
Sore harinya, Shin Mo Lan siap membawa Rayan kerumah keluarga shin-nya untuk berkunjung tanpa penundaan. Sebenarnya, dia berniat untuk pergi keesokan harinya. Tapi, melihat betapa cepatnya sang sahabat bertindak, Shin Mo Lan merasa tak nyaman dihatinya. Dia merasa kurang menjadi pria yang lugas, karena itu membawa Rayan sebelum menyeretnya ke kantor catatan sipil seperti Ye Zi Xian dan Ryura adalah keputusannya kali ini.
Jadi, tujuan setelah dari kantor adalah rumah orang tua.
"Yakin pergi sekarang? Aku belum menyiapkan apapun! Tidak mungkin kan, aku datang dengan tangan kosong?!" keluh Rayan atas ketergesaan suaminya hanya agar segalanya cepat selesai.
Tapi, dia merasa tidak seharusnya seperti ini yang terkesan jadi terburu-buru walau dia juga ingin semuanya cepat selesai.
Pasalnya, berkunjung di sore hari dan kemudian bahkan belum membeli apapun sebagai buah tangan. Kira-kira mau kapan tiba berkunjung? Dan apa yang akan dikatakan oleh pihak keluarga laki-laki bila mendapati calon menantunya seacuh ini?
Rayan tak mau direpotkan dengan hal-hal semacam itu!
Rayan mendengus kesal sekaligus tak berdaya.
Mendengar keluhan istrinya, Shin Mo Lan terkekeh lucu. Segera mendekat dan memeluk manja tubuh mungil istrinya, lalu berkata. "Tenanglah. Tidak akan terlewatkan. Keluar dari sini kita akan mampir dulu ke pusat perbelanjaan untuk mencari buah tangan. Baru kemudian kembali ke rumah utama."
Dalam pelukan manja suaminya Rayan tidak menolak namun masih cemberut perihal buah tangan. "Kau pikir mencari buah tangan itu mudah?! Kita perlu mencarinya, suamiku sayang...! Itu akan memakan waktu lamaaaa...!"
"Haha... Iya, iya... Maka dari itu kau beli yang mudah di dapat saja. Lagipula, ini pertemuan pertama kalian. Anggap saja kau tidak tahu apa yang disukai keluarga Shin Da Ming. Apalagi itu memilihnya sesuai ketulusan hati. Mudah, kan?" aju Shin Mo Lan dengan sarannya yang sekilas memang masuk akal.
Akan tetapi...
Buk!
Tinjuan kecil mengenai lengan kekarnya, membuat Shin Mo Lan menaikkan alisnya tanda tak paham mengapa dia dihadiahi pukul tak berasa itu.
"Kau ini! Memang dasar laki-laki! Tidak zaman dulu, tidak zaman sekarang! Semuanya tidak mau direpotkan mengenai hal ini! Huh!" dengus Rayan jengkel juga.
Ini membuatnya mengerti mengapa banyak perempuan sibuk mengomel ini dan itu hanya untuk sekedar berkunjung. Ternyata...
Lanjutnya. "Kenapa tidak sekalian saja, aku tidak perlu bawa apa-apa. Tapi, disana aku akan menumpahkan semuanya padamu dengan bilang kalau kau terburu-buru sampai tak sempat membeli buah tangan. Biar kau disalahkan!"
Shin Mo Lan makin gemas dibuatnya. "Haha... Itu ide yang bagus. Kita jadi mempersingkat segalanya." dengan jailnya dia malah menyetujui yang sukses menerima tinjuan-tinjuan ringan yang beruntun dari kekesalan Rayan di dada bidangnya.
Tapi, Shin Mo Lan malah tertawa bahagia. Perseteruan antara keduanya perihal buah tangan di tutup dengan berpelukan.
"Ayo, kita pergi sebelum terlambat." ajak Shin Mo Lan.
Keduanya pun pergi.
Sepanjang perjalanan keluar gedung rumah sakit, tak ada pasang mata yang melewatkan kemunculan kedua pasangan sejoli itu. Belum lagi saat melihat kini Rayan dalam penampilan yang berbeda, menanggalkan pakaian rumah sakit sebelumnya dan berganti dengan gaun warna pink soft sebetis berlengan brokat transparan dengan model kembang bawah yang sederhana menjadikan penampilan Rayan lebih remaja namun elegan.
Penampilannya yang baru membuat banyak mata mengetahui alasan mengapa Tuan Muda Shin mereka tidak tertarik dengan banyaknya perempuan yang mendatanginya. Ternyata, itu karena kekasihnya sendiri tak bisa dikalahkan.
