
Dalam perjalanan pulang, Ryura yang diam angkat bicara.
"Xian."
"Ya, sayang." respon cepat Ye Zi Xian yang tengah setia memeluk tubuh Ryura dari samping dan melekat tanpa mau melepaskan.
"Kita tunda dulu memiliki anaknya."
Perkataan Ryura menyentak kenyamanan Ye Zi Xian dalam bermanja-manja pada sang istri.
"Kenapa?" ingatan beberapa saat lalu segera melintas. Menatap Ryura serius. "Apa ini tentang yang tadi dibicarakan?" Ye Zi Xian menghela nafas. "Sayang, kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku bisa menanganinya."
Ryura menatap balik suaminya dengan kilatan serius kali ini. "Aku ingin mengalami proses kehamilan dalam damai dan normal."
Kalimat singkat itu menimbulkan keheningan diantara keduanya sampai supir yang bertugas jadi berkeringat dingin saking gugupnya. Padahal jelas-jelas dia tidak ada hubungannya.
Keheningan pasangan itu hanya diselingi dengan saling tatap dan mencoba memahami satu sama lain.
Setelah pertimbangan yang beradu di benaknya, Ye Zi Xian pun memilih mengalah.
Menghela nafas Ye Zi Xian berkata. "Baiklah. Ini juga demi kebaikan keluarga kecil kita, kan?!" jedanya. "Lalu, apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Ye Zi Xian seraya kembali memeluk tubuh istrinya dengan dagunya bertumpu pada puncak kepala Ryura.
"Aku ingin kau kembali bekerja mulai besok. Sementara aku akan membawa Rayan dan Reychu untuk merundingkan masalah ini. Anggap saja ini sebagai selingan sebelum pesta pernikahan Reychu dilangsungkan dalam 2 bulan kedepan." jelas Ryura sebagaimana apa yang dia perlukan.
"Mereka terlibat juga?" Ye Zi Xian tak berpikir ini akan memainkan peran 3Ry dalam menangani masalah ini. Tapi, tampaknya dia paham mengapa 3Ry diperlukan.
"Harus. Mereka pasti juga menginginkan kehidupan rumah tangga yang baik. Adanya masalah ini tentu akan membuat keluarga kita tidak baik. Terlebih, salah seorang yang terobsesi pada kalian ada di restoran itu juga tadi."
Ye Zi Xian akhirnya tahu, masalah ini tidak bisa dibiarkan. Lagipula, ini bukanlah zaman kuno dimana dia bisa langsung menebas mereka yang tidak sedap dipandang atau mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa karena perbedaan status.
Di zaman ini, meski memiliki hukum yang jelas kecerdasan seseorang dalam menghalalkan segala cara juga menjadi lebih jelas.
Dia juga tidak mau kalau sampai masalah ini berlangsung lama. Itu jelas akan mengganggu kehidupan keluarga kecilnya.
Akhirnya...
"Kau benar, sayang. Baiklah. Lakukanlah apa yang mau kau lakukan. Tapi, jangan lupa kau punya aku. Jangan sampai aku melihat mu melakukan hal yang melukai dirimu sendiri atau aku akan benar-benar marah dan akan mengurung mu tanpa ada kesempatan untuk keluar lagi. Paham!" tegas Ye Zi Xian saking cintanya pada sang istri.
Ryura tentu memahaminya.
Cup!
Dikecupnya bibir sang suami yang paling dekat. "Aku tahu. Jangan khawatir."
Pembahasan inipun selesai dengan baik, begitu juga kegugupan sang supir yang akhirnya diredakan setelah melihat kedua majikannya baik-baik saja.
"Aku benar-benar ketakutan!" batin sang supir bergidik ngeri.
Setelahnya, begitu tiba di rumah Ryura langsung memerintahkan Butler Xie untuk menghubungi rumah tangga Shin Da Ming dan Bai Liam guna memberitahukan kepada Nyonya rumah disana untuk menghubungi Ryura kembali.
Meskipun merasa bingung Butler Xie tetap menjalankan tugasnya.
Disisi lain, setelah Rayan dan Reychu menerima pesan itu, mereka tahu ini artinya ada masalah penting yang mengharuskan untuk mereka tangani sesegera mungkin.
Saat menghubungi balik, janji temu pun dibuat.
__ADS_1
Salah satu restoran terkenal disewa sepenuhnya untuk sebuah acara reunian salah satu angkatan alumni kampus ternama.
Sudah banyak yang hadir hari ini. Apalagi acara reuni di lakukan pada jam 7 malam.
