
Jalanan ibukota yang menjadi lahan bertarung telah terblokir oleh banyaknya pasang mata yang ingin melihat langsung betapa sengitnya pertarungan kedua saudara itu.
Suasana kian panas dan menegangkan. Manakala kedua tokoh utama pada saat ini cukup tangguh dalam mempertahankan diri agar tidak jatuh lebih dulu. Tapi, orang-orang tahu betul kalau sebenarnya yang mampu bertahan tanpa mengurangi sedikitpun tenaganya adalah dia yang tetap tenang.
Mungkin terdengar dan/atau terlihat tidak masuk akal, namun nyatanya memang demikian. Gadis bernama Han Ryura yang kini dikenal sebagai pelaku pembunuhan sama sekali tidak tampak kalau ia kelelahan, bahkan dalam setiap gerakannya ia cukup menguasainya dan melakukannya dengan tenang. Sepertinya itu karena dia bergerak tanpa emosi.
Lain halnya, Han Fei Rong. Di setiap gerakannya menyerang tak sedikitpun ia mengurangi emosinya, bahkan bisa dibilang emosinya lebih sering meningkat dari pada mereda. Itulah yang menjadi alasan mengapa di setiap gerakan, dia mulai melemah namun terus di paksa. Bukankah bertindak apapun dengan di barengi emosi yang berapi-api menjadikan pengeluaran tenaga menjadi meningkat dua kali lipatnya?! Seperti itulah yang kini dialami pemuda itu.
Selama berlangsungnya pertarungan tersebut, Ryura belum sedikitpun melukai lawannya. Melihat itu membuat orang-orang berpikir ia tak mampu. Sedang Rayan yang menonton dari barisan depan para penduduk yang menyaksikan pertarungan tersebut tahu, itu hanya cara Ryura menghibur diri dari kemalasannya melakukan pertarungan itu.
Shut!
Lagi-lagi, layangan pedangnya meleset. Han Fei Rong bahkan di buat tak menyangka akan gerakan adik bod*h yang di bencinya itu. Cukup gesit dan terlatih. Kemudian ia sempat berpikir ke saat dimana gadis itu menghilang selama 3 bulan. Akankah saat itu ia sedang menjalankan sebuah pelatihan bela diri?! Tapi, setelahnya ia merasa itu tidaklah benar. Siapapun tahu betapa bodohnya gadis itu, lalu bagaimana itu bisa terjadi.
Tapi, sekarang bukanlah saatnya memikirkan soal kemampuan yang dimiliki Ryura, melainkan balas dendamnya pada gadis itu atas meninggalnya sang ayah. Ia harus membalasnya, hanya itu yang utama.
Kembali tekadnya untuk menghabisi Ryura bertambah, terlihat dari gerakannya yang dibuat meningkat. Sedang Ryura yang melihat itu hanya dengan tenangnya ikut menambah kemampuannya tanpa sedikitpun merubah raut wajahnya yang tak berekspresi itu.
Han Fei Rong memukul, Ryura menangkisnya.
Han Fei Rong menendang, Ryura menghindarinya.
Han Fei Rong menghunuskan pedangnya, Ryura mengelak.
Han Fei Rong menyerangnya bertubi-tubi, Ryura menerimanya dengan meningkatkan pertahanan.
Terus begitu sampai pada akhirnya Ryura melayangkan sebuah tendangan telak di perutnya hingga ia bergerak mundur beberapa langkah tanpa bisa menahannya.
"Sial!" umpat Han Fei Rong seraya menatap sinis Ryura yang tak terpengaruh dengan tatapannya.
Sambil memegang perutnya yang dirasa lumayan sakit membuat ia lagi-lagi mengumpat. "Ukh! Brengs*k! Ini sakit sekali! Aku nyaris lupa kalau dia memang memiliki kekuatan fisik yang lebih. Benar-benar sial!" gumamnya kesal, kemudian ia meludah. Lagi, mata tajamnya ditujukan kepada Ryura yang tenang-tenang saja.
"Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi! Kau..." ia menjeda kalimatnya sembari menunjuk marah kearah Ryura. "HARUS MATI HARI INI JUGA!" lanjutnya lantang.
