
Ruang makan keluarga Shin kini penuh dengan sajian makanan yang lebih dari biasanya. Maklum, yang hadir bukan hanya pemilik rumah tetapi juga beberapa kerabat. Alhasil, makan malam malam ini penuh dengan orang.
Dengan tuan rumah duduk di ujung meja dan sisi kirinya sang istri kemudian anak perempuannya, sedang disisi kanan adalah anak laki-laki pertama disusul anak laki-laki kedua, lalu kekasihnya. Sementara sisa kursi yang lain diisi oleh kerabat yang mana mereka bebas memilih tempat.
Saat ini mereka semua tengah makan dengan khidmatnya meski hanya beberapa saat di awal sebelum sang kepala keluarga angkat bicara menanyakan perihal pembicaraan sebelumnya pada sang putra kedua.
"Jadi, kau sungguhan akan menikah besok?" tanya Ayah Shin dengan alis berkerut serta dalam hati berharap putranya tidak benar-benar melakukan hal gila itu.
Sayangnya, apa yang diharapkan tak selalu terwujud...
"Benar, Ayah." jawab Shin Da Ming tenang sambil kembali memasukkan sesuap makanannya. Sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi di wajah ayahnya.
Ayah Shin memberikan tatapan horor pada putranya yang asik menunduk menyantap makanan tanpa balik melihatnya. Agak tidak sopan memang. Haih... Tapi, bukan itu ini pembicaraan saat ini!
"Bukankah itu terlalu mendadak? Lalu, bagaimana dengan pestanya? Ini akan menjadi pesta pernikahan pertama yang akan keluarga kita rayakan. Tidak mungkin tanpa pesta 'kan?" serentetan tanya dikeluarkan.
Shin Mo Lan dan Rayan saling memandang dengan penuh arti.
"Tidak mendesak sama sekali. Kalau untuk pestanya, itu bisa dilakukan dilain waktu. Tidak terburu-buru." jawab Shin Da Ming tampak biasa saja seolah-olah pernikahannya tidak penting apakah harus ada pesta atau tidak.
"Bagaimana bisa begitu? Oh! Apa karena kau memanfaatkan latar belakang Rayan yang tidak memiliki keluarga? Licik sekali. Meskipun dia tidak memiliki latar belakang yang setara, karena kau sudah lebih dari mampu. Wanita mana yang tak ingin diberikan hal-hal istimewa dihari bahagianya. Kau sebenarnya paham tidak?" omel Ayah Shin tanpa ada yang menyelanya. Yang lain hanya menyimak dengan baik.
Sama seperti sebelumnya, Shin Da Ming menjawab dengan tenang sama sekali tidak menanggapi omelan ayahnya yang ternyata lebih banyak dari omelan ibunya.
"Ayah terlalu banyak berpikir. Sebagai anak dari pria romantis seperti mu, bagaimana bisa aku tidak paham bagaimana menyenangkan wanita ku?! Hanya saja aku memiliki caraku sendiri. Daripada memikirkan percintaan ku yang sudah jelas. Ada baiknya Ayah mengkhawatirkan putramu yang satunya. Aku takut dia salah jalan."
begitu kalimat akhir penuh maknanya selesai semua mata tertuju pada Shin Da Zhuo, sedang yang ditatap melayangkan tatapan tajamnya pada sang adik tepat disampingnya yang dianggap tidak tahu diri. Beraninya dia menyerangnya. Padahal sejak tadi dia diam saja.
Dia malu? Tidak, lebih kepada marah!
Shin Da Zhuo sangat mudah terpancing bila berurusan dengan adiknya yang satu ini.
Beginilah hubungan harmonis antara kakak dan adik dalam keluarga Shin cabang pertama.
Melihat wajah menyeramkan putra pertamanya, Ayah Shin memilih tidak mengungkitnya saat ini dan fokus pada putra keduanya sambil berpikir mungkin dia bisa meminta bantuan pada menantunya -Rayan- untuk memperkenalkan beberapa wanita pada putra pertamanya agar dia segera menikah juga.
Dia hanya tidak memiliki keluarga tapi bukannya tidak memiliki teman, bukan? Begitu pikirnya.
