
Setelah sekian lama, ini adalah kali pertama gadis imut dan mungil itu kembali ke tempat asalnya yakni kediaman Yu. Pintu gerbang yang terbuka itu di tatap dalam penuh arti oleh kedua matanya. Tampak jelas kilasan- kilasan balik mengenai hidup si pemilik tubuh berputar layaknya film, ia tentu merasa iba bila mengingat semua itu. Akan tetapi, itu bukan dalam artian bahwa ia akan memperbaiki hidup si pemilik tubuh melainkan hanya ingin memberinya hadiah untuk rasa terimakasihnya karena sudah mengizinkan gadis itu menempati tubuhnya.
Hadiah itu tak lain dan tak bukan adalah balas dendam. Meski tidak secara spesifik. Balas dendam kali ini tidak terdengar seperti tindak kejahatan, karena menilik kembali ingatan pemilik tubuh yang sama sekali tidak menaruh dendam membuatnya ingin mengartikan kata pembalasan dengan arti kata yang sebenarnya.
Rayan Monica hanya ingin memberi mereka -keluarga Yu- pelajaran agar kedepannya dapat bersikap lebih baik lagi. Meskipun ia tak yakin masih ada kata kedepannya.
"Masuklah. Aku akan mengawasi dari jauh. Saat memang dibutuhkan, baru aku datang. Sesuai rencana!" tutur Ruobin yang berdiri di samping gadis imut si Yu Rayan.
Rayan mengangguk paham. Menoleh untuk melihat lebih jelas sahabat barunya yang selama 3 bulan lebih ini semakin akrab saja.
"Aku akan masuk." yakinnya, kemudian kembali memandang pintu gerbang kediaman Yu. "Tapi, aku tidak yakin akan berjalan lancar. Kau kan tahu. Selama ini aku adalah buronan Keluarga ku sendiri. Ya ampun... Kenapa miris sekali?!" ringis Rayan kala membayangkan dirinya menjadi buronan Keluarga si pemilik tubuh, ini kali pertama ia menjadi buronan Keluarga.
"Hahaha... Aku mengerti!" kekeh Ruobin melihat wajah Rayan yang imut itu malah semakin menggemaskan saat ia menunjukkan mimik meringis.
Gadis itu hanya bisa menghela nafas malas. Tak pernah terpikirkan oleh Rayan Monica, bahwa dirinya akan merasakan yang namanya berurusan dengan keluarga. Meskipun keluarga di jaman kuno ini bukan benar-benar keluarganya, tetapi berhubung dia menempati tubuh salah satu anggota keluarga mereka jadi mau tak mau seorang Rayan Monica harus mencoba beradaptasi dengan itu.
Tidak adanya pengalaman dalam berbaur bersama keluarga, membuat Rayan sedikit mengalami kebingungan. Pasalnya, ia tak tahu bagaimana caranya bersikap namun bukan bersikap layaknya antar anggota keluarga hanya saja bingung bagaimana bersikap layaknya musuh sesama anggota keluarga.
Ia masih di buat pusing bila memaksa ingatan aslinya memutar ke ingatan di kehidupan sebelumnya. Dimana ia dan kedua sahabatnya cenderung menjadi penonton saat kesempatan menakdirkan mereka menyaksikan konflik dalam sebuah keluarga.
Bila di ingat-ingat, tentu saja itu akan menjadi tontonan yang menarik. Cukup menghibur juga kala perselisihan dalam sebuah keluarga terkuak kepermukaan. Sebagai manusia yang penuh dosa, Rayan tidak memungkiri kalau penderitaan orang lain adalah drama yang terbaik untuk di saksikan dari pada apapun.
"Baiklah! Mari kita selesaikan secepat mungkin. Karena aku benar-benar sudah tidak sabar untuk pergi dari sini." seru Rayan dengan keyakinan dan semangat yang tinggi.
Ruobin tersenyum melihat sahabat kesayangannya ini. "Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Aku juga akan melakukan bagian ku." jedanya. Kini mereka saling pandang dan kemudian...
"Sudah siap...!!!" seru Ruobin.
"Siap!" sahut Rayan tanpa ragu.
"Mari kita mulai!"
"Kita mulaaaiiiii....!!!"
Wush!
Ruobin pun menghilang dari hadapannya. Seperti yang ia ketahui, makhluk hidup yang satu itu memiliki kemampuan istimewa dan Rayan tak lagi terkejut dengan itu.
__ADS_1
Kini tinggallah Rayan seorang di depan gerbang kediaman Yu. Ia menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kuat. Kakinya pun mulai ia langkahkan guna memasuki halaman kediaman. Namun, alangkah menyebalkannya sesaat setelah kakinya melangkah masuk sebuah suara berseru denagn lantang dan penuh emosi. Rayan hanya bisa memutar bola matanya malas.
