
Pagi cerah dengan masih berselimutkan kabut walau tak begitu tebal, cukup mampu memberi kesejukan jasmani. Udara yang bersih, tetumbuhan yang tampak segar berhias embun, di temani berbagai binatang alam yang menjadi penyempurnanya. Tapi, sayang hal itu tak di anggap berarti apa-apa oleh seorang gadis yang kini sedang duduk tenang tanpa gangguan di bawah pohon bersama seekor kuda hitam gagahnya.
Matanya terpejam layaknya orang yang tengah tidur, nyatanya tidak karena ia sudah bangun sejak fajar tadi dan memilih bersantai. Dia hanya memejamkan matanya tanpa ada yang tahu hal apa yang tengah di pikirkannya.
Terus seperti itu hingga matahari mulai sedikit meninggi dan cahayanya mulai terasa semakin hangat. Tapi gadis itu tetap tak bergeming di bawah pohon yang lumayan rindang sambil bersandar.
Tak jauh berbeda dengan kudanya. Sekalipun mereka menganggap hubungan di antara mereka adalah hubungan pertemanan tapi tetap saja, hubungan manusia dan hewan lebih cocok di sebut majikan dan peliharaan. Namun hal itu tak berlaku untuk mereka.
Lama saling berdiam diri, Furby pun memilih membuka suara lebih dulu melalui telepati.
"Ryura, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Sejak pulang dari istana kau tidak kembali ke rumah keluarga mu dan malah ke sini. Meskipun aku sama sekali tidak keberatan, karena aku bisa selalu bersamamu."
Yang di tanya masih diam dan kuda gagah hitam itu tak masalah akan hal itu. Walaupun pertemuan mereka singkat Furby merasa sudah dapat memahami karakteristik teman manusia nya ini, meski tak jarang iapun sering jengkel sendiri.
"Aku tidak tahu." tiga kata itu cukup untuk membungkam tanda tanya di kepala Furby, meski sedikit menjengkelkan.
"Ah ya... Apa keluarga mu tidak mencari mu? Kau tidak pulang sama sekali sejak kembali ke ibukota." tanya Furby lagi karena tahu bahwa ibukota adalah tempat Ryura berasal dengan mengabaikan perasaan dongkol nya meski ia sudah bisa memahami sifat teman manusia nya itu. Tapi setidaknya ada poin plus yang di tangkap oleh kuda itu mengenai sosok Ryura, yaitu seorang Ryura tak pernah pelit bicara hanya saja ia akan bicara bila ada yang mengajaknya bicara dan pembicaraan itu cukup memenuhi syarat untuk dijawab, bila tidak siapapun bisa membayangkan kalau bibirnya itu akan tertutup untuk waktu yang lama.
"Aku tidak punya keluarga." Furby mengangguk paham dengan mata tetap terpejam. Bukan berarti ia percaya akan kalimat yang Ryura lontarkan, tapi ia hanya menganggap bahwa teman manusia nya itu tidak begitu peduli dengan kata Keluarga. Mungkin?!
Sesaat kemudian, mata hitam legam milik Furby terbuka dan spontan ia memutar kepalanya untuk melihat teman manusia nya yang masih saja tidur bersandar di batang pohon.
"Eh, Ryura. Kau tidak mencari temanmu yang bernama Reychu itu? Semalam kau dengan berani mempertanyakan nya pada kaisar tanpa peduli tentang nyawamu. Itu benar-benar sesuatu yang langka untuk manusia yang tidak memiliki kedudukan sepertimu." katanya tanpa maksud menyinggung temannya.
Mendengar itu kedua mata Ryura pun terbuka, tapi tetap melihat lurus kedepan. Wajahnya datar tanpa ekspresi, matanya bahkan tidak memancarkan apapun hingga tak bisa di selami guna mencari tahu sesuatu di dalamnya, tidak juga ada aura yang keluar untuk mempermudah orang lain merasakan tentang Ryura.
Dia bak tempurung yang kosong.
"Tidak!" singkatnya. Sungguh acuh tak acuh dia.
