3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
EKSEKUSI BERAKHIR


__ADS_3

"OMO! SELIR AGUNG GONG DAHYE! BAGAIMANA BISA!"


"ITU BENAR-BENAR DIA?!"


"Ada apa ini?! Kenapa dia diperlakukan seperti itu?! Apa Kaisar Li tidak menyayanginya lagi?!"


"Wah...! Aku tidak bisa berkata-kata! Ini terlalu mengejutkan!"


"Lihat! Ada Tuan Gong dan putranya! Mereka bersama-sama dalam hal ini?!"


"Eh! Bukankah itu Pangeran Kedua Li Fang Ye?! Ada apa sebenarnya ini?!"


"Kesalahan apa yang sudah mereka lakukan sampai Kaisar Li menjatuhkan hukuman mati untuk mereka?!"


Keriuhan menggema seketika begitu tokoh utama pada acara hari ini muncul. Wajah semua orang dihiasi dengan keterkejutan yang tiada terkira. Mereka bukannya tak tahu cerita tentang bagaimana Kaisar Li begitu teramat mencintai wanita yang kini penampilannya sangat menyedihkan.


Ketiga Gong dan Pangeran Kedua Li Fang Ye bahkan tidak berganti pakaian. Mereka masih memakai hanfu yang terakhir kali dipakai. Seolah menandakan kalau mereka memang dikhususkan untuk seperti itu agar tampak lain dari yang lain.


Tak ada yang luput dari pandangan mereka yang menyaksikan semua itu.


Wajah Gong Duyoung dan Gong Dahee sudah tak lagi berwarna, mereka seperti sudah amat pasrah pada keadaan yang akan terjadi setelah ini.


"Ayah kita sungguh akan berakhir disini, hari ini, dan dengan cara seperti ini?" tanya Gong Dahee lesu layaknya tak bernyawa, ia bahkan sampai tidak menoleh kala menanyakan itu.


Menghembuskan nafas pasrah. "Mungkin inilah takdir kita." tatapan matanya tampak menerawang. "Seharusnya dulu aku mendengarkan perkataan saudaraku yang melarang ku melakukan hal yang melanggar ajaran leluhur keluarga kita. Aku terlalu serakah! Aku terlalu buta pada kedudukan dan kekuasaan." menoleh kearah putranya dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan pria tua ini, putraku... Tidak seharusnya aku memperdaya kau dan adikmu hanya untuk ambisiku!" lirihnya tersendat isak tangis yang hendak keluar.


Mendengar itu, Gong Dahee segera menoleh dan memandang balik Ayahnya. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Ayah! Meski semuanya berawal dari dirimu... Aku seharusnya bersikap lebih dewasa sejak awal untuk mencegahmu melakukannya, bagaimanapun aku sudah cukup besar waktu itu. Tapi, aku tidak melakukannya karena aku juga berpikir sama seperti mu. Jadi, jangan salahkan dirimu sendiri. Disini aku pun bersalah, karena tidak bisa membantu berpikir jernih dan lebih bijak dalam mengambil keputusan." tutur Gong Dahee kala menyadari kesalahannya yang ikut terbuai dengan kedudukan yang menjadi ambisi ayahnya.


Gong Dahye tidak kalah buruk dari ayah dan kakaknya. Ia membisu takut saat matanya menangkap pemandangan kerumunan orang yang mengisi seluruh tanah lapang milik Pengadilan Kerajaan Huoli. Yang mana, selalu digunakan untuk keberlangsungan hukum yang berlaku bagi mereka yang bertindak kejahatan.


Saat matanya yang bertabur ketakutan dan rasa malu itu menyapu gemetar pada apa yang tersedia di hadapannya, tanpa sengaja matanya menangkap mata tajam berkilat kebencian yang dulunya selalu menatap hangat padanya.


Ia terpaku sejenak. Menatap nanar mengiba pada pemilik mata itu berharap ia diselamatkan. Hebatnya ia tak sedikitpun merasa bersalah ataupun menyesal atas apa yang sudah ia lakukan sebelumnya. Gong Dahye masih berpikir bawah yang ia lakukan sudah benar. Hanya karena Kaisar Li tak bisa membuatnya hamil, meski ia sudah diberitahukan bahwa Kaisar Li pun dalam keadaan baik-baik saja sama seperti dirinya.


"Yang Mulia... Tolong Selir ini..." serunya memelas penuh iba tak punya pilihan lain, saat sebelumnya ia sempat melirik pedang yang di pegang oleh algojo disisi kirinya. Pedang itu bahkan sudah berlumuran darah dan darah itu masihlah basah yang artinya kalau beberapa saat lalu digunakan untuk menebas leher seseorang.


