
Sepulang dari kios paman Gu Fen. Kini Reychu berjalan tak tentu arah di hari yang sudah sore ini, mungkin akan malam. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit jingga yang sudah tampak memudar karena hendak berganti malam.
Menghela nafas hampa. Ia tak tahu harus apa sekarang. Kembali ke istana adalah hal yang paling malas ia lakukan, terlintas pun tidak. Lagipula sekarang ia punya uang, masih cukup jika di pergunakan untuk menginap di penginapan dan berbelanja. Ingat, uang tael emasnya ada berapa.
30 - 5 - 1 \= 24 tael emas lagi.
Ya, sebelumnya ia membayar bebek bakar paman Gu Fen seharga 1 tael emas. Sebenarnya itu kebanyakan, tapi berhubung ia gadis yang dermawan jadi diberikan saja kembaliannya. Toh, ia masih punya banyak.
Merenggangkan kedua tangannya dan baru menyadari kalau tubuhnya sudah gerah dan lengket. Ada baiknya bila ia membersihkan diri kemudian tidur. Kegiatan yang sering dia lakukan dulu saat sedang tidak ada misi.
"Hmm... Sepertinya sebelum mencari penginapan, aku harus membeli pakaian dulu. Tidak mungkinkan aku memakai ini terus." memegang pakaiannya sembari memandang miris karena tak sengaja matanya menangkap noda darah yang langsung mengingatkannya pada pertarungannya dengan pria bernama Bou Qin itu.
Berjalan dan terus berjalan, matanya tak henti-hentinya memindai semua tempat yang menjadi tujuan pertamanya, yaitu toko pakaian.
Sekitar 15 menit lamanya menjelajahi pusat kota, akhirnya yang di cari-cari pun ia temukan. Tak ingin berlama-lama, segera dilangkahkan kakinya memasuki toko itu dan langsung memilah dan memilih pakaian yang di sukanya.
Tentu saja, kedatangannya dalam keadaan seperti itu menarik perhatian para pengunjung. Mereka pada berbisik jijik lantaran penampilan Reychu yang kotor dan kumel. Terlebih dengan adanya noda darah. Selain jijik mereka juga merasakan ngeri dengan khayalan-khayalan ngawur mereka tentang Reychu.
Tapi, Reychu acuh saja. Toh, kalau mereka berani macam-macam tinggal di bereskan. Mudah bukan?! Begitulah kira-kira sepintas pemikiran Reychu.
"Nona, hati-hati atau kau akan mengotori pakaiannya." tegur salah seorang gadis yang tampak lebih muda darinya dengan tatapan jijik.
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari memilih pakaian, Reychu menjawab dengan tak peduli. "Aku datang untuk membeli baju. Tentu, aku harus menyentuhnya. Bagaimana aku tahu itu cocok atau tidak kalau aku tidak menyentuhnya. Kecuali, kau bantu aku memilih dengan kau pinjamkan tanganmu padaku untuk menyentuhnya." telaknya. Gadis itu seketika bungkam dengan perasaan geram. Tak menyangka akan kalah begitu saja dengan gadis kumel di depannya.
"Kau... Aku sudah peringatkan padamu. Dasar miskin!" katanya kehabisan kata-kata. Wajahnya bahkan sudah memerah menahan marah.
Berdiri tegap membalas tatapan tajam gadis di depannya dengan tatapan malasnya. "Dan akan aku peringatkan padamu juga, kalau akan lebih baik kau tidak mencampuri urusan orang lain daripada bersikap seolah-olah kau peduli dengan seluruh pakaian yang ada disini." sungguh malas meladeni gadis sok tahu itu. "Kenapa tidak sekalian saja kau membantu pemilik toko untuk menawarkannya pada pembeli di luar sana." jedanya. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kau tak perlu mengatakan nya. Mengerti nona?! Dan lagi, aku tidak miskin!" ucapnya mengakhiri perdebatan tak penting mereka.
"Huh!" dengan kesal gadis itu pergi meninggalkan Reychu yang mulai kembali memilih pakaian yang dia suka.
Dalam jarak yang masih terjangkau Reychu dapat mendengar gadis tadi menggerutu kesal seraya terus memaki dan menghinanya. Tapi, Reychu hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Apa-apaan dia itu?! Liu Ya. Kau lihat itu?! Bukankah dia amat menyebalkan! Dia pikir dia siapa?! Sudah kumuh, jelek, kotor, bau. Persis seperti gelandangan, bahkan mungkin dia saudaraan dengan pengemis menjijikkan di luar sana. Cih! Dasar tidak tahu diri!"
Perempuan yang di panggil Liu Ya itu hanya mengiyakan perkataan junjungannya. "Benar, nona! Dia sungguh tidak tahu malu! Beraninya melawan nona! Orang rendahan sepertinya memang tak pernah belajar jadi tak tahu apa itu sopan santun!" timpalnya sama saja dengan majikannya.
