3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
TAMPARAN PERTAMA


__ADS_3

Jiang Wanxi merasa tertarik untuk menyaksikan gadis berpenampilan lollipop ini mempermalukan diri sendiri. Alhasil, dia menunda membeli barangnya sejenak untuk melihat sampai mana Rayan bisa bertahan dengan wajah sumringahnya tadi.


"Nona, anda seharusnya masih memiliki kartu yang lain, kan? Saya yakin anda tidak akan kesini kalau anda tidak memiliki uang." tanya Jiang Wanxi berbaik hati seolah-olah dia sedang ingin membantu Rayan untuk menyelamatkan muka dari rasa malu.


Ada kilatan bahagia diatas penderitaan seseorang dalam tatapan mata Jiang Wanxi yang tidak disadari oleh yang lain, tapi tidak dengan 3Ry.


Kilatan itu jelas mereka lihat.


Rayan yang suasana hatinya turun langsung mengambil kesempatan untuk menampar wajah sok baik Jiang Wanxi yang tidak tahu malu menurutnya. Alasan lain dia menyerang wanita itu, karena dia bagian dari Jiang.


Rayan pun berakting. Kegugupan mulai terlihat seperti kaget karena kartunya tidak bisa digunakan. Dengan kikuk dan was-was, Rayan mengambil kartu dari tangan pegawai itu dan menggantinya dengan yang lain. Menurut kebiasaan Reychu, dia harusnya tidak hanya memblokir satu kartu.


"Pakai ini saja. Hh..." nada suaranya sarat akan harap-harap cemas.


Beberapa saat kemudian, seperti dugaan Rayan. Pegawai itu kembali dari melakukan transaksi pembayaran dengan wajah kian memburuk.


"Maaf, Nona. Tolong serius lah." kesabaran pegawai itu mulai menipis.


Disisi lain, Jiang Wanxi menutup mulutnya guna menutupi tarikan sudut bibirnya yang tak bisa ia tahan. Entah kenapa, dia sangat senang melihat Rayan menyedihkan.


Para pelanggan yang masih disana mulai tertarik pada kejadian itu. Bisik-bisik pun mulai bertebaran. Semuanya penuh dengan ejekan untuk Rayan dan dua sahabatnya karena berlagak mampu.


Tak terpengaruh sedikitpun, aktingnya juga terus berlanjut.


Dibawah tatapan banyak orang, Rayan terlihat seperti tengah menahan malu. Hal itu menambah yakin orang-orang bahwa dia memang sedang mempermalukan diri sendiri. Tatapan menghina, jijik, dan merendahkan tak ayal ditembakkan langsung kearah Rayan paling banyak.


Bahkan Reychu si biang keladi juga menunjukkan ekspresi yang sama tanpa rasa bersalah sampai Rayan yang melihatnya tak sabar untuk segera menggaruk wajah Reychu yang menyebalkan itu.


Jangan tanya soal Ryura, dia diam dan hanyut dalam dunianya sendiri. Matanya tak lepas dari layar ponsel barunya. Entah apa yang dilakukan wanita itu.


Dengan tangan bergetar, Rayan kembali menyodorkan kartu lainnya dengan ekspresi yang sudah tak karuan. Pegawai yang melayani saja sampai kehilangan kepercayaan, namun tak bisa langsung menolak atau bahkan mengusir mereka karena bisa jadi kartu yang ketiga ini benar-benar bisa digunakan. Bila dia bertindak berlebihan, bukankah dia sendiri yang akan rugi apalagi bila sampai tempat kerjanya dianggap tidak mempekerjakan orang yang benar.


Jadilah, dengan sedikit kesabaran si pegawai wanita itu mengambil kartu ketiga Rayan dan kembali melakukan transaksi pembayaran.


Jiang Wanxi masih terus menantikan dari samping. Penghinaan dimatanya nyata.


Prak!


Rayan bertindak seolah terkejut melihat pegawai tersebut datang dengan kemarahan seraya menampar meja kasir dengan kartu milik Rayan.


"Jangan main-main, Nona! Kalau anda tidak sanggup membayar, jangan datang kesini! Toko kami tidak menerima orang sok kaya yang bahkan masih punya muka untuk datang ketempat yang tak sepantasnya dia datangi!" amukan pegawai tersebut akhirnya pecah juga.


Orang-orang disekitar heboh seketika. Rayan juga masih dalam aktingnya yang benar-benar natural. Saat ini, Rayan ketakutan dan merasa malu.