Semua pasang telinga yang ada di sana jadi merinding mendengarnya. Ketegangan kian menjadi saja. Tapi, di antara barisan depan para penonton tegang-tegang-takut ada Rayan yang justru tersenyum menantikan kejutan yang akan Ryura tampilkan. Rayan jadi ingin berteriak kepada pria bod*h yang beraninya menantang Ryura.
Ia dibuat geregetan dengan tidak sabarnya. "Habisi dia Ryura! Aku menantikan itu!" dukung Rayan dengan suara kecilnya, tapi Ruobin mendengar jelas mendengar kalimat itu hingga ia langsung mendelik tak percaya.
"Hei! Harusnya kau minta dia berhenti, bukannya mendukungnya membunuh lagi. Lagipula itu saudaranya!" mendengar apa yang di katakan Ruobin, kini Rayan yang balik mendelik padanya.
"Ish... Kau ini! Tidak ada gunanya! Meskipun aku sahabatnya, itu tak akan mampu mengubah keputusannya! Salahkan lawannya yang saat diberi kesempatan untuk berdamai dia menolaknya. Sekalipun itu adalah saudaranya, Ryura tak akan ada hati untuk tidak melakukannya. Sekarang kau minta aku menghentikannya. Itu tak akan ia lakukan, Sedang aku hanya akan membuang-buang suara emasku saja. Huh!" protes Rayan dengan gaya centilnya, tak lupa denagn sengaja mengibaskan rambutnya saat ingin kembali memandang pertarungan yang masih berlangsung.
Ruobin melongo pada akhirnya. Ia jadi bingung sendiri dengan cara ketiga gadis itu bersahabat. Mereka bersahabat seperti bukan untuk saling membantu, saling menopang, saling menasihati saat salah, saling mendukung dalam kebaikan. Tapi, ini seperti mereka bersahabat untuk mendukung keinginan masing-masing tanpa bantahan. Jujur saja, meskipun ia siluman yang tidak takut menyakiti siapapun namun bila melihat manusia yang memiliki sifat seperti itu juga justru ia merasa kalau manusia lebih mengerikan dari pada makhluk lainnya.
Ditelan salivanya kaku. Baiklah, ia akan diam sekarang. Sepertinya itu lebih baik, lalu kembali menyaksikan aksi laga yang masih berjalan.
Lain mereka, maka lain juga dengan gadis yang tak bisa menghentikan bendungan air matanya untuk jatuh. Tubuhnya bergetar takut. Pikirannya mulai dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpa kekasihnya, bahkan ia tak bisa lagi mendengar kedua saudarinya yang kini ada di kedua sisinya sambil memandang bingung kearahnya.
Dia, Yu Ming Luo hanya mencemaskan Han Fei Rong saat ini. Segala doa ia panjatkan demi keselamatan sang kekasih hati. Sedang Yu Ran Ran dan Yu Mei Lin terus dibuat bingung karena mereka sendiri tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dewa... Tolong selamatkan dia. Aku tidak ingin kehilangannya." lirih Ming Luo dengan teramat sedih hingga suaranya hanya dapat didengar olehnya sendiri, terlebih ia terus menutup bagian bawah wajahnya dengan kedua tangannya guna menahan diri untuk tidak menangis.
Tidak jauh berbeda dengan Keluarga Han sendiri. Dari orang tua sampai yang muda dibuat harap-harap cemas atas apa yang akan terjadi. Mereka jelas hanya akan memihak Han Fei Rong dan bukan Han Ryura. Namun, mereka juga tak bisa membantu untuk saat ini. Terkhusus bagi lelaki muda di keluarga tersebut. Tak ada yang tidak tahu seberapa buruk temperamen Han Fei Rong bila ia sudah marah ditambah benci pada seseorang.
Tentu, siapapun tak bisa dengan mudahnya membantu atau bila mereka ingin mendapat amukan juga dari pemuda itu.
Tapi, dalam situasi sekarang ini. Mereka takut hal buruk kembali terjadi. Padahal keadaan mereka yang sedang berduka saja belum terselesaikan dan kini masalah kembali datang.
"Han Fei Rong..." gumam Han Wu Shin tak tahu harus berkata apa. Sejujurnya ia ingin membantu namun itu tidak mungkin setelah melihat bagaimana marahnya Han Fei Rong yang benar-benar ingin sekali membunuh Han Ryura dengan tangannya sendiri. Han Wu Shin tidak punya pilihan lain selain mendoakan keselamatan saudara sepupunya.