Reychu memutar bola matanya jengah mendengarnya. "Heh! Dasar orang-orang bodoh! Bahkan jika di bandingkan denganku. Kalian bukanlah apa-apa! Tidak tahu saja mereka kalau aku adalah permaisuri mereka! Ratu di kerajaan tempat mereka bernaung. Andai mereka tahu, aku penasaran seberapa lihai mereka menjilat! Hehehe..." sombongnya dalam hati.
Liu Ya menghampiri junjungannya setelah sesaat tadi beranjak untuk mengambil pesanan nonanya, lalu di bawa ke tempat nonanya berada.
__ADS_1
"Nona, belanjaan kita sudah di ambil dan saya juga sudah memisahkan antara hanfu milik nona dan milik nona Yu Rayan!" tutur Liu Ya sukses membuat pergerakan tangan Reychu yang masih memilah-milah terhenti seketika.
Matanya terbelalak mendengar nama itu atau tepatnya nama belakangnya yaitu, Rayan. Nama itu persis seperti nama sahabatnya. Seketika itu pula, kesadaran tentang namanya yang juga sama dengan nama pemilik tubuh yang ia gunakan menyentaknya, dengan keyakinan penuh ia percaya bahwa nama itu pasti nama pemilik tubuh yang di huni oleh sahabatnya yang centil dan penggemar pria tampan itu.
Secepat kilat ia menoleh guna melihat kearah gadis yang ia yakini berasal dari keluarga terpandang beserta pelayannya.
"Bagus! Nanti begitu sampai di rumah. Kau berikan hanfu itu untuk Rayan. Anak haram itu tetap harus tampil cantik di acara nanti." katanya yang terdengar jelas bahwa ada niatan terselubung di dalam kalimat nya.
"Rayan! Anak haram?!" gumamnya terkejut mendapati informasi tersebut. Bukan karena kata 'anak haram'-nya, melainkan kondisinya. Apakah sahabatnya itu ditempatkan di tubuh yang sama menderitanya dengan tubuh miliknya sekarang atau tidak?!
Jika benar...
Reychu tersenyum menyeringai misterius. "Kalau benar dia Rayan sahabat ku. Maka, aku hanya bisa berdoa semoga kalian sudah mempersiapkan mental yang ada. Karena, Rayan Monica bukan orang yang bisa di permainkan harga diri nya." gumamnya yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri. "Aku yakin. Hanfu yang di pesan itu tidak jauh dari kata buruk. Mungkin jauh lebih buruk dari hanfu pelayannya." kekehnya.
Ia melihat kedua perempuan itu keluar sambil membawa belanjaan nya.
Tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu. "Tadi, dia bilang Yu Rayan ya... Bukankah artinya Rayan yang sekarang bermarga Yu?! Wah... Ini akan jadi mudah untuk memastikan bahwa Yu Rayan memang benar Rayan Monica! Harus di selidiki secepatnya!" usai mengatakan itu ia pun bergegas mengambil pakaian yang sudah ada beberapa pilihan. Tanpa mau menunggu segera ia selesaikan urusan nya di toko baju ini dan setelahnya mencari penginapan untuk beristirahat.
Masalah sahabatnya bisa ia lanjutkan besok. Dia senang, pada akhirnya tanpa di minta sebuah petunjuk datang menghampirinya begitu saja.
Wajahnya di tekuk kesal. Duduk dengan menyilangkam tangannya di dada sambil menggerutu dalam hati. Kini ia tengah berada di dalam sebuah gubuk atau bisa di sebut gudang jerami. Ya, dia tinggal di sana. Gudang itu adalah rumahnya.
"Sialan! Sudah untung aku membelikan semua yang di butuhkan, masih saja di marahi! Memang minta di racuni! Sungguh sial!" nafasnya memburu.
"Cih! Si Ming Luo murahan itu juga, datang-datang sudah ikut campur. Apa itu tadi, berpura-pura membela tapi orang bodoh juga tahu dia sedang menyudutkan ku. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu." omelnya yang tak tahu sudah sepanjang apa.
Tadi, sepulang dari belanja atau lebih tepatnya sepulang dari mengerjai saudarinya ia bertemu seseorang yang menyebalkan di awal namun seketika sirna ketika ia tahu kalau dia itu adalah pria tampan. Obrolan tak jelas pun terjadi hingga secepat itu menjadi akrab dan entah apa yang terjadi pada pria itu, yang mana malah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Rayan tentu tak akan menolak tawaran pria tampan.
Sepertinya kejadian itu di lihat oleh salah seorang di kediaman Yu, sampai akhirnya dalam hitungan menit sudah tersebar. Rayan di marahi habis-habisan mulai dari terlambat pulang sampai di katai tak tahu malu karena berani menggoda pria hingga di antar pulang. Statusnya yang adalah anak haram pun di ungkitnya. Siapa yang tidak kesal.
"Menyebalkan! Sialan!" sesaat setelah mengumpat tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu di belakangnya segeralah ia menoleh dan benar saja. Kemunculan sesuatu di belakangnya sungguh mengagetkannya.
