
Klotak!
Klotak!
Klotak!
Wush!
Suara hembusan angin yang terbelah akibat dihantam oleh terjangan seorang penunggang kuda yang melajukan kudanya dengan amat cepat terdengar begitu bergemuruh, dipadukan dengan malam gelap yang dinginnya teramat menusuk. Dingin yang mampu membunuh siapapun apabila orang tersebut tidak mampu bertahan ditengah suhu rendah kawasan negeri Lembah Beku.
Tapi, semua itu tidak berlaku untuk penunggang kuda tersebut.
Dia dengan percaya dirinya bergerak bersama kudanya yang besar nan gagah menembus tajamnya udara dingin malam itu.
Tak berapa lama setelah menjauh dari kediaman tempatnya tinggal selama menetap di tempat dingin ini, ia menghentikan laju kudanya dengan gesit dan rapi.
Berdiam seorang diri disana bersama kudanya sambil menatap lurus ke depan yang menjadi satu-satunya akses masuk menuju Sekte Salju Perak, dimana sisanya adalah lembah yang sering merenggut nyawa manusia yang gagal melewatinya.
Ditengah-tengah kesunyian yang menyelimuti, akhirnya sebuah suara terdengar juga.
"Jarak ini kupikir sudah cukup untuk tidak membiarkan orang-orang itu mengetahui apa yang akan terjadi sebentar lagi." ujarnya melalui telepati dan orang-orang yang dimaksud adalah pada penghuni Sekte dan Kediaman Ye.
Ya, dia adalah Ryura dan Furby.
Terbiasa akan diamnya Ryura, Furby tidak lagi ambil hati. "Kenapa sulit sekali mendapatkan hari tenang?!" tanyanya tak berharap mendapatkan sahutan dari sahabat manusianya sekaligus tanpa melepas kewaspadaannya terhadap sekitar.
Dia hanya menggerutu kesal lantaran mendapati kehidupan sahabatnya sering dibuat tidak tenang oleh orang-orang yang tidak jelas apa mau mereka dengan mengusik ketenangan hidup sahabatnya.
Lama hening di antara keduanya. Furby akhirnya mendapatkan pertanda.
"Mereka sudah hampir dekat!" katanya seraya bersiap. Ryura memang masih dalam diamnya, tapi cukup tahu kalau sebenarnya dia juga sudah siap.
Siap menyambut pengganggu.
Di sisi lain jalan tersebut, orang-orang yang dinantikan sedang melesat menuju Kediaman Ye tanpa tahu kalau kedatangan mereka sudah ditunggu oleh seseorang yang mereka targetkan sebelumnya.
Sepertinya menyenangkan saat membayangkan kebodohan yang sedang dan akan terjadi. Niat awal ingin menjatuhkan target kini malah dinantikan oleh target itu sendiri di tengah jalan.
Ketika jarak kian mendekat, Ryura melompat turun dari punggung Furby kemudian mengeluarkan pedang pusaka putih dari tangannya.
Pedang itu walau dikeluarkan dalam keadaan gelap, dia akan tetap memiliki cahayanya sendiri. Tidak terang ataupun redup.
Sekelompok pembunuh bayaran itu kian mendekat. Saat jarak sudah masuk kedalam radius kurang dari 30 meter, segera Ryura menebas tumpukan salju yang menumpuk di tanah -hingga menghalangi akses jalan yang ada- dalam satu garis melintang.
SRAAAHHK...!
Gerakan tersebut yang di padukan dengan energi internal sukses menciptakan gelombang salju yang langsung menyerbu dengan ganasnya kearah sekelompok orang dari organisasi pembunuh bayaran tanpa peringatan apapun.
AAAKHH...!
Pekikan bergilir namun serempak disaat bersamaan segera terdengar setelah hantaman tersebut terjadi dan menimpa mereka. Si pelaku -Ryura-, dengan ekspresi datar yang tak peduli malah berdiri dengan gagahnya di tengah-tengah kabut yang tercipta akibat ulahnya sendiri.
Anggap saja itu adalah ritual penyambutan tamu tak diundang.