"DASAR ANAK HARAM TIDAK TAHU DIRI! MASIH BERANI KAU KEMBALI!"
Suara itu benar-benar memekakkan telinga yang mendengarnya. Rayan sampai tak habis pikir dengan penghuni rumah lainnya, bagaimana mereka bisa bertahan dari suara cempreng nan tak sedap didengar itu di rumah ini?! Luar biasa.
Menolehkan kepalanya ke asal suara tersebut dan lihat apa yang terpampang di matanya. Dengan malas ia menatap wanita paruh baya namun masih terlihat bila kulitnya terawat dan tampak awet muda tengah mengatur nafasnya yang memburu saat tadi ia meluapkan emosi yang menurut Rayan sia-sia di keluarkan.
"Hai, nyonya! Lama tidak bertemu! Anak haram ini juga anak tirimu, ya... Suamimu yang membuatku hadir. Bukankah ada baiknya kalau kau tanyakan padanya kenapa ia membuat anak tidak dengan dirimu sehingga lahirlah anak haram yang imut dan menggemaskan seperti diriku! Bahkan aku bisa pastikan kalau aku lebih cantik dari putri mu! Benar, 'kan?!" kata Rayan seraya tersenyum licik, saat ini ia tengah memercikkan minyak ke arah api yang membara.
Benar saja, wanita yang tak lain adalah istri ayah kandungnya yang bernama Lin An Lie pun mengamuk seketika begitu mendengar kalimat provokasi dari anak gadis haram yang entah sejak kapan memiliki begitu banyak keberanian untuk melawan balik.
"TUTUP MULUT MENJIJIKKAN MU ITU, ANAK JAL*NG!" teriaknya tak terima saat telinganya di perdengarkan oleh sebuah kalimat dimana suaminya membuat anak dengan wanita lain, itu sungguh terdengar amat menyakitkan untuk hatinya dan bisa-bisanya gadis dari hasil zina itu dengan gamblangnya berkata demikian.
"Yayaya... Aku memang anak dari jal*ng yang jauh lebih menggoda daripada istri sendiri. Apa kau kalah cantik, nyonya?!" balasnya masih terus memprovokasi, Rayan seolah terhibur dengan apa yang saat ini ia lihat dan lakukan. Benar-benar menyenangkan!
"SI*LAN KAU!!! MATI SAJA SANA! AKU AKAN BENAR-BENAR MEROBEK MULUTMU KALAU KAU BERANI BICARA LAGI!"
"Oops... Maaf, membuat mu marah, nyonya. Tapi, maaf-maaf saja. Mulut ini milikku. Aku punya hak untuk diam atau tidak. Lagipula kau yang memulainya lebih dulu. Bukankah begitu?" Rayan masih bisa berujar tenang saat lawannya sudah terlihat seperti ingin menelannya bulat-bulat saat itu juga.
Akan tetapi, saat Lin An Lie hendak menyahut kembali dari arah lain muncul anggota Yu lainnya.
Dengan tersenyum manis yang berani, Rayan membalas. "Tentu aku punya nyali untuk kembali. Apalagi melihat keluarga sendiri begitu berusaha keras mencari ku. Bukankah sudah seharusnya aku meringankan beban kalian agar tidak sampai putus asa akibat kepergian ku. Aku sungguh terharu untuk itu, paman." Rayan dengan sengaja menekan kata paman di akhir kalimat.
Yu Ji Xu tidak bisa bila tidak emosi mendengar untuk pertama kalinya kalimat menantang dari seorang gadis yang dulunya sekadar untuk bergumam saja tak berani, kini justru mampu membentuk kalimat dengan susunan kata yang sukses membuat mendidih darah siapa saja yang mendengarnya.
"Heh! Bersikap lancang seperti ini... Apa kau pikir bisa mengejutkan ku?!" Yu Ji Xu tidak ingin tampak bodoh oleh sebab itu ia mencoba kembali melawan.
"Tentu tidak. Tapi, aku bisa menjamin kalau kau tidak bisa menjaga harga dirimu di depan anak haram ini. Kau akan langsung kehilangan mukamu. Aku benar bukan?" wajah Yu Ji Xu langsung memerah marah seketika usai mendengar kalimat singkat yang telak dan cukup mencungkil harga dirinya.
Namun, ia tetap tak ingin kalah.
"Kau hanya bocah ingusan yang tak di harapkan dan tidak di inginkan. Masih berani menyombongkan diri?! Huh! Lucu sekali!" sarkas si paman yang malah membuat Rayan terkekeh.
