
Rayan kembali masuk ruang kerja Shin Mo Lan usai mengurus kerusuhan yang sempat terjadi diluar. Melewati pintu bagian dalam yang dikhususkan untuk kamar tidur bagi Shin Mo Lan bila tidak bisa pulang.
Kamar di dalam kantor yang umum dimiliki bos besar perusahaan.
Didalam kamar, tampak Shin Mo Lan yang sedang duduk selonjoran diatas ranjang sambil bertelanjang dada. Dia sepertinya tengah asik memainkan gawainya. Melihat tingkah suaminya itu, Rayan hanya bisa menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya menjatuhkan diri keatas tubuh Shin Mo Lan tanpa malu ataupun canggung, lalu memeluk seraya menyandarkan dagunya di dada bidang sang suami yang polos itu.
Gerakan tiba-tiba Rayan agak mengejutkan Shin Mo Lan yang asik berselancar di dunia maya.
"Hati-hati, sayang. Kepala mu hampir terpentuk dengan ponselku. Kalau luka bagaimana?" seru Shin Mo Lan yang tak ingin istrinya kenapa-napa. Sekecil apapun itu.
"Tenang saja. Bukannya aku tidak melakukannya tanpa perhitungan." balasnya. "Mo Lan, kau sengaja tidak keluar karena tahu aku bakal menang melawan pengganggu itu, ya?" lanjut Rayan bertanya walau dia sudah tahu jawabannya.
"Ya. Lagipula, aku juga tidak ingin ikut campur urusan perempuan. Terutama dengan perempuan yang marah karena cemburu." jawab Shin Mo Lan singkat.
"Jadi, maksud mu kalau aku cemburu kau tak akan memenangkan ku, begitu?"
"Eh! Tentu saja bukan seperti itu. Yang ku maksud ada orang luar yang cemburu padamu karena dipilih olehku. Aku tak mau berurusan dengan mereka karena aku punya dirimu yang bisa mengatasinya... Dan itu lebih baik daripada aku yang mengatasinya, kan?" kata Shin Mo Lan yang di angguki oleh Rayan.
"Dia bernama Jiang Wanwan. Sungguh mirip dengan gadis di masa lalu." Rayan berganti topik kemudian.
"Memang. Aku tidak lagi terkejut, karena aku sudah lebih dulu bertemu dengan Yi Feng."
"Ya, dia memang mirip dengan orang kepercayaan mu dulu. Eh! Tapi, bukankah Jiang Wanwan itu mantan kekasih pemilik tubuh yang kau pakai ini? Seharusnya, dia yang pertama kau ingat."
"Orang tidak penting, untuk apa diingat." artinya sudah jelas, kalau Shin Mo Lan sama sekali tidak peduli dengan masa lalu pemilik tubuhnya.
"Benar juga. Tapi... Yang ini jauh lebih menjengkelkan daripada yang dulu." keluh Rayan.
"Sudah. Jangan bahas orang lain saat kita sedang berduaan."
"Huh. Pencemburu!"
Cup!
"Memang."
Dikecupnya puncak kepala Rayan dan jawaban singkat sebagai responnya.
Lalu, Rayan melirik ponsel yang masih dimainkan oleh Shin Mo Lan. "Apa yang kau lihat sedari tadi?"
Shin Mo Lan menjawab sambil membuka ruang di tangannya, bermaksud agar Rayan masuk kedalam pelukannya dan duduk didepannya.
"Kemarilah dan lihat ini."
"Ada apa?" Rayan bertanya sambil mengikuti keinginan suaminya itu.
Kini diapun duduk bersandar pada dada telanjang Shin Mo Lan untuk mempermudah keduanya menonton apa yang disuguhkan dalam ponsel tersebut.
Seperti kata orang. Satu untuk berdua itu romantis. Apalagi kalau dalam posisi romantis seperti ini...
Begitu melihat apa yang ditayangkan dalam ponsel tersebut, Rayan terlonjak kaget sampai merampas ponsel itu dari tangan Shin Mo Lan yang membiarkannya mengambilnya untuk dilihat penyebab dari keterkejutannya Rayan.
Tapi, yang tidak dia duga...
"AAAAAAAHHHH...!"
