3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MEMBUAT PUSING ORANG LAIN


__ADS_3

Dalam sehari, berita terbaru tentang 'Three Royal Nobles' menjadi yang paling banyak dicari. Semuanya terlalu terkejut hingga tak percaya yang hasilnya mencari dari segala sumber. Tapi, jawaban yang mereka temukan adalah bahwa ketiga pria yang diidolakan itu benar-benar menemukan 3 gadis untuk dibawa ke sisinya.


Kini gelar 'Three Noble Consorts' sudah resmi dimiliki.


Banyak ragam respon dari orang-orang perihal berita mengejutkan ini, bahkan karena ulah ketiga pria itu, akun media sosial keluarganya pun ikut di banjiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang tiada habisnya sampai membuat pusing kepala.


Tak ayal ada yang ruang komentarnya ditutup saking tidak tahan menerima semburan tanya dari warga net.


"Ya, ampun. Anak itu..." kepala ibu Ye berdenyut melihat media penuh dengan gambar tentang putranya yang menyeret seorang gadis ke kantor catatan sipil.


Ada juga gambar dimana keduanya memakai gaun pengantin tradisional. Bagian ini, tentu yang paling mengejutkannya.


Menoleh ke arah suaminya tanpa daya. "Suamiku, lihat anakmu ini! Aku tahu dia memiliki tambatan hati. Tapi, aku tidak pernah menyangka akan sampai seperti ini." Ibu Ye menggelengkan kepalanya tak berdaya kala mengetahui kalau putranya bisa memiliki sifat bucin seperti itu.


Bagi sang ibu, itu sangat tidak cocok dengan kepribadiannya yang dingin selama ini. Wanita paruh baya itu untuk pertama kalinya merasa seperti tidak mengenal putranya sama sekali.


Sang suami malah terkekeh melihat ketidakberdayaan istrinya. Lalu, dirangkulnya sang istri di sofa ruang keluarga lantas berkata. "Biarkan saja. Kau seperti tidak tahu perangai putra kita itu. Dia, sekalinya menentukan pilihan tidak akan pernah menariknya lagi, sekalipun akan membuatnya menyesal. Bukankah sudah terbukti dari bagaimana dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Aku jadi ingat, dulu sebelum kecelakaan itu terjadi... Orang-orang berpikir kalau Huan akan bersaing untuk memperebutkan posisi pewaris keluarga Ye dengan sepupunya. Tapi, kecelakaan itu dianggap kemalangannya karena tidak memiliki kesempatan untuk bersaing secara adil lagi. Lihat apa yang terjadi setelah dia sembuh? Dia memiliki ambisinya sendiri... Dan dia membuktikannya dengan keberhasilannya. Jadi, kini kita percaya saja pada pilihan putra kita itu. Lagipula, gadis itu tidak buruk. Huan tahu bagaimana memilih." senyum bersahaja seorang ayah terukir di bibirnya.


Ibu Ye yang mendengarnya tentu tahu dengan jelas betapa benarnya itu. Alhasil, ketidakberdayaannya pun diredakan dan hanya akan menantikan sang putra membawa menantu perempuan mereka pulang nanti.


Di lain tempat, suasananya tidak jauh berbeda. Keluarga Shin juga dibuat kewalahan atas ulah putra kedua mereka. Tak pernah terpikirkan oleh keluarga Shin cabang pertama tersebut kalau anggota keluarga mereka akan memberikan pengalaman seperti itu.


Dari semua anggota keluarga, yang terdampak paling parah adalah sang kakak -Shin Da Zhuo- yang bekerja sebagai dokter di rumah sakitnya sendiri, dimana dulu pernah menjadi tempat Shin Da Ming dirawat.


Dia sampai mendekam di dalam ruang kerjanya dan tak mau keluar sehingga beberapa pekerjaan diserahkan pada yang lain. Bagaimana tidak, sejak berita itu booming tidak ada satupun pasien, perawat, pengunjung, dan bahkan pekerja kebersihan yang luput dari membicarakannya sampai bibirnya mau melepuh karena terus mengingatkan mereka agar fokus pada pekerjaan dan kesembuhan.


Belum lagi kalau ada yang datang untuk bertanya mengenai kebenaran berita itu.


Jujur, ini adalah kejadian paling melelahkan yang pernah dia rasakan. Selama ini, meskipun dia memiliki pasien yang kondisinya parah pun tidak sampai membuatnya merasakan lelah secara mental.


Sementara, kali ini... Akibat ulah sang adik, dia kena imbasnya.


