3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SAYEMBARA 4: KALI KEDUA


__ADS_3

Wush!


Sebuah mata pedang melintas di depan wajahnya. Untungnya, dia sempat melengkungkan punggungnya kebelakang sampai rambutnya menyapu tanah. Kalau tidak, perutnya mungkin tak akan selamat.


Zruk!


Belum usai menghadapi yang ada di hadapannya, ia harus mendapatkan serangan dari belakang. Membuatnya harus memutarkan tubuhnya ke kiri kala sebuah ujung tombak tampak nyaris menusuk kepalanya.


Dirasa aman, gadis yang tak lain adalah Ryura itupun memundurkan langkahnya beberapa meter.


Baru saja ia akan menarik nafas, dari atas sudah muncul seorang lainnya lagi. Kali ini wanita perkasa itu dengan cambuknya. Wanita itu menghempaskan tali cambuknya kearah Ryura dengan ganas tak lupa dengan aliran api di cambuk miliknya, membuat pertarungan semakin menegangkan.


Ctar!


Melihat terjangan tali cambuk berbalut api itupun memilih memutarkan tubuhnya bak penari balet. Dalam situasi mencekam saja, masih bisa memperlihatkan sesuatu yang memanjakan mata.


Kini Ryura berhenti 5 meter di depan para penduduk yang menonton. Hal itu sempat membuat mereka memekik tertahan saking kagetnya sampai terhuyung kebelakang. Tiba-tiba, tanpa diduga sebuah pedang melayang kearahnya. Melirik sekilas, lalu di tangkap pedang itu dengan sempurna tanpa cela.


Hap!


Segera Ryura menoleh kearah yang diyakininya dari arah seseorang yang memberikan sebuah pedang padanya.


Tampak disana gadis yang amat dikenalinya melambaikan tangannya dengan sangat energik. Siapa lagi kalau bukan Reychu. Sepertinya, ia sedang merasa bosan di istana sehingga memilih kabur sebentar untuk refreshing. Siapa sangka akan mendapati tontonan menyenangkan di tengah jalan. Plus ada Ryura-nya lagi.


Tak hanya itu, teriakannya pun terdengar keras hingga siapapun dapat mendengarnya. Gadis itu bersorak gembira untuk sahabatnya, Ryura.


"SEMANGAT, RYURA!!! AKU TAHU KAU TAKKAN KALAH! HABISI MEREKA! AKU MENDUKUNGMU! WOOOOOOOOW!!!"


Jiwa Reychu sepertinya memang tak akan pernah sadar tubuh siapa yang dia tempati. Bisa-bisanya dia berteriak sekencang itu tanpa malu. Tapi, mau bagaimana lagi... Itulah Reychu Velicia, si gadis gila yang bebas berbuat semaunya.


"Tidak ku sangka. Baru sebentar aku tidak ada, membuatku melewatkan banyak hal. Sial... Keren sekali! Sahabat ku jadi bahan sayembara! Aku tidak boleh melewatkan kesempatan lagi untuk menyaksikannya! Sudah lama tidak melihat Ryura bermain!" heboh Reychu lantang tanpa memikirkan kalau kalimatnya didengar orang lain. Pasalnya, saat ini ia berada di posisi terdepan dari kerumunan para penduduk ibukota.


Gadis itu tampak amat bersemangat, jauh berbanding dengan orang-orang di sekelilingnya yang banyakan bergidik ngeri melihat pertarungan yang berlangsung didepan mata mereka. Membuat mereka mengingat lagi tentang pertarungan pertama Ryura tempo hari.


Kembali ke Ryura...


Sebuah pedang sudah berada di tangan kirinya. Jangan tanya! Karena dia memang kidal.


Berdiri tenang tanpa ancang-ancang membuat kelima orang yang menyerangnya merasa Ryura tak mengerti apa-apa dalam ilmu bertarung selain karena kebetulan dan keberuntungan semata. Tak tahu saja mereka, Ryura memang seperti itu.


Terlihat tak mampu, tapi sebenarnya mampu.


"TUNGGU APA LAGI! SERANG DIA!" keras suara seorang pria yang paling muda dan sejak awal belum bersuara sedikitpun.


Tiga diantara mereka maju lebih dulu. Melihat itu Ryura pun tak tinggal diam. Iapun bergerak maju dengan wajah poker face andalannya. Baginya cukup pemanasannya tadi dengan membiarkan mereka menyerang lebih dulu. Kini...


