
***assalamualaikum semua.
ada yang mo Thor kasih tau. berhubung ada beberapa yang tanya soal kekuatannya 3Ry kemana kok gk ada?!
ok. Thor akan tambahin di chapter berikutnya. mengingat ini cerita dadakan. jadi alurnya masih bisa Thor kotak-katik. hehe
tentunya selama di chapter yang telh lalu gak ada penjelasan tentang ada tidaknya kekuatan mereka.
sip. silakan baca lagiii ***
Malam hari di istana Kerajaan Langit...
Usai kompetisi hidup dan mati yang berlangsung hingga sore hari tadi, para anggota Keluarga Kerajaan kembali ke istana untuk perjamuan makan malam bersama.
Setelahnya, siapapun dibebaskan untuk mengikuti perayaan festival di ibukota yang tentunya saat malam tiba akan menjadi begitu semarak.
Sebagian besar dari mereka -rakyat- disibukkan dengan pembahasan tentang kompetisi sebelumnya. Mereka sangat antusias dan menggebu-gebu saat membicarakannya. Terlalu bersemangat, pasalnya ini adalah perayaan paling meriah menurut mereka.
Sisanya, memilih menikmati malam penuh warna.
Sedang didalam istana, sebagian sudah pergi menuju ibukota untuk menikmati malam ramai penuh hiburan dan jajanan dan sebagian lagi memilih bersantai di kediaman yang mereka tempati.
Contohnya Kaisar Agung Bai Gikwang.
Saat ini pria tampan berambut merah itu sedang dalam suasana hati yang baik. Dia tengah menikmati seduhan teh dan camilan di halaman kediaman yang ia tinggali selama menginap di istana Kerajaan Langit.
Sambil memandangi langit penuh bintang malam ini, sesekali ia tersenyum tanpa sadar. Entah apa yang tengah merasukinya saat ini.
Yang pasti, Ahn Reychan sang pengawal setianya hanya bisa menatap ngeri tuannya. Ini adalah kali pertama sang Kaisar Agung Kekaisaran Utara bertingkah aneh bin konyol seperti itu.
Walau begitu, dia tetap diam dan memilih mengabaikannya. Menurutnya, ada hal baik yang membuat junjungannya menjadi seperti itu. Selama tidak benar-benar membuat sang tuan gila, Ahn Reychan sudah merasa cukup lega.
Sementara, pada dasarnya Reychan sendiri tidak dalam suasana hati yang baik.
Secuil kejadian di kompetisi tadi membuat ingatan lamanya melesak keluar dari tempat persembunyian jauh didalam kepalanya.
Dia tidak lupa. Dia tahu darimana ia berasal sebelum menjadi bagian dari Kekaisaran Utara. Walau pada akhirnya ia memilih menetap di sisi Kaisar Agung Bai Gikwang.
Dia adalah Ahn Reychan. Putra Keluarga Jenderal Agung di Negara Api, yang malangnya mengalami penculikan oleh pedagang budak di usianya ke 7 tahun.
Saat itu, Ahn Reychan di gelandang ke tempat dimana semua anak yang diculik di tempatkan. Tempat itu jelas adalah tempat yang jauh dan tidak diketahui dimana. Dia bisa melihat betapa menyedihkannya anak-anak sebayanya yang di culik untuk dijual.
Lama Ahn Reychan di kurung dengan yang lainnya, hingga ia hafal proses penjualan manusia kala itu. Sebagai anak seorang jenderal yang jujur, dia tentu sudah di ajarkan apa itu baik dan buruk. Oleh karena itu, melihat pemandangan didepan matanya membuatnya memendam amarah didalam hati. Amarah yang lebih kepada dirinya sendiri yang tak berdaya untuk membantu sesama.
Berulang kali ia memaki dirinya karena itu.
Sampai suatu ketika, kesempatan datang padanya.
Dia dan beberapa anak lainnya mendapat giliran untuk dijual. Saat itu juga, menjadi pertama kalinya Ahn Reychan merasakan oksigen dari alam bebas. Dia bisa melihat dimana mereka berada, itu adalah sebuah kediaman yang terbilang bagus walau ia bisa meyakini kalau tempat itu bukanlah kediaman bangsawan.
Setelah mengamati keadaan, otaknya segera memproses segalanya. Dia menyusun rencana dalam diam dan tenangnya sambil terus mengawasi keadaan.
