
Setibanya di depan gerbang kediaman Han, ia turun dari kudanya yang gagah hitam itu dan tanpa ba-bi-bu lagi langsung saja ia menyelonong masuk kedalam kediaman tersebut.
Ryura masuk dengan santainya, seolah kediaman itu tidak memiliki masalah dengannya.
Kemunculan kembali dirinya sukses menarik perhatian seluruh penghuni kediaman Han yang berlalu-lalang disekitarnya. Mereka terkejut dengan kepulangan Ryura, si Nona bungsu kedua di keluarga Han. Melihat itu salah satu pelayan yang juga melihatnya segera berlalu pergi dari sana dengn langkah cepat. Siapapun tahu apa yang akan ia lakukan bila sudah seperti itu.
"Bukankah itu Nona Muda bungsu kedua Han?"
"Nona muda telah kembali!"
"Aku saja yang merasa atau Nona muda bungsu kedua memang tampak berbeda?!"
Seperti itulah kiranya yang terlontar dari mulut mereka. Tapi, apa peduli Ryura. Ia terus saja berjalan mengikuti ingatan pemilik tubuh menuju kamarnya. Tanpa halangan langkahnya menuju tempat tujuan berjalan lancar.
Greek!
Dibukanya pintu berdaun dua itu dan terpampanglah apa yang disebut dengan kamar di masa kuno. Tapi, sepertinya ini jauh lebih mengerikan.
Kamar Ryura penuh debu dan jaring laba-laba. Benar-benar tak terurus. Sepertinya kepergiannya tidak membuat para pelayan melakukan tugasnya. Memang sudah begitu, sama persis dengan apa yang ada di ingatan pemilik tubuh. Dimana Han Ryura yang selalu membersihkan kamarnya sendiri atau dengan kata lain, ia melakukan segalanya yang berkaitan dengan dirinya sendirian.
Miris bukan?!
Katanya dia itu bodoh, tapi pekerjaan rumah pun ia juga yang harus mengerjakannya.
Sayangnya, Ryura yang sekarang ini akan berbeda. Terlihat dari ia yang langsung melangkah masuk kedalam kamar kotor itu tanpa memandang apapun karena tujuannya saat ini adalah peraduan.
Tidur, menjadi keinginannya untuk saat ini.
Begitu sampai di peraduan, langsung saja direbahkan tubuhnya mengabaikan debu yang langsung terbang begitu Ryura memberi sedikit dorongan angin dari gerakan. Ia mengantuk berat. Perjalanan jauh usai berlatih sebenarnya bukanlah masalah, akan tetapi yang menjadi masalahnya adalah bila diburu waktu.
Itu benar adanya. Ryura menerima tawaran Duan Xi untuk menjadi muridnya. Alasannya adalah agar ia bisa menjelajahi dunia masa kuno ini tanpa perlu pusing memikirkan apa yang harus dilakukan sebagai langkah awal. Meski kenyataannya, ia tak pernah mau ambil pusing. Tapi, setidaknya dengan adanya Duan Xi ia jadi memiliki pemandu jalan.
Asem kan!
Apa yang akan di lakukan Duan Xi seandainya tahu kalau ia hanya di anggap sebagai pemandu jalan oleh muridnya sendiri?!
Saat hampir terlelap menuju alam mimpi, tiba-tiba saja hentakan langkah yang terdengar di tegaskan perlahan mendekat kearahnya. Rupanya, ada seseorang yang menerobos masuk ke kamar tak terurusnya. Namun, diabaikan oleh Ryura, gadis 'manekin hidup' itu enggan menanggapi.
"Wah... Lihat siapa yang dengan tak tahu malunya kembali pulang dan langsung tidur?! Apa sekarang kau sudah merasa menjadi seorang putri, hah?!" sarkas seorang gadis sambil berkacak pinggang dengan sorot mata memandang penuh hinaan pada Ryura yang tidak bergeming sedikitpun, ia masih memejamkan matanya tidur. Tapi, ia tetap dapat mendengar apa yang diucapkan oleh gadis yang tak ia ketahui siapa.
"Si*lan! Aku di abaikan?! Tak bisa di biarkan!" geramnya membatin.
"HAN RYURA, JANGAN LANCANG KAU, YA! DASAR GADIS BODOH TAK BERGUNA YANG TIDAK TAHU DIRI! BERANI KAU MENGABAIKAN KU! KAU INGIN DIHUKUM, YA?!" bentakkan kerasnya ternyata mulai sedikit mengusik tidur Ryura.
"Berisik!" tandas Ryura dengan suara paraunya khas orang yang mengigau dalam tidurnya. Gadis itu mendengarnya menjadi emosi.
