
Jiang Wanxi akhirnya membuka mata setelah beberapa waktu berlalu. Yang pertama kali dilihat olehnya adalah langit-langit ruang, lalu saat ia mengedarkan pandangannya ada beberapa sentuhan klasik pada ruangan itu. Pemandangan tersebut sangat familiar karena rasanya dia baru kemarin melihatnya.
Setelah diingat-ingat, memang benar. Dia baru kemarin menjenguk temannya dan melihat ruang inap yang kurang lebih sama. Jadi, sekarang dia tahu dimana dia berada.
Segera saat dia menggerakkan tubuhnya, rasa sakit mendera membuatnya meringis. Seketika itu juga dia tersadar kalau dia baru saja mengalami kecelakaan.
Sekali lagi, diedarkan pandangannya ke sekeliling ruang. Dia langsung bisa menebak bila dia ada di rumah sakit milik pria incarannya.
Bukannya mengkhawatirkan kondisi dirinya sendiri, dia malah sempat-sempatnya memiliki pemikiran bahwa ini adalah kesempatan untuk menarik perhatian Shin Da Ming.
Segera, dia menekan tombol pemanggil guna memanggil dokter yang menanganinya. Meski dalam hati dia berharap penuh yang datang adalah Shin Da Ming sendiri. Tapi, dia tahu itu hanya bisa di anggap taruhan karena kecelakaannya bukan rekayasa. Dia masih merasakan sakit di kaki dan beberapa bagian tubuhnya.
Tak berselang lama, petugas medis datang dengan salah satunya paling menarik bidang penglihatan Jiang Wanxi. Siapa lagi kalau bukan Rayan dengan wajah datarnya yang bila di amati lebih jelas, ada jejak permusuhan disana.
Namun Jiang Wanxi agaknya tidak memperhatikan hal itu dia malah curi-curi pandang ke belakang Rayan dengan siratan yang jelas bagi Rayan apa artinya.
Rayan panas dibuatnya. Seperti termometer yang di masukkan kedalam air panas. Angkanya langsung melejit naik.
"Anda sudah bangun rupanya. Kalau begitu, mari kita lakukan pemeriksaan untuk melihat apakah semuanya baik-baik saja atau tidak." meski panas di hati, Rayan masih tetap mempertahankan profesionalitasnya.
Tapi, memang segalanya tak pernah selalu berjalan sesuai harapan, Jiang Wanxi malah melakukan penolakan halus yang membuat perawat yang datang bersama Rayan menatapnya dengan tatapan heran.
Gerakan bergesernya memang halus dan samar, tapi siapa Rayan yang seketika bisa melihatnya. Sementara perawat baru menyadarinya setelah gerakan Rayan terhenti di udara.
Hal semacam pasien memberontak bukannya tak pernah terjadi, maka dari itu perawat dengan cepat menemukan keanehan itu.
"Emm... Saya sudah merasa lebih baik..." Jiang Wanxi sebenarnya ingin bertanya dimana Shin Da Ming tapi tidak menemukan celah karena wanita didepannya ini adalah istri sah Shin Da Ming.
__ADS_1
Belum lagi ada perawat disebelah Rayan. Bagaimana bisa dia secara langsung bertanya. Apa yang akan dipikirkan perawat itu?
Eh! Bukan apa yang dipikirkan Rayan?! Hmm... Bukan main...
"Ouhhh... Begitu. Tapi, inilah prosedur rumah sakit, Nona. Sebagai petugas medis kami harus memastikan bahwa pasien kami sepenuhnya sehat sebelum dibolehkan untuk pulang. Jadi, anda sudah bisa langsung pulang setelah saya memeriksanya." tutur Rayan dengan nada manis biasanya hingga sulit untuk menemukan keanehan didalamnya.
Tapi, sebagai manusia yang diberikan perasaan peka. Terutama, perawat yang ada disampingnya, agaknya dia merasa ada yang salah tapi tidak tahu apa yang salah dari perkataan Rayan. Sebab, beberapa dokter yang dia ikuti sering kali mengutarakan kalimat seperti yang Rayan katakan saat ini. Jadi, dia hanya bisa mengernyit sejenak sebelum menepis keanehan yang dirasa.
Lain dengan Jiang Wanxi, yang langsung tahu kalau wanita didepannya ini sedang menyerangnya. Jika sudah begini, Jiang Wanxi mana bisa mengiyakan. Kalau nanti dia benar-benar di pulangkan, dimana peluangnya untuk mendekati Shin Da Ming?
Dan Rayan juga sudah menebak apa yang akan dipilih oleh hama didepannya ini. Maka dari itu, dia mencibir dalam hati.
"Kalau begitu, tolong periksa saya, Dokter." katanya enggan.