"AAAA...AHPP!! Hmm...!!" teriakan Rayan terhenti akibat di bekap oleh tangan besar seseorang yang muncul tiba-tiba itu.
"Jangan teriak! Atau kau akan dalam masalah!" bisik orang itu yang bila di dengar dari suaranya, dia adalah seorang pria karena ia menggunakan topeng. Rayan mengangguk mengiyakan.
Bekapannya pun di lepas, Rayan mendelik tak terima yang malah di balas cengiran lebar oleh pria yang entah darimana masuknya sesaat setelah topeng itu dibukanya, tiba-tiba sudah ada saja di belakangnya.
"Dan itu karena kau penyebabnya!" sarkas Rayan.
__ADS_1
"Hehehe... Baiklah aku minta maaf!"
"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Rayan beruntun.
"Itu rahasia. Yang pasti aku sudah disini. Jadi kau tak akan kesepian lagi." jawabnya asal dan mengerlingkan matanya menggoda tapi justru hanya di balas dengusan.
"Kau pikir aku gadis kurang belaian. Sampai butuh di temani agar tidak kesepian?! Dasar aneh!" memalingkan wajahnya yang masih muram. "Untuk tampan!" celetuknya yang mengundang kekehan pria itu.
Bergerak duduk di samping Rayan.
"Terimakasih pujiannya. Kau gadis pertama yang tanpa ragu atau pun malu memuji pria yang bahkan baru kau kenal. Sungguh mengesankan!" ia tersenyum mengingat awal pertemuan mereka.
"Tentu saja! Lagipula itu sudah kenyataannya, bukan?! Kalau kau memang tampan. Tapi, entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan dirimu!" tutur Rayan seraya mengelus dagunya berpikir.
"Oh benarkah?! Kalau begitu, beritahu aku. Apanya yang aneh dari diriku?" tanya antusias.
"Entahlah. Aku tidak tahu. Yang pasti aroma tubuhmu terasa berbeda... Tapi, apa. Aku pun tak tahu!" Rayan menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.
Pria itu terkekeh lagi. "Ah... Ternyata benar-benar bisa tercium, ya?"
"Hah!" mengernyit bingung sambil memandang pria yang tengah duduk di sampingnya.
"Eumm..." balas menatap. "Kau tahu! Sebelum aku datang kesini. Di jalan aku bertemu dengan seorang gadis yang tampak seusiamu. Tapi, parasnya manis meski wajahnya itu tak menunjukkan ekspresi apapun." terangnya.
Degh!
"Paras manis?! Tak memiliki ekspresi?!" ulang Rayan memastikan yang entah mengapa satu nama langsung terlintas di benaknya, yaitu Ryura.
Pria itu mengangguk. "Ya... Kami bertemu di kios buah." sambil mengangkat kemudian menyerahkan sekantung buah yang di belinya kepada Rayan. "Aku membelinya untukmu. Saat itu ku lihat dia juga membeli buah... Terjadi sedikit percakapan di antara kami." menghela nafas pelan. "Tapi, yang paling ku ingat adalah saat ia menyadari kalau aku bukanlah manusia biasa... Ah... Tidak, tidak... Lebih tepatnya ketika dia secara terang-terangan mengatakan siapa aku sebenarnya dengan santai. Itu sungguh mengejutkan ku. Saat ku tanya, dia malah menjawab kalau fakta itu tercium dari aroma tubuhku. Seperti yang kau katakan." jelasnya, tapi sayang tak menerima tanggapan apapun dari teman barunya Rayan. Yang dia lihat Rayan seperti tengah melamun.
"Hei! Kau, kenapa melamun begitu?!" melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rayan.
"Ah. Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja, ciri-ciri gadis yang kau sebut tadi mengingatkan ku akan sahabatku. Dia juga berparas manis dengan wajah tak berekspresi nya itu. Bukan hanya itu, dia itu entah karena tak memiliki aura atau apa. Sangat sulit mengetahui apapun tentangnya." jelas Rayan jujur.
"Kau benar. Dia persis seperti yang kau katakan. Saat aku di dekatnya pun aku tak bisa merasakan apapun dalam dirinya. Tapi, satu hal yang bisa ku pastikan. Bahwa dia tak bisa di remehkan." mengangguk setuju.
Sesaat mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Dengan Rayan yang memiliki firasat bahwa itu benar sahabatnya, Ryura.
Saat menyadari sesuatu ia terhenyak, menoleh kembali secepat kilat kearah teman pria barunya. "Kau bilang dia mengatakan kalau kau bukan manusia biasa? Memangnya siapa kau?" tanya Rayan penasaran, sejak pertama bertemu Rayan memang sudah merasa ada yang aneh dari pria bertopeng rubah itu. Tapi tak tahu apa yang aneh.
Teman prianya itu tersenyum misterius.
__ADS_1
"Karena kau sudah berhasil menarik perhatian ku. Maka, akan aku beritahukan padamu tentang siapa aku sebenarnya..."