Transaksi selesai pun dia masih diam. Tapi, kini sudah terlihat bahwa dia mantap dengan rencananya.
Satu persatu anak seumuran Ahn Reychan memasuki gerbong yang sudah di sediakan pembeli mereka. Untungnya, gerbong budak dan tuannya berbeda. Didalam gerbong, Ahn Reychan mulai angkat bicara. Menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan kebebasan, sampai beberapa dari 9 orang yang di beli mencapai keputusan bulat. Sedang sisanya memilih tetap ditempat lantaran tidak memiliki nyali sebesar 4 anak lainnya.
Rencana yang disusun Ahn Reychan adalah membuat keributan di dalam gerbong hingga perjalanan mereka dihentikan sementara. Setelahnya, dua diantaranya bergerak guna menerjang tuan baru mereka. Baru setelah adegan itu berjalan lancar, keempat anak yang ingin bebas menggunakan kekuatan lari mereka untuk melarikan diri.
Bisa saja mereka menggunakan elemen yang mereka miliki. Tapi, saat itu mereka terlalu muda untuk bisa menggunakan elemen melawan orang-orang yang lebih kuat.
Mereka kabur sekuat tenaga. Tiga laki-laki dan satu perempuan yang ingin bebas sedang melarikan diri. Si pembeli jelas tak akan tinggal diam. Memerintahkan anak buahnya menangkap mereka.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi.
Hanya saja, yang tidak disangka adalah. Saat itu, kebetulan di waktu bersamaan rombongan keluarga kerajaan dari Utara melintas. mereka yang menjadi prajurit tentu bukan sembarang prajurit. Kepekaan mereka tak diragukan lagi. Karena itulah, keempat anak itu ditemukan.
Dari dalam gerbong, anak seumuran Ahn Reychan pun turut merasakan keadaan yang janggal itu. Membuka tirai penutup jendela kereta, dia melihat ada empat anak salah satunya perempuan sedang berlari kencang terpontang-panting seolah tengah diburu. Meski benar adanya. Dia juga bisa melihat bagaimana anak perempuan itu terjatuh dan beberapa orang dewasa dibelakangnya muncul dan hampir menangkapnya, kalau saja ketiga anak laki-laki lainnya tidak berbaik hati menyelamatkan anak perempuan itu dengan cepat.
__ADS_1
Keberadaan rombongan anak laki-laki dari Utara yang tak lain adalah Bai Gikwang kecil jelas terlihat didepan mata anak-anak itu dan beberapa orang dewasa yang mengejarnya.
Disaat bersamaan kedua belah pihak berhenti, tapi dengan para orang dewasa -anak buah pembeli- yang berhasil menangkap keempat anak itu.
Ahn Reychan dan lainnya masih berusaha berontak.
Bai Gikwang melihatnya pun memilih turun dan langsung menghadap, dia bahkan mengabaikan panggilan ibundanya dari dalam gerbong.
Wajah bocah itu dingin dan terlihat sekali tidak senang. Dia tidak senang bukan karena iba pada keempat anak itu, rasa tak senangnya lebih kepada kelancangan segerombolan orang tidak jelas yang menghalangi perjalanan rombongannya.
Saat itu tanpa sengaja bola mata Bai Gikwang kecil dan Ahn Reychan kecil saling beradu. Tak tahu apa artinya itu. Yang pasti, Bai Gikwang merasakan sesuatu yang tak biasa. Dia seperti melihat kalau Ahn Reychan bukan sembarang anak, dia bukan anak liar ataupun anak tanpa identitas tinggi.
Mungkin, bisa dikatakan bahwa Ahn Reychan terbilang istimewa.
Karena itu, tanpa ragu ia langsung meminta para pria itu melepaskan mereka. Maksudnya, tidak mungkin dia pilih kasih hanya karena tertarik. Terlebih keadaan keempat anak itu bukan dalam keadaan yang baik.
Perundingan yang terjadi kemudian sedikit alot, lantaran anak buah si pembeli bersikeras untuk membawa keempat anak itu kembali bersama mereka. Saat itu mereka masih belum menyadari identitas Bai Gikwang.
Meski rambut merahnya adalah identitas nyata, tapi kala itu dia menutupi kepalanya dengan tudung jubah. Itu karena dia tidak suka terekspos, juga demi keamanan diri tanpa harus repot-repot berkelahi bila ada musuh yang datang.