__ADS_1


Reychu dari tempatnya duduk langsung bergerak cepat untuk membuka blokiran kartu milik mereka. Karena menurutnya, tiga kali sudah cukup. Ryura di sebelah juga baru mengangkat pandangannya kearah Rayan yang menjadi objek penindasan orang lain dalam diam.


Keduanya tak bergerak meski sudah melihat betapa menyedihkannya kondisi Rayan yang tersudut. Tapi, apa boleh buat bila memiliki teman seperti Reychu dan Ryura.


"A..aku..." gagap Rayan lantaran takut.


Orang-orang disekitarnya pun turut mencibir.


"Ya ampun. Darimana datangnya perempuan itu? Dia tidak mampu?"


"Cih. Nyalinya seberani penampilannya. Tidak tahu malu!"


"Lihatlah. Dia persis seperti badut. Haha."


"Mungkin dia terlalu berhalusinasi menjadi orang kaya. Jadi, begitulah... Ckckck..."


"Beruntungnya dia bukan saudara ataupun temanku. Aku akan sangat malu kalau sampai memiliki kenalan seperti dia. Hiih... Memalukan!"


Rayan kian menciut malu mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan orang ramai untuk dirinya. Tapi, dalam hati dia berujar tak sabar. "Huh! Lihat saja bagaimana aku akan menampar wajah kalian semua dengan kenyataan yang sebenarnya. Jangankan kartu biasa seperti itu, aku bahkan punya yang lebih bagus sampai kalian tak akan pernah membayangkannya atau bahkan tidak bisa berharap untuk memilikinya. Huh. Beraninya menghina!" nyinyir Rayan jengkel juga melihat betapa sombongnya orang-orang ini.


Tak tahu saja mereka kalau Rayan memiliki Titanium credit card pemberian suaminya untuknya agar digunakan sepuasnya untuk kesenangan dirinya sebagai istri seorang Shin Da Ming.


Huh!


Tiba-tiba suara Jiang Wanxi menyela bagaikan pahlawan kesiangan. Rayan pun menoleh kearah wanita bermuka dua disebelahnya yang sejak tadi diam kini malah bersikap layaknya seseorang yang berhati mulia.


Mau muntah Rayan rasanya. Huwek!


"Teman-teman sekalian. Tolong jangan bicara seperti itu. Toh, kita tidak tahu mengapa Nona ini bisa bertindak sampai seperti ini. Tidak baik bagi kita untuk menghakiminya begini. Siapa tahu Nona ini benar-benar mampu hanya saja kartunya sedang bermasalah."


Pembelaan yang dilakukan Jiang Wanxi menarik hati banyak orang yang melihatnya. Tapi, Rayan yang paling tahu nyaris memutar bola matanya jengah melihat tipu muslihat yang dengan mudah dipercayai oleh orang-orang bod*h itu.


Tak habis pikir Rayan. Kenapa penulis LeoRa_ bikin cerita kayak begini siih?! Pusing pala Rayan.


"Benar begitu kan, Nona?" lemparnya seolah menyuruh Rayan untuk bekerjasama kalau tidak dia sendiri yang akan menanggung malu.


Tapi, bagaimana Rayan mau ikut bekerjasama?


Dengan kikuk Rayan mencoba menjawab. "Bu..bukan be..begitu..." ekspresinya sangat kebingungan.


Di mata Jiang Wanxi, Rayan sedang tak berani mengakui. Jadi, dia terus mendesaknya.


"Nona, jangan khawatir. Yang tadi pasti salah paham. Semuanya akan mengerti. Jadi, katakan saja yang sebenarnya. Saya yakin Nona pasti tidak ingin mereka terus salah paham dengan mengatakan Nona tidak sanggup membayar kan? Tenang saja, Nona. Saya pasti akan membantu meluruskan kesalahpahaman ini juga bersama Nona." Jiang Wanxi terus mendorong Rayan berharap agar tidak mendapatkan jalan keluar.

__ADS_1


Jiang Wanxi terus menampilkan sosok baik hatinya, tentu agar belangnya tidak terlihat. Dia pun akan selalu tampil sebagai Nona muda keluarga Jiang yang baik hati demi menjaga image-nya tetap bagus di mata orang lain.


Tapi, sayangnya lawannya itu salah seorang dari 3Ry. Pembunuh bayaran yang sekali kerja bayarannya sangat fantastis. Gaji Jiang Wanxi perbulannya kalah jauh dari penghasilan 3Ry.


"Bu..bukan seperti itu... Kalian salah paham..." belum usai Rayan menjelaskan, Jiang Wanxi sudah menyela.