Rayan yang jadi pusat perhatian senang-senang saja, malahan yang mulai beruap panas justru Shin Mo Lan yang tampak sekali ketidaksenangannya atas mata-mata memuja dari orang-orang yang mereka temui disepanjang jalan.
Dengan sabar Shin Mo Lan menyugesti dirinya kalau ada baiknya orang-orang ini melihat betapa baiknya sosok Rayan dengan begitu tidak ada yang berpikir untuk menawarkan diri lagi seperti yang sudah-sudah. Alhasil, Shin Mo Lan hanya bisa menahannya. Tak lupa dalam hati bersumpah kalau setelah menikah nanti, dia akan menyembunyikan Rayan untuk dirinya sendiri.
Yi Feng yang kebetulan ada di lobby melihat Tuan-nya akan keluar segera menghampirinya. Siapa tahu ada tugas untuknya sepeninggal Tuan-nya.
"Tuan, anda akan pergi sekarang? Ada hal yang perlu diingatkan?"
"Tidak ada hal yang begitu penting, selain seperti biasa kau awasi rumah sakit setiap kali aku tidak ada." baru saja akan beranjak, tiba-tiba Shin Mo Lan teringat sesuatu yang teramat penting. "'Ah! Aku hampir lupa. Ternyata ada yang penting untuk kau lakukan. Siapkan berkas mengenai identitas kami berdua, dan segera urus ke kantor catatan sipil. Besok aku hanya akan datang untuk menandatanganinya saja."
__ADS_1
Baik Yi Feng maupun Rayan terkejut dibuatnya.
"Mo..." karena kaget Rayan hampir menyebut nama asli suaminya yang tiba-tiba membicarakan mengenai peresmian pernikahan, untung saja langsung disela oleh Shin Mo Lan.
Jujur saja, Rayan sangat terkejut sampai dia lupa.
"Jangan terkejut. Bukankah kita tak bisa kalah dari pasangan dingin itu?! Lagipula, ini hanya untuk peresmiannya saja. Kalau kau ingin dibuatkan pesta, kita bisa merayakannya nanti. Kau tidak masalah dengan itu bukan?" jelas Shin Mo Lan yang membuat Rayan tak tahu harus berkata apa.
Tapi, satu hal yang pasti. Tidak peduli ada pesta atau tidak. Rayan lebih menginginkan status mereka setelah ini.
Senyum sumringah bertabur centil dengan tambahan gerakan bergelayut manja kearah suaminya, Rayan berujar penuh rasa bahagia.
"Aku ikuti pengaturan mu saja!"
Shin Mo Lan pun senang mendengarnya hingga keduanya memancarkan cahaya mesra yang amat romantis. Sampai Yi Feng tersingkirkan oleh cahaya yang menyilaukan itu.
Dalam hati dia tak bisa menahan keluhan. "Oh, Tuan dan Nyonya... Tolong kasihanilah aku yang menjomblo ini. Teganya kalian menebar panah asmara sembarangan! Hu..."
Demi mengakhiri semuanya secepat mungkin, Yi Feng segera mengiyakan perintah Tuan-nya.
"Akan saya kerjakan sekarang, Tuan. Anda sudah bisa kembali untuk menikmati waktu bersama." nadanya jelas menuntut agar Tuan-nya lekas pergi.
Shin Mo Lan tahu itu tapi tak mempedulikannya. Dia malah berkata dengan tak berperasaan.
Menepuk pundak bawahannya seolah-olah dia adalah bos yang penuh pengertian.
Puk... Puk...
"Carilah kekasih, Feng. Kau tidak bisa menyendiri terus menerus atau kau akan kehilangan fungsi kelaki-lakian mu itu." Shin Mo Lan mengucapkannya dengan ekspresi tanpa dosanya yang flat.
Rayan hampir melepaskan tawanya saat melihat wajah retak Yi Feng kala mendengar perkataan suaminya itu.
Tanpa penundaan, Shin Mo Lan langsung membawa Rayan meninggalkan Yi Feng yang membeku di tempatnya.
Tak lama kemudian, dengan wajah menyedihkan Yi Feng menoleh untuk hanya bisa melihat punggung Bos-nya yang tengah merangkul calon istrinya dengan mesra perlahan menjauh.
Dia mendengus tak berdaya. "Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?! Bisa-bisanya anda menuduh saya sengaja menyendiri! Jika, bukan karena anda, saya sudah punya kekasih sejak lama! Huh... Tuan Muda Shin banyak berubah setelah bertemu kekasihnya. Apa jangan-jangan, memang seperti itulah karakternya?" matanya menyipit tak tahu apa yang dipikirkannya saking tak berdayanya dia.