Alhasil, dalam rentang waktu beberapa jam saja. Dia sudah jera untuk mengingatkan dan bertahan dari dorongan pertanyaan banyak orang. Kini setelah berdiam diri di ruang kerja pun ia tak bisa dibuat tenang. Dari ponselnya, bunyi notifikasi tiada henti-hentinya muncul hingga kesabarannya habis.


Apalagi isinya bila bukan mempertanyakan kebenaran tentang berita yang sama.


Segera, di telponnya sang adik yang menjadi biang keladi kesengsaraannya saat ini.


Tiit...


Tiit...


Tiit...


Klik!


Sambungan pun diangkat oleh penerima telepon setelah menunggu beberapa saat.

__ADS_1


"Halo. Ada apa, kak?" suara santai Shin Mo Lan yang dikenal sebagai Shin Da Ming itu untuk pertama kalinya terdengar menjengkelkan ditelinga sang kakak. Hingga membuat pria itu semakin tidak sabar.


"Kau masih bertanya?" Shin Da Zhuo menggeram sampai urat di dahinya timbul.


Kesalnya dia...!


"Tentu, aku tidak akan tahu apa tujuan mu menelpon ku kalau aku tidak bertanya."


Suara di ujung telpon masih biasa-biasa saja, sama sekali tidak merasa telah melakukan sesuatu yang menurut beberapa orang sangat mengganggu. Hal ini kian membuat Shin Da Zhuo ingin sekali menenggelamkan adiknya itu ke dalam Segitiga Bermuda.


Tak ingin larut dalam kekesalan berkepanjangan sementara pembuat onarnya tidak mengalami gangguan apa pun dari dampak yang dibuatnya. Jadi, Shin Da Zhuo pun meredakan kekesalannya dengan menarik dan keluarkan udara yang di hirupnya.


"Baik, lupakan pertanyaanku tadi. Aku punya pertanyaan lain untuk mu." jedanya. "Huh! Sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan hari ini? Kenapa tiba-tiba beritamu meledak dan membuat orang lain kena dampaknya... Apa kau sengaja?" meski sudah berusaha untuk tenang, nada tersungut-sungut masih bisa didengar.


"Maksudmu, tentang aku dan seorang gadis?" tanya Shin Mo Lan di ujung telpon sana sedang melirik Rayan yang berada dalam pelukannya sambil dia sesekali memainkan rambut gadisnya.


Kalau sang kakak tahu, pria itu pasti memiliki keinginan untuk membenturkan kepalanya ke dinding saking kesalnya.


"Ya!"


"Itu benar adanya. Apa yang perlu di jelaskan?! Lagipula, kapan aku low profil? Apa kau menerima banyak pertanyaan dari orang-orang mengenai berita ku? Kalau iya, kau hanya perlu membenarkannya saja." Shin Mo Lan cukup pandai bermain pembenaran dengan sangat natural sampai kakak pemilik tubuh kehilangan kata-kata.


"Bagus sekali kau bicara, ya..." intonasi dibelakang kalimatnya diperpanjang menandakan dia sukses dibuat geram oleh sikap santai adiknya itu.


Yang di geramkan hanya berkedip polos seolah tak mengerti apa-apa.


"Kau tahu, akibat ulah mu yang kebiasaan mengekspos kehidupan pribadi. Aku menjadi orang yang paling berdampak untuk menerima semua itu. Semuanya pasti mendatangi ku hanya untuk sebuah konfirmasi tentang mu. Apa kau pikir aku sesenggang itu?" cecarnya tanpa menahan diri.


"Shin! Da! Ming! Lihat bagaimana aku akan membalas mu saat kau pulang nanti!" tut... ancam Shin Da Zhuo seolah benar-benar akan dilakukannya.


Pada akhirnya, itu hanya omongan belaka. Sebagaimana sesama saudara bertengkar. Umum dilakukan pada setiap bersaudara.


Seperti itulah mereka.


Melihat ponselnya yang baru saja diputus sepihak oleh Shin Da Zhuo. Shin Mo Lan tak ambil pusing, dia masih lebih memusatkan perhatiannya pada bermesraan dengan Rayan sambil menonton film bersama.


Sudah lama dia ingin melakukan segala macam jenis aktivitas kencan orang-orang zaman now. Kini dia benar-benar bisa melakukan sebab orang yang dia inginkan sudah ada disebelahnya.


Bergeser ke tempat lain.


Dari sisi keluarga Bai tunggal. Ruang keluarga penuh dengan anggota keluarga dengan hanya pengecualian bagi Bai Liam.