"Benar-benar...!" setelahnya gadis itu bergerak cepat mendekati Ryura dan menarik tangannya kuat hingga Ryura terhenyak terseret dan nyaris jatuh kalau saja ia tidak segera...
Krak!
"AAARRRGGHH!!! TANGANKUUU...!!!" teriak gadis itu seraya merintih kesakitan seraya meringkuk memegang tangannya. Kemudian menatap Ryura yang masih saja memejamkan matanya dengan marah. "KAU MEMATAHKAN TANGANKU... RYURA SI*LAN...! KAU MEMATAHKAN TANGANKU...! HAAAAA...!" teriaknya lagi dengan lebih histeris.
Tapi, sayang Ryura tak juga bergeming. Ia masih bisa terlelap dengan khidmatnya. Di abaikan teriakkan tak berfaedah itu.
Tak berselang lama dari teriakan gadis tersebut, suara langkah kaki yang terdengar banyak memasuki indera pendengarannya. Sepertinya akan ada keributan di tempatnya.
"ASTAGA! HAN SHU ZHU!" seru lantang seorang wanita paruh baya sambil tergopoh-gopoh berlari kearah gadis yang baru diketahui bernama Han Shu Zhu. Ternyata ia adalah ibunya, Xia Lin Lin. Disusul dengan yang lainnya.
Wajahnya tampak cemas melihat putrinya meraung kesakitan sembari memegang pergelangan tangannya yang tampak lunglai. Matanya terbelalak kaget melihatnya. Pergelangan tangan itu patah!
"Kenapa dengan tanganmu?! Ya, dewa... Tanganmu patah! Bagaimana bisa?!" katanya yang langsung mengagetkan orang-orang yang datang disana.
"APA?! PATAH?!" seru seorang pria paruh baya yang segera mendekati putrinya begitu mendengar apa yang istrinya katakan. Dia adalah Han Xi Lin. "Bagaimana bisa?" tanyanya tak habis pikir.
Dengan kebencian yang mendarah daging Han Shu Zhu menatap tajam kearah Ryura yang tidur. "Itu semua karena dia! Dia yang mematahkan tanganku!" tegasnya.
Semua mata kini tertuju pada gadis yang tampak damai dalam tidurnya.
"Kau yakin dia yang mematahkan tanganmu?! Lihat dia..." tanya seorang pemuda sedikit tak percaya apalagi melihat kini gadis yang semua orang anggap bodoh tengah tertidur dengan lelapnya. Dia adalah kakak kedua Han Shu Zhu, Han Liang Xin.
__ADS_1
"Kakak... Kau pikir aku berbohong?! Jangan tertipu olehnya! Dia yang mematahkan tanganku! Aku tidak segila itu sampai mematahkan tanganku sendiri!" sergah Han Shu Zhu tak terima kala kalimat tak percaya kakak keduanya terucap.
Han Liang Xin hanya diam tak lagi menyahutnya. Matanya saat ini hanya terfokus pada Ryura yang tidur. Ia bingung, tak tahu harus percaya pada siapa sebelum benar-benar melihatnya sendiri.
Sementara sang ayah Han Shu Zhu mulai tak bisa mengendalikan amarahnya. Ia bangkit dan segera berjalan kearah Ryura dan siap untuk membalaskan rasa sakit putrinya.
"Berani kau menyakiti putriku! Kau harus mendapatkan balasannya!" desis Han Xi Lin yang di selimuti amarah.
Tangan besarnya terulur cepat hendak menggapai leher Ryura, namun sayangnya...
Duk...
Bruak!
Dengan sigap Ryura menendang perut pamannya sendiri tanpa belas kasih hingga mulut sang paman memuntahkan darah dan terpental agak jauh. Semua yang menjadi saksi mata terkejut bukan main, sampai rasanya mata mereka hendak keluar dari tempatnya.
"AYAH!!!"
"PAMAN!!!"
"HAN XI LIN!!!"
seru lainnya serempak dengan panggilan mereka masing-masing.
Beberapa dari mereka segera menghampiri Han Xi Lin guna untuk menolongnya. Setelah dilihat, Han Xi Lin tampak tidak baik-baik saja. Sedang sisanya menatap nyalang penuh amarah kepada Ryura yang baru saja bangun ke posisi duduknya. Kelopak matanya mengerjap polos.
Bila mereka memandang marah pada Ryura, maka gadis datar itu memandang mereka tanpa minat. Dia hanya memasang raut poker face nya saja.
