
Sekembalinya dari aula Kediaman Permaisuri.
Dengan langkah cepat Reychu menyeret Ryura untuk segera masuk ke kamarnya. Begitu masuk, ia langsung menutup pintu setelah memperingati pelayan gadungannya untuk tidak mengganggunya sampai dia memberi instruksinya.
Para pelayan hanya bisa mengiyakan lantaran takut.
Setelah hanya tinggal mereka berdua, ditambah Chi-chi yang masih dalam bentuk hewannya di atas peraduan. Siluman itu langsung tersentak akan kedatangan mereka yang tiba-tiba hingga terbangun.
Didorongnya tubuh Ryura kearah kursi yang ada di tengah ruang kamarnya, lalu mendudukkannya di salah satu kursi disana. Setelahnya, Reychu sendiri berjalan memutari meja menuju kursi di seberangnya dan langsung menjatuhkan bokongnya disana.
Diletakkan kedua tangannya yang terlipat diatas meja seraya memajukan badannya kearah Ryura yang sedari tadi diam bak patung.
Tanpa menunggu lagi, segera di serbunya dengan banyak pertanyaan.
"Jelaskan padaku! Apa maksudmu dengan mereka tidak pantas? Apanya yang tidak pantas? Bagaimana bisa tidak pantas? Dimana letak ketidak-pantasnya itu? Ryura jawab aku!" mata Reychu sudah membesar dengan kilatan penasaran, amat terlihat kalau dia sudah dikuasai rasa ingin tahu. Maka dari itu, ia menuntut penjelasan pada sahabatnya yang selalu bisa membuatnya penasaran hingga ke puncaknya.
Sedang orang yang disodorkan pertanyaan tak berjeda itu hanya membalas tatapan penasaran sahabatnya dengan tatapan yang selalu tidak bisa dibaca. Kosong melompong.
Untungnya, baik Reychu maupun Rayan sudah terbiasa dengan itu. Kalau tidak, bisa di pastikan jika mereka akan sering mengalami darah tinggi.
Mengerjapkan matanya polos, lalu menjawab dengan santai seolah-olah apa yang dia sampaikan bukan sesuatu yang penting. "Mereka tidak punya apa yang kau punya!" tandasnya.
Jawaban itu sungguh diluar dugaan Reychu sampai-sampai secara refleks kepalanya mundur sedikit, sebab terhenyak. Kemudian, kedua alisnya pun mulai terjalin dengan serius.
"Mereka tidak punya apa yang aku punya?" ulangnya masih tidak mengerti. Lalu, tatapan dongkol pun dilayangkan saat itu juga untuk sahabatnya yang masih tenang dalam diamnya.
Cukup menjengkelkan juga ternyata.
Ryura hanya berdehem mengiyakan. Reychu pun mulai berpikir dan mencerna baik-baik apa yang baru saja didengarnya. Bukan tidak percaya, hanya saja ia masih bingung dan benar-benar gagal mengerti.
Memang apa yang dimaksud dengan 'tidak punya apa yang dipunya'?!
Ekspresi aneh pun mulai bermunculan diwajah Reychu sesuai dengan isi kepalanya yang entah apa itu. Ryura yang melihatnya hanya diam mengamati. Dia tak sedikitpun tertawa, padahal raut wajah Reychu sudah cukup untuk membuat orang yang melihatnya tertawa. Bahkan Chi-chi yang duduk diam di peraduannya sambil mendengarkan dengan seksama pun tak bisa menahan kekehannya melihat sahabat manusianya yang unik itu.
"Apa itu?" akhirnya yang sudah seharusnya ditanyakan pun keluar juga setelah sesi berpikir yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
"Tidak tahu." wajah Reychu mendadak datar setelah mendengarnya. Tak terpikir akan langsung dihancurkan setelah ia menyusun banyak dugaan di kepalanya.
"Ryura..." sebutnya dengan nada yang panjang diakhir.
Dengan acuh, akhirnya gadis mayat hidup itupun berbicara. "Aku tidak tahu pasti. Hanya saja itu terasa seperti kutukan!" jelasnya singkat.
