
Paviliun Bangau Putih, sayap kiri. Disana adalah letak ruang belajar Ye Zi Xian di kediamannya. Tidak tersentuh oleh pernak-pernik pernikahan yang dihias sebagaimana hiasan itu ada di aula depan paviliunnya.
Kini ketiga pria itu sedang berada disana untuk melanjutkan perundingan mereka tentang masalah ini. Jangan lupakan Dong Jia Zi dan Min Hwan yang selalu setia mengikuti. Kalau Ahn Reychan, dia akan tiba beberapa waktu kedepan bersama rombongan dari Keluarga Kerajaan Es, Kekaisaran Utara.
"Masalah ini tidak bisa dibilang rumit, juga tidak bisa dibilang tidak rumit. Bagaimanapun, akar masalahnya ada pada Nyonya Selir Meng Pei Yun. Aku yakin itu!" ujar Kaisar Agung Bai pertama kali setelah tiba di ruangan tersebut. Cukup yakin kalau memang masalah ini adalah ulah yang Meng Pei Yun perbuat, walau tak tahu apa alasan tepat dibaliknya.
Menyipitkan matanya yang berkilau tajam, Ye Zi Xian menjawab dengan suara rendah. "Tepat! Aku sampai tidak bisa berkata-kata atas ketidakwarasannya itu!"
Bohong kalau Ye Zi Xian tidak peka pada situasi yang telah terjadi, tapi dia masih berusaha untuk tetap menahannya dengan mengingat jasa Meng Pei Yun dalam merawatnya.
Dia jelas bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Tapi, kembali lagi itu tergantung seberapa besar kesalahan yang diperbuat oleh pelakunya.
Shin Mo Lan dengan serius menimpali. "Aku juga cukup terkejut saat mencium aroma samar racun mematikan itu pada tubuhnya. Dia mungkin tidak menyimpannya di saku pakaiannya, tapi dia tampaknya sempat menyentuhnya sehingga bekasnya tertinggal." terangnya.
Sang Master Alkemis ini mengetahuinya sejak ia menajamkan inderanya untuk menemukannya terlepas dari ada atau tidak adanya benda yang dicarinya saat memasuki kediaman Meng Pei Yun. Shin Mo Lan berpegang pada segala macam kemungkinan baik kecil maupun besar.
Dan lihat hasilnya...
Jelas ini bukan berpacu pada tuduh-menuduh, melainkan niat untuk mengungkapkan kebenaran dan tentunya semua pasti berawal dari kecurigaan.
Selama ada kecurigaan selalu ada alasannya.
"Apa yang diinginkan ibu sambung mu dengan melakukan pemberontakan itu? Sementara pihak keluarga Ye sudah menyetujui keinginan mu untuk segera menikahi gadis itu. Lagipula, kau menikah bukan dengan sembarang gadis. Dia adalah takdir yang diberikan kepada mu." kata Kaisar Agung Bai tak habis pikir.
Lagi-lagi, masalah ini membuatnya mengambil pelajaran untuk waspada bilamana sampai menimpa Reychu-nya.
Ye Zi Xian terdiam sejenak. "Itu karena dia sudah gila!" ucapnya bernadakan sarkastik disela-sela gigi yang terkatup geram.
Tidak senang? Jelas!
Siapa yang senang bila urusan pribadi diusik orang lain?
Terlebih, kala sebenarnya Ye Zi Xian sudah merasakan keanehan akan sikap Meng Pei Yun padanya sejak lama. Itulah mengapa dia mulai menjaga jarak dengan menggunakan alasan belajar dan mencari pengalaman serta sebagainya guna menghindari ketidaknyamanannya atas keanehan tersebut. Akan tetapi, dia tak tahu keanehan macam apa itu. Hanya merasa mulai tidak nyaman saat bersama ibu sambungnya.
Karena sifatnya yang memang sudah dingin dan tak tersentuh, membuat Ye Zi Xian tidak terlalu kesulitan untuk perlahan menjauh.