Akan buruk kalau usianya sampai ke kepala 4 dan belum menikah juga. Otomatis dia akan menjadi perjaka tua tanpa dia -Shin Da Zhuo- sadari. Sebagai seorang Ayah, dia tidak bisa tidak sedih melihat kisah percintaan putra pertamanya menyedihkan lantaran tidak ada kisah percintaan. Namun, dari pada sedih karena hal itu dia lebih kepada sedih karena tidak bisa memiliki lebih banyak cucu dari dua putranya. Bukan tak menginginkan cucu dari putrinya, tapi putrinya kelak akan mengikuti suaminya yang berarti cucunya dari putrinya akan lebih condong ke besannya, keluarga suaminya. Jadi, harapan terbesar yang dia punya ada dari dua putranya.
Kini tinggal satu. Sebab yang kedua sudah akan melepas masa lajangnya besok. Setelahnya dia hanya tinggal mendesak mereka untuk segera memiliki anak. Dia tak sabar untuk menggendong cucu! Xixixi...
"Ehem. Lalu, lalu... Setelah menikah dimana kau akan tinggal? Jangan tinggal terlalu jauh, aku akan sulit untuk menemui cucuku dimasa depan." nada akhirnya penuh peringatan, seolah tak senang bila anak menantunya jauh darinya. Tapi, kalimatnya jelas.
__ADS_1
Jadi, siapa yang tidak paham maksud perkataannya.
"Jangan khawatir, Ayah. Kau masih dapat menjangkaunya."
"Bagus kalau begitu." akhirnya beban dihati sang ayah terangkat juga.
"Terus. Nikmatilah makanannya. Menantu, kau juga. Makanlah yang banyak. Tidak usah sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Lagipula, kau akan menjadi bagian dari keluarga bukan. Jangan sungkan, jangan sungkan!" Tangannya di lambai-lambaikan dengan penuh semangat.
Rayan hanya memperdalam senyumnya.
Siapa yang tidak senang disayang mertua? Rayan senang. Walau bukan mertuanya di masa lalu. Tapi, keterbukaan mereka menerimanya tidak ada bedanya.
Begini dia sudah puas. Shin Mo Lan disebelahnya bagaimana tidak merasakan atmosfer bahagia dari istrinya. Jadi, dia menambahkan dengan memberinya lebih banyak perhatian.
Satu demi satu tangan Shin Mo Lan mengambil makanan dan menumpuknya di dalam alat makan Rayan sampai sang istri melihatnya dan keduanya pun tersenyum.
Bila yang lainnya dalam suasana hati bahagia dan cerah. Maka, tidak dengan seorang pria disebelah Shin Da Ming.
Dia saat ini... Begitu suram.
Usai makan malam Reychu dan Bai Gikwang berjalan-jalan mengelilingi rumah mereka sembari menikmati malam yang beruntungnya memiliki bintang bertabur di langit sana.
"Ini waktu tenang pertama bagiku untuk kita. Dulu, karena status ku sulit untuk bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu, kita jadi tidak punya waktu berdua." ujar Bai Gikwang menyayangkan masa lalu.
"Iya. Dulu aku lebih sering menghabiskan waktu seorang diri dengan berkeliling mencari kesibukan sambil kadang-kadang berkhayal tentang, akan jadi seperti apa kehidupan kita nantinya di sini. Tapi, saat itu aku tidak banyak berharap dan memilih untuk menantikannya saja." timpal Reychu.
"Maaf sudah menyulitkan mu, sayang." kata Bai Gikwang tiba-tiba.
"Kau ini bicara apa. Aku sama sekali tidak menyalahkan mu. Aku justru menganggap, memang inilah jalan yang harus kita lalui untuk benar-benar menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Jangan melihat kisah cinta dua sahabat mu yang lain. Kisah cinta mereka bagiku terlalu membosankan. Lancar dan damai, apanya yang menantang?! Sudah bagus kisah cinta kita. Kalau kata orang, banyak lika-likunya. Hehe..." terang Reychu sambil menikmati suasana damai malam ini.
"Kau ini. Dimana-mana, orang-orang inginnya kelancaran bukan sebaliknya. Kau ini memang berbeda. Tapi, itu yang aku suka." senyum Bai Gikwang terukir menunjukkan bahwa dia benar-benar bahagia bukan kepalang.
"Huh. Itu karena mereka lemah dan sukanya hal-hal yang mudah. Mereka tidak tahu saja. Semakin besar masalah yang didapat semakin besar peluang untuk bahagia. Tapi, sayangnya itu tidak berlaku untuk yang lemah." mulut Reychu mulai kembali pedas.
Kalau ada yang mendengarnya, mulut Reychu pasti akan hilang dihancurkan massa.
"Ya, ya... Yang kau katakan tidak salah juga." Bai Gikwang mengiyakan saja.