"Mari bermain!" rendah dan datar, itu terdengar mengerikan. Suara itu adalah milik Reychu bersamaan dengan seringainya. Seolah dia mewakili Ryura untuk mengumumkan dimulainya pertarungan sesungguhnya. Bahkan kelinci yang kepalanya menyembul keluar dari baju bagian depan Reychu pun sampai ikut bergidik.


Tang!


Sriing!


Ting!


Cukup gesit Ryura mengadukan senjatanya pada senjata lawan. Gerakannya yang cepat rupanya sedikit membuat lawannya yang lebih banyak darinya menjadi kewalahan. Merasakan hal itu membuat harga diri mereka sebagai pelajar akademi Xiaofang yang terbaik, ternodai.


Bagaimana bisa, mereka yang banyak begini di buat kewalahan oleh seorang saja?!


"Sial! Dia kuat juga!" celetuk seorang pria paling tinggi dari kelimanya.


"Tutup mulutmu! Kita tidak bisa membiarkan pembunuh sepertinya menang! Dia tidak pantas!" sergah pria yang memiliki temperamen buruk dari kelimanya.


Usai percakapan singkat itu terjadi, mereka kembali maju untuk meneruskan penyerangan mereka terhadap Ryura yang terlihat santai saja dalam bertarung. Malah gadis itu tampak seperti sedang bermain-main.


Pria yang berperangai dingin pun akhirnya mengeluarkan kekuatannya.


"SEMBURAN API!" lantangnya seraya melayangkan pedangnya dengan gerakan menebas dari posisi jarak jauh.


Splash...


Tampak cahaya oranye kemerahan seperti bulan sabit -bentuk yang mengikuti gerak menebas- muncul dan langsung meluncur kearah Ryura dengan kecepatan yang mengejutkan.


Ryura ingin menghindar, namun lawannya yang tak lain adalah pria muda dari teman-temannya seolah sengaja menahannya. Pria yang diketahui umurnya lebih muda itu menyerang dari jarak dekat. Mengambil posisi yang bisa mengarahkan punggung Ryura ke arah serangan api tersebut.

__ADS_1


Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh Ryura. Gadis itu tak mengubah raut wajahnya barang sedikitpun. Emosinya pun mampu membuat lawannya yang sedang menyudutkannya geram sendiri lantaran tidak dapat di lihat selain kosong. Pria muda itu jadi berpikir, apakah gadis itu manusia normal?!


"AAARRRGGHH...!"


Pias sudah seluruh wajah yang menyaksikan itu. Kecuali, satu yang berada di barisan terdepan.


"YEY... BAGUS, RYURA! ITU BARU BENAR, SAYANG!" teriak satu orang itu yang tak lain adalah Reychu dengan riangnya, sampai ia melompat sekali seraya memukul udara. Ia puas melihatnya.


Bingung?! Jangan...


Kebenarannya adalah Ryura selamat dari serangan api tadi.


Bagaimana?! Tentu saja, dengan memanfaatkan peluang barang sedikitpun.


Tadi, saat Ryura dan pria muda itu saling beradu. Lawannya -pria muda- itu sempat termenung sepersekian detik saat ia mengambil sedikit waktu untuk memikirkan orang seperti apa Ryura itu. Tentu, Ryura tak tahu yang dipikirkan lawannya. Yang dia tahu, saat itulah kesempatannya.


Tanpa perlu dipikirkan lagi ditambah hawa panas yang dirasa punggungnya kian menjadi, memberinya keyakinan kalau serangan kekuatan itu semakin mendekat. Dari sanalah, ia mengambil kesempatan dari peluang yang sedikit itu dengan melompat terbang keatas. Namun, naas... Betisnya terkena juga. Celana yang dikenakan pun sobek pada bagian yang terluka. Seketika kulit betis Ryura meleleh hingga dagingnya terlihat.


Orang-orang yang melihat itu secara alami meringis ngeri sekaligus seolah ikut merasakan sakit. Padahal, si empunya betis tak menunjukkan ekspresi apapun selain biasa dan datar.


Bila sebagian terfokus pada Ryura, maka sebagiannya lagi memusatkan perhatiannya kepada pria muda yang bernasib malang itu. Karena, saat Ryura melompat guna menyelamatkan diri serangan dari semburan api tadi akhirnya yang malah mengenainya. Alhasil, ia terlempar kebelakang juga sekarat detik itu juga. Kondisinya mengenaskan, antara hidup dan mati.


Sulit di pastikan kondisinya baik. Dilihat dari tubuh bagian depannya dari wajah sampai kaki sudah tak dapat di kenali lagi. Bahkan ada beberapa bagian telah memperlihatkan tulangnya.


Kengerian melanda saat itu juga.