Setelahnya dia hanya bisa menjalankan perintah Bos-nya yang mendadak ingin menikah keesokan harinya.
Ini melelahkan batinnya, keluh Yi Feng.
Tujuan pertama mereka adalah pusat perbelanjaan sesuai keinginan Rayan.
Seperti yang sudah-sudah, berhubung mereka masih menjadi buah bibir. Kemunculan keduanya dari 3 pasangan fenomenal tahun ini tak bisa menampik kericuhan yang diakibatkan karenanya. Akan tetapi, baik Rayan maupun Shin Mo Lan tak menggubris efek dari kemunculan mereka.
Sebab, kedatangan keduanya ke pusat perbelanjaan tidak lebih dari mencari buah tangan untuk keluarga pemilik tubuh dari suami Rayan.
Mereka mengabaikan kehebohan orang-orang disekitar yang asik kehebohan sendiri hanya karena pangeran mereka sudah menggandeng pasangannya.
Rayan dan Shin Mo Lan berjalan masuk ke butik terlebih dahulu atas keinginan Rayan.
__ADS_1
Masuknya keduanya pun tak kalah mengejutkan petugas butik sampai dia tercengang dan terlambat merespon.
"Se..selamat datang, Tu..tuan dan Nona...!" kata-kata yang di ucapkan tergagap namun bersemangat.
Siapa yang tidak bersemangat kalau yang datang adalah orang terkenal. Alamat akan menarik perhatian bagi pelanggan yang lain bukan.
Jiwa bisnis petugas butik meronta-ronta!
Rayan tanpa menunda lagi, langsung menuju rak gantung pakaian-pakaian khusus wanita terlebih dahulu. Dia mulai melihat-lihat sambil tak lupa bertanya pada Shin Mo Lan tentang keluarganya.
Pertanyaannya seperti...
"Berapa anggota dalam keluarga mu?"
"Berapa ukuran tubuh mereka?"
"Warna apa yang mereka sukai?"
"Apa ibumu menyukai model pakaian bermotif?"
"Berapa usia adik perempuan mu dan apa yang biasanya dia pakai atau mungkin apa yang sedang dia inginkan saat ini?"
"Kudengar Dokter Shin Da Zhuo cenderung monoton dalam berpakaian. Sulit untuk disenangkan dengan sesuatu yang tidak baru. Bagaimana kalau aku belikan dasi saja?"
"Ayahmu suka apa? Kalau aku tidak salah ingat. Pernah di suatu berita, menerangkan kalau ayahmu menyukai sepatu kulit sampai memiliki banyak koleksi. Kurasa kita harus menemukan satu untuknya."
Shin Mo Lan dibelakang hanya membuntuti dengan tak berdaya. Bukan tak berdaya karena menemani perempuan berbelanja, melainkan tak berdaya dengan kegigihan Rayan untuk membawa buah tangan atas ketulusannya sendiri dan menolak tawarannya untuk membantu. Bahkan, saat membayar pun Rayan tak terima dibayarkan oleh suaminya.
Dia menekan dengan sepenggal kalimat.
"Menjadi bagian dari keluarga harus tahu caranya bersikap tulus! Apalagi saat ini statusku belum resmi menjadi bagian dari keluarga! Kalau begini saja masih bergantung, lebih baik tidak usah!"
Kalau sudah begini Shin Mo Lan pun memilih diam. Dia paling takut dengan kalimat terakhirnya...
Tidak usah?!
Tidak mungkin!
Akhirnya, proses berbelanja pun selesai dan keduanya mulai angkat kaki dari mall untuk langsung meluncur ke kediaman utama keluarga Shin.
"Kau benar-benar merepotkan diri sendiri." ujar Shin Mo Lan seraya menggelengkan kepalanya saat dia dan Rayan sudah didalam mobil.
Sebelumnya semua barang belanjaan sudah di masukkan kedalam bagasi mobil.
"Aku tidak merasa direpotkan. Lagipula, bisa mendapatkan kesan yang baik dari keluarga Shin Da Ming akan bagus untuk kita kedepannya. Kau cukup menurut saja." balas Rayan yang tampaknya dalam suasana hati yang baik.
"Baiklah. Apa yang bisa kulakukan bila dengan begini saja kau sudah senang." Shin Mo Lan ikut bahagia bila Rayan bahagia.
"Itu kau tahu!" kata Rayan sambil menyombongkan diri yang dibuat-buat.
Keduanya pun tertawa bersama sebelum mobil melaju membelah jalan menuju ketempat tujuan.
__ADS_1
Alhamdulillah, daku up lagi cayaaaang... πππ
have a nice **day** β¨β¨β¨π€©π€©π€©