"Eh! Bukankah kau ingin memberitahu ku jumlah kamar untuk calon anak-anak kita nanti. Bawa aku untuk melihatnya. Cepat!" desak Reychu tak sabar begitu mengingat hal itu.
"Kau benar. Ayo, aku bawa kau melihatnya. Jangan kaget, oke... Haha..."
__ADS_1
Keduanya pun berjalan masuk kembali dan mengubah arah tujuan mereka menjadi area kamar-kamar anggota keluarga di rumah ini.
Tak membutuhkan waktu lama, keduanya sampai di tujuan. Lantai dua rumah megah keluarga kecil mereka.
"Kau ingat ini?" tunjuk Bai Gikwang kearah kamar yang sebelumnya mereka masuki.
Reychu mengangguk mengiyakan. "Ya, itu kamar yang kita masuki tadi. Harusnya akan menjadi kamar kita kelak."
"Benar. Disebelahnya adalah ruang kerjaku. Aku sengaja menempatkannya disebelah kamar kita agar dekat. Apalagi, aku juga membuatkan pintu penghubung agar tidak perlu mengambil jalan memutar. Aku sengaja menempatkan kamar kita sekeluarga dilantai dua. Disebelah ruang kerja, aku meminta dibuatkan 5 kamar kosong dan disebelah kamar kita aku meminta 5 kamar kosong juga dengan luas yang sama sebelum di potong oleh area balkon dengan halaman paling luas dan kosong tanpa tanaman selain rumput biasa. Kau tahu kenapa?"
"Kenapa?"
"Aku berencana untuk menambahkan kamar lagi kalau-kalau aku memiliki lebih banyak anak dari jumlah kamar yang sudah di sediakan." katanya dengan senyum lebar dan bangga.
"Wow. Jadi, kau ingin anak lebih dari 10?" tanya Reychu dengan ekspresi terkejut, namun memiliki sedikit kejanggalan.
Ternyata, dia terkejut seperti tidak terkejut. Seolah-olah pembicaraan ini tidak melibatkan dirinya.
"Ya! Aku tidak berniat memberimu kontrasepsi dalam jenis apapun."
"Wah. Kasihan sekali aku, ya." katanya masih sesantai biasanya walau kalimatnya mengasihani diri sendiri. Sengklek memang.
"Sayang, apa yang kau pikirkan. Aku tidak sejahat itu. Kalau kau lelah tinggal bilang padaku dan aku bisa meminta Mo Lan untuk meresepkan obat untuk menunda kehamilan mu. Kau tahu, aku sudah memeriksa segala jenis kontrasepsi di zaman ini..." Bai Gikwang menggelengkan kepalanya tak berdaya. "... Tidak ada yang tidak memiliki efek samping. Jadi, aku lebih suka mencari jalan aman. Semua agar kau tetap baik-baik saja. Tapi, kalau kau masih mau setiap tahunnya mengandung anak kita. Aku juga tidak keberatan. Hehe..."
"Humm... Bisa dipertimbangkan. Bisa dipertimbangkan." Reychu mengangguk sambil mengelus dagunya seakan benar-benar memikirkan
Bai Gikwang agak terkejut dengan kelempengan Reychu dalam menanggapi pembahasan ini.
"Kau tidak keberatan? Itu melelahkan lho, sayang..." kata Bai Gikwang mengingatkan seolah-olah bukan dia yang menginginkan banyak anak sebelumnya.
"Kenapa keberatan?! Kau juga tidak memaksa, kan. Kau bilang aku bisa memilih menunda ataupun lanjut. Jadi, selama aku masih kuat nantinya. Aku akan memberi mu banyak anak." jawab Reychu tanpa beban dengan masih bisa menampilkan senyum merekahnya yang seperti tak ternoda itu.
Bai Gikwang tak bisa berkata-kata lagi selain merasa terharu dan bahagia bukan main. Senang memiliki Reychu sebagai takdirnya.
"Baiklah. Mari kita istirahat. Pembicaraan malam ini cukup sampai disini. Kita juga masih punya waktu 2 bulan untuk membahasnya lagi kalau mau." putus Bai Gikwang lalu membawa Reychu kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.
Bila bertanya apakah mereka tidur bersama? Jawabannya, ya. Tapi, hanya tidur. Tidak ada yang lain. Bai Gikwang ini masih sanggup bertahan selama 2 bulan lagi.
Tapi, entah setelahnya...
Alhamdulillah up lagi akhirnya... selamat membaca sayang2kuuuuu....ππππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1