Pria dan wanita berbaur menjadi satu. Ada yang masih menjomblo ada juga yang sudah menikah, bahkan ada yang menikah sesama alumni hingga acara reunian menjadi semakin meriah.
Mereka yang sudah lama tidak bertemu juga menjadikan acara ini sebagai ajang melepas rindu. Antusiasme dan tawa menjadi satu.
Banyak topik dibicarakan menggema saling tumpang tindih. Bersamaan dengan saling bersulang dan makan bersama.
"Aku dengar Meng Ruona akan datang malam ini." ujar salah seorang wanita yang dari penampilannya terlihat jelas kalau dia seorang wanita karir. Sambil memegang segelas anggur ditangannya dia berbincang dengan beberapa wanita lain yang adalah sesama teman kuliah dulu.
"Oh, benarkah?" salah satu yang lain terkejut heboh, pasalnya ini akan menjadi pertama kalinya dalam beberapa tahun selama acara reunian diadakan, seseorang yang mereka sebut namanya muncul atau bergabung dengan mereka dalam acara reunian tersebut.
"Ya ampun, aku hampir lupa soal itu. Aku juga mendengarnya." wanita lainnya tak kalah heboh menyahut. "Dan lagi, dengar-dengar dia akan datang bersama Bo Kang." aroma-aroma gosip mulai tercium.
"Bo Kang?" yang mendengarnya kaget sekaligus bersemangat.
Mereka tahu siapa dua nama yang tengah mereka bicarakan.
"Kau yakin?"
"Seharusnya informasi yang ku dapat tidak akan salah. Bisa dibilang sebagian besar orang yang ada disini mengetahuinya. Apalagi banyak pria diantara kita adalah bawahan Bo Kang. Jadi, itu harus menjadi benar."
"'Aah... Pasti begitu."
"Tapi, kenapa dia datang sekarang?"
"Memangnya kenapa?"
"Haish... Yang pada akhirnya gagal itu? Mungkin karena dia gagal jadi dia mencoba mencari suasana baru untuk menutupi luka di hatinya."
"Bisa jadi seperti itu. Tapi, bukankah itu lucu?"
"Apanya?"
"Selama ini dia tidak menyangkal ketika ada kabar tentang kemungkinan adanya hubungan dia dengan salah satu pria hebat itu setiap kali berita itu muncul, meskipun kabar itu tidak pernah seheboh kabar mengenai Nona dari keluarga Jiang. Tapi, malangnya seseorang mendahuluinya tanpa memberinya celah sedikitpun."
"Kau benar. Perempuan itu langsung dinikahi kemarin kan? Ukh! Tuan Muda Ye benar-benar pria idaman. Dia persis seperti pemancing. Sekali umpan ditangkap, mangsa pun dapat. Tidak tanggung-tanggung, itu masih perempuan yang cantik."
"Betul itu. Aku jadi merasa kasihan dengan Meng Ruona. Kecantikan dan usahanya untuk menarik perhatian Tuan Muda Ye sama sekali tidak membuahkan hasil. Ckckck..."
Tiba-tiba, saat para wanita itu bergosip keriuhan terjadi di pintu masuk restoran.
Mereka menoleh dan langsung melihat sepasang insan datang bersama. Mereka tidak mungkin tidak mengenalinya.
Keduanya adalah Bo Kang dan Meng Ruona.
Seketika kehadiran keduanya secara bersamaan menimbulkan kehebohan. Tidak ada yang tidak tahu kalau di masa kuliah Bo Kang menyukai Meng Ruona. Alhasil, saat keduanya terlihat bersama seperti saat ini yang lainnya bersorak.
"Bo Kang, apakah kau berhasil menaklukkan Nona Meng?" entah siapa yang bertanya, yang pasti sorak-sorai kian terdengar keras setelahnya.
Bo Kang dan Meng Ruona digoda oleh yang lainnya dengan penuh semangat.
Yang di goda -Bo Kang- tetap dengan gaya santai dan kerennya seolah-olah bukan dia yang digoda, sementara Meng Ruona hanya menampilkan senyum ramahnya walau dalam hati amat tidak senang melihat orang-orang yang dianggapnya tidak sederajat itu menggoda dirinya dengan pria disebelahnya saat ini.
"Meng Ruona semakin cantik saja, ya!"
__ADS_1
"Selamat datang, Meng Ruona!"
"Putri keluarga kaya memang beda ya?!"
"Mereka terlihat serasi juga, ya?"
"Meng Ruona, kau masih ingat kami?!"
Dan masih banyak lagi bentuk antusiasme yang lainnya, hal itu membuat Meng Ruona sendiri harus menjaga postur bersahabatnya demi citra yang selama ini ia bangun.
