3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
ORANG TUA ANEH


__ADS_3

"BERIKAN AKU SEBOTOL ARAK LAGI!" lantangnya seraya mengangkat tangannya tinggi.


Suaranya yang lantang itu ternyata sukses membuat semua pengunjung sebuah rumah makan mengalihkan atensinya kepadanya. Merasa tak menyangka bahwa seseorang bertubuh kecil itu memiliki suara yang cukup keras juga bila ia menaikkan intonasinya.


Seorang pria yang diyakini sudah tua namun memiliki tubuh pendek juga kecil dari kebanyakan orang. Rambut, kumis, dan janggutnya bahkan telah beruban tanpa celah. Tapi bila dilihat saat ini, yang dilakukannya sungguh mencengangkan.


Bagaimana tidak?! Dia duduk di kursi yang lumayan tinggi hingga kakinya tak dapat menyentuh lantai. Nafsu makannya juga besar dan itu dapat dilihat dari berapa banyak porsi makanan dengan menu yang berbeda-beda terpampang hanya untuk dirinya sendiri di meja yang ada didepannya. Dia juga amat menyukai arak sehingga ia memesan beberapa botol juga untuk dirinya sendiri, sangat dapat di pastikan kalau dia cukup kuat minum.


"Ini araknya. Silahkan!" kata pelayan yang membawakan sebotol arak untuknya lagi.


"Bagus, bagus... Berikan padaku!" ucapnya tanpa mempedulikan pelayan itu dan langsung saja disambarnya botol arak yang baru datang dan di tenggaknya layaknya orang yang kehausan akut.


"Ahhh...!" suara itu keluar begitu saja menandakan ia cukup puas sekarang ini. "Arak memang yang terbaik! Tapi ini termasuk kalah dari arak yang pernah ku minum di negara awan." terus menenggaknya tanpa masalah, seperti ia tengah meminum air biasa.


"Huh... Sudah berapa lama aku seperti ini?! Kenapa belum juga kutemukan orang yang pantas?! Kalau begini terus aku akan kalah taruhan dengan dia! Tidak bisa! Aku tidak akan bisa menerima kekalahan kalau dihadapkan dengan dia! Mau di taruh dimana mukaku! Dasar belalang kayu tua! Lihat saja aku tak akan kalah darimu! Kau tunggulah! Aku akan menemukan seseorang yang tepat untuk melawan orang mu itu!" gerutunya panjang lebar dalam hati dengan kekesalan yang tiada tara apalagi bayangan wajah orang yang di sebut 'belalang kayu tua' itu tergambar jelas di benaknya.


"Aku sudah jauh berjalan. Waktuku juga semakin berkurang. Aku harus segera menemukan orang yang tepat. Aku tidak bisa menyerah begitu saja. Tersisa 5 bulan lagi. Walau kemungkinan nya kecil, aku harus tetap berpikir positif. Ya... Lagipula, aku sangat yakin kalau aku akan menemukannya di negara ini. Negara apa ini... Oh ya, negara api... Hmm, pasti!" lagi-lagi dia membatin dengan cemas dan geram kesal sampai-sampai ia jengkel sendiri.


Saat sedang asik mengobrak-abrik isi pikirannya, tiba-tiba saja matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Terus ditatap dengan seksama dan serius, bahkan tanpa berkedip. Sampai selang beberapa menit seringai pun terbentuk di bibirnya walau sedikit terhalang oleh kumis putihnya yang lumayan panjang itu.


"Hehehe... Memang kalau jodoh tak kemana..."


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


Kembali bersenang-senang adalah cara mereka melepas bosan. Secara, selama menetap di jaman baru ini yakni jaman kuno ini ketiga gadis tersebut belum sekalipun mendapati permasalahan yang rumit. Contohnya seperti perselisihan, kesalahpahaman, dan lain sebagainya.


Tapi, itu bukan masalah bagi mereka. Cukup dengan tetap bersiap bila sewaktu-waktu masalah datang meski sebenarnya ketiganya sudah amat terlatih.


Jalan-jalan menikmati kebersamaan tanpa memikirkan apakah keluarga pemilik tubuh mencari mereka atau tidak adalah yang kini mereka lakukan. Seperti tubuh itu adalah tubuh mereka sendiri. Padahal nyatanya, di dua keluarga antara mereka sedang disibukkan dengan pencarian dua gadis yang di maksud, sedang mereka sibuk dengan menyenangkan diri sendiri dan mengabaikan mereka-mereka yang di anggap tidak penting.


"Lihat itu, bagus bukan?" tunjuk Rayan kearah salah satu aksesoris yang di letakkan diatas meja dengan banyaknya aksesoris lainnya yang tersusun rapi ketika mereka hendak melewatinya.