Shin Mo Lan terkaget-kaget mendengar teriakkan Rayan yang untuknya adalah pertama kali didengarnya.
"Sayang!" tegur Shin Mo Lan segera agar Rayan dapat mengendalikan dirinya.
Tapi, Rayan tampaknya menulikan pendengarannya. Dia malah mengabaikannya dan langsung pada apa yang membuatnya kaget.
"Ini... Ini... Huaa... Huhuhu... Mo Lan... Hiks... Hiks...!"
"Hei kenapa menangis?" Shin Mo Lan terkejut saat mendapati sang istri menangis bak anak kecil.
Akan tetapi, dalam hati Shin Mo Lan masih sempat menggeram gemas lantaran melihat dalam keadaan menangis pun istrinya ini masih sangat menggemaskan hingga dia ingin sekali menggigitnya sampai puas.
"Kenapa mereka menikah duluan... Huhuhu... Dulu mereka menikah duluan, sekarang pun mereka menikah duluan. Kenapa bukan kita... Hiks... Huhuhu..." ternyata inilah alasan Rayan menangis kejer.
Shin Mo Lan tak bisa berkata-kata.
Ya, apa yang dilihat Shin Mo Lan di ponselnya adalah berita panas terkini. Sejak Rayan keluar mengurus masalah Jiang Wanwan sebentar, dia sudah berselancar di dunia maya untuk mengamati perkembangan berita panas tentang dia dan dua sahabatnya yang lain perihal menggandeng seorang perempuan dengan sikap yang romantis.
__ADS_1
Sebenarnya, dia tidak suka membuang waktu untuk melihat dunia maya. Tapi, berhubung berita kali ini bertema tentang dia dan istrinya termasuk dua sahabatnya yang lain, jadi Shin Mo Lan tak ingin ketinggalan berita juga.
Dia sudah membaca semua berita tentang mereka bertiga mulai dari postingan sampai komentarnya, akan tetapi yang paling membuatnya tak bisa berkata-kata adalah aksi sahabatnya, Ye Zi Xian yang menjadi Ye Huan dimasa ini.
Menyeret Ryura ke kantor catatan sipil kemudian mengenakan pakaian hanfu merah khas gaun pengantin tempo dulu. Lalu, mengesahkan dirinya dan Ryura kedalam ikatan pernikahan. Jujur, Shin Mo Lan sendiri merasa salut pada kenekatan sahabatnya dalam melancarkan segala sesuatunya.
Tapi, menurutnya itu juga bisa di maklumi kenapa bisa selancar itu dalam prosesnya. Bila melihat berita, dari awal sampai akhir tidak ada yang memperlihatkan sang perempuan angkat suara. Ini menandakan, dia pasrah-pasrah saja di nikahi.
Mata Shin Mo Lan menyipit saat memikirkan hal itu. Dia pun mengerti. Bagaimanapun pasangan sahabatnya itu memiliki karakter pendiam yang unik. Jadi, tidak heran kalau kisah keduanya selalu lebih beruntung dan lancar dari dua sahabat lainnya.
Shin Mo Lan hanya bisa menghela nafas.
"Jadi, kau juga mau segera meresmikan pernikahan kita berdua dizaman ini?" tanya Shin Mo Lan meski dia sudah tahu jawabannya.
Rayan mengangguk penuh semangat.
"Kalau begitu... Ayo, ikut aku pulang dan bertemu dengan yang lain. Bagaimanapun aku memakai tubuh putra mereka. Lagipula, aku bukan Ye Zi Xian yang bisa seenaknya mengambil keputusan."
Mendengar penjelasan Shin Mo Lan yang penuh perasaan. Rayan merasakan hatinya menghangat dan bermekaran dengan suasana musim semi. Manis rasanya. Dia yang sebelumnya menangis pun langsung berubah menjadi ceria lebih dari sebelumnya seolah-olah dia sudah disuntikkan oleh suatu cairan energi.
"Bukan masalah. Selama kita kembali menikah."
"Tentu. Untuk apa lagi aku menemukan mu kalau bukan untuk dijadikan pendamping hidup? Kita hanya bisa berakhir bersama." tutur Shin Mo Lan balik.
Keduanya kembali hanyut dalam kemesraan yang luar biasa manis.
