
Pemimpin sekte menurunkan perintah untuk memakamkan jasad pelayan itu diluar lingkungan kekuasaan Ye segera setelah ia menyelesaikan penyelidikannya. Hal itu dilakukan juga bermaksud agar siapapun yang bekerja dibawah kekuasaan keluarga Ye dapat belajar dari pengalaman orang lain.
Pemeriksaan yang dilakukan Ye Zi Xian dan dua sahabatnya tidak berlangsung lama, sebab dia dan kedua sahabatnya sudah mengantongi sebagian hasil. Tinggal menuntaskan sisanya, maka segalanya akan selesai.
Berhubung sisa kebenaran tidak lagi berada di lokasi kejadian, maka kini mereka harus beralih ke tempat lain.
Dalam hal ini, Ye Zi Xian tidak ingin kasus ini berlama-lama, dikarenakan dia akan segera melangsungkan pernikahan dengan Ryura dalam beberapa hari kedepan. Tapi, tampaknya keinginannya tidak dapat dilaksanakan bila sampai masalah ini benar-benar ditujukan kepada kekasihnya untuk menjatuhkannya.
Namun, sebagai pemimpin dia tak bisa menjadi bias. Masalah ini juga tak begitu saja meruntuhkan bangunan cintanya untuk Ryura yang sudah kokoh bertahta didalamnya.
Sayangnya, kali ini ia harus mengesampingkan perasaannya demi keadilan bersama. Hanya saja, tampaknya dia sudah memiliki jawabannya sendiri untuk masalah ini.
Tidak jelas apakah Ye Zi Xian membela Ryura atau dia malah membela ibu sambungnya, Meng Pei Yun. Namun, yang pasti saat ini ia ingin membersihkan segalanya dalam sekali sapuan.
Menurut hukum keluarga Ye, barang siapa yang kedapatan merusak reputasi harmonis keluarga. Maka, tanpa ragu lagi dia yang memimpin saat ini ataupun Tetua yang berwenang wajib menjatuhkan hukuman terhadap si perusak kedamaian keluarga tersebut dengan hukuman yang sudah di tetapkan dalam hukum keluarga dan hukuman itu jelas tidak main-main.
Kedudukan dicabut, dikeluarkan dari silsilah keluarga, di eksekusi dengan dipermalukan didepan umum atau dipertontonkan aibnya, baru setelahnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atau langsung dikirim ke kematian. Kembali lagi, semua tergantung seberapa besar masalah pengrusakan yang dibuatnya.
Jadi, bayangkan saja hukuman seperti apa yang akan diberikan bila sampai Nyonya Selir Meng Pei Yun ketahuan memiliki perasaan lebih terhadap putra sambungnya dengan perasaannya yang hina itu?
Saat ini ketiga pria itu sudah duduk di sebuah ruang dimana didalam sana tidak hanya ada mereka bertiga tapi juga ada tiga gadis mereka. Suasananya tidak terasa manis sama sekali seperti yang sudah-sudah, lebih kepada dua kubu yang saling berbenturan.
Ketiga pasangan itu duduk saling berhadapan dengan didepan mereka sudah tersedia teh dan camilan diatas meja. Tapi, dari mereka semua hanya Reychu yang masih memiliki selera untuk menelan makanan.
Rayan diam saja sambil memainkan kuku-kukunya. Dipandangi dan di periksa entah untuk apa, sebab sudah jelas kukunya tidak pernah di rawat lagi seperti dulu sebagaimana saat dia masih di jaman modern. Jadi, jelas kalau itu dilakukannya untuk mengalihkan pandangannya dari pria pujaan hatinya yang sungguh sulit untuk diabaikan.
Sementara Ryura, sama seperti sebelumnya. Gadis itu duduk diam seraya bersedekap dada dengan mata terpejam. Tak ada yang tahu apakah dia mengabaikan Ye Zi Xian dengan sengaja atau karena memang begitu diri dia.