Meski belum puas dan belum juga mengerti, Reychu tetap mulai mencerna dan memahami apa maksud dari perkataan sahabatnya itu.
"Kutukan?!" pikirnya penuh dengan tanda tanya. Menoleh untuk kembali menatap Ryura. "Apa yang membuat mu berpikir kalau ini adalah kutukan? Atau kutukan macam apa ini? Kenapa kesannya seperti aku yang memiliki kutukan itu? Lalu, bagaimana cara kerjanya kutukan itu? Apa itu buruk dan mampu membunuhku? Akankah aku tidak lagi punya banyak waktu untuk hidup?"
Pemikiran konyol tak berdasar itupun tak dapat dihentikan. Seandainya, ada Rayan disana sudah pasti satu pukulan akan mendarat dia belakang kepala Reychu. Kalau begitu, saat ini Reychu patut untuk merasa beruntung mengingat Rayan belum kembali dari urusannya.
Ryura tak sedikitpun berniat meladeni pertanyaan aneh sahabatnya itu. Maka dari itu, dengan masih bertahan pada keacuhannya Ryura menjelaskan.
"Aku tidak bisa membenarkan apapun tentang itu. Tapi, yang kurasakan. Kutukan itu bukan berasal darimu. Melainkan dari pria itu."
"Pria itu?"
"Hm."
"Kaisar kerajaan ini?!" ucap Reychu membenarkan maksud sahabatnya.
"Jadi, dia yang memiliki kutukan ini? Lalu, apa hubungannya dengan ku?" Reychu kembali bertanya lantaran masih belum paham juga.
Ryura mulai menjelaskan apa yang dirasakannya. "Kau memiliki sesuatu yang dibutuhkan kutukan itu." jedanya, membiarkan Reychu mencerna sedikit demi sedikit. "Pertama kali aku melihat pria itu, aku merasakan sesuatu padanya. Tapi, tidak terlalu berguna karena aku tidak peduli. Akan tetapi, setelah bertemu dengan tubuh barumu. Aku kembali merasakan perasaan yang sama itu. Dari yang kulihat dan kurasakan, sesuatu mengikat kalian. Dugaanku, kalau itu adalah kutukan tersebut."
Ryura berhenti sejenak sambil menatap sahabatnya yang masih setia mendengarkan. "Kalau kau ingin tahu lebih banyak, tanyakan langsung pada sumbernya." finalnya dan kemudian Ryura tak lagi berbicara, sebaliknya ia justru mulai menopang kepalanya dengan satu tangan disusul dengan memejamkan matanya. Tampaknya ia tidur, tapi hal itu hanya dia dan ThorRa yang tahu.
Usai mendengar dan mencerna penjelasan Ryura yang kembali ia dengar begitu panjang sejak kehidupan kedua mereka.
Hening menyelimuti sejenak, sebelum akhirnya satu nama melintas dibenaknya. Matanya berbinar cerah seketika, layaknya berhasil memenangkan taruhan.
Dengan suara rendah dan yakin, ia berujar. "Ibu Suri!"
Keluar dari Kediaman Permaisuri, tidak membuat wanita berbadan dua itu kembali ke kediamannya. Ia justru berlanjut menuju Kediaman Kaisar Li untuk langsung melancarkan aksinya dalam menghasut pria tampan nomor satu itu.
Amarah yang tak terbendung dihatinya untuk Ahn Reychu sudah tak sanggup dia tanggung, sehingga satu-satunya cara adalah melampiaskannya dengan menggunakan Kaisar Li agar kekacauan menjadi lebih besar.
Dia benar-benar tidak bisa menerimanya. Bagaimana dia bisa menerima kenyataan bahwa gadis Permaisuri itu akan menunjuk seseorang untuk menggantikan posisinya dan itu sudah sangat jelas bahwa bukan menjadi dia yang terpilih.