Pintu gerbang kediaman pribadi Ye Zi Xian terbuka setelah sensor konfirmasi menyambut kedatangan tuan mereka.
Seperti itulah kalau memiliki kemampuan yang mumpuni. Segalanya akan dibuat mudah. Sebagaimana bakat Ye Huan dibidang teknologi, meski desain rumahnya tradisional semua itu tetap diimbangi dengan teknologi canggih yang akan membuat orang-orang yang masuk merasakan kekaguman nyata.
Sama halnya dengan Ryura. Dia boleh diam saat ini sambil menatap gerbang yang terbuka perlahan tapi pasti itu. Dia yang tidak memiliki emosi selama ini entah bagaimana mulai beriak. Terutama saat di berada sisi suaminya, Ye Zi Xian.
Hal-hal yang bersifat perasaan manusiawi mulai dia rasakan sedikit demi sedikit, namun tetap terasa perbedaannya.
Seperti saat ini, melihat rumah bergaya tradisional yang dia yakini akan menjadi tempat tinggalnya untuk sekarang dan dimasa depan. Untuk tempat tinggal keluarga kecilnya. Untuk tempat dimana dia akan melahirkan dan melihat tumbuh kembang calon anak-anaknya bersama Ye Zi Xian. Ryura tidak tahu emosi seperti yang tengah dirasakannya saat ini. Tapi, yang dia tahu saat ini dia tengah melamun sampai kala mobil berhenti di depan rumah klasik megah itupun tak terasa baginya.
Ye Zi Xian sampai harus menyadarkannya kembali.
Disini dia tak lebih dari pria bucin yang baginya hanya ada cara memanjakan dan membahagiakan istrinya.
Ryura menatap dalam dengan emosi yang datang pergi dimatanya. Tapi, Ye Zi Xian masih bisa menangkap pemandangan itu.
"Sayang, kau..." Ye Zi Xian tak tahu harus berkata apa melihat emosi-emosi yang tak pernah dilihatnya selama ini, kini muncul di mata Ryura yang selalu kosong.
"Xian..." panggil Ryura dengan suaranya yang selalu terdengar merdu dan manis di telinga Ye Zi Xian.
"Ya..." dia meresapi panggilan itu.
Seutas senyum manis perlahan terukir di bibirnya tanpa ditahan sampai matanya menyipit bak bulan sabit dan itu menjadi pemandangan yang tak akan pernah Ye Zi Xian sangka akan dilihatnya saat ini.
Senyum itu dalam penampilan pengantin wanita, terasa sempurna untuk seorang gadis yang bahagia di hari pernikahannya. Ye Zi Xian tak bisa tidak merasa sempurna hingga hatinya meluap-luap dengan cinta dan kebahagiaan yang tiada-tara.
"..." ingin memanggil pun tak kuasa.
"Terimakasih atas segalanya... Aku bersyukur dicintai oleh mu... Yang cintanya bisa membuat ku tahu kalau aku pun mencintaimu sebagai balasannya."
Kalimat manis pertama yang Ye Zi Xian dengar dari bibir manis Ryura sampai dia sendiri tidak sadar kala memajukan dirinya untuk segera mencium bibir manis sang istri dari dua kehidupannya itu.
Dilumat sampai puas dengan Ryura yang sama seperti sebelumnya, tidak pernah menolak apa yang diinginkan oleh suaminya. Hanya saja, sentuhan kali ini lebih berasa dan berwarna dari sebelumnya.
Ryura yang bak manekin hidup dulunya juga menerima sentuhan Ye Zi Xian, namun dia bergerak bak robot yang disetel dengan nafsu. Rasanya kurang, akan tetapi Ye Zi Xian tak tahu dimana kurangnya.
Kini dia tahu, Ryura-nya dulu mungkin juga mencintainya, hanya saja cintanya sebatas menerimanya disisinya hingga rasanya menjadi berbeda ketika cinta itu lebih nyata adanya, seperti sekarang.
Entah berapa lama ciuman itu berlangsung, yang pasti sampai Ye Zi Xian puas.
Ketika pria itu berhenti dan melepaskan, pandangannya tidak meninggalkan wajah merah Ryura sedikitpun. Keduanya tersengal-sengal, namun menikmati. Bahkan Ye Zi Xian tak berbicara selain terlihat berbinar, lalu bergegas keluar sampai Ryura tertegun saking cepatnya gerakan sang suami.