"Kalian dengar kan? Ini benar-benar salah paham."


Bola mata Rayan rasanya tak lagi kuasa untuk tidak di putar mendengar selaan wanita didepannya saat ini. Jika dia bukan Rayan, dia mungkin mau berbaik hati untuk mengingatkan Jiang Wanxi agar tidak terlalu banyak bicara atau dia akan benar-benar merasakan apa itu malu.


Tapi, ia Rayan. Menjatuhkan lawan adalah yang akan dia lakukan.


"Nona, bisakah jangan menyela dulu. Anda dan semuanya salah paham. Saya bukannya tidak mampu membayar. Tapi tampaknya saya sedang di kerjai oleh teman saja." semua orang mulai berpikir Rayan tengah beralasan meski sudah melihat Rayan melirik Reychu yang bersikap seperti tidak mengenalnya.


Minta di cakar Reychu itu!


"Ya ampun, Nona. Apa sekarang anda ingin berkilah. Siapa yang percaya!" cetus salah seorang diantara kerumunan orang yang menonton.


"Sungguh. Ini, gunakan yang ini. Dijamin pasti bisa." yakin Rayan dengan raut wajah menunjukkan bahwa dia tidak bersalah sambil menyodorkan sebuah kartu platinum.


Seketika semua yang melihatnya kaget. Bahkan Jiang Wanxi juga ikut terkejut sampai dia memiliki firasat buruk sekarang.


Pegawai yang tadi marah-marah pun diam membisu. Reychu yang menonton tak kuasa menahan tawanya hingga menarik perhatian semua orang yang menonton.


"Astaga! Astaga! Astaga! Apa kalian bawa cermin? Cepat lihat bagaimana ekspresi wajah kalian saat ini! Hahaha! Kocak sekali! Apa itu? Malu, ya? Hahaha...! Ya ampun, aku tidak berpikir mengerjai sahabat ku akan mendapatkan bonus keseruan seperti ini! Hahaha...! Ayo, silakan lanjutkan lagi. Tolong jangan kecewakan penonton, ya! Hahaha!"


Wajah semua orang memerah, ingin marah tapi tidak bisa karena sadar kalau mereka yang terlalu suka ikut campur dengan masalah orang lain hanya karena ingin menonton keseruan. Tanpa menyadari kalau keseruan itu letaknya ada pada diri mereka sendiri. Jiang Wanxi pun tak jauh berbeda, dia sampai mengepalkan kedua tangannya saking merasa terhinanya dia. Tidak terpikirkan olehnya kalau dia yang awalnya ingin melihat Rayan dan dua sahabatnya mempermalukan diri sendiri malah dia yang masuk perangkap dengan ikut berperan didalamnya.


Dia merasa seperti badut yang ditertawai.


Dia yang sejak awal memiliki ketidaksukaan yang tidak jelas pada 3Ry, kini menjadi lebih dari itu. Dia membenci 3Ry karena telah membuat dia malu.


Rayan yang melihatnya segera melayangkan kedipan mata yang seolah berkata 'seru kan?'. Kepala Jiang Wanxi berasap seketika saking marahnya dia.


Dengan perasaan kikuk dan malu serta merasa bodoh telah menjadi tidak sabar, si pegawai segera menyelesaikan pembayaran agar 3Ry bisa lekas pergi atau dia akan mendapatkan masalah karena gagal bersikap yang sepantasnya pegawai toko bersikap.


"Ehm... N..nona, ini kartunya saya kembalikan beserta struknya. Pembayaran sudah selesai. Terimakasih sudah datang ke toko kami! Silakan datang lagi!" Pegawai itu sampai bicara tergagap-gagap.


Rayan tahu apa sebabnya, karena tak ingin memperpanjang masalah sepele segera dia dan dua sahabatnya beranjak pergi. Namun, sebelum itu Rayan sempat menghampiri Jiang Wanxi yang masih membeku ditempatnya dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya.


"Jadilah, orang baik dengan benar, Nona. Tidak baik terus-terusan memainkan tipu muslihat dan berpikir bahwa anda selalu bisa mengelabui orang lain. Tidakkah anda terlalu sombong?! Hhh..."


Usai berkata begitu, Rayan dan dua lainnya benar-benar pergi dan Jiang baru kembali normal setelah 3Ry tidak lagi terlihat disana. Seketika, suasana hati Jiang Wanxi anjlok. Dia marah dan membenci wanita berpenampilan lollipop itu karena berani mempermainkannya.

__ADS_1


Dia lupa kalau dia juga suka mempermainkan orang lain.



__ADS_2