Sebelumnya, Ye Zi Xian memang memiliki kepekaan yang bagus tapi sebagai pria yang belum pernah jatuh cinta dan tidak pernah memikirkannya, berhasil membuatnya gagal memahami keanehan dalam diri Meng Pei Yun. Ia hanya tahu kalau dia mulai tidak nyaman dengan segala perhatian yang Meng Pei Yun berikan padanya, seperti ada sesuatu yang besar didalamnya.
Lantaran semua tampak begitu berlebihan hingga rasanya tidak normal.
__ADS_1
Karena ketidaknyamanannya itu lah, dia memilih menghindar.
Tapi, tampaknya dia mulai memahami sedikit tentang keanehan itu sejak dia sudah tahu seperti apa rasanya jatuh cinta dan diperkuat perkiraannya saat Meng Pei Yun meminta pertemuan yang didalamnya membahas mengenai hubungannya dengan Ryura.
Semakin kebenaran itu jelas, semakin dia marah hingga rasanya ingin segera melenyapkan wanita menjijikkan itu dengan tangannya sendiri. Tapi, dia butuh bukti untuk benar-benar dapat melenyapkannya tanpa masalah.
Ye Zi Xian jelas yakin, bila berita ini sampai ke telinga Tetua Ye... Kakeknya itu tak akan ragu untuk membiarkannya menghancurkan Meng Pei Yun langsung ditempat. Bagaimanapun, Tetua Ye tak akan senang bila reputasi keluarganya ternoda.
Ini sudah menjadi hukum dalam keluarga besar Ye.
Kembali...
Kedua sahabatnya saling memandang bingung mendengar Ye Zi Xian menggunakan bahasa kasar itu untuk ibu sambungnya. Sebab, mereka tahu apa arti Meng Pei Yun untuk Ye Zi Xian. Maka dari itu, melihat sahabatnya seperti saat ini tampaknya ada sesuatu yang besar telah terjadi.
"Apa yang mendasari mu mengucapkan kata-kata itu? Seingatku, Nyonya Selir Meng memiliki arti untuk mu mengingat dialah yang banyak berjasa dalam merawat mu dan saudari mu. Tentu, terlepas dari masalah kali ini." jeda Kaisar Agung Bai. "Tak dapat dipungkiri bahwa masalah ini jelas sangat tidak masuk akal untuk dilakukan oleh seorang ibu yang sebentar lagi akan memiliki menantu. Meskipun dia bukan ibu kandung mu." lanjutnya.
Bingung sekaligus penasaran. Dia merasa ada sesuatu yang luar biasa dalam mengakari masalah ini.
Shin Mo Lan mendengar Kaisar Agung Bai berucap sambil terus menatap Ye Zi Xian. Seperti tengah mengamati sesuatu. "Yang dikatakan Gikwang benar. Nyonya Selir Meng tidak harus bertindak sejauh ini hanya untuk tidak merestui hubungan mu dengan Nona Ryura. Dia jelas tahu Nona Ryura dan kau terikat takdir yang telah ditetapkan pedang pusaka itu. Jadi, apa masalahnya? Terlebih dia belum mengenal betul seperti apa sosok calon menantunya itu, tapi sudah begitu kukuh untuk tidak memberinya restu." jedanya.
Lanjutnya agak ragu, Shin Mo Lan sudah mempertimbangkan hal ini sejak tadi, menilik dari apa yang telah ia amati dari awal hingga kini. "... Kecuali..."
"SI*LAN!" umpat Kaisar Agung Bai keras, tak sanggup melanjutkan kalimat sahabatnya yang sudah ia ketahui apa isinya.
Pria berambut merah itu menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan guna memenangkan diri. Dia hampir kehilangan ketenangannya. Bagaimanapun ini bukanlah kebenaran yang sudah ia pikirkan sebelumnya. Bahkan tak terpikirkan olehnya, tapi siapa yang menyangka kalau kebenaran ini akan begitu menjijikkan.
"Cukup! Tidak perlu di lanjutkan!" mengangkat tangannya sebagai isyarat berhenti, lalu ia bangkit dari duduknya. "Aku akan keluar." kata tajam yang masih mengandung rasa jijik itu keluar sebelum ia angkat kaki dan meninggalkan kedua sahabatnya di ruangan tersebut.