Pria yang mengeluarkan kekuatan itu jelas saja terkejut. Semburan api yang ia keluarkan bukan sembarang semburan. Ia mengeluarkan seluruh tenaganya agar bisa langsung melenyapkan Ryura. Keinginan menggebu untuk membunuh Ryura, membuatnya lupa memperhitungkan kemungkinan lain yang mungkin terjadi.


Tak hanya dia. Ketiga teman lainnya pun sama syoknya.


"TIDAAAAAAK!!"


Si wanita segera menghampiri pria muda yang sekarat itu di susul yang lain. Ia memandang iba pada teman sekaligus rekannya di akademi.


Sejenak mereka melupakan sosok Ryura sebagai lawan. Di saat itu pula Ryura sedang melihat dengan seksama betis kanannya yang malang.


Dari jauh Reychu pun melihatnya. "Chi-chi, temui Rayan dan bilang padanya Ryura mengalami luka bakar serius! Dia tahu apa yang harus dilakukannya!" mendengar perintah tersebut, tanpa ba-bi-bu lagi makhluk yang sebelumnya tampak seperti kelinci itu pun tiba-tiba melesat begitu saja tanpa aba-aba dn menghilang.


Wajah datarnya sulit di artikan sehingga tak ada yang bisa menebak apa yang ada di otak cantiknya. Sepersekian detik ia memandangi lukanya, berikutnya ia mendongak. Matanya memindai keempat lawan yang tersisa. Tak peduli sedang apa mereka, yang ia tahu kini ia merasa dirugikan.


Langsung saja...


Tap!


Wush!


"Apa?!" spontan pria tinggi yang tak jauh dari tubuh menyedihkan temannya. Ia kaget saat melihat Ryura masih bisa berlari kearah mereka dengan kecepatan tinggi tanpa merasa sakit. Saat itu juga ia segera menyerukan tanda pada teman-temannya.


"TEMAN-TEMAN, DIA DATANG!"


Para penonton menahan nafas. Reychu malah tersenyum seperti orang gila, karena merasa pertarungan itu menyenangkan untuk di nantikan.


Tang!


Dengan sigap, pihak lawan melindungi diri menggunakan pedangnya.


Lawan lainnya yang menggunakan tombak tak tinggal diam. Iapun ikut menyerang. Namun, sayang kalah cepat dengan Ryura yang menggunakan tangan kanannya menahan gagang tombaknya.


Hap!


Sreet...


Ditariknya tombak itu dan saat itu juga lanjut dilayangkan ke lawan yang ada di sisi kirinya kala lawan satunya itu baru akan mengangkat pedangnya.


Jleb!


Tombak itu seketika menembus dada pria di sisi kirinya.


Merasa tak perlu menjeda. Serangan lain di lakukan Ryura untuk segera menyelesaikan masalah kali ini yang ia sendiri heran. Tidak kenal, tapi berani cari masalah dengannya. Bukan mau sombong, Ryura memang bukan orang yang suka berurusan bila tidak ada kepentingan.


Bugh!


BRAK!

__ADS_1


Perut wanita yang menjadi satu-satunya perempuan di antara kelima orang tersebut hendak memberikan serangan, namun lebih dulu di tendang oleh Ryura dengan sepenuh tenaga sampai wanita itu terpental menubruk kedai makanan. Menyebabkan hancur berantakan kedai itu.


"Ukh!" ringisnya sakit.


Mengabaikan wanita itu, kini Ryura masih memiliki 2 pria yang harus di bereskan. Keduanya menyerangnya tanpa ampun. Dapat dilihat, amarah menguasai keduanya menunjukkan ketidakterimaan atas apa yang sudah dilakukan Ryura kepada teman mereka.


"Beraninya kau membunuh teman-teman ku." dendam pria yang berada di sisi kanannya.


Ryura diam tak membalas.


Tang...


Trang...


Ting...


Bugh...


Bak...


Duk...


Adu pedang dan pukul-pukulan dilakukan, terus seperti itu hingga kedua pria itu merasa lelah campur marah. Marah karena masih belum bisa menjatuhkan lawannya. Padahal, sejak tadi mereka sudah saling menyerang. Tetapi, tak juga berhasil membuat gadis yang dijuluki berdarah dingin itu lelah barang sedikit saja.


Sedang Ryura sudah mulai jengah dengan dengan pertarungan yang tak ada ujungnya ini. Ia tahu lawannya lebih mumpuni dan ia suka. Tapi, ia tak bisa melupakan fakta kalau ia sedang lapar dan perutnya terus meronta minta di isi. Alhasil, ia tak bisa menunggu lebih lama lagi.