Hal itu membuat dadanya panas, darahnya mendidih bak lava gunung berapi yang siap meletuskan lahar panasnya. Dari dalam tandu yang ia naiki, ia masih berusaha meredam emosi buruk yang dibangkitkan oleh Reychu sejak pertemuan tadi.
Tak terpikirkan olehnya akan mendapati hal seperti ini.
Ditengah-tengah renungannya, seruan pelayannya menyadarkannya.
"Yang Mulia Selir Agung, kita sudah sampai."
Menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan. Ia harus bisa berperan dengan baik kali ini. Tidak boleh kalah dengan amarahnya yang untuk kali ini begitu sulit di kendalikan.
__ADS_1
Keluarlah ia secara perlahan dan mulai mengambil sikap lemah lembut yang amat menjaga keselamatannya dari bahaya sekecil apapun bertujuan untuk melindungi bayi yang dikandungnya. Sikap itu tentu dengan mudah mengambil simpati para penghuni Kediaman Kaisar Li yang memiliki banyak pelayan dan penjaga.
Sanjungan selalu terpancar dari mata mereka yang melihat Gong Dahye begitu berhati-hati dan sangat menjaga segala sesuatunya tetap baik. Tanpa ada yang mengetahui betapa bohongnya semua itu.
Sambil dituntun oleh pelayan pribadinya. Keduanya berjalan menuju ruang kerja Kaisar Li. Tepat saat berada didepan pintu masuk, Kasim setia Kaisar baru saja keluar. Melihat kesayangannya Kaisar Li hadir, ia segera memberi hormat.
"Salam Yang Mulia Selir Agung Gong Dahye..."
"Salam Kasim." jedanya. "Apakah Yang Mulia Kaisar sibuk?" tanyanya dengan lembut.
"Beliau selalu sibuk, Yang Mulia Selir. Tapi, sepertinya tidak akan jadi masalah kalau anda datang menemui beliau." jawabnya dengan senyum sopan. Menunjukkan kalau dia salah satu dari orang yang tidak peka pada kebenaran.
"Kata-kata mu baik sekali." pujinya yang sebenarnya tak sungguh-sungguh memuji, tapi tak pernah ada yang menyadari. Siapa Gong Dahye hingga mau memuji orang lain? Ia cenderung suka dipuji daripada memuji.
"Kalau begitu, izinkan hamba ini mengabari kedatangan Yang Mulia Selir kepada Yang Mulia Kaisar." belum sempat Kasim itu berbalik untuk masuk kembali ke ruang kerja Kaisar, Selir Agung Gong Dahye menahannya.
"Tidak perlu merepotkan mu. Biar aku langsung saja menemukannya. Bukankah itu tidak akan jadi masalah?" katanya seolah-olah tak ingin mengganggu kesibukan orang lain.
"Hahaha... Baiklah. Anda bisa langsung menemui beliau, Yang Mulia Selir Agung Gong Dahye." Kasim itu tertawa renyah sebelum akhirnya membukakan pintu ruang kerja Kaisar Li untuk Selir Agung Gong Dahye.
Krieet...
"Terimakasih." katanya hanya sebuah formalitas namun terlihat jelas seperti itu diucapkan dengan tulus.
Tepat setelah selangkah wanita hamil itu masuk dapat dilihat oleh matanya, sosok menawan dengan aura kebangsawanannya yang kental benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah seorang keturunan darah biru murni.
Memikirkan itu, bagaimana bisa ia mau melepaskannya begitu saja?! Pria didepannya ini bagaikan harta Karun berjalan.
Sekilas senyum miring yang penuh tipu muslihat terbentuk sebelum senyum itu berubah menjadi senyum polos seorang wanita baik-baik yang berhati lembut dan halus muncul.
Ia mulai melanjutkan langkahnya seraya berseru menyapa sosok pria tampan yang sedang disibukkan dengan gulungan-gulungan pekerjaan yang hanya di mengerti oleh pria itu.
"Yang Mulia Kaisar Li."
Suara lembut yang masih bisa menyenangkan hatinya terdengar menggema masuk ke telinganya. Karena itu, ia pun mendongak untuk melihat meski sudah tahu siapa pemilik suara itu sebenarnya.