"Hah! Kenapa? Padahal semalam kau terlihat sangat ingin mengetahui keberadaannya." tanya Furby heran. Entah mengapa Furby mulai terlihat cerewet, tapi sepertinya Ryura tak begitu menanggapi hal itu. Mungkin karena dia sudah terbiasa di kelilingi oleh dua sahabatnya yang banyak mulut itu.
"Dia ada di sekitar sini." Furby tampak bingung namun tetap mengangguk mengerti dan kembali memejamkan matanya. Menilik kembali siapa itu Ryura membuatnya paham bahwa gadis itu memiliki insting dan feeling yang kuat bahkan mungkin melebihi dirinya.
Keduanya kembali larut dalam kesunyian sampai Ryura tiba-tiba saja beranjak berdiri membuat Furby tersentak dan ikut terbangun.
Kuda itu mulai memandang penuh tanya ke arah Ryura yang tengah mengibaskan pakaiannya yang sedikit kotor oleh tanah yang menempel di bagian belakangnya.
"Kita pergi!" perkataan singkat itu membuat Furby segera bangkit ke sisi Ryura dan segera saja gadis datar itu menaikinya tanpa kata. Furby mulai terbiasa dengan hal itu.
Mereka pun melangkah pergi menjauhi tempat peristirahatan semalam.
"Hahahaha..." suara tawa pecah di antara kedua gadis yang tengah berkeliling di pasar setelah tadi menyantap sarapan pagi menjelang siang mereka.
Bagaikan dunia milik berdua, keduanya sama sekali tidak mempedulikan pandangan orang-orang disekitar mereka yang memandang mereka rendah karena tak punya sopan santun sebagai seorang gadis akibat tertawa begitu lepasnya seolah tanpa beban.
"Hahaha... Malangnya nasib kita, Ray. Aku tidak percaya kita yang luar biasa ini dulunya malah terdampar di tubuh gadis malang. Ckckck..." kata Reychu setelah sebelumnya mereka bertukar cerita mengenai pemilik tubuh yang sekarang ini mereka tempati.
Bukannya sedih ataupun miris Reychu justru merasa ini akan menjadi kisah yang paling seru untuk dijalaninya selama hidup di masa kuno ini yang mungkin malah akan menjadi kehidupan tetap hingga maut menjemputnya.
Berbeda dengan Rayan yang malah kesal karena pemilik tubuh yang ditempati nya di jadikan budak oleh keluarganya sendiri. Tapi, positif nya adalah parasnya yang sama sekali tidak mengecewakan Rayan yang memang tipikal gadis yang menjaga penampilannya.
__ADS_1
"Dasar kau ini! Tidak bisakah kau ganti raut wajah mu menjadi seperti ku agar setidaknya terlihat kalau kau juga merasa hidup kita kali ini sangat menyedihkan." omel Rayan.
"Kenapa? Apa yang salah dengan itu? Lagipula, faktanya adalah kita terjebak di masa yang jauh dari kata mudah ini. Kau mau mengomel sepanjang jalan tol pun tak akan mengubah kenyataan bahwa kita harus memulai hidup baru di masa ini. Jangan mengeluh! Dan lagi, seandainya Ryura juga ada bersama kita. Apa menurutmu dia akan menjadi banyak mulut seperti dirimu? Aku bahkan yakin 100 persen kalau dia malah bisa dengan mudah beradaptasi mengingat dia dulunya saja sudah hidup serba manual." balas Reychu sampai tanpa sadar menyebut nama sahabatnya yang belum mereka temukan.
Rayan menoleh cepat menatap Reychu yang ada di sampingnya, dia bahkan sampai menghentikan langkahnya karena merasa mengingat sesuatu.
Reychu yang merasa meninggalkan sesuatu pun ikut berhenti dan berbalik melihat sahabatnya Rayan yang malah mematung di tempatnya yang berjarak 5 meter darinya.
"Ada apa dengan mu? Ayo, jalan. Katanya mau beli baju." kata Reychu mengingatkan bahwa saat makan di tempat paman Gu Fen Reychu sempat menawarkan untuk membeli Rayan pakaian karena merasa pakaian yang di pakai Rayan sangat tak cocok untuknya.
Melangkah kembali dengan cepat seraya memandang Reychu dengan bola mata membesarnya. "Kau mengingatkan ku akan sesuatu."