Reychu ikut melihat kearah yang di tunjuk sahabatnya. "Yang mana?" tanyanya ketika tak menemukan aksesoris yang ditunjuk oleh Rayan. Dia hanya tahu bahwa kini ia dan Rayan sedang melihat kearah meja yang terdapat banyak aksesoris untuk dijual seraya memindai tataan aksesoris tersebut namun belum juga menemukan aksesoris yang dimaksud Rayan.


"Itu, itu... Tusuk rambut yang hiasannya berbentuk bunga teratai dengan mata berwarna merah muda itu..." terang Rayan menjelaskan sembari menunjuk benda yang dimaksud.


"Oh itu. Kalau mau, kau belilah? Tapi menurutku lebih bagus yang di sebelahnya. Berhias burung bangau dengan mata berwarna merahnya." celetuk Reychu santai setelah paham yang diinginkan sahabatnya.

__ADS_1


"Itu bisa di atur..." balas Rayan.


Mengerucutkan bibirnya seraya menadahkan kedua tangannya dengan ekspresi memelas dan itu terlihat cukup menggemaskan layaknya anak kucing. Sepertinya ia sedang meminta uang mengingat Rayan benar-benar miskin sekarang. Namun, sayang Reychu yang melihatnya tidak paham.


Menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. "Apa?" Rayan sudah menggoyang-goyangkan tubuhnya semakin memelas dengan mata berbinar penuh harap. Ternyata Reychu tak kunjung paham.


"Apa yang kau lakukan, Rayan?"


Puk!


2 pasang mata seketika jatuh mengarah ke telapak tangan Rayan dengan mulut menganga, tampak diatasnya sesuatu berwarna emas terlihat. Kemudian secara bersamaan kedua gadis tersebut pun menoleh kearah pelaku yang meletakkannya dan ternyata dia adalah Ryura sahabat mereka. Tapi, saat ini gadis itu sedang mengikat kembali kantung uang taelnya dan kembali menyimpannya tanpa mau repot-repot menjelaskan pada kedua sahabatnya mengenai sepotong tael emas yang ia berikan begitu saja, keduanya cengong melihat padanya.


"Kau punya uang, Ryu?" yang di tanya hanya mengangguk.


Rayan dan Reychu saling pandang, sampai perlahan senyum sumringah terukir di bibir mereka walau yang satunya tertutupi oleh cadar.


"MARI BELANJAAAA...!!!" pekik mereka senang dan langsung pergi meninggalkan Ryura yang hanya menatap datar kearah mereka yang tampak seperti anak kecil mendapatkan hadiah mainan di hari ulang tahunnya. Pemandangan yang sudah biasa baginya.


"Fheurb... (Sikap mereka benar-benar membuat malu saja)" suara Furby menimpali keheningan aneh di antara mereka setelah melihat kekonyolan kedua gadis yang kini asik memilih aksesoris apa yang bagus untuk mereka sembari mencobanya. Tak di sangka ternyata si kuda hitam nan gagah itu hadir di antara mereka, tentu saja untuk mengekor Ryura.


Janjinya adalah akan selalu bersama Ryura di mana pun gadis itu berada.


"Fhuerb... (Kau tidak mencoba mengingatkan mereka? Mereka tidak tampak seperti perempuan beretika.)" telepatinya kepada Ryura, amat jelas ia tak menduga akan melihat perilaku seorang gadis seperti mereka, bar-bar dan tak ada manisnya.


"Biarkan saja." katanya singkat dengan acuh tak acuh. Baginya sikap sahabatnya tidak ada yang salah lantaran di kehidupan mereka dulu mereka bertigalah yang mengukir karakter mereka sendiri mengingat mereka tak memiliki orang tua, jadi itu bukan masalah.


Tapi, ia tak berniat untuk bercerita pada Furby, baginya itu tak penting.


Keheningan kembali, Ryura masih belum melepas pandangannya dari kedua sahabatnya itu sampai pada saat ia merasakan sesuatu dari arah samping kanannya. Dengan tenang iapun menoleh guna untuk melihat dan memastikan apa yang ia rasakan.


Ternyata Furby pun turut merasakannya. Ia merasakan ada sesuatu yang kuat sedang mengarah pada mereka berdiri saat ini. Tapi, Furby tidak bertindak apa-apa lantaran tidak menemukan bahaya dari sesuatu yang kuat tersebut. Akan tetapi, ia tetap waspada karena kini tidak hanya dirinya sendiri yang ia lindungi melainkan juga Ryura.


Kedua mata Ryura memandang lurus kearah kerumunan orang yang berlalu lalang, namun bukan kerumunan itu yang menjadi titik fokusnya melainkan sesuatu yang terlihat berlari menerjang kerumunan tersebut dengan... Entahlah, riang mungkin?!