Dihadapan mereka, ketiga pria itu juga diam ditempatnya sembari memandangi kekasih mereka yang tampaknya tak berniat mengambil inisiatif untuk berbicara lebih dulu.
Setelah lama diam, akhirnya Kaisar Agung Bai menyerah untuk menunggu lagi.
"Tidak ada yang ingin dijelaskan kepada kami?" tanyanya tanpa merubah raut wajahnya yang datar, tapi itu bukan berarti dia tak lagi memiliki kasih sayang yang sama seperti sebelumnya.
Ini hanya bentuk ketegasan dalam kecemasannya.
Mendengar suara kekasihnya, Reychu pun akhirnya bereaksi. Hanya saja, begitulah dia. Sulit diajak serius.
Melirik Kaisar Agung Bai sambil mengunyah camilannya tanpa masalah. "Kenapa baru bicara sekarang... Kami sudah menunggu dari tadi." kata Reychu dengan wajah tak berdosanya dan bukannya menjawab.
Beruntung Kaisar Agung Bai sangat toleran terhadap kekasihnya, kalau tidak saat ini sudah pasti Reychu akan segera dikirim ke alam kematian.
Huh...
"Kalau begitu aku akan langsung bertanya. Kematian gadis pelayan itu, ada hubungannya dengan kalian atau tidak?" tanyanya tanpa maksud menuduh ataupun menyinggung, meski Kaisar Agung Bai sudah bisa menebak jawabannya. Bagaimanapun Kaisar Agung Bai tak ingin hal ini menjadi halangan dan merusak hubungan antara dia dan Reychu.
Biarpun masalah ini bukan diarahkan kepada Reychu, tapi dalam beberapa alasan Reychu tak bisa lepas dari keterlibatannya pada akhirnya.
Kalau untuk kedua sahabatnya... Biarkan mereka mengurus asmara mereka sendiri.
Usai Kaisar Agung Bai mengatakan itu, gerakan Reychu yang ingin mengambil lagi camilan dimeja terhenti. Lalu, bola matanya bergerak kearah kekasihnya yang luar biasa tampan. Baru kali ini Reychu menyadari kalau tampannya seorang pria itu seperti ini.
Benar-benar menggetarkan jiwa hingga jauh kedalamnya.
__ADS_1
Menganggukkan kepalanya santai, ia menjawab. "Hm... Memang kami yang membunuhnya." jedanya yang diselingi oleh ketertegunan para pria yang sarat akan kecemasan.
Mereka tak berharap itu benar meski mereka tahu itulah kebenarannya, karena bagaimanapun hal ini akan menyulitkan hubungan mereka.
Untungnya, kalimat selanjutnya mampu membuat mereka lega.
"Siapa suruh dia berani macam-macam. Datang ketempat kami lalu berani berpikir untuk mencelakai kami. Bayangkan saja bagaimana jadinya kalau kami tidak memergokinya, hari ini bukan dia yang terbujur kaku dilantai itu. Melainkan kami!" keluhnya tak dapat dihentikan. "Cih! Sayang sekali aku tidak memiliki kesempatan untuk mengeluarkan isi perutnya lalu membuatnya memakannya kembali. Dia benar-benar beruntung!" kalimat akhir ini lepas begitu saja sebagaimana apa yang terlintas dibenaknya hingga tak sempat menggubris ekspresi tercengang ketiga pria itu walaupun dengan tetap mempertahankan ketenangannya.
"Kekasih Bai Gikwang benar-benar gila!" batin pria bermarga Ye dan Shin itu serempak.
Sementara itu...
"Benar-benar pantas menjadi kekasihnya Bai Gikwang! Hahaha..." batinnya bangga.
Pasangan itu sepertinya benar-benar cocok. Sama-sama gila...!
"Kalau begitu, racun itu juga bukan berasal darimu kan Rayan?" Shin Mo Lan bertanya tapi tidak disaat bersamaan.