Belum lagi kala pintu dari sisi Ryura dibuka dan orangnya di ambil tanpa permisi. Digendongnya Ryura ala bridal style. Semuanya berjalan dalam sekejap mata, sampai-sampai pelayan yang dipekerjakan oleh Ye Zi Xian ketinggalan selangkah untuk bersiap menyambut Tuan dan Nyonya rumah mereka, kala sang majikan sudah lebih dulu melewati mereka seperti tiupan angin.
Saat keadaan masih linglung, Lai Zouji tiba-tiba muncul dengan ekspresi aneh.
__ADS_1
Kepala pelayan berjenis kelamin pria yang pertama tersadar dan segera menyambutnya.
"Sekretaris Lai."
"Butler Xie... Tuan dan Nyonya sudah masuk?" tanya Lai Zouji dengan nada yang tidak di jelas, kepada seorang pria yang berusia 32 tahun dengan jabatan sebagai kepala pelayan Ye Zi Xian di rumah pribadi pria itu.
Xie Yang adalah namanya, dia awalnya mendaftar sebagai pengawal khusus di bawah naungan RYUXIAN KINGDOM karena memang dia menyukai pekerjaan seperti itu. Dulu dia berniat untuk masuk kemiliteran, namun tidak lolos karena masalah tinggi badan. Alhasil, dia menganggur sejenak sebelum akhirnya melihat kebangkitan RYUXIAN KINGDOM dan memilih bergabung.
Kesukaannya pada pekerjaan tersebut membuat dia selalu ingin tampil memuaskan hingga lebih dan lebih giat lagi dalam berlatih. Dia juga baik dan tahu bagaimana bersyukur. Karena kepribadiannya yang bagus itulah, baik dari segi ketulusan dan tanggungjawabnya. Akhirnya, dia naik jabatan sebagai pengawal pribadi Ye Zi Xian selain Lai Zouji kala itu.
Namun, sayangnya posisinya tidak bisa bertahan lama karena insiden mengerikan terjadi.
Sebagai orang hebat yang banyak dikagumi, pasti banyak juga yang membenci. Apalagi saat perusahaannya yang tergolong baru mampu menggeser perusahaan-perusahaan lama yang sukses sebelumnya.
Kecemburuan dan kebencian tak akan pernah terlewatkan. Karena itu, saat Ye Zi Xian dan yang lain harus memasuki skenario seperti ini dalam hidup mereka. Xie Yang yang amat berdedikasi dalam bekerja, berusaha melindungi Bos-nya dengan segenap jiwa dan raganya sampai dia harus mengalami cedera kaki yang parah.
Bahkan dibawah perawatan Shin Mo Lan pun, kaki Xie Yang tak lagi bisa di gunakan seperti dulu walaupun kini dia sudah bisa bergerak dengan normal hingga tak terlihat pernah terluka sebelumnya.
Meski bersedih karena harus berakhir secepat itu dalam pekerjaannya, Xie Yang tetap merasa bangga karena dia sudah melakukan yang terbaik.
Hal inilah yang membuat Ye Zi Xian merasa sangat disayangkan kalau Xie Yang harus di pulangkan begitu saja. Alhasil, Ye Zi Xian yang saat itu belum menemukan pekerja yang cocok untuk posisi kepala pelayan pun menawarkan pekerjaan itu pada Xie Yang yang langsung diterima dengan bahagia. Ternyata, hal yang paling dia sayangkan adalah bila sampai dia kehilangan bos seperti Ye Zi Xian.
Karena itu, menjadi pelayan pun tak masalah selama bosnya tetap Ye Zi Xian.
Alis Butler Xie mengerut tak menyangka akan melihat ekspresi seperti itu di wajah Lai Zouji. Tapi, dia masih tetap mengangguk membenarkan.
"Ya, memangnya ada apa kau bertanya?" Butler Xie bertanya dengan nada akrab. Sebab, mereka pernah bekerja di posisi yang sama sebelumnya dan mengembangkan perasaan baik satu sama lain dalam pertemanan.
"Kau tak akan percaya." menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. Lai Zouji yang biasanya tampil datar kini pecah karena aksi Bos-nya.