"Aku tidak tahu... Apakah aku harus senang atau justru merasa terhina dengan apa yang kulihat saat ini." ucap seseorang dengan suara yang dalam dan matanya menyorot tajam langsung kemata Ryura yang tak ada binar yang berarti. "Putri bungsu kedua Keluarga Han berani menyakiti yang lebih tua. Sungguh tak bisa di maafkan!" tukasnya tegas, tapi lagi-lagi tak berarti apa-apa bagi Ryura.
Melihat pria tua yang tak lain adalah kakeknya a.k.a kakek si pemilik tubuh sama sekali tidak membuat Ryura menundukkan pandangannya hormat. Ia tetap akan menjadi Ryura Jenna.
"MANA SOPAN SANTUNMU! BERANI KAU MENATAP MATAKU LANGSUNG!" bentak sang kakek -Han Dongzue- merasa tak terima ditatap datar oleh cucu bungsunya yang tidak di inginkan.
Mata Ryura mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berujar datar dan santai.
"Kalian semua mengganggu tidurku." katanya mengabaikan semua makian yang sebelumnya memasuki pendengarannya.
"KAU! CUKUP SUDAH! AKU TIDAK MAU MELIHAT WAJAH SOMBONGMU ITU! LIANG XIN! DAO YAN! SERET ANAK TIDAK TAHU DIRI INI KELUAR! CAMBUK DIA DAN SIRAM DENGAN AIR GARAM! SEKARANG!" teriakan lantang Han Dongzue menggema menjatuhkan perintah kepada kedua cucu laki-lakinya yang hadir disana. Han Liang Xin dan Han Dao Yan, yang sedari awal ia muncul tak sedikitpun mengeluarkan suara. Dia juga yang adalah saudara seibu dengan Ryura.
Sejenak kala pendengaran Ryura menangkap nama yang akrab di telinganya itu spontan ia menggeser pandangannya kearah seorang pemuda yang tak lain adalah saudaranya, Han Dao Yan. Mata mereka tanpa sengaja bertubrukan, mata tertegun dengan mata kosong.
Melihat kedalam mata Han Ryura meski sekilas, Han Dao Yan yakin bila ia tak dapat melihat apapun didalamnya. Mata saudarinya itu sungguh tak bisa di selami dan di baca.
Usai mendapat perintah demikian, segeralah Han Liang Xin dan Han Dao Yan mengambil langkah tegas dan cepat kearah Ryura.
Helaan nafas di hembuskan perlahan oleh Ryura. Dia benar-benar tidak suka situasi seperti ini, sungguh membuat tidurnya terganggu. Ia benci itu.
Grep!
Kedua tangannya sudah berhasil di pegang erat oleh kedua saudaranya, dengan sigap ia dibawa keluar oleh mereka disusul yang lainnya.
Kini siapapun dapat melihat mereka disana kecuali orang diluar kediaman.
Brugh!
Ryura didorong hingga lututnya membentur keras ke tanah di halaman luar kamarnya. Bukannya kesakitan, Ryura justru masih saja diam.
"Kenapa tidak meminta maaf saja?! Kalau begini kau hanya akan melukai dirimu sendiri. Dasar bodoh!" entah itu bentuk perhatian atau apa, Han Dao Yan membisikkan kata-kata tersebut sebelum akhirnya ia bangkit dan memberi jarak antara keduanya.
Sang kakek menyusul di belakang yang kini di tangannya sudah terdapat cambuk berwarna cokelat kehitaman. Ryura sempat meliriknya datar dan kembali diabaikan olehnya.
"Minggir kalian semua! Aku akan memberinya pelajaran! Agar ia tahu dimana ia berpijak selama ini!" diayunkan tangannya yang memegang cambuk usai bicara.
Dalam sekali hentak, tali cambuk itupun siap memecut punggung Ryura. Semua yang ada di sana sudah amat menantikan itu.
"Cambuk dia! Aku benar-benar ingin ia tahu rasanya! Dasar gadis menjijikkan dan bodoh!" batin Han Shu Zhu dengan kesenangan yang membuncah kala matanya menatap ayunan tali cambuk itu sedikit lagi mengenai punggung Ryura.
Slap!
__ADS_1
Grep!
Sebuah tangan menangkap ujung tali cambuk dengan mudahnya sebelum mendarat melukai punggungnya. Ya, itu adalah tangan Ryura sendiri. Kemudian, diliriknya pria tua yang bau tanah itu tampak terkejut melihat aksinya yang mampu menahan sabetan dari cambuk tersebut.
Zruk...
Kemudian Ryura menariknya hingga sang kakek tersungkur jatuh kedepan dengan tidak elitnya. Cukup memprihatinkan bila dilihat.