Lucu bukan! Ia bahkan tak sedikitpun melirik adik kandungnya yang juga ada di sana sedang menghadapi kemurkaan Han Fei Rong.
Wush!
Srak!
Kain panjang berwarna hijau itu melayang gesit seolah telah di beri kekuatan untuk dapat menurut pada pengendalinya. Melayang lurus dengan tajamnya dan menghantam bagian depan badan Han Fei Rong hingga pemuda itu lagi-lagi terhuyung ke belakang namun kali ini ia merasakan perih pada kulit dagu dan lehernya yang ternyata sudah memerah karena sempat terkena sabetan ujung kain satin tersebut. Sedikit tak percaya kalau kain itu mampu menyakitinya walau sedikit.
__ADS_1
"Ukh! Bagaimana bisa?!" sambil menyentuh dagunya tapi tetap melayangkan tatapan tajamnya pada gadis yang bisa-bisanya berdiri anggun di depan sana dengan tenangnya. Ia tak terima!
Diambilnya langkah seribu dengan ambisi membunuhnya dengan pedang yang sudah dalam genggaman siap untuk di hunuskan. Ia berlari bak hewan buas yang ingin menerkam mangsanya. Terus berlari dengan ganasnya.
Ryura yang melihatnya hanya diam tetap dalam posisi sebelumnya.
Dengan gerakan cepat dan gesit pedang itu menari di tangannya. Menyerang tanpa henti Ryura yang terus mengelak namun tidak menghindar. Tapi, bagi orang pintar yang melihatnya mereka akan tahu kalau Ryura pun turut memainkan kain panjang hijau satinnya di bawah mereka.
Ryura melompat mundur setelahnya. Memberi jarak untuk melancarkan aksi berikutnya.
Hingga tanpa diduga, hentakan yang Ryura beri membuat kain itu terbang sebatas perut orang dewasa dan kemudian...
"Heu'kk!"
Gerakan Han Fei Rong terhenti begitu saja, ketika sesuatu melilit perutnya kuat. Perlahan tapi pasti dilihatnya kain satin yang menjadi senjata Ryura berada disana, melilitnya tanpa ampun. Kemudian, didongakkan kembali guna melihat seperti apa raut wajah sepupu yang ia benci ketika sudah berhasil membuatnya berhenti.
Akan tetapi, sepertinya ia harus dibuat kecewa. Lantaran wajah Ryura tak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya datar, tak ada senyum sinis ataupun seringai kemenangan yang terukir di bibirnya dan juga matanya tak ada yang bisa dilihat selain kekosongan.
Ini sungguh diluar ekspektasi dirinya dan para orang-orang yang menyaksikan pertarungan mereka.
Seluruh tubuh yang ada disana -kecuali Rayan- bergidik ngeri bahkan sampai membuat bulu-bulu halus yang ada di tubuhnya berdiri semua, tak ayal Ruobin pun turut merasakannya. Karena bagi siluman rubah perak itu, ini adalah kali pertama baginya menyaksikan bagaimana seorang Ryura yang berparas manis menjalankan aksinya.
Diluar dugaan. Ia terkejut bukan main.
Ryura benar-benar pembunuh berdarah dingin. Semua orang mungkin mengakui hal itu sekarang. Tak ada rasa bersalah di wajahnya. Ia seperti tidak peduli sekalipun pemuda itu masih terikat darah dengannya.
Pamannya saja bisa di lenyapkan, apalagi hanya sepupu...
Ruobin menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Sedang Rayan bertepuk tangan tanpa suara agar tidak menarik perhatian. Ia cukup senang bila dapat melihat lagi aksi keren dari sahabatnya yang satu ini.
Akan tetapi, di ujung jalan sana dimana rombongan keluarga Han berada. Mereka pun tak kalah terkejutnya. Bahkan Han Wu Shin bergerak menyusul saudaranya secara spontan, melihat aksi Tuan Muda pertama dari Tuan kedua Keluarga Han membuat Tuan Muda lainnya pun turut bergerak menyusulnya. Ada Han Liang Xin, Han Bingzhue, Han Tian Yu, dan Han Dao Yan. Sampai pada akhirnya mereka berada tepat di belakang Han Fei Rong dengan memegang pedang di masing-masing tangan mereka seolah memberi tanda kalau mereka akan itu melawan gadis tak berekspresi didepan sana yang masih memegang ujung sisi kain lainnya.