Bai Gikwang kecil yang sudah kehabisan kesabaran pun langsung menunjukkan token Keluarga Kerajaan Es.
Bagi siapapun yang melihat token itu jelas tahu, apa artinya itu.
Token giok putih kemerahan yang di bagian tengahnya bertuliskan nama 'Bai' dengan ukiran naga es mengelilingi token bundar itu, hanya dilihat saja bisa langsung dirasakan esensi dinginnya. Token giok itu jelas bukan token biasa.
Bai Gikwang kecil sebenarnya tidak berencana untuk menunjukkan statusnya. Tapi, pihak lain tidak memberinya kemudahan dalam diskusi tadi. Alhasil, diapun mengeluarkan cara terakhir yang dijamin ampuh.
Tak hanya para anak buah si pembeli yang mengenali token giok itu, tapi Ahn Reychan dan yang lainnya juga tahu benda apa itu.
Akhirnya, dengan ketakutan yang menjalar di tulang belakang mereka para anak buah si pembeli. Segera tanpa penolakan lagi, para anak buah si pembeli langsung menyerahkan keempat anak itu kepada Bai Gikwang.
Setelahnya, tak ingin masalah muncul dikemudian hari. Bai Gikwang juga langsung menyerahkan sejumlah uang yang dipastikan lebih besar dari jumlah awal keempat anak itu dibeli di perdagangan budak.
Itu adalah bentuk ganti rugi atau tebusan. Bai Gikwang tak ingin menyebutkan membeli.
Menerima sekantung penuh keping tael emas, para anak buah itu langsung beranjak melarikan diri dari sana usai mengucapkan salam pada Bai Gikwang.
Bai Gikwang dan keempat anak yang dijual di bawa pulang olehnya ke Kerajaan Es.
Setibanya, di sana...
Bai Gikwang tidak semerta-merta langsung menjadikan mereka bawahannya. Dia masih dengan baik hati memberi mereka pilihan.
Anak perempuan satu-satunya yang ada di antara mereka, bukanlah berasal dari keluarga bangsawan terpandang. Dia hanya gadis biasa dari desa kecil di Negara Awan putih, Kekaisaran Tenggara. Karena, kini dia tidak memiliki tempat tinggal lagi dan sudah jauh dari tempat asalnya. Dia pun memilih menjadi pengikut Bai Gikwang.
Tak hanya anak perempuan itu, tiga laki-laki lainnya pun mempunyai pemikiran yang sama. Mereka berasal dari negeri yang berbeda, tapi memiliki ketulusan yang sama.
Sejak saat itu, keempatnya mengikuti Bai Gikwang. Meski mereka diterima, jelas Bai Gikwang tidak ingin bawahannya lemah. Oleh karenanya, keempatnya pun turut diberikan pelatihan khusus.
Melewati tahun demi tahun yang berat dan penuh kerja keras. Akhirnya, keempatnya sukses menjadi bawahan kepercayaan Kaisar Agung Bai Gikwang yang sekarang.
Bahkan dua diantaranya sudah menikah. Anak perempuan itu dan salah satu anak laki-laki dari kelompok empat orang itu saat usia mereka 15 dan 17 tahun. Bai Gikwang juga tak melarang hal itu.
Maksudnya, keduanya memutuskan menikah karena sudah saling cinta.
Walaupun demikian, keempatnya tidak lalai dalam melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai bawahan Bai Gikwang.
Terutama Ahn Reychan. Dia yang paling sering berada dekat dengan tuannya. Sedang satunya, lebih sering berkelana bukan untuk bermalas-malasan, tapi itulah tugasnya menjadi mata dan telinga untuk mengorek segala macam informasi. Apapun bentuknya.
Dua lainnya yang merupakan sepasang suami istri ditugaskan untuk mengawasi bisnis tuannya dalam segala bidang.
Jangan katakan mereka lupa pada keluarganya. Mereka bahkan ada yang sudah pulang untuk berkunjung.
Ahn Reychan juga demikian, tapi dia belum punya waktu untuk pergi. Junjungannya perlu di dampingi, mengingat dia adalah keturunan Keluarga Kerajaan Es sekaligus anak penguasa Kekaisaran Utara.
Kembali ke saat ini...