Kaisar Agung Bai merasa tak bisa duduk disana lagi kala rasa mual melilit perutnya. Ia jijik sejijik-jijiknya pada apa yang baru saja ia ketahui.
Satu tujuannya...
Reychu.
Dia butuh gadisnya untuk menghilangkan rasa jijik yang menyelinap ke dalam dirinya setelah mengetahui fakta yang mengejutkan tentang hal yang menjijikkan.
Nafasnya menderu tak tahan. Dia benar-benar butuh Reychu.
Hingga akhirnya, dengan menggunakan jurus meringankan tubuh dia segera terbang menuju tempat Reychu berada.
__ADS_1
Dia sudah tidak tahan.
Sementara itu, kedua sahabatnya yang ditinggalkan sebenarnya tidak jauh berbeda. Mereka juga merasa jijik terutama Ye Zi Xian. Sebab dia korbannya.
Semakin dia pikirkan semakin jijik dia. Benar-benar tidak menyangka kalau ada hal semacam itu didunia ini.
Ibu mencintai anaknya dalam arti yang salah, walau tidak terikat darah dan itu terjadi padanya. Sebagai seorang pria normal, bila dia tidak jijik adalah kesalahan besar.
Berani-beraninya wanita itu memiliki perasaan terlarang itu untuknya. Apakah dia pikir dia tak akan menyadarinya dan tak akan berani bertindak hanya karena wanita itu sangat berjasa padanya?
Itu salah!
Dia bahkan tidak akan ragu begitu bukti ada ditangannya. Makhluk menjijikkan seperti itu tidak bisa ia biarkan hidup, atau akan ada lebih banyak lagi suatu hari nanti.
Greek!
Suara decitan kursi terdengar, ternyata Shin Mo Lan bangkit dari duduknya dan sepertinya akan melakukan hal yang sama. Tapi, setidaknya dia mampu menahan rasa jijiknya.
"Aku akan pergi sekarang." pamitnya dengan nada santai sebagaimana yang antar teman lakukan. Tapi, tak lupa ia memberikan sedikit nasihat atau pendapatnya sebagai seorang sahabat.
"Zi Xian, yang dilakukan Nyonya Selir Meng sangat salah dan tak bisa ditolerir lagi. Bila kau tidak bertindak dengan cepat, orang lain akan tahu aib ini... Dan ku yakin keluarga Ye tidak akan bisa menerimanya."
Menatap balik sahabatnya, lalu mengangguk mengerti. "Aku tahu. Aku juga akan langsung mengatasi masalah ini tanpa mau menundanya lagi. Meskipun, aku sangat ingin sekali melihat gadisku begitu tahu inti masalah ini. Aku butuh dia untuk menenangkan gejolak dalam diriku. Kupikir, aku harus menahannya sampai masalah ini benar-benar selesai. Huuh..." curhatnya sungguh ingin seperti sahabatnya yang langsung bisa menemui kekasihnya tanpa pertimbangan apapun.
Sayangnya, ini bukan waktu yang tepat. Dia harus menyelesaikannya lebih dulu.
Puk... Puk...
Menepuk bahu sahabatnya yang sarat akan dukungan.
"Jangan khawatir. Begitu masalah ini selesai, kau bisa langsung mengikatnya ke dalam ikatan pernikahan. Setelahnya, kau tak akan memiliki masalah yang terlalu berat untuk dihadapi sendirian lagi. Dia pasti akan selalu mendampingi mu, walaupun secara kasat mata dia tampak tak terlihat akan melakukan hal-hal demikian. Tapi, kurasa untuk mu dia tidak akan ragu melakukannya."
"Haha... Kau benar! Itulah mengapa dia begitu istimewa di mata ku." sahut Ye Zi Xian dengan senyum diwajahnya seraya membayangkan sosok Ryura yang tampak dingin diluar, tapi panas didalam.
Itu benar-benar...
Akh!
__ADS_1