3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MEMBENTUK KUBU


__ADS_3

Tampak Melany Gong berjalan memasuki gedung MOZHILLI HOSPITAL dan singgah sebentar di bagian resepsionis.


Dengan anggun dia bertanya mengabaikan tatapan tertegun petugas resepsionis karena melihat wanita cantik. "Permisi, saya ingin bertanya, kamar inap pasien bernama Jiang Wanxi berada dimana, ya?"


Mata petugas resepsionis mengerjap sejenak sebelum menjawab. "Oh, sebentar, Nona. Anda ingin membesuk pasien?" Melany Gong mengangguk membenarkan. "Baik, pasien bernama Jiang Wanxi ada di kamar inap VVIP nomor 10 gedung Phoenix. Itu ada di sebelah sana. Anda bisa langsung jalan ke koridor yang disana, nanti anda akan menemukan papan petunjuk disana untuk memudahkan anda menuju kamar pasien." tukas petugas resepsionis tersebut menjelaskan dengan senyum dan sikap profesionalnya seraya menunjuk koridor yang dimaksud, tapi dalam hati dia berdecak kagum melihat kecantikan yang ada didepannya saat ini.


Melany Gong mengangguk paham sebelum mengucapkan terimakasih dan langsung melanjutkan langkahnya.


Tak... Tak... Tak...


Resepsionis ditempatnya masih menatap Melany Gong hingga menghilang dari pandangannya. Gelagatnya membuat rekan kerjanya merasa aneh hingga menyikutnya agar sadar.


"Apa yang kau lihat?" tanya si rekan kerja pada akhirnya lantaran tak tahan untuk diam.


Yang ditanya malah nyengir kuda, lalu menjawab. "Bukan apa-apa. Aku hanya baru saja melihat wanita cantik dari dekat. Penampilan wanita kaya memang berbeda." dia menghela nafas meratapi nasibnya.


Tapi, rekan kerjanya justru nyinyir. "Heh. Berapa lama kau bekerja disini?"


Mendengar pertanyaan itu, yang ditanya sejenak bingung. "Tentu saja aku sudah lama bekerja di sini. Sudah 3 tahunan. Kenapa kau tiba-tiba bertanya. Aneh sekali. Perasaan kita sedang tidak membahas masa kerjaku." gerutunya.


"Tentu saja ada hubungannya. Kau bekerja disini 3 tahun lamanya. Kenapa tidak beruntung, ya." si rekan kerja merasa kasihan pada temannya.


"Apa maksudmu?"


"Apa kau tidak pernah melihat Master Shin dan istrinya selama kau bekerja disini?" rekannya mengabaikan pertanyaannya dan balik bertanya. Agaknya dia prihatin pada rekan kerjanya ini.


Setelah ditanya, sejenak petugas resepsionis itu berpikir sebelum menggelengkan kepalanya yang ditanggapi dengan tatapan iba dan kasihan.


"Tidak heran mengapa kau bersikap begitu saat melihat pengunjung cantik tadi. Kalau kau sudah melihat Master Shin dan istrinya, kau tak akan bersikap seperti itu. Kecantikan Nyonya Shin lebih dari wanita tadi." ada ekspresi kagum saat menyebut Nyonya Shin.


"Benarkah?" bukan tak percaya, petugas resepsionis itu hanya merasa betapa malangnya dia.


"Tentu saja. Makanya aku bilang kau kasihan sekali. Padahal, hampir semua