"Apa itu?" tanya Reychu penasaran.
"Tentang Ryura!"
"Kau tahu sesuatu tentang dia? Apa itu? Cepat katakan padaku?" sembur Reychu dengan pertanyaan beruntun hingga tak sadar bahwa ia telah ikut menyemburkan air liurnya ke wajah Rayan sampai gadis penggemar pria tampan itu memekik jijik.
"Iyuuh... Reychu....! Kau jorok!"
"Oke... Oke... Maaf! Hehehe!" cengir Reychu tak merasa berdosa. Rayan berdecak mendengarnya, tapi tetap memilih menceritakan apa yang ia tahu tentang sahabatnya yang satu lagi.
"Huh! Jadi, begini. Kemarin aku bertemu seorang pria. Dia mengenakan topeng, yang ku pikir adalah suamimu tadi." sindir Rayan untuk Reychu mengingat kesalahpahaman sebelumnya, yang di tanggapi oleh kekehannya Reychu. "Awal pertemuan kami tidaklah bagus, karena saat itu dia malah ku pergoki sedang menonton aksiku menjaili orang. Tapi, tak apa aku sudah memaafkan nya. Soalnya dia tampan." cerita Rayan dengan gelagat malu-malu saat kalimat terakhir di ucapnya. Reychu hanya mendelik dengan ekspresi anehnya.
"Lupakan bagian itu dan lanjut ke intinya!" tuntut Reychu tak sabaran.
Rayan mendengus melihatnya, tapi tetap melanjutkan. "Iya, iya... Singkatnya kami sekarang berteman. Semalam dia datang membawakan ku buah-buahan kemudian bercerita kalau saat itu ia bertemu gadis yang ciri-cirinya sama persis dengan Ryura kita. Aku punya firasat kalau itu memang benar dia." antusias Rayan menjelaskan nya.
"Bahkan, mungkin saja kalau namanya juga sama. Ryura! Tapi dengan marga yang berbeda. Seperti kita." timpal Reychu tak kalah antusias.
"Kau benar... Aku juga sangat merindukan si manekin hidup itu. Seperti apa, ya parasnya di kehidupan sekarang?" sambil mengelus dagunya ia mulai mengaktifkan imajinasi nya mengenai paras baru sahabatnya yang datar itu.
"Aku yakin dia juga mendapat tubuh yang bagus, seperti kita. Lihatlah dirimu Reychu. Tubuh milik permaisuri ini lebih dari milik dirimu dulu. Kali ini lebih bagus." komentar Rayan sambil tersenyum memuji.
"Tak ada bedanya dengan tubuh barumu, Ray. Tubuhmu sekarang ini malah lebih imut dan menggemaskan dari tubuh mu yang dulu." puji balik Reychu yang mana membuat Rayan ke sem-sem sendiri. Reychu langsung menaikkan sudut bibir atasnya sambil menatap jengah sahabatnya yang mulai bersikap aegyo yang pastinya tak akan berpengaruh apapun terhadapnya.
"Singkirkan ekspresi mu itu!" kesal Reychu dan Rayan langsung berdecak tak kalah kesal mendengar perkataan sahabatnya.
"Kau ini! Merusak suasana hati ku saja."
"Kau yang memulai nya duluan!" balas Reychu acuh.
"Kau itu saja yang tak tahu cara memanfaatkan wajah cantik seperti wajahku ini. Kenapa jadi begitu?!" ketus balik Rayan tak terima.
"Bagaimana bisa kau bilang aku tak tahu cara memanfaatkan wajah ku hah?!" protes Reychu tak terima.
"Ini! Lihatlah! Kau bahkan menutupinya dengan cadar."
"Bukankah aku sudah bilang alasannya. Kenapa kau jadi menyebalkan sekali Rayan... Apa keluarga Yu itu menyiksamu sampai berdampak seperti ini... Hah..!" geram campur gemas Reychu terhadap sahabatnya, Rayan.
"Kau..." perkataannya terputus ketika matanya menangkap sosok hitam gagah berdiri menjulang tinggi di depan kedua gadis yang langsung terkesiap itu.