"Bagus." menoleh menatap perawat dan mulai bertindak sesuai profesi. "Catat, Suster."
Kening Jiang Wanxi segera berkerut mendengar panggilan itu. Dia jelas tak senang, tapi tak bisa apa-apa. Selain itu, dia merasa aneh kenapa Rayan tidak dipanggil dokter.
Seolah paham dengan arti dari tatapan Jiang Wanxi, Rayan pun menjelaskan dengan penuh kerendahan hati yang sepenuhnya menyamarkan kesombongannya mengakui gelarnya sebagai istri Shin Da Ming. Tapi, bagaimana bisa Jiang Wanxi yang di targetkan tidak menyadarinya.
"Oh, anda pasti merasa aneh dengan panggilan suster pada saya, kan? Mengapa bukan Dokter. Benar, kan?" dengan senyum bersahaja Rayan menjelaskan. "Sebenarnya, itu karena saya diperkenalkan sebagai Nyonya Shin sejak awal. Jadi, tampaknya mereka jadi terbiasa menggunakan panggilan itu sekalipun saya sering ikut turun tangan langsung membantu merawat pasien. Benar begitu kan, Suster?" lempar Rayan dengan begitu natural hingga perawat tanpa curiga langsung membenarkan dengan semangat.
"Benar, Nyonya Shin. Kami memang terbiasa. Mungkin lebih tepatnya, kami lebih nyaman memanggil Nyonya dengan sebutan Nyonya Shin. Lagipula, itu juga tidak salah, kan? Dan tidak ada bedanya." jawaban polos perawat itu merusak topeng Jiang Wanxi hingga nyaris tak bisa ia jaga.
Dengan gigi terkatup, Jiang Wanxi merespon. "Hmm... Jadi, begitu. Ya, itu memang tidak ada bedanya."
Sementara, Rayan masih dengan senyum rendah hatinya yang dimata Jiang Wanxi adalah pemandangan yang amat merusak. Tapi, dia bisa apa. Belum lagi melihat kondisinya saat ini. Yang ada dia akan mengalami kerugian lebih dari ini.
__ADS_1
Setelah itu, barulah pemeriksaan sesungguhnya dilakukan. Rayan yang memeriksa dengan profesional juga senang dan Jiang Wanxi yang hanya bisa menahan diri untuk tidak mencakar wajah sumringah Rayan yang ditutupi dengan baik.
"Dasar munafik! Apa yang disukai dari wanita seperti ini! Oh, malangnya Shin Da Ming memiliki istri seperti dia!" umpat Jiang Wanxi dalam hati.
Pemeriksaan pun selesai.
"Nona Jiang. Anda sudah jauh lebih baik. Ini menakjubkan. Anda membaik dengan sangat cepat. Tapi, anda masih harus di rawat untuk beberapa hari ke depan sampai gips di kaki anda siap di lepas." kata Rayan sesuai fakta dari kondisi Jiang Wanxi.
"Terimakasih... Dokter." ucap Jiang Wanxi enggan menyebut panggilan itu dan beralih ke panggilan yang lain.
Rayan sadar akan keengganan itu tapi perawat tidak. Dia benar-benar tidak dapat melihat perang aura antara Nyonya Shin dan pasiennya.
"Sama-sama. Kalau begitu kami pamit undur diri dulu. Oh ya, untuk barang pribadi anda ada di sini... Anda bisa menghubungi keluarga anda untuk memberi mereka kabar terbaru anda. Mereka pasti khawatir karena anda menghilang tiba-tiba." tunjuk Rayan pada lemari yang samping ranjang pasien dan mengutarakan perhatian yang umum diberikan dokter pada pasiennya. "Kami permisi."
Ceklek...
Sepeninggal Rayan dan perawatnya, topeng Jiang Wanxi benar-benar pecah. Permusuhan yang tertekan sebelumnya terlihat berkali-kali lipat lebih jelas. Bahkan saat tangannya terkepal guna menyalurkan perasaan bencinya terhadap Rayan yang sepertinya sudah tahu dengan jelas kalau dia menargetkan suaminya.
Lalu kenapa?
Bukankah semakin terang semakin bagus.
Dia juga ingin melihat seberapa mampu wanita rendahan itu melawannya dalam perang terbuka ini.
"Kau mungkin memiliki sesuatu yang menakjubkan dalam dirimu hingga mampu membuat banyak orang melupakan latar belakang mu yang rendahan. Terus apa? Kau masih bukan apa-apa bagiku, Jiang Wanxi... Karena kau sudah tahu tujuan ku, aku tak akan sungkan lagi. Mari kita lihat siapa yang tertawa paling akhir. Heh!" gumamnya pada diri sendiri dalam ruangan yang sepi itu.
__ADS_1