Bo Kang diam saja sambil terus tersenyum tipis, namun keren saat membalas sapaan yang lain. Dia sama sekali tidak mempedulikan keadaan Meng Ruona yang diam-diam risih dengan sikap teman-teman seangkatan mereka dulu kepadanya.
Tapi, antusiasme itu tidak berlangsung lama setelah acara dimulai.
Semuanya kembali ke posisi mereka guna menikmati serangkaian isi acara untuk memeriahkan perayaan reuni kampus mereka.
Ada yang bernyanyi, menari, stand up komedi, dan lain sebagainya.
Di saat acara masih berlangsung, Meng Ruona yang duduk bersama Bo Kang tidak lagi bisa menunggu. Dia takut bila terus ditunda akan sulit menemukan kesempatan seperti saat ini, dimana dia ingin meminta bantuan Bo Kang.
"Ehem. Bo Kang." panggil Meng Ruona saat Bo Kang tengah menyesap minuman anggur dari gelasnya.
Mendengar itu, tanggapan Bo Kang hanya alis yang terangkat. Melihatnya, cukup membuat Meng Ruona tersinggung lantaran merasa di abaikan. Akan tetapi, karena dia membutuhkannya, jadi tidak ada pilihan lain selain menanggung ketidaknyamanan.
"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu. Mungkin lebih kepada, aku membutuhkan bantuan mu. Apakah kau mau membantu ku?" dengan jurus gadis lemah lembut yang tidak bersalah, Meng Ruona menyerang bagian inti dari bagaimana Bo Kang menyukainya dulu.
Bo Kang diam sejenak setelah mendengarnya dan hanya memandang wajah cantik Meng Ruona dengan tatapan yang perempuan itu sendiri tidak bisa mengartikannya.
Setitik kegugupan muncul dihati Meng Ruona. Tetapi, langsung buyar setelah mendengar respon pria itu.
"Apa itu?" tanggapan Bo Kang usai menyesap tegukan terakhir anggurnya sebelum dia meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu dengan gestur santainya.
Pertanyaan Bo Kang seketika membuat Meng Ruona sumringah dari dalam hatinya. Dia menganggap Bo Kang menerima permintaannya dengan bertanya demikian.
"Aku memiliki masalah dengan seorang wanita. Jadi, aku ingin memberinya pelajaran agar dia tidak sombong lagi. Karena, aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku membutuhkan seseorang untuk melakukannya. Apakah kau mau melakukannya?" Meng Ruona hanya mengatakan bagian kecilnya, detail sesungguhnya ia sembunyikan karena pasti akan membuat dia dipandang buruk bila kebenarannya terkuak.
Bo Kang masih diam tanpa melepaskan pandangannya dari Meng Ruona. Membuat wanita itu canggung saja.
"Aku memikirkan mu saat memikirkan ide itu. Kau masih memiliki kelompok gangster mu, kan? Tolong bantu aku. Dia benar-benar buruk dan aku perlu mengajarinya. Jika, kau mempermasalahkan soal biaya, jangan khawatir. Aku akan memberikan mu dalam jumlah yang banyak." sambungnya.
Bo Kang masih diam hingga Meng Ruona menjadi tidak nyaman. Dia memikirkan citranya sampai mau gila. Hal ini pun dia pikirkan bukan tanpa pertimbangan akan resikonya. Akan tetapi, kebenciannya lebih besar daripada citranya. Ini membuat dia kesulitan dalam memilih meski pada akhirnya pilihan jatuh pada pilihan terakhir.
Kebencian.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai kau melakukan ini. Tapi, aku masih bisa menerimanya. Tunjukkan saja padaku siapa orangnya." kata Bo Kang menerima permintaan Meng Ruona dengan sebuah tebakan di benaknya.
Meng Ruona senang bukan main saat Bo Kang benar-benar menerima permintaannya. Tapi, kesenangan itu hanya di perlihatkan melalui senyuman manis yang baik.
Dan semuanya terjawab saat Meng Ruona menunjukkan foto wanita yang ingin dia jadikan targetnya.
"Ini dia. Tidak perlu sampai membuatnya mati. Cukup sampai dia jera saja, sudah." dengan suara yang lebih manis dari sebelumnya, dia berkata. "terima kasih sudah mau menerima permintaan ku, Bo Kang. Aku serahkan dia padamu, setelah selesai aku akan memberikan imbalan yang tepat untuk mu."
Bo Kang hanya tersenyum manis tanpa kejelasan apakah dia berasa di pihak Meng Ruona atau tidak.
Kemudian, kesepakatan pun selesai terjalin...
__ADS_1