Orang tua dan 3 saudaranya yang lain tengah duduk berkumpul di ruang keluarga sambil masing-masing memiliki ponsel pintar ditangan mereka tampak sibuk dengan sesuatu didalamnya.


Tapi, meski masing-masing sibuk dengan ponselnya sendiri, mereka masih bisa bertukar kata mengenai apa yang tengah mereka sibukkan saat ini.


"Ckckck. Mereka bertiga benar-benar ahlinya membuat kehebohan. Bikin pusing saja!" cetus anak gadis yang ada disana, adik Bai Liam. Bai Mina.

__ADS_1


"Bukan hal baru lagi." suara pemuda disebelahnya terdengar acuh tak acuh dengan mulut mengemut permen lollipop. Dia juga adik Bai Liam, anak laki-laki. Bai Moyu.


Keduanya kembar.


"Lihat! Mereka bertiga benar-benar cocok menjadi sahabat. Bahkan memiliki pemikiran yang sama.... Sama-sama berniat memiliki pasangan diwaktu bersamaan. Sungguh setia kawan." nada Bai Moyu berbicara tidak jelas apakah dia sedang mengagumi kekompakan tiga pria itu atau menyindirnya karena terlihat konyol.


"Apa boleh buat. Salahkan mereka, kenapa begitu sempurna... Huh!" kalau dipikir-pikir, Bai Mina tak bisa menahan jengkel juga melihatnya.


dia merasa sejak kakaknya mengalami kecelakaan, pemuda itu berubah.


Orang yang biasanya arogan dan sombong mulai menutup diri dan malah mulai sering berkumpul dengan pemuda-pemuda dari dua keluarga besar lainnya. Shin Da Ming dan Ye Huan.


Sudah lama sejak ketiganya bersama, kalau di ingat-ingat. Memang banyak hal ketiganya lewati bersamaan. Ini membuat perihal tersebut tak perlu diperpanjang dan dipertanyakan.


Jawabannya akan tetap sama. Karena tiga pria itu sudah menjadi satu kesatuan.


Kini mereka sudah memiliki pendamping, satu kesatuan yang seperti apa lagi untuk menyebutkan ketiganya?


Jadi, lupakan saja. Sudah tidak penting lagi.


Kini yang perlu dibahas adalah bagaimana meladeni para netizen yang masih panas dengan kabar tersebut.


Kejadian ini, membuat Bai Li Yuan -adik kedua Bai Liam- yang pulang bermaksud untuk makan siang bersama keluarganya, terpaksa tidak jadi kembali ke kantor setelah mendapati ada beberapa wartawan diluar gerbang rumah utama Bai hanya untuk memeriksa kebenaran kabar berita tersebut.


Bai Li Yuan sampai menggerutu kan kecepatan wartawan itu dalam bergerak guna mencari berita.


Dan kini sasarannya adalah kakaknya.


"Darimana Liam menemukan gadis itu?" tanya sang ibu sambil menggulir layar ponselnya guna membaca dan mengamati.


Dia melakukan itu bukan untuk menjadi penghalang bagi kisah percintaan putranya, akan tetapi hanya ingin memastikan kalau putranya tidak sampai salah pilih pendamping.


Jadi, sejak awal berita tersebut meledak. Sang ibu sudah duduk menyibukkan diri dengan menelusuri berita yang masih panas hingga saat ini.


"Gadis ini terlihat... Tidak biasa?!" kali ini sang ayah yang berujar.


Sebagai seorang pebisnis yang sudah mengalami pasang surut kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan bisnis. Sang ayah bisa dengan mudah melihat bila Reychu dalam gambar terlihat biasa saat hanya sekedar dilihat, tapi menjadi berbeda bila di amati.


Itulah penemuannya.


Mata Bai Li Yuan memindai anggota keluarganya, lalu berkata. "Sudahlah. Toh, kakak laki-laki bukan orang bodoh yang bisa melakukan kesalahan dalam memilih pendamping hidup. Bukankah sudah terlihat dari bagaimana dia menjadi lebih baik setelah kecelakaan itu. Mungkin saat itu, dia merasa nyawanya di ujung tanduk dan merenungkan kembali apa yang sudah dia lakukan sebelum akhirnya memilih berubah. Lihat, hasilnya..."


Yang dikatakan Bai Li Yuan masuk akal sehingga membuat yang lainnya mengangguk membenarkan.


"Baik. Kenapa repot-repot sekarang. kita tunggu saja dia membawa pulang gadis itu untuk diperkenalkan pada kita." usul sang ibu.


Yang lainnya tak mungkin setuju. Lagipula, itu juga yang mereka pikirkan.

__ADS_1



maaf lama sayang...


__ADS_2