Sorot mata hitamnya yang tak terbaca namun tajam bak sebilah pedang baru terpancar menembus kabut dingin malam ini langsung diarahkan kepada sekelompok yang sedang meringis kaget dan tak percaya bisa mendapatkan serangan dadakan. Dibelakang Ryura Furby pun tak kalah gagah berdiri seraya menatap penuh kebencian terhadap sekelompok orang tak diundang itu.
Tak habis pikir olehnya, kenapa ada saja orang yang suka mengganggu ketenangan hidup orang lain. Terlebih ini ditujukan untuk mengganggu hidup Ryura yang sebenarnya tak pernah sedikitpun mengusik hidup orang lain.
Furby sendiri jadi tidak sabar dengan apa yang akan sahabat manusianya itu berikan kepada sekelompok pembunuh bayaran tersebut sebagai bentuk pembalasan darinya karena sudah berani mengganggu ketenangan hidupnya.
"Sial! Siapa yang berani-beraninya menghalangi jalanku?!" amuk seorang pria yang diyakini adalah pemimpin dari organisasi pembunuh bayaran itu.
Dia meronta dengan marahnya sambil mengusap kasar tubuhnya yang tertutup salju. Saat ini tubuhnya diselimuti oleh butiran salju yang cukup banyak.
__ADS_1
Dan ditengah cuaca dingin yang ekstrim ini, wajah pria itu masih memiliki kemampuan untuk memerah karena marah.
Dengan susah payah ia mencoba bangkit dari tanah tempat ia dihempaskan tadi sebab tumpukan salju menyelimuti tubuhnya. Para bawahannya pun melakukan hal yang sama sembari meringis ngilu juga dingin.
Mereka merasa, tubuh mereka nyaris membeku.
Bagaimanapun ini adalah Lembah Beku. Sekuat-kuatnya mereka dalam tingkat kultivasi, tetap saja bila memasuki area kerajaan Lembah Beku tidak semua kultivator bisa bertahan meskipun mereka berada di tingkat tinggi sekalipun. Karena, Negeri Lembah Beku memiliki energi alam yang tidak bisa dianggap remeh.
Setelah berhasil menegakkan tubuhnya yang sedikit limbung sebelumnya, segera dari sudut matanya ia melihat sesosok manusia berhanfu putih berdiri bersama kudanya tak jauh darinya. Meskipun jarak dan kabut mengikis penglihatan, sebagai seorang kultivator hebat ini bukanlah apa-apa.
Ia segera tahu siapa yang menghalangi jalannya. Tapi, yang membuatnya tertegun sejenak adalah kala mengetahui kalau penghalang jalannya tak lain tak bukan yaitu seorang gadis. Dan yang lebih mencengangkan adalah saat dia menajamkan penglihatannya dengan lebih seksama, saat itu juga ia baru tahu...
Kalau sosok gadis didepannya adalah... Sang target.
Target yang sebelumnya dimintai seseorang untuk mereka lenyapkan.
Pemimpin organisasi pembunuh bayaran itu tak bisa tida terkejut, terutama saat akalnya memberitahunya kalau ada kemungkinan dia sudah menantikan kehadirannya disini menilik dari bagaimana sosoknya tampak sudah siap untuk membalas dendam atas perbuatannya tempo hari.
Tetapi, meskipun begitu ini masih tidak bisa ia mengerti. Bagaimana bisa dengan begitu mudahnya gadis itu mengetahui semua yang terjadi belakangan ini?
Kecuali dia monster.
Bila demikian, sepertinya pemimpin organisasi pembunuh bayaran itu tidak akan ragu untuk percaya betapa hebatnya gadis itu dalam menemukannya tanpa repot-repot mencari.
Tapi, di depannya saat ini tampilan gadis itu -Ryura- tidak lebih dari sekedar gadis muda biasa yang bahkan masih perlu bimbingan belajar. Seandainya lagi dia tidak tahu kalau kuda dibelakang Ryura bukanlah kuda sembarangan.
Dia tahu kalau itu adalah sebangsa siluman.
Itu adalah Kuda Bulan.
Dulu ia pernah mendapatkan tugas untuk menangkap Kuda Bulan tersebut, tapi memilih menolak karena merasa bayarannya tidak akan pernah bisa sesuai sebab menangkap hewan yang memiliki pemikiran sendiri jauh lebih sulit dari pada hewan liar biasa.