"Astaga! Mengejutkan saja! Kuda siapa itu?" tanya Rayan spontan akibat terkejut sedang Reychu hanya mengelus dadanya lantaran tak menyadari kehadiran kuda hitam tersebut.
"Kudaku!" ungkap sebuah suara dengan nada normal namun datar.
__ADS_1
Mendengar ada suara si tengah-tengah mereka, kedua gadis tersebut langsung terjengkit kaget seraya menoleh bersamaan dan pekikan pun tak terelakkan.
"AAAAAAAAA...!!!"
Furby sampai meringis di buatnya, berbeda dengan pemilik suara yang ternyata milik Ryura, dimana dia malah santai seolah suara pekikan itu tak terdengar sama sekali.
Reychu dan Rayan berteriak kaget sampai memberi jarak dan saling berpelukan seraya memandang gadis berpakaian sederhana dengan rambut yang di gerai begitu saja tanpa ikatan atau hiasan apapun. Jangan lupa wajah nya yang tak berekspresi itu.
Lama keduanya memandangi gadis yang sama sekali tak mengeluarkan suara lagi setelah satu kata sebelumnya. Kemudian, Rayan dan Reychu pun saling bertatapan sembari mengerjapkan matanya. Lalu kembali menatap wajah yang ekspresi nya cukup familiar bagi keduanya.
"Kau... Ryura!" ucap Reychu yang lebih terdengar pernyataan daripada pertanyaan dengan telunjuk yang sudah ditodongkan kedepan wajah Ryura.
Gadis yang di duga Ryura itu tak bergeming. Meski itu memang benar dia.
"Katakan sesuatu!" bisik Rayan ke telinga Reychu sambil matanya melirik gadis datar yang seperti tak merespon mereka.
"Katakan apa?!" bisik Reychu membalas. Ia bingung.
"Apa saja!" tuntut Rayan masih dengan melirik gadis datar tersebut, seolah waspada.
Furby sampai dibuat geleng-geleng melihat betapa acuh teman manusia nya bahkan terhadap sahabatnya sediri.
"Sahabat yang malang."
Menyipitkan matanya menatap Ryura yang tak menunjukkan reaksi apapun, kemudian kalimat keramat pun di lontarkan.
"Gadis gila, kancil centil, dan sebongkah patung arca bersatu menjadi satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Kau tahu apa itu?" tanya Reychu pada gadis yang belum ia sadari kalau itu adalah Ryura.
Rayan yang mendengarnya sampai menepuk keningnya tak percaya. Setelah sekian lama hidup untuk pertama kalinya dia kembali mendengar slogan persahabatan mereka yang di ciptakan oleh Reychu sewaktu mereka kecil. Jika dulu itu terdengar keren dan lucu, maka sekarang itu malah terdengar menggelikan.
"Feurrrbbb..." ternyata Furby pun tak percaya dengan telinga nya ketika di perdengarkan kalimat tersebut. Ia tertawa dengan suara khas kudanya.
"Hahaha... Apa itu?! Astaga Ryura! Kau punya teman yang unik!"
Mengerjapkan matanya santai baru kemudian Ryura menjawab.
"3Ry!" finalnya.
Tiga huruf itu seketika membuat heboh kedua sahabatnya yang mana mereka langsung jingkrak-jingkrak kesenangan dan berhamburan memeluk Ryura bersamaan dan sama eratnya. Tak terlewatkan juga hujaman ciuman di pipinya berkali-kali. Tapi, Ryura tak juga menunjukkan ekspresi atau pun reaksi apapun bahkan serupa pun tidak. Dia hanya membiarkan kedua sahabatnya melakukan apa yang ingin mereka lakukan padanya untuk melepas rindu.
Furby sampai menggelengkan kepalanya tak menyangka kalau teman manusia nya memang sudah begitu diri.
***Halo semuanya.
ini adalah part terakhir menuju awal perjalanan hidup ketiga sahabat itu yaaa.
di part berikutnya, author bakal ngulik kembali apa yang belum sempat tertuang dalam cerita. kalian pasti juga merasa ada yang hilang kan yaa...
ok kalo gitu, silahkan di tunggu kelanjutannya yaa ...
SELAMAT MEMBACA SEMUAAA...!!!
Salam sayang dari author Leo_Ra***
__ADS_1