Dengan senyum lembut namun tipis menjadi sambutan yang harus diterima oleh Selir Agung Gong Dahye. Sejujurnya, ia kurang puas dengan responnya. Tapi, itu tidak akan jadi masalah sekarang. Karena, masalah yang sebenarnya akan ia mulai.
"Sayang, apa yang membuat mu datang mengunjungi ku? Kau tidak seharusnya melakukan itu. Ingat dengan bayi kita." tegur Kaisar Li mengingatkan dengan lintasan kekhawatiran yang jelas.
Lebih tepatnya, mengkhawatirkan bayi yang ada dalam kandungan selirnya. Sayangnya, pria tampan itu belum menyadari perasaannya.
"Selir ini mengerti, Yang Mulia. Tapi, Selir ini sudah merindukan anda. Apakah itu buruk untuk ditunjukkan." tutur katanya begitu manis sehingga dengan mudah menghangatkan hati yang mendengarnya.
Andai saja Reychu ada disana dan mendengarnya. Sudah dipastikan, beragam kosa kata penuh penghinaan dan cemoohan yang merendahkan secara terbuka dilayangkan tanpa sensor.
Mendengar kalimat yang langsung menyentuh hatinya, Kaisar Li tidak bisa tidak meminta selir kesayangannya itu untuk mendekat padanya.
"Kau ini bicara apa. Kemarilah, biarkan aku menyapa bayiku." katanya hangat seraya memberi perintah.
Tanpa ragu Selir Agung Gong Dahye mendekat dan segera mengambil tempat untuk duduk di sisinya dengan beralaskan bantalan khusus untuk diduduki.
Begitu selirnya sudah mengambil tempat tepat disampingnya, segera tangan itu terulur kearah perut buncit Selir Agung Gong Dahye yang amat besar. Lalu, mengelusnya dengan sayang.
"Semua baik-baik saja bukan?" tanya Kaisar Li tiba-tiba tanpa bisa diprediksi oleh Selir Agung Gong Dahye untuk pertama kalinya. Wanita itu sampai tertegun sejenak lantaran terkejut.
Ini kali pertama prianya tidak berbasa-basi.
Agak linglung, Selir Agung Gong Dahye menjawab. "Semuanya baik, Yang Mulia. Apa yang membuat Yang Mulia menanyakannya?" ada jejak keraguan dalam pertanyaannya walau sedikit. Untungnya, Kaisar Li tidak terlalu memperhatikan.
"Kaisar ini merasa kalau ada sesuatu yang telah terjadi dan kau mengetahuinya. Katakan saja, aku tak akan memarahi mu?" kali ini nada suaranya sarat akan ketegasan walau tetap menjaga kelembutannya. Faktanya itu tidak enak didengar oleh Selir Agung Gong Dahye yang menerimanya. Namun, dari diri Kaisar Li sendiri sudah mulai merasakan perasaannya berkurang. Dia menjadi tidak takut mempertegas suaranya dalam berbicara.
Padahal dulunya, sedikit saja ia menyinggung perasaan Selir kesayangannya ini. Kegelisahan langsung menyelimuti hatinya.
Ia sendiri pun tidak bisa mengerti apa yang terjadi pada hatinya.
Merasa bahwa rencananya -Gong Dahye- harus di percepat, mau tak mau wanita hamil itu segera mengutarakan apa yang memang sejak awal ingin ia katakan. Meski harus menelan kepahitan, karena tidak memiliki kesempatan untuk bersenang-senang bersama suami tercinta sekaligus batu loncatannya.
Secepat kilat namun tidak terdeteksi, ekspresi muka Selir Agung Gong Dahye berubah menjadi cemas dan gelisah, seolah ada beban yang begitu berat untuk ditanggungnya.
"Yang Mulia... Tadi, Selir ini baru saja kembali dari Kediaman Permaisuri..." alis Kaisar Li terangkat begitu mendengarnya.
Ada beberapa praduga yang terlintas.