Dia tidak bisa tidak kesulitan meneguk salivanya sendiri.


Dia takut mati.


Dia belum siap untuk mati.


Dia belum mendapatkan apa yang diinginkannya.


Bagaimana bisa ia pasrah begitu saja?!


"Yang Mulia, tolong lepaskan saya. Saya masih Selir anda. Selir yang anda cintai. Yang Mulia, saya tidak bersalah. Kenapa saya harus berada disini... Saya tidak melakukan apapun yang bisa membuat anda marah, bukan?! Yang Mulia, tolong beri hamba keadilan!" serunya lagi dengan suara yang lebih keras.


Pangeran Kedua Li Fang Ye yang mendengarnya spontan mendelik dan berdecih tak percaya. "Tidak tahu malu!" gumamnya mengumpat.


Reychu yang duduk santai di samping Kaisar Li malah terkekeh mendengar kalimat yang diucapkan oleh Gong Dahye.


"Hehehe... Sudah gila dia!" jedanya sambil memandang rendah Gong Dahye yang ada di panggung eksekusi. "Kenapa tidak sekalian saja bilang, kalau kau memiliki kembaran yang mau mengorbankan tubuhnya hanya untuk membantumu mencapai tujuan mu?! Ckckck! Lucu sekali... Aku jadi gemas melihatnya!"


Kaisar Li dapat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ahn Reychu. Tapi, dia hanya memilih diam dengan hawa gelap yang kian menyelimuti dirinya.

__ADS_1


Melirik sekilas pada Kaisar Li yang tampak menahan murka. Reychu menyeringai melihat itu. Tapi, ia tetap santai. Lain halnya dengan orang-orang disekeliling dia dan Kaisar Li, mereka semua merasakan ancaman dari hawa gelap yang dikeluarkan oleh Kaisar Li.


Mereka takut Kaisar Li akan membakar habis mereka semua yang ada disana dengan elemen api-nya kalau-kalau pria penguasa itu tidak bisa menahan amarahnya.


"Bacakan!" desis Kaisar Li datar memberi titah, namun tampak jelas bila ia tengah menahan diri.


Mendengar itu Kasim Kaisar Li yang setia itu segera melakukan tugasnya.


"PERHATIAN SEMUANYA! SEPERTI YANG TELAH RAKYAT NEGARA API LIHAT TADI! ITU ADALAH PROSESI EKSEKUSI MATI MASSAL YANG PERNAH ADA DI NEGERI TERCINTA KITA INI! SEHUBUNGAN DENGAN ITU, KALIAN TENTU BERTANYA-TANYA... APA YANG MENYEBABKAN YANG MULIA KAISAR LI MENJATUHI SEKUMPULAN ORANG ITU UNTUK DIHUKUM MATI!" jedanya.


"MAKA, DENGARKAN INI...!" tangannya bergerak untuk membuka gulungan bersampul warna biru tua dengan isinya...


"'SAYA LI HANZUE, SELAKU KAISAR KERAJAAN HUOLI NEGARA API MENGUMUMKAN! ADA TERDAPAT 1.849 ORANG YANG TELAH MELAKUKAN PEMBERONTAK SERTA PENGKHIANATAN DARI 16 DAERAH WILAYAH KEKUASAAN NEGARA API DENGAN DI DALANGI OLEH GONG DUYOUNG DARI KELUARGA BANGSAWAN GONG YANG TERHORMAT! DENGAN KESALAHAN YANG DILAKUKAN ADALAH BERAMBISI UNTUK MENGAMBIL KENDALI ATAS KEKUASAAN NEGARA API DAN MENJADIKAN KAISAR INI SEBAGAI BONEKANYA! HAL ITU TELAH MEMBUAT GONG DUYOUNG MELUPAKAN DIMANA IA BERPIJAK! KARENA ITU PULALAH, KAISAR INI MEMBERINYA HUKUMAN MATI BESERTA SELURUH MEREKA YANG TERKAIT BERSAMA KELUARGANYA! SEKIAN!'" isi gulungan pertama yang dibaca Kasim Kaisar Li.


Semua yang mendengar isi gulungan berwarna biru tua itu terkejut bukan main. Tak terkecuali keempat orang yang telah berlutut di atas panggung eksekusi sejak awal berada di sana. Terutama tiga wajah yang hanya memiliki perbedaan sedikit sampai tak bisa di lihat dimana perbedaan itu, wajah mereka sudah kehilangan warna. Darah seolah tak mengalir di pembuluh darah pada wajah ketiganya.