Tampak sesuatu itu beberapa kali menabrak dan menyenggol orang-orang yang sedang berjalan, membuatnya tak jarang mendapat umpatan dan makian dari mereka yang terkena ulahnya. Ia terus berlari kearahnya tanpa jeda.


Tap!

__ADS_1


Hingga sampailah ia berdiri tegap di depan Ryura dengan ekspresi sumringah yang kentara walau nafas tak teraturnya terlihat tak berarti, yang artinya sosok itu terlihat seperti tidak lelah sama sekali. Padahal ia berlari dari jauh.


Yang membuat aneh adalah...


Mengapa tubuhnya pendek?


Furby di belakang temannya membelalak melihat orang yang kini berdiri di depan temannya, Ryura. Sedang Ryura hanya berkedip dengan respon kosong. Ia tak peduli sama sekali, hanya melihat sosok didepannya yang ia sendiri tak tahu mengapa memandangnya segembira itu. Ryura yakin, tak ada ingatan yang memberitahukan padanya mengenai sosok pendek di depannya saat ini. Dengan kata lain ia tak ingat pemilik tubuh pernah bertemu dengan pria tua pendek tersebut.


Tubuhnya pendek nyaris cebol dengan tinggi kira-kira 130 cm saja, rambut panjangnya putih begitupun dengan kumis dan janggut panjang yang menghiasi wajahnya. Pakaian yang dia kenakan rapi namun tak terlihat mewah, padahal Ryura bisa melihat bila kain yang di gunakan bukan sembarang kain. Ia juga menggendong kantung kain yang entah apa isinya dan jangan lupa tongkat kayu yang sedikit lebih panjang dari tinggi tubuhnya.


Satu kesimpulan. Sosok yang tiba-tiba muncul itu adalah sesosok pria tua.


Ryura masih tenang berbeda dengan Furby, kuda itu kini mengernyit bingung.


"Dia! Apa yang dilakukan si cebol tua itu disini?!" dia bertanya pada dirinya sendiri tanpa melibatkan Ryura. Mungkin ia hanya tak ingin Ryura tahu (?)


Melihat seperti apa reaksi Furby, sepertinya ia mengenal pria tua yang pendek itu namun memilih diam.


"Hahaha... Akhirnya aku menemukanmu! Hahaha" kata orang tua itu seraya tertawa kegirangan. Ryura masih saja tak bergeming setelah mendengarnya.


Tiba-tiba ia tersadar dari sesuatu. "Eh! Dia..." sambil memiringkan sedikit tubuhnya guna melongok kebelakang tubuh Ryura untuk melihat bahwa yang dilihatnya tidaklah salah. "Wah! Kau disini rupanya!" serunya penuh semangat seraya menunjuk Furby dengan tongkatnya.


Furby hanya menanggapi dengan merotasi matanya malas.


Memandang Ryura dan Furby bergantian. "Kalian... Kau sudah memiliki majikan? Hohoho... Hebat! Bertahun-tahun menyendiri akhirnya kau menemukan pelabuhan mu juga. Hahaha aku senang mengetahui hal itu." jujurnya seraya menepuk-nepuk wajah Furby setelah ia menghampirinya guna memastikan yang dilihat adalah nyata adanya. Pemilik wajah yang ditepuk justru mendengus tak suka tapi juga tak menolak.


Sedang Ryura di depan mereka hanya memandang tanpa minat sedikit pun. Penasaran pun tidak, baik tentang hubungan Furby dan orang tua itu ataupun niat orang tua itu yang menghampirinya.


"Baiklah, aku tidak perlu berlama-lama denganmu. Ada urusan yang lebih penting disini." usai mengatakan itu pria tua itu kembali menghampiri Ryura.


Hanya mengingatkan! Jangan tanya dimana Reychu dan Rayan. Keduanya sedang dikuasai oleh jin belanja, sehingga tak lagi muncul begitu sebuah tael emas di genggaman. Maka, biarkan saja! Seperti kata Ryura.


Kini baik Ryura dan orang tua itu saling pandang. Tidak ada yang tahu arti dari tatapan keduanya. Entah ada makna yang dikirim melalui tatapan atau hanya mereka yang tahu. Masih perlu dipertanyakan.


Tangan yang memegang tongkat itu di angkat dan diarahkan kepada Ryura tanpa membuat Ryura bereaksi barang sedikitpun. Gadis itu masih tenang dalam diamnya. Sedang orang tua itu memandang Ryura dengan binar bahagia yang sama sekali tidak bisa di artikan oleh siapapun yang melihatnya.


Dengan tersenyum penuh arti orang tua itu berujar lugas.

__ADS_1


"Aku ingin kau jadi muridku!"


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ


__ADS_2