Sedikit tidak menyangka kalau ternyata target mereka adalah seorang Penunggang Kuda Bulan.
Ada yang mengejutkan baginya saat melihatnya. Dari hasil pengamatannya yang tajam, dia mendapati Ryura tidak bisa dikategorikan sebagai gadis biasa dan sama sekali berbeda dari yang tergambar dalam potret lukisannya. Dia tidak bisa merasakan auranya selain sosoknya yang terlihat didepan matanya saat ini.
Dia bahkan tidak bisa merasakan tatapan mata itu diarahkan kepadanya seandainya saja dia tidak balas menatapnya.
Ini cukup mengesankan juga menyebalkan.
Sebagai dua pihak dikubu yang berlawanan, pemimpin organisasi pembunuh bayaran itu merasa agak terancam. Meski dia tidak menganggap serius pemikirannya tadi, bukan tidak mungkin gadis didepannya ini memang demikian.
Jadi, dia tetap harus waspada.
Dia sudah berusaha mencari jejak kehadirannya, tapi tidak bisa ia rasakan bahkan dari udara sekalipun.
Gadis itu -Ryura- seperti seonggok tubuh yang tampak hidup tapi sebenarnya mati atau kosong tanpa jiwa. Ibu benar-benar mengejutkannya.
Hal ini juga akhirnya membuatnya menyadari, tidak heran mengapa dia tidak merasakan kehadiran gadis itu yang bila dia amati lebih dalam ia yakin kultivasi gadis itu sendiri bahkan tidak bisa mengancamnya.
Jangan bicarakan kuda bulan dibelalang Ryura. Dia memiliki kemampuan untuk menyembunyikan jejak kehadirannya, apalagi mengingat dia juga bukan sembarang siluman.
Dia adalah siluman dengan level tingkat tinggi. Kultivasinya bisa dikatakan setara dengan kultivator hebat serupa pimpinan organisasi pembunuh bayaran didepannya ini.
Mata para bawahannya yang pernah melihatnya pun dibuat terbelalak tak menyangka. Ternyata, target organisasi mereka dapat lolos dengan mudah. Ini memberikan mereka pengingat bahwa ada kemungkinan kalau sang target bukanlah gadis biasa.
Dengan gagap bawahannya yang menjadi kaki tangannya selama ini menjawab. "Tu..tuan... Di...dia target kita sebelumnya! Dan dia masih hidup?!" tak ada yang percaya, kalau pada akhirnya ada juga yang dapat melepaskan diri dari sasaran kelompok organisasi pembunuh bayaran.
Kilatan tajam bangkit di kedalaman mata sang pimpinan. "Lalu, apa! Karena dia yang datang sendiri kesini... Kita jadi tidak perlu bersusah payah mencarinya. Dia memilih mengantarkan nyawanya padaku tanpa perlawanan. Hahaha..." dia berkata dengan sinisnya tanpa melepaskan pandangannya dari Ryura seolah-olah bila dia alihkan Ryura akan langsung menghilang.
Dia berkata begitu setelah menepis semua keresahan dihatinya yang berpikir bahwa Ryura lebih kuat darinya. Dia bahkan menganggap orang-orang yang dia kirimkan sebelumnya hanya sedang kurang beruntung karena bertemu dengan target yang sedikit lebih kuat dari mereka.
Dia juga tidak berpikir untuk takut menghadapi Ye Zi Xian sang pimpinan Sekte. Dikarenakan, dia menyadari bahwa sampai saat ini pria itu tidak mengerahkan orangnya untuk menyerang dirinya. Hal itu membuat dia berpikir kalau ada dua kemungkinan.
__ADS_1
Pertama, pria itu tidak tahu mengenai bergeraknya organisasi pembunuh bayaran untuk melenyapkan calon istrinya atas permintaan ibu sambungnya.
Atau yang kedua, karena pria itu tidak peduli pada hidup matinya gadis didepannya ini.
Tapi, setelah dipikir-pikir. Opsi kedua memiliki kemungkinan yang hampir tidak ada. Itu disebabkan, karena Meng Pei Yun sendiri bergerak untuk melenyapkan Ryura. Itu saja sudah menjelaskan seberapa kuat posisi Ryura terlepas dari dia memang gadis yang terpilih oleh pedang pusaka Keluarga Ye.