"HENTIKAN!" teriak Han Wu Shin tepatnya pada Ryura. Namun, teriakan itu tak membuat Ryura merubah niatnya.
"HENTIKAN KATAKU, HAN RYURA!" teriaknya lagi. Tapi, lagi-lagi Ryura tetap Ryura. "JANGAN PURA-PURA TIDAK MENDENGAR KU! KUBILANG HENTIKAN, BOD*H!" sarkasnya tak tahan. Han Wu Shin mulai cemas kala ia melihat kalau Ryura menarik kain itu secara perlahan hingga membuat Han Fei Rong tampak mulai kesulitan bernafas. Masih tidak percaya bila ia akan melihat itu semua dengan kedua matanya sendiri.
Ryura melirik dengan santainya, lalu berujar. "Tidak!" tenang namun tegas tak terbantahkan. Membuat yang mendengarnya tertegun hingga menahan nafasnya sesaat. Tak menyangka akan tekanannya yang singkat itu namun cukup untuk membuat semuanya terdiam.
"Kau...!" detik berikutnya tak hanya Han Wu Shin, bahkan saudaranya yang lain juga seluruh mata yang melihat jadi terbelalak dengan horornya lantaran sangat terkejut.
Crass!!
Klontang!
Semburan yang tak disangka-sangka menyebar dengan luas bahkan pakaian Han Wu Shin dan lainnya yang putih jadi terkena noda yang warnanya cukup kontras. Ryura juga tak luput dari semburan tersebut, bersamaan dengan suara pedang yang jatuh.
"AAAAAAAAH...!!!"
Suara teriakan menggema mengisi keheningan yang sempat mendera sebelumnya.
Bruk!
Brugh!
Brak!
Disusul suara jatuh yang terdengar beruntun hingga beberapa dan ternyata itu dari mereka-mereka yang tak kuasa melihat pemandangan didepannya lagi hingga syok dan akhirnya pingsan. Walaupun masih dapat melihatnya, mereka tetap saja syok hingga ada yang sampai tak bisa bernafas dengan baik, ada juga yang lemas pada kakinya sampai jatuh terduduk, ada yang mual lalu muntah di tempat, ada yang malah membatu karena terkejut. Ada banyak macam yang terjadi di antara para warga yang menonton.
Dan semua itu terjadi karena Ryura dengan santainya menarik kain yang melilit perut Han Fei Rong dengan sekali hentak bersamaan kekuatan yang ia keluarkan lebih banyak sehingga perut itu terpotong dan menyemburkan darah dan isinya tanpa peringatan.
Yang tersisa kini hanyalah ketidakpercayaan.
Han Fei Rong mati dengan mengenaskan ditangan sepupunya sendiri.
Disela-sela keterkejutannya semua orang, teriakan seorang gadis bersamaan langkah kakinya yang tergesa-gesa menyentak kesadaran mereka.
Brugh!
Dia, Yu Ming Luo kini menjatuhkan dirinya ke sisi tubuh Han Fei Rong yang sudah terbagi dua dengan mata melotot mengeluarkan darah, mulutnya pun tak luput dari darah yang ikut keluar, begitu juga telinganya.
__ADS_1
Kondisinya benar-benar mengerikan.
"HAN FEI RONG! HUHUHU... Jangan tinggalkan aku! Fei Rong! Bangunlah! Lihat aku disini! Jangan tinggalkan aku! Huhuhu...!" intonasinya menurun perlahan karena tak kuasa menahan kesedihannya sembari mengguncang tubuh sang kekasih. Bahkan seluruh Tuan Muda Han yang ada disana pun masih tak bisa berbuat apa-apa karena rasa stoknya belum juga menghilang. Masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Ingin menyangkal, namun ini terlalu nyata.
Di antara warga yang menonton, Rayan terkejut melihat kakak sepupu pemilik tubuh ada disana. Tapi, kemudian smirk menghiasi bibirnya.