Mereka sampai terdiam membisu. Lidah mereka mendadak kaku hingga tak bisa di gerakkan begitu mendengar kesalahan yang telah diketahui oleh Kaisar Li.


Syok bukan main!


Rakyat pun sama. Bagi mereka, meski sebagian tidak memiliki pendidikan yang baik, tetap saja sangat mengetahui dengan jelas bahwa apa yang baru saja diumumkan benar-benar adalah kesalahan yang tak bisa dimaafkan.


Seluruh pasang telinga yang mendengarnya hanya memilih diam begitu melihat kalau Kasim Kaisar Li masih akan membaca gulungan lain. Kali ini Kasim Kaisar membaca gulungan bersampul warna ungu.


Dibuka dan siap di baca.


"SAYA AKAN MEMBACAKAN DEKRIT KAISAR BERIKUTNYA!" jedanya. "SAYA KAISAR LI HANZUE, MENGUMUMKAN! BAHWASANYA SELIR KESAYANGAN SAYA YANG BERNAMA SELIR AGUNG GONG DAHYE DAN ADIK TERCINTA SAYA YANG BERNAMA PANGERAN KEDUA LI FANG YE TELAH BERKHIANAT DENGAN CARA BERSELINGKUH! KEDUANYA TELAH MELAKUKAN PERBUATAN ZINA HINGGA MENGHASILKAN BAYI UNTUK DIGUNAKAN SEBAGAI ALAT MENUNJANG KEBERHASILAN ATAS SEGALA AMBISI YANG DIINGINKAN KELUARGA GONG DUYOUNG DARI KELUARGA BANGSAWAN GONG! OLEH KARENA ITU, SAYA AKAN MENJATUHI KEDUANYA HUKUMAN MATI ATAS DOSA YANG MEREKA PERBUAT! SEKIAN!'" tuntasnya untuk gulungan kedua.


Lagi dan lagi, seluruh pasang telinga yang mendengarnya terkejut bukan main sampai mereka spontan menoleh dan melihat kearah Selir Agung Gong Dahye yang malang di atas panggung eksekusi dan Pangeran Kedua Li Fang Ye yang tak kalah menyedihkan.


Bisik-bisik mulai terdengar, meski apa yang di bicarakan terdengar samar-samar. Akan tetapi, karena yang membisikkan kata-kata entah apa itu sudah dikatakan seluruh orang yang hadir di prosesi eksekusi mati. Maka, suara bisik-bisik tersebut terdengar keras.


Kini barulah Selir Agung Gong Dahye menampilkan ekspresi cengongnya yang pias dan pucat. Tak menyangka bahwa Kaisar Li pun tidak akan mentolerir apa yang telah ia lakukan. Tak terpikirkan olehnya bahwa cinta Kaisar Li pun tak bisa memberinya maaf.


"Apakah aku akan berakhir disini?" gumamnya mempertanyakan nasibnya untuk beberapa saat kemudian. Akankah benar-benar mati atau apa?! Ia tak tahu.


Sedang Pangeran Kedua Li Fang Ye hanya bisa menunduk pasrah. Dari pada rasa malu atas perbuatannya yang sejak awal sudah ia pasrahkan pada takdir, Pangeran Kedua Li Fang Ye lebih kepada merasa miris akan nasib istrinya seandainya ia sungguh di hukum mati. Sanggupkah istrinya kuat bertahan hidup seorang diri?!


Menerima gunjingan akibat menikah dengan seorang hina seperti dirinya. Hamil tanpa didampingi suami, sebab telah mati karena mengkhianati saudaranya yang seorang Kaisar. Merawat anak yang bukan anaknya, namun jelas anak suaminya.


Mampukah?! Itulah yang memenuhi kepala Pangeran Kedua Li Fang Ye. Ia bingung.


Lamunan itu disadarkan ketika Kasim Kaisar Li mengatakan...


"EKSEKUSI MATI UNTUK KEEMPAT ORANG YANG TELAH BERADA DI ATAS PANGGUNG EKSEKUSI, DINYATAKAN DI MULAI!" gema suara perintah Kasim Kaisar Li yang sejak awal mewakili Kaisar Li bicara.


Mendengar perintah telah di layangkan. Seorang algojo pun segera mengangkat tangannya yang memegang pedang panjang nan tajam yang kini ditempeli bekas darah hingga baunya tak dapat dicegah.


Kali ini, algojo yang melakukan eksekusi tersebut hanya satu orang berhubung yang akan di hukum hanya berjumlah 4 orang.