Dengan gerakan cepatnya, ia mengambil posisi di samping lawannya. Membuat kedua pria itu seketika menoleh padanya yang mana secara tidak langsung memposisikan diri mereka seperti yang diinginkan Ryura. Saat itu juga sebelum pria di depannya mengangkat pedangnya Ryura sudah lebih dulu menusuk sekuat tenaga di area dada lawan hingga menembus kebelakang dan tanpa sengaja terdorong mundur sampai pria dibelakang yakni lawan satunya pun ikut tertusuk.


Penampakan bak sate tusuk. Pedang yang di berikan Reychu telah tenggelam sempurna ke dada dua lawannya.


Dan akhirnya, keempat pria telah berhasil dijatuhkan. Kini tinggallah...


"KEP*RAT! IBLIS! KAU BUNUH TEMAN-TEMAN KU...!!!" teriak wanita yang tersisa dari kelima orang tersebut. Ia berdiri dengan agak sulit lantaran rasa sakit yang dideranya setelah di tendang oleh Ryura hingga terpental jauh.


Ryura menoleh datar ke arah wanita itu.


"KAU BENAR-BENAR COCOK DENGAN JULUKAN MU! GADIS MANIS BERDARAH DINGIN! CUIH! SI*LAN! BRENGS*K KAU!!! AKU AKAN MEMBALASNYA! KAU HARUS MEMBAYAR ATAS APA YANG KAU LAKUKAN PADA TEMAN-TEMAN KU!!!" teriaknya lagi, sepertinya ia punya cukup banyak stok suara sampai terdengar begitu keras dan jelas.


"Aku tidak merasa membunuh kalian! Karena, kalian yang datang sendiri kepadaku!" lugas Ryura pasti sampai yang mendengarnya pun tercengang.


Mereka dibuat berpikir bahwa ada benarnya apa yang di katakan oleh Ryura. Sebab, kenyataan mengatakan kalau Ryura tak memiliki urusan dengan kelima orang dari akademi Xiaofang. Bukan hanya itu, gadis itu bahkan tidak mengenal mereka. Tiba-tiba saja, dia di cegat dan langsung di tantang bertarung. Maka, apa yang di katakan Ryura adalah faktanya.


"KAU....! SINI KAU! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!" teriaknya sekali lagi dengan lebih keras hingga urat-uratnya keluar. Kekuatan elemen api-nya membara seketika. Ryura tak gentar melihatnya.


Wanita itu dengan cambuknya langsung menyerang Ryura lagi. Kini Ryura tak mau ambil pusing. Satu tujuannya, mengisi perut. Maka dari itu, wanita yang menjadi penghalang harus disingkirkan.


Wush...


Wush...


Mereka melangkah lari hendak menerjang satu sama lain secara bersamaan. Satunya dengan bara api di sekeliling tubuhnya, sedang satunya tak dapat dirasakan apapun darinya.


Begitu jarak mereka sudha sangat dekat. Ryura justru menghilang dari hadapan lawannya. Sontak saja hal itu mengejutkan wanita tersebut, belum sempat ia ingin mencari keberadaan Ryura dia sudah lebih dulu merasakan sakit dari belakang tubuhnya.


Jleb!


Mengabaikan panas dari kekuatan wanita itu Ryura menancapkan mata pedangnya pada punggung wanita tersebut hingga tembus ke depan. Tak hanya dia yang terluka, Ryura pun sama. Bara itu membakar permukaan kulit tangan Ryura dan membuat wajahnya memerah karena hawa panasnya.


"K...kau... Ba.. bagaimana bisa...?!" dengan terbata-bata wanita itu mengutamakan rasa penasarannya.


"Apapun bisa ku lakukan untuk menyingkirkan pengganggu!" finalnya.


Wanita tersebut sudah tak bisa apa-apa lagi. Secara perlahan pula kekuatannya menurun dan menghilang. Menyisakan jasad yang terakhir dengan pelaku yang sama.


Untuk kedua kalinya, warga ibukota menyaksikan kengerian seorang Ryura. Bila sebelumnya dengan satu korban, maka sekarang meningkat menjadi 5 kali lipatnya.


Ryura berdiri diam dengan penampilan yang kacau penuh darah dan luka bakar. Tapi, si empunya tubub tak merasakan sakit sedikitpun. Wajahnya tetap datar tak berekspresi. Hal itu semakin meningkatkan sinyal peringatan bagi yang menyaksikan pertarungan sengit itu. Kalau mereka harus selalu ingat untuk tidak mencari masalah dengan gadis manis itu.



Wokeh gaesss. segini dulu Yee... ane bkal lanjutin lagi besok-besok... heheh


bai-bai πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2