Jadi, kemungkinan nyatanya ada di opsi pertama.
Fakta ini memberinya keuntungan tersendiri. Karena, bila saat ini ia berhasil membunuh Ryura, dia tidak hanya merasa lega atas balas dendamnya tapi juga merasa puas karena tugas yang dibayar telah tuntas. Belum lagi, saat tahu ada kemungkinan dia dapatkan juga kuda bulan itu tanpa perlu mencarinya lagi dan nantinya dia bisa melelangnya di pasar gelap dengan harga tinggi.
Memastikan juga kalau pihak kerajaan Bulan tidak mengetahuinya.
Siapa bangsawan yang tidak menginginkan kuda bulan itu?
Sementara itu, dia melupakan fakta bahwa Kediaman Ye sedang dalam kondisi panas-panasnya. Dia tidak berpikir, bila nanti Ye Zi Xian mendapati Ryura mati kedua sahabatnya -Rayan dan Reychu- pasti juga tidak akan tinggal diam sehingga akan memberitahunya kebenaran yang mereka simpan selama ini.
Pada akhirnya, Ye Zi Xian akan mengejar organisasi pembunuh bayaran itu dan balik melenyapkannya sebagai bayaran atas kematian Ryura-nya.
Itu setimpal bukan?!
Dan pada akhirnya, tidak ada kemenangan sama sekali.
Amarah Furby melonjak naik begitu mendengar apa yang dikatakan pria didepan sana sampai dia mengumpat didalam.
"B*doh! Benar-benar b*doh! Kalian sendiri yang mengantarkan nyawa kalian kepada kami bukan sebaliknya, kalau kalian ingin tahu! Betapa b*dohnya! Cih!"
Ryura sendiri tak peduli apa yang dikatakan oleh kelompok organisasi pembunuh bayaran itu, tapi dia tanpa diduga angkat bicara.
"Berapa?"
"?" sekelompok orang itu tak bisa tidak menimbulkan tanda tanya didalam benak mereka saat mendengar suara rendah Ryura yang tengah bertanya.
Sambil mengerutkan kening, sang pemimpin organisasi pembunuh bayaran itu bertanya balik. "Wahai gadis, apa kau bisu? gagap? atau apa? tanyakan dengan jelas! Percuma memiliki wajah yang rupawan kalau ternyata kau memiliki gangguan bicara. Hahaha...!" dia tertawa meledek pada akhirnya.
Mendengar itu Furby semakin marah, tapi Ryura mengisyaratkan padanya untuk tetap diam melalui telepatinya.
"Sekelompok b*jingan!" umpat Furby lagi. Dia sangat marah pada apa yang dikatakan oleh kelompok tersebut.
Ingin rasanya dia langsung memberikan mereka pelajaran agar mereka jera.
Disisi lain Ryura tetap tenang dan tidak terpengaruh sedikitpun. Dia justru tampak dengan sabar mengulang kembali pertanyaannya dengan yang lebih jelas.
Bagaimana bisa satu kata yang ia tanyakan tidak dapat dimengerti? Apa mereka bodoh?
"Berapa harga untuk membunuh ku?"
Baru saat itulah sang pemimpin organisasi pembunuh bayaran itu mengerti.
Sebelah alisnya terangkat, ia menjawab dengan nada sombong. "1000 tael emas! Mahal bukan?!"
"1000 tael emas?"
Ryura mengulangi tiga kata itu dengan nada datar tapi kali ini mengandung hinaan yang nyaris tidak terdeteksi. Tapi, Furby dibelakangnya dengan posisi yang paling dekat sempat menemukan hal itu.
Segera Kuda Bulan itu membelalakkan matanya tak percaya.
"Apa dia baru saja menghina?"
Namun, sayangnya pada pria dari organisasi pembunuh bayaran tersebut tidak mengetahuinya.
Mereka masih bisa memberikan tatapan merendahkan kepada Ryura, karena harga yang diberikan Meng Pei Yun untuk membunuhnya.
Benar-benar!
__ADS_1