"KAKEK!"
"AYAH!"
Teriak yang lainnya bersamaan, bahkan para pelayan yang ikut melihatnya pun di buat kaget tak percaya. Han Liang Xin dan Han Dao Yan bergegas menghampirinya.
Sedang yang pelaku tanpa iba kala matanya menatap kejadian di depannya, Ryura bangkit begitu saja tanpa mengubah raut wajahnya.
Kejadian itu terlalu cepat terjadi sehingga yang lainnya tak dapat memprediksi.
"BERANINYA KAU BERBUAT BEGITU PADA AYAHKU...!!!" teriak Han Xi Lin menggema tak karuan. Ia marah sangat marah. Hingga tanpa melihat keadaannya sendiri, ia bangkit dan berlari kearah Ryura hendak menyerangnya. Han Xi Lin tak bisa mentolerir lagi tindakan gadis bodoh itu.
Tap!
Tap!
Tap!
Ryura tak bergeming di tempatnya dengan wajah yang tak pernah menunjukkan perubahan. Dapat ia lihat sebuah kepalan tangan nyaris mengenai wajahnya, tapi secepat kilat juga ia menghindar dan sejurus kemudian...
Bugh!
"Ukh!"
Pukulan telak darinya mengenai tepat di ulu hati Han Xi Lin. Ryura yang malah berhasil memukul pamannya tanpa ragu. Ringisan pun turut terdengar sedetik usai pukulan dilayangkan. Sepertinya kali ini tidak sampai disitu saja. Ryura pun melanjutkan ke pukulan berikutnya.
Bugh!
Duak!
Krak!
Brugh!
Dada, wajah, dan terakhir ia memelintir kepala Han Xi Lin kuat, kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja ke tanah. Yang lainnya memandang horor dan tak menyangka dengan apa yang dilihat oleh mereka.
"ASTAGA, SUAMIKU...!" lagi-lagi teriakkan menggema, namun kini dari Xia Lin Lin. Dengan sigap ia menghampiri seonggok tubuh yang terkapar itu sambil meraung keras. Ia histeris.
"SI*LAN! KAU APAKAN AYAHKU!" susul teriakkan Han Liang Xin sama tak terimanya pada apa yang ia lihat.
"Kalian menggangguku dan aku hanya membereskan pengganggu!" tuturnya singkat.
"KAU..." perkataannya terpotong saat Xia Lin Lin semakin meraung-raung menangisi tubuh suaminya yang tidak ada tanda-tanda akan bangun. Yang lainnya kaget bukan main.
"Liang Xin. Ayahmu... Huhuhu... Ayahmu..." segera setelah mendengar itu Han Liang Xin mendekati ibu yang terdapat sang ayah di pangkuannya.
Han Dongzue yang melihatnya, mengerti kalau putranya...
"K..kau... Me...membunuh... Anakku... Ka..kau membunuh nya... KAU MEMBUNUHNYA!" intonasinya meninggi di akhir. Han Dongzue marah, ia ingin menyerang Ryura namun sayang ia ambruk ketika secara tak terduga serangan jantung menimpanya.
Brugh!
"KAKEK!" Han Dao Yan dan Han Shu Zhu berteriak memanggil kakek mereka bersamaan.
Kini ia yang di abaikan, karena mereka harus mengutamakan sang kakek dan ayah mereka. Ryura tak sedikit pun menunjukkan rasa ibanya. Ia hanya diam di tempatnya dari awal hingga kini.
Seluruh pasang mata yang melihat tak bisa menghentikan tubuh mereka yang di serang merinding ketika melihat bagaimana Ryura dengan mudahnya menumbangkan Han Xi Lin.
Sepertinya Nona muda mereka sudah bukan Nona muda yang dulu lagi. Hilangnya dia selama 3 bulan amat tidak dapat di sangka bila akan menghasilkan perubahan yang begitu besar. Mereka mulai ketakutan, takut seandainya mereka yang di habisi di kemudian hari bila berani mengusiknya.
Tak minat berlama-lama di sana sambil menyaksikan drama menyedihkan atas meninggalnya tuan pertama Keluarga Han dan sekaratnya tuan besar Han secara bersamaan. Yang menghebohkan adalah pelakunya hanya ada satu.
__ADS_1
Orangnya sudah berbalik pergi meninggalkan kediaman Han bersamaan dengan Furby yang sudah menunggu di luar. Melompat naik ke punggung kudanya dan sebelum menyuruh Furby melaju, ia sempat melirik sekilas dengan acuh kemudian ia pun pergi tanpa pamit.