"Lalu?" sambung Kaisar Li meminta diteruskan.
"I..itu..." aktingnya cukup hebat. Dalam sekejap pula ia mampu bersikap seolah-olah menyiratkan keraguan dan ketakutan bila sampai berita yang akan ia sampaikan terdengar oleh pria disampingnya.
Semua itu tak lepas dari perhatian Kaisar Li Hanzue. Kerutan di dahinya semakin kuat. Rasa ingin tahunya meningkat pesat.
"Katakanlah. Jangan ragu. Aku takkan marah padamu." tutur Kaisar lembut membujuk selirnya agar mau mengungkapkan apa yang ingin ia dengar.
Melihat begitu antusiasnya pria disampingnya untuk tahu. Seringai licik tak tertahan terpatri dalam hatinya.
Menoleh kearah Kaisar Li dengan rasa takut dan ragu, namun disaat bersamaan merasa tak berdaya bila mau menolak pinta Kaisar Li. Dia melakukannya dengan sangat baik.
"Permaisuri... Dia... Mengundang semua selir ke kediamannya. Untuk..." masih berpura-pura ragu. Sedang Kaisar masih setia menunggu. "Untuk mengumumkan tentang mencari penggantinya." tandasnya yang sesuai dugaan bahwa begitu kalimat itu terlontarkan, pria didepannya seketika menggelap. Wajahnya tak lagi sedap dipandang.
__ADS_1
Tapi, yang tidak dia duga adalah...
Brak!
Prianya bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkannya begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Itu cukup membuatnya terhenyak dengan rasa tak nyaman dihatinya.
Sambil menatap tajam penuh kecemburuan pada punggung Kaisar Li yang terus menjauh, dia mengepalkan tangannya menyalurkan dendam tak kasat mata pada Ahn Reychu yang ada di kediamannya.
"Ahn Reychu, kau akan berakhir setelah ini!" gumamnya dalam dan tajam.
Kaisar Li berjalan dengan langkah lebar. Melewati pintu ruang kerjanya, ia langsung memberi perintah.
"Siapkan kuda ku!" tegasnya bercampur emosi tak tertahankan hingga membuat siapa saja yang bertemu dengannya merasakan suhu turun drastis di sekeliling Kaisar Li.
Dari arah berlawanan muncul Pangeran kedua Li Fang Ye yang hendak menemuinya untuk membahas sesuatu. Bagaimanapun ia juga bekerja untuk Kerajaan Huoli.
Melihat kemarahan terpancar diwajah saudaranya membuat ia bertanya-tanya. Apa ada sesuatu yang terjadi?
Saat Kaisar Li akan melewatinya juga, kejadian itu ditahan oleh Pangeran kedua Li Fang Ye dengan memegangi tangannya.
Merasa tangannya ditahan oleh sesuatu, Kaisar Li segera menoleh untuk melihat siapa yang berani menahannya untuk segera membuat perhitungan pada Permaisurinya.
Saat tahu kalau itu adalah adiknya, kaisar Li tak berniat menghajarnya namun tidak juga menurunkan tingkat kemarahannya.
"Lepas!" perintahnya mencoba bertahan.
"Kakak Kaisar. Ada apa denganmu? Tenanglah. Apapun itu jangan gunakan amarahmu... Itu tidak akan menyelesaikan apapun." usai mengatakan itu ia merasakan tangannya dihempas begitu saja hingga meninggalkan kekosongan disana.
"Jangan ikut campur!" sarkasnya Kaisar Li amat tajam, kemudian kembali berlalu menuju kuda yang telah disiapkan oleh pengawalnya dan melaju tanpa jeda.
Pangeran kedua Li Fang Ye hanya bisa memandangi tubuh penuh amarah itu berlalu cepat hingga tak lagi terlihat lagi. Melihat sekilas gulungan yang ada di tangan satunya dan berpikir untuk meletakkannya di meja kerja saudaranya, agar nanti ia tinggal membahasnya saat saudaranya telah tenang dari kemarahannya.