"Mari kita bergabung!" seru Rayan riang menyentak Ruobin yang tangannya tiba-tiba di genggam Rayan lalu ditariknya agar mengikuti gadis itu. Siluman itu hanya menurut saja.
Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki yang lain pun turut terdengar. Yaitu, suara langkah kaki Yang Pingyu yang mendekat disusul Xia Lin Lin juga anak perempuannya di belakangnya. Begitu sampai ia langsung memeluk tubuh bagian atas putranya yang telah teronggok tak bernyawa sembari meraung menangis, mengabaikan Yu Ming Luo yang juga terisak pilu di sisi lain kekasihnya.
"Putraku... Huhu... Putraku... Jangan tinggalkan ibu, naaakk... Huhuhu... Putraku! Bangunlah...! HAAAAA!!!"
Yang Pingyu menangis histeris. Karena bagaimanapun ia yang melahirkannya, tentu ia akan terpuruk terlebih kematian suaminya yang belum genap sehari kini putra pertamanya menyusul sang suami. Sedang yang lainnya ada yang menutup mulutnya juga matanya bahkan seluruh wajahnya karena tak sanggup melihat apa yang terpampang di depan mata mereka.
Ryura terabaikan disana bahkan sampai Rayan tiba di sisinya. Dengan tak merasa ikut berduka sedikitpun. Ia sebelas dua belas dengan Ryura bila menyangkut rasa iba pada orang yang menurutnya tidak perlu di beri rasa ibanya. Ia juga bisa acuh rupanya.
Namun, sepertinya kejutan tidak sampai disitu. Karena saat mata Ryura melirik kearah Yu Ming Luo detik berikutnya celetukannya mengagetkan mereka yang mendengarnya.
Syok untuk kesekian kalinya.
"Kau hamil!" itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan yang gamblang diucapkan.
Rayan yang mendengarnya seketika menampilkan ekspresi berbinar. "Astaga! Benarkah?!" sungguh sikapnya tak sesuai tempat dan keadaan.
Yang Pingyu juga anggota Keluarga Han lainnya terdiam seketika. Otak mereka mendadak tak bisa mencerna apa yang kembali terjadi.
Hamil?!
Siapa?!
Lalu, apa hubungannya dengan kematian Han Fei Rong?!
Sayangnya tak ada jawaban untuk pertanyaan itu sampai akhirnya Ryura kembali berucap dengan tenangnya tanpa beban. Mereka kembali dikejutkan.
"Dia ayah bayimu! Tapi, sayang sudah mati!" usai berkata demikian Ryura langsung berbalik pergi meninggalkan kekacauan yang dibuatnya dengan langkah yang ringan seolah masalah kali ini sudah selesai.
Rayan hanya melihat sekilas punggung Ryura yang beranjak pergi begitu saja. Namun, ia sedang tak ingin mengikuti Ryura karena ada yang harus ia lakukan lebih dulu disini.
"Wow! Kau... Hamil!" memandang Yu Ming Luo yang kini semakin menundukkan wajahnya. "YA, TUHAN! BENAR! KAU HAMIL!" pekik Rayan riang dengan lantangnya saat ia tak juga mendapatkan sanggahan dari sepupu pemilik tubuhnya.
"Tidak mungkin!" sergah Yang Pingyu tak percaya dengan mata yang menyorot kosong.
"Oh, ayolah. Kenapa tidak! Mereka 'kan sepasang kekasih!" balas Rayan dengan entengnya. Tidak peduli dengan respon orang-orang yang mendengarnya.
Seketika itu juga suasana menjadi semakin tak menentu.
Kini segalanya menjadi aneh dan rumit.
Alhamdulillah...
kelar juga eps yang satu ini. leherku pegel karena nunduk lama. tapi gak papa, kalo pembaca senang. itu bayaran yang setimpal.
ohya, aku mo tanya ni...
kalian dapat feel-nya gak sih?
karena sejujurnya, aku punya kendala soal feel di cerita yang aku buat.
agak susah nuanginnya. kadang jadi gemas sendiri kalo baca karya orang yang bisa dapat banget feel-nya.
karena itu... tolong komen di bawah sini yaa...
ok see you, guys...
next time yaa...😋
__ADS_1