Pangeran Kedua Li Fang Ye telah memejamkan matanya seraya menunduk karena tak sanggup berpikir apapun untuk bisa mendapatkan belas kasihan dari kakak Kaisar nya yang sudah ia lukai hatinya.


Sementara, Gong Duyoung dan Gong Dahee seperti nyawanya telah di cabut lebih dulu sebelum kepala mereka di penggal. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk bergerak dan berbicara saking takutnya pada kenyataan bahwa mereka akan tamat hari ini juga.


Tak jauh berbeda dengan putri Keluarga Gong yang selalu dibanggakan sejak awal. Saat ini ia sedang menatap lurus dengan nanar kearah Kaisar Li yang hanya membalasnya dengan dingin. Tampak mata itu tidak sedang berbohong atas kebencian yang menyusup masuk ke hati pria itu.

__ADS_1


Rasa cinta Kaisar Li kini berubah menjadi benci.


Slap!


Gluduk...


Gong Dahye terhenyak kala mendengar ada sesuatu yang jatuh. Ia pun menoleh dengan lemah atas ketidakberdayaannya.


Matanya terbelalak lebar saking terkejutnya dan tak menyangka bahwa itu adalah kepala sang kakak yang lebih dulu di penggal. Ia sampai menahan nafas begitu mengetahuinya. Tak sadar kalau hukuman telah berlangsung.


Ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Tenggorokannya terasa kering dan tercekat.


Tak lama kemudian, suara selanjutnya menggema. Gong Dahye hanya bisa memejamkan matanya tak sanggup melihat. Kini barulah air matanya mengalir. Tapi, tak tahu untuk alasan apa air mata itu mengalir.


Slap!


Gluduk...


Di sisi lain tempat itu, dengan di dampingi pelayannya. Yu Chan Yi berusaha kuat menghadapi semua ini. Meski dalam hati ia terus berdoa semoga ada harapan hidup untuk suaminya. Tubuhnya mengurus dan melemah untuk menopang tubuhnya saja ia nyaris tak sanggup, ia membebani pikirannya pada suaminya yang sedang menghadapi detik-detik menuju kematian.


Seluruh rakyat Kerajaan Huoli menyaksikannya dengan menegangkan sampai mereka bahkan lupa caranya bernafas.


Untuk ketiga kalinya sang algojo mengangkat kembali pedangnya dengan tanpa ragu-ragu. Tegap dan gagah meski sedang melakukan eksekusi mati seseorang.


Lagi, rakyat Kerajaan Huoli menahan nafas mereka saat sang algojo mengayunkan pedangnya ke bawah hendak memenggal kepala yang berikutnya.


Mata itu mencoba menatap lagi mata tajam sosok yang dicintainya disana. Duduk menyaksikan dirinya akan mati atas perintahnya. Kini ia tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan, tapi ia tetap tak merasa bersalah. Ia jelas melakukan itu untuk apa dan karena apa. Jadi, berfikir...


Tak bisakah Kaisar Li mengerti...?!


Slap!


Gluduk...


Akhirnya, kepala sang wanita itu dipenggal juga bahkan sebelum ia menutup matanya dari menatap sang Kaisar yang tak gentar bahkan saat mata pedang itu melayang ke leher wanita yang pernah begitu ia cintai.


Datar dan dingin, begitulah dirinya saat ini.


Sedang Reychu di sisinya, menyeringai lebar melihat kepala itu di tebas dan sedikit menyayangkan karena bukan dia yang melakukannya.


"Ckckck! Sudah berakhir!" celetuknya santai, tak peduli bila ada yang mendengar.


Kini, yang terakhir...


Tubuh Yu Chan Yi ambruk karena lemas, namun mencoba kuat sebab tak ingin meninggalkan suaminya yang sedang menghadapi maut disana.


Kedua mata mereka beradu dan saling pandang. Sang suami menatap tak sanggup dan tak rela meninggalkan istrinya. Sang istri menatap sedih dan putus asa pada apa yang tengah menimpa suaminya.


Tatapan mereka saling menyalurkan rasa yang mereka miliki, menunjukkan bahwa tatapan itu hanya mereka yang tahu arti didalamnya.


Sang suami tersenyum tipis mencoba menenangkan istrinya yang mulai histeris di tempatnya berada. Lumayan jauh, tapi masih bisa melihat dengan jelas satu sama lain.


Tepat saat algojo melayangkan pedangnya, saat itu pula Yu Chan Yi jatuh pingsan lantaran sudah tak sanggup lagi bertahan.


__ADS_1


๐Ÿ˜˜


__ADS_2