulah pikir mereka.

__ADS_1


"Tidak! Saya tidak melakukan itu! Jangan memfitnah ku!" elaknya tak mau mengakui. Wajahnya dibuat marah seolah tak terima dengan tuduhan Ryura. Tapi, tak bisa dipungkiri kalau ia sebenarnya juga kesal karena Ryura berhasil mengetahui niatnya. Namun, ia berpikir selagi orang lain tak mengetahuinya itu tak akan jadi masalah.


Tanpa sedikitpun merubah raut wajahnya, Ryura membalas. "Waktu ku terlalu berharga untuk memfitnah mu!"


Srek...


Dirampasnya bocah itu dari tangan Ryura. Bocah yang tak lagi bergeming di perlakukan seperti itu lantaran sudah terlanjur lemas akibat pukulan Ryura tadi. Sakit masih dirasa olehnya. Dibenak bocah itu tak menyangka, kalau ternyata gadis yang dijuluki berdarah dingin itu ternyata tak pandang bulu saat ingin menghajar lawannya. Sayangnya, dia karena menuruti keinginan ibunya sampai harus mendapatkan pukulan yang takkan pernah ia lupakan sepanjang sisa umurnya.


"DIA HANYA ANAK KECIL! TAK SEHARUSNYA KAU BERTINDAK SAMPAI SEPERTI ITU!" tiba-tiba wanita itu berteriak seraya memeluk putranya yang sudah lemah, terlihat jelas ingin mengalihkan perhatian orang-orang agar kembali berpikir kalau Ryura tetaplah salah karena sudah dengan tega memukul anak kecil.


Furby yang mendengar itu justru mendengus keras. "Bod*h! Itu tak akan berhasil!" batinnya. Kesal juga kalau bertemu yang seperti ini.


Kini Ryura kembali jadi sasaran yang bersalah. Tapi, lagi dan lagi. Gadis itu tak bergeming meski sudah di rundung begitu.


"Aku malas melakukan ini." batin Ryura. Furby mendengarnya hingga menoleh kearah sahabat manusianya. Apa yang dipikirkan Ryura, Furby selalu bisa mengetahuinya. Hanya saja, Ryura nyaris tak pernah menggunakan pikirannya untuk berpikir sehingga tidak luar, tidak dalam. Semuanya sama-sama kosong.


"Kau mau melakukan apa?" tanya Furby yang didiami oleh Ryura. Tak ambil pusing dengan itu.


"Kau salah kalau berpikir aku tak berani menyakiti anak kecil. Bagiku, umur tidaklah penting. Sekali mengganggu, tetap mengganggu!" lugasnya santai namun cukup menyentak siapapun yang mendengarnya. Seolah memberi mereka catatan agar tidak bermain-main dengan seorang Ryura.


Tanpa mau mendengar lagi sahutan wanita itu, Ryura sudah lebih dulu melenggang pergi dari sana dengan tangan yang masih terluka.


Semua dia membiarkan Ryura pergi dari sana. Wanita itu pun jadi diam tak tahu harus apa. Sampai saat merasakan tubuh putranya meronta minta di lepas.


Setelah lepas, denga tajam ia berujar. "Ini sakit! Aku tidak mau lagi menuruti perkataan Ibu!" usai mengatakan itu dengan susah payah ia berlari menjauh. Meninggalkan ibunya yang kini menjadi sorotan atas apa yang baru saja bocah itu katakan.


"Astaga... Jadi, yang dikatakan gadis itu benar? Tega sekali dia menggunakan anaknya untuk mendapatkan uang. Cih!"


"Aku tidak habis pikir. Aku saja tidak sampai kepikiran untuk melakukan itu."


"Aku saja mewanti-wanti anakku agar tidak sampai bertemu gadis itu. Bagaimana bisa dia malah menyuruhnya."


"Tak punya hati!"


"Dia tidak pantas jadi Ibu!"


Segelintir perkataan itulah yang ia dengar sampai ia tak bisa berkata-kata lagi.


Rasa malu. Hanya itu yang kini wanita itu terima.



segini dulu yaaa.

__ADS_1


ok. next time yaaa...


ummuach...πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’‹


__ADS_2