"Yang Mulia..." panggil Ahn Reychan dengan nada yang tidak jelas. Dia sudah selesai bernostalgia.
__ADS_1
"Hm..." yang dipanggil hanya berdeham sambil meneguk teh yang disediakan tanpa melihat kearah Ahn Reychan. Tapi, dehaman itu menunjukkan izin bawahannya untuk bicara.
"Tadi, anda bilang... Kalau, marga gadis itu sama dengan saya, 'kan?" merasa aneh mendengar nada tanya bawahan kepercayaannya itu, Kaisar Agung Bai pun menoleh untuk melihat ada apa dengan bawahannya ini.
"Ya! Lalu?"
"Anda juga pernah mendengar cerita tentang Keluarga saya 'kan?" tanya Ahn Reychan lagi, didengar dari nadanya ia seperti ingin memastikan kembali dengan lebih jelas.
"Ya!" menyadari sesuatu, Bai Gikwang langsung melanjutkan kata-katanya tanpa menunggu Ahn Reychan berucap. "Jadi, kau mau bilang. Kalau bisa jadi gadis itu saudarimu, begitu?" tebakan Kaisar Agung Bai diangguki oleh Ahn Reychan.
Bukannya mengatakan hal-hal seperti penolakan atau meminta bawahannya berhati-hati dalam memberikan praduga, Kaisar Agung Bai justru tersenyum sumringah. Ahn Reychan yang melihatnya menjadi tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.
Tapi, kalimat berikutnya baru membuat ia mengerti...
"Bagus! Nanti kita akan datangi langsung dan tanyakan! Setelah mengkonfirmasi kebenarannya, kau harus bersiap-siap..." kata Kaisar Agung Bai sambil menepuk lengan Ahn Reychan dengan keakraban yang berbeda dari sebelumnya.
Puk!
Puk!
Kali ini lebih intens.
Lagipula, perkataan sang junjungan agak sukar ia pahami. Menatap seksama tuannya yang masih duduk bersantai di kursinya, dia kembali bertanya mengenai maksud perkataan sang junjungan.
"Apa yang anda bicarakan, Yang Mulia? Bersiap-siap untuk apa?" Ahn Reychan jelas masih gagal paham.
Tanpa melihat Ahn Reychan, Kaisar Agung Bai menjawab dengan entengnya usai meneguk air tehnya lagi.
"Ya, bersiap-siaplah... Kita akan menjadi saudara ipar!" dia berkata dengan wajah tak berdosanya.
Ahn Reychan diam, kehabisan kata-kata.
Di tempat lain...
Hachuh!
Reychu menyemburkan air dari mulut saat tiba-tiba hidungnya gatal hingga rasanya ingin bersin dan yang menjadi korbannya adalah Rayan.
"Rey...!" jeritnya geram. Sambil mengusap wajahnya yang basah akibat semburan Reychu, dia cemberut berkata. "Joroookkk... Iihhh...!" jijik juga geli, tapi sayang sudah kepalang basah dia hanya bisa memberengut kesal pada Reychu yang kini malah terkikik bahagia diatas penderitaannya.
"Hahaha... Tenang kau masih cantik!" Reychu menghibur tanpa niat menghibur.
Rayan hanya bisa mendengus kesal lantaran sedang tak berniat untuk berdebat lagi dengan sahabatnya yang paling menjengkelkan itu.
Seperti yang udah pernah Thor kasih tau...
bagi yang pernah liat info sebelumnya, pasti tau. ini adalah novel berikutnya karya Thor.
tapi belum bsa di baca dulu. soalnya belum Thor kirim chapter nya.
ini cuma buat pengumuman aja. klo ada yang menantikan cerita lain Thor.
tentu! semua jawabannya ada pada pembaca nanti! kalian semua akan mewakili cerita ini untuk melihat akan jadi seperti apa pendapat mengenai novel baru Thor.
oh ya. tnya dung. covernya udh bgus kah?π π
ditunggu Wokeh...
untuk info rilis nya akan Thor kasih tahu di lain waktu.
ok semangat untuk semuanya. apalagi para muslim dan muslimah yang berpuasa. ini sudah masuk 10 hari kedua dibulan Ramadhan.
jangan patah semangat. mari menangkan bulan ini biar puas pas lebaran tiba...
__ADS_1
kalo ada yang dpat THR, bagi2 ya(qβ’Μα΄-)β§
pay-pay πππ