Rayan mengangguk membenarkan. "Aku tidak sebodoh itu untuk sembarangan bermain di ranah orang lain. Itu sangat tidak semestinya." jedanya yang kini matanya berubah jadi binar penasaran. "Tapi, aku masih penasaran dengan jenis racun apa yang digunakan oleh orang itu. Racun tersebut benar-benar mematikan. Cara kerjanya juga tidak main-main. Sangat cepat! Ini seperti, saat seseorang tahu dia diracuni, namun belum sempat bersuara dia sudah mati lebih dulu. Benar-benar cara yang kejam dan tak berperasaan." terangnya dengan tanpa sadar menunjukkan keimutan polosnya.
Beruntung mereka yang sudah mengenal Rayan tidak perlu sampai jatuh kedalam pesona imutnya. Sudah kebal.
"Aku akan memberitahu mu nanti setelah tidak ada lagi masalah yang berarti terjadi." janji Shin Mo Lan langsung.
Tersenyum seraya mengerjapkan matanya beberapa kali dengan genit. "Baiklah. Apa yang tidak kudengar dari perkataannya sayangku..." kerlingan mata diakhir kalimat segera dilayangkan kepada Shin Mo Lan, membuat pria itu memiliki pikiran liar untuk kekasihnya yang luar biasa menguji ketahanannya itu.
"Lihat bagaimana kau akan menjadi tak berdaya dibawah ku setelah terikat denganku nanti!" batinnya posesif nan penuh dengan sumpah janji cintanya.
"Kalian sudah selesai dengan jawaban kami. Percaya atau tidak kami sudah mengatakan semuanya." cetus Reychu acuh tak acuh.
Ia ingin dengar langsung dari mulut Ryura-nya.
Rasanya tak puas kalau tidak mendengar langsung.
Seolah mendapatkan sinyal panggilan dari orang didepannya, Ryura pun akhirnya membuka matanya yang tak pernah bisa diselami itu dan langsung menatap dalam pria yang sejak awal tiba tak sedikitpun mengalihkan pandangannya darinya.
Keduanya saling pandang beberapa saat sebelum akhirnya, Ye Zi Xian tertegun kaget hingga degup jantungnya serasa seperti berlari ribuan kilometer. Namun, dia menyukai sensasi tersebut.
Apa yang dilihatnya barusan benar-benar perdana. Pasalnya, untuk pertama kalinya Ryura menunjukkan kehidupan dimatanya yang membuat Ye Zi Xian mampu melihat makna tersirat dari dalam sana.
Mata indah yang biasanya menyorot kosong itu, kini seolah sedang berbicara.
"Tak ada yang bisa mengambil mu dariku!"
Pesan tersirat itu langsung diterima olehnya tanpa halangan. Seketika, hembusan udara musim semi memenuhi hatinya. Ye Zi Xian merasa bahagia luar biasa. Dia bahkan langsung mengabadikan momen itu dalam ingatannya agar tidak terlupakan sampai kapanpun.
Kapan lagi melihat kekasihnya begitu posesif terhadapnya...
Organisasi pembunuh bayaran.
Di ruangan yang lebih sering tak memiliki pencahayaan sebagai penerangan itu tengah didatangi oleh sesosok pria berpakaian serba hitam. Sosok itu datang untuk menghadap tuannya.
__ADS_1
Mereka adalah atasan dan bawahan dari organisasi pembunuh bayaran. Sama seperti sebelumnya.
Pria itu datang membawa laporan yang diinginkan tuannya. Dia bekerja dengan sangat cepat.
"Lapor, Tuan ku!" suaranya lantang namun penuh rasa hormat juga keseriusan. Ciri-ciri orang dengan kesetiaan yang tinggi.
Tanpa basa-basi. "Katakan!" sang tuan sudah sangat tidak sabar.
"Mereka menghilang, Tuan ku."
"Menghilang?" ulangnya agak tidak percaya sampai matanya bergerak sedikit melirik kesamping. Saat ini dia dalam posisi berdiri menghadap jendela dan membelakangi bawahannya.
"Benar, Tuan ku!"