"Tidak di harapkan dan tidak di inginkan. Itu memang sudah menjadi takdirku! Tapi, perlu kau tahu paman... Tanpa aku, kau tak akan belajar apa itu direndahkan dan dijatuhkan hingga diinjak di bawah kaki orang lain. Sudah sepatutnya kau dan yang lainnya bersyukur dengan adanya aku disini. Dengan gratis tanpa di pungut biaya aku bisa menyajikan tantangan menguras emosi jiwa dan raga terkhusus bagi keluarga Yu tercinta!" jelasnya dengan senyum manis yang dapat langsung menghujam jantung siapapun yang melihatnya ditambah dengan kerlingan sebelah matanya centil yang menambah kadar pesona seorang Yu Rayan a.k.a Rayan Monica.
"Kau jal*ng si*lan!!!" desis Yu Ji Xu yang tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia kehilangan kosakata nya untuk membalas kalimat anak haram didepannya sekarang ini yang cukup membuatnya terhina.
__ADS_1
Tiba-tiba semburan amarah dari arah lainnya kembali menyahut. Rayan tidak lagi terkejut, karena ia tahu cepat atau lambat keributan akan segera terjadi.
"Berani kau bicara lagi pada ayahku seperti itu. Aku akan merusak wajah si*lan mu itu. Jal*ng!" langkah kakinya tergesa-gesa seperti tengah mengejar sesuatu yang menarik perhatiannya.
Ya, dan yang menarik itu adalah sepupunya sendiri. Yu Rayan.
"Oh, hai. Sepupu. Rindu padaku?! Tapi, maaf ya. Aku tidak merindukan mu!" ucapnya santai tak lupa dengan senyum manisnya yang malah mendapat tatapan permusuhan dan kebencian yang kental ditambah dengan tatapan iri dari gadis didepannya yang sepertinya cemburu dengan wajahnya yang kini semakin menawan saja.
"Jangan menatapku seperti itu! Atau aku akan malu nantinya! Aku tahu seperti apa perasaan mu saat kau mendapati ada yang lebih cantik darimu, aku sangat memahami itu. Karena itu jangan iri hati, mengerti?!" lanjutnya yang justru semakin meledakkan amarah gadis yang tak lain bernama Yu Ming Luo.
Saudari sepupunya itu sudah terbakar amarah. Ia tak terima walau kenyataannya, memang benar ia cemburu dan iri melihat betapa amat berubah Rayan yang dulunya kumuh dan kotor kini cantik dan menawan. Tubuhnya bahkan semakin bagus saja meskipun mungil. Belum lagi kulitnya halus dan bersih. Melihat semua itu Yu Ming Luo sungguh tak bisa menerimanya, ia seakan kalah dari anak haram Keluarga Yu itu.
Hal itu menjadi tamparan keras untuknya.
"HENTIKAN!"
Suara bariton seseorang menarik perhatian semua yang ada disana, termasuk Rayan. Ternyata Sura itu milik sang kepala keluarga, Yu Zhao Yan. Kakek Yu Rayan.
"APA KALIAN TIDAK PUNYA MALU?!" bentaknya yang ditujukan kepada anak, menantu dan cucunya namun matanya menatap tajam Rayan yang dengan berani membalas menatap juga.
"Dan kalian... Apa aku kurang memberi kalian pekerjaan, huh?!" kali ini perkataannya ditujukan untuk para pekerja di kediaman Yu dengan nada geram menahan amarahnya.
Begitu mendengar Geraman tersebut, langsung saja seluruh pelayan berhamburan meninggalkan lokasi dimana menjadi awal drama perselisihan dimulai dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Gadis mungil itu bahkan baru menyadari kalau sejak tadi ia dan anggota keluarga Yu sudah menjadi bahan tontonan para pelayan kediaman Yu. Harusnya ia malu bukan? Tapi, nyatanya tidak. Rayan justru merasakan euforia saat akhirnya tahu seperti apa rasanya di tonton banyak orang seperti halnya ia dulu menonton konflik keluarga orang lain.
"Jadi, begini rasanya. Benar-benar menakjubkan!" batinnya berseru senang.
Sepeninggalnya para pelayan, kini yang tersisa tinggal Yu Zhao Yan, Yu Ji Xu, Lin An Lie, Yu Ming Luo, dan tentunya sang tokoh utamanya, Yu Rayan.
Dengan tajam Yu Zhao Yan berujar. "Masih tahu pulang rupanya..."
Mendengar kalimat tersebut Rayan hanya menampilkan senyum menawannya. Ia sama sekali tidak peduli dengan sorot tajam yang menghunus dari sang kakek.
Kakek?! Rayan tidak yakin dengan itu.
Sedang yang lainnya seolah sudah menantikan akan datangnya penderitaan untuk Rayan dengan Yu Ming Luo yang tersenyum miring, Lin An Lie yang mendongak angkuh, dan Yu Ji Xu yang menatap tajam seperti yang dilakukan oleh Yu Zhao Yan, ayahnya.
__ADS_1
"Tamatlah riwayat mu, Yu Rayan!" sinis Yu Ming Luo dalam hati.