Ya, dia sebenarnya sejak dari kantor catatan sipil sampai ke kediaman Ye Zi Xian sudah mengikuti dari belakang.
"Bos, mencium istrinya dengan... Dengan... Astaga! Aku tak bisa mengatakannya. Yang pasti itu adegan yang luar biasa. Aku bisa menjamin kalau adegan dalam drama pun tak bisa mengalahkannya." Lai Zouji membicarakannya seperti dia sudah kerasukan hantu gosip.
Ekspresi tenang Butler Xie berkedut mendengarnya.
"Kau terlihat sangat antusias..." sindirnya.
Lai Zouji memberinya tatapan licik. "Hahaha... Jangan berkata begitu. Kau yang bekerja didalam rumah harus bersiap-siap dengan perubahan mendadak Tuan Muda Ye. Siapkan juga hatimu untuk mau menerima lamaran gadis pelayan itu... Karena, kebersamaan Tuan dan Nyonya hanya akan membuat mu cemburu. Hahaha..."
Jarang mendengar Lai Zouji tertawa seperti itu, tapi ternyata saat dia tertawa itu harus di situasi yang tidak mengenakkan hingga tawanya pun terdengar tak enak. Kemudian, tanpa menunda lagi Lai Zouji beranjak keluar usai memberitahu Butler Xie kalau dia akan kembali ke perusahaan.
Sampai saat ini Butler Xie masih bergidik bila mengingat perkataan Lai Zouji.
Ya, soal gadis pelayan yang melamarnya. Itu bukan kebohongan. Gadis pelayan itu sebenarnya lebih dulu bekerja di kediaman Ye Zi Xian sebagai pengurus taman.
Untuk beberapa waktu, kediaman Ye Zi Xian yang belum dihuni oleh tuan rumah sudah lebih dulu memperkerjakan beberapa pelayan untuk mengurus rumah masa depan Ye Zi Xian bersama Ryura. Saat itu belum ada kepala pelayan karena Ye Zi Xian belum menemukan orang yang cocok. Sampai Xie Yang dipertimbangkan.
Dari awal Xie Yang masuk menduduki posisi kepala pelayan. Dia bekerja dengan sangat baik hingga tak ada yang tidak bahagia dengan dia di posisi itu. Namun, yang tak terduga ternyata ada gadis pelayan yang sudah jatuh cinta padanya sejah kemunculannya pertama kali.
Di awal waktu, gadis pelayan itu hanya memandang dari jauh dan tidak pernah menunjukkannya sampai dia tanpa sengaja mendengar majikannya membicarakan tentang pernikahan.
Mulai dari pernikahan Ye Zi Xian sendiri sampai menanyakan kapan Xie Yang menikah. Dan jawaban Xie Yang lah yang menjadi pemicu keberaniannya.
Saat itu Xie Yang bilang. "Bila ada yang mau bersamaku, aku akan mempertimbangkannya."
Jadilah, beberapa hari kemudian. Kediaman di gemparkan dengan aksi berani gadis pelayan itu yang tanpa malu melamar Xie Yang di tempat terbuka atau bisa di katakan saat Xie Yang tengah memantau pekerjaan para pekerja halaman rumah.
Ada total 4 orang yang bekerja sebagai pengurus taman. Yang tiga diantaranya lah yang menjadi saksi gadis itu melamar Xie Yang.
Dari sana juga, gosip menyebar. Gadis pelayan itu selalu jadi bulan-bulanan pelayan lain yang menggodanya karena terlalu berani. Tapi, tak ada yang berani menggoda Xie Yang dan itu sebelum gosip tersebut sampai ke telinga Lai Zouji.
Dan sisanya bisa dibayangkan, yang pasti sampai saat ini Xie Yang belum juga menerima lamaran tersebut.
bagaimana? bagaimana? bagaimana? kalian suka episode kali ini?
baca terus dan Thor yang akan memuaskan kalian dengan karya2 Thor ini.
tapi, jangan lupa untuk dukungannya ya... dukung Thor terus Wokeh...
selamat menjalankan ibadah puasa yang ke 12 . semoga kita bisa menyelesaikannya dengan baik sampai lebaran datang.
__ADS_1
love you alllllllll
ππππππππππππππππ