"Bagaimana bisa? Katakan lebih rinci!" desak sang tuan semakin tidak sabaran.
"Mohon ampun, Tuanku. Bawahan ini tidak bisa mengorek informasi lebih dalam karena mereka benar-benar menghilang tanpa jejak. Menurut hasil dari yang bawahan ini temukan. Mereka menghilang tepat setelah memasuki ruangan dimana sang target berada." jelasnya.
"..." tidak ada sahutan dari tuannya, membuat sang bawahan hanya bisa menunggu dengan terus menundukkan kepalanya. Dia tak berani lancang.
Sedang sang pemimpin dari organisasi pembunuh bayaran itu, tengah mencerna informasi yang didengarnya.
Tiga bawahannya menghilang begitu mereka masuk ke kandang target. Tidak ada laporan kalau mereka mati, melainkan menghilang. Ini berarti, masih ada kemungkinan ketiga bawahannya masih hidup dan berada di suatu tempat yang tersembunyi.
Memikirkan hal ini, menunjukkan kalau target kali ini bukan orang sembarangan. Wajah boleh tampak tak berbahaya, tapi ternyata...
Kilatan kejam muncul dikedua matanya yang tajam dan haus darah. Berpikir kalau targetnya kali ini cukup menarik, meski sukses membuatnya marah karena berani merusak pekerjaan yang sudah diperintahkannya kepada bawahannya.
Akan tetapi, rasa tantangan tak bisa dielakkan. Hal ini membuatnya ingin turun tangan langsung dan melihat dengan kedua bola matanya sendiri orang seperti apa targetnya hingga bisa dengan mudah menyingkirkan bawahannya yang sudah sangat terlatih membunuh tanpa meninggalkan jejak apapun itu.
Dua buah kereta kuda kerajaan es melaju melintasi jalan-jalan yang mengarah ke suatu tempat. Meski masih terbilang jauh, jalan ini memang hanya ada satu untuk ditempuh menuju ke tempat tersebut.
Tempat apa lagi kalau bukan kerajaan Lembah Beku, tepatnya menuju ke Kediaman Ye yang berdampingan dengan Sekte Salju Perak. Sebagaimana Kediaman Zhilli Shin yang berdampingan dengan Akademi Zhilli.
Dari dalam kedua gerbong kereta kuda yang membawa para Pangeran dan Putri, mereka memiliki topik pembicaraan yang sama. Yaitu...
Mengenai pernikahan mendadak Tuan Ye Zi Xian.
Selaku adik dari Ye Zi Xian, Ye Xiao Nan tahu betul kalau ini pasti bukan tipuan belaka. Kabar ini harus menjadi sebuah kebenaran. Karena kakaknya bukan tipikal pria yang suka berbohong.
Sang kakak yang terkenal tak tersentuh itu ternyata akan segera menikah.
Tapi, setelah dipikir-pikir. Pernikahan itu harusnya tidak dilakukan begitu mudah kalau bukan karena ada sesuatu yang membuat pihak keluarga tak dapat menolaknya.
Mengingat status Ye Zi Xian yang menjadi pemimpin generasi sekarang sebab terpilih oleh pedang pusaka milik keluarga. Pasti, pasangan ini juga gadis yang terpilih oleh pedang pusaka tersebut.
Alih-alih memusingkan siapa yang menjadi pendamping kakaknya. Ye Xiao Nan justru mengkhawatirkan hal lain.
"Pernikahan ini tidak mungkin bisa berlangsung dengan mudahnya..." kalimatnya penuh makna seolah dia memiliki suatu pengetahuan yang tak dimiliki oleh orang lain.
Keningnya berkerut dengan ekspresi suram, benar-benar menunjukkan suatu ketidaksukaan entah untuk hal apa. Yang pasti ia hanya ingin segera sampai untuk melihat langsung apa yang mungkin sedang terjadi disana.
__ADS_1
Ye Xiao Nan memiliki firasat buruk untuk sesuatu yang masih berhubungan dengan rencana pernikahan sang kakak.