Akan tetapi, yang tidak ia bayangkan adalah... Ketika memasuki ruang kerja Kaisar Li Hanzue, sosok yang dirindukan sekaligus sosok yang dianggap membawa malapetaka secara bersamaan itu muncul dihadapannya.
Perasaan yang kompleks melilit hatinya. Selebihnya rasa sakit yang tak bisa dijelaskan lebih mendominasi relung hatinya.
"Apa yang kau lakukan pada kakak Kaisar?" tanyanya langsung ke intinya dengan dingin memberi jarak.
Ia menduga kalau wanita didepannya telah melakukan sesuatu pada Kaisar Li Hanzue sehingga membuat pria nomor satu di negara api itu marah besar.
Mendengar suara yang amat familiar, Selir Agung Gong Dahye yang sedang bersantai di tempat duduk Kaisar Li mendongak dan mendapati wajah seorang pria yang amat dikenalnya sedang menatapnya tajam.
"Pangeran kedua Li Fang Ye... Apakah kau mulai melupakan aturan tata krama kerajaan, hm?! Dimana sopan santun mu!" tanpa menjawab pertanyaan Pangeran kedua Li Fang Ye, dengan angkuhnya Selir Agung Gong Dahye mengajukan pertanyaan lain.
Sambil mencengkram erat gulungan ditangannya, ia membalas masih dengan dingin. Tatapannya bahkan tak ubahnya seperti pisau tajam yang siap menghunuskan tepat di bola mata yang melihatnya.
"Aku? Tentu tidak lupa..." seringai tipis terukir di bibirnya. "Tapi, seseorang jauh lebih dariku tentang betapa tidak tahu dirinya dia mencoba melangkahi orang lain."
BRAK!
Gebrakan meja terdengar keras begitu Pangeran kedua Li Fang Ye menyelesaikan kalimatnya dengan sarkas.
"KAU..."
Pangeran kedua Li Fang menyela, tanpa niat sedikitpun untuk memberi kesempatan wanita hamil didepannya berbicara.
"Kau harus tahu posisi mu, Selir Agung. Jangan hanya karena kau mendapatkan lebih banyak kasih sayang Kaisar, kau melewati batas mu!" serbunya dengan amat tajam sampai-sampai Selir Agung Gong Dahye terkejut dibuatnya.
Sedikit tidak percaya, pria tampan didepannya akan berani berkata kasar padanya setelah apa yang pernah terjadi pada mereka selama ini.
Dengan menekan rasa tak senangnya, Gong Dahye berujar dengan siratan penuh ejekan. "Kurasa kau melupakan sesuatu, Pangeran kedua Li..."
"Sayangnya tidak! Tidak secuil pun ada yang ku lupakan! Tapi, aku juga tahu bahwa kelak aku akan menanggungnya! Dan cepat atau lambat kita akan bertemu di neraka!" makna yang dalam pada kalimatnya cukup mengena jiwa busuk Selir Agung Gong Dahye hingga tak bisa berkata-kata lagi.
"Itu tidak akan terjadi!" sergah Selir Agung Gong Dahye setelah diam beberapa saat.
Pandangan tajam sebelumnya perlahan melembut, tapi bukan karena wanita didepannya melainkan sosok yang tiba-tiba terlintas dibenaknya.
"Itu akan... Dan pasti akan terjadi! Orang seperti mu tidak akan mengerti!" selesai mengucapkan kalimat yang hanya dia yang tahu maknanya, Pangeran kedua Li Fang Ye berbalik pergi dan melupakan niatnya untuk menaruh gulungan yang masih ada ditangannya ke meja kakak Kaisar-nya.
Ia pergi meninggalkan Selir Agung Gong Dahye dengan kemarahannya.
holaaaaa sobat READERS nya ThorRa a.k.a Author LeoRa_
apa kabarnya???
pada nungguin yaaa...?!
kalo gitu selamat menikmati bacaannya, ok!
harus setia menunggu yaa...
ThorRa akan selalu berusaha memberikan yang terbaik!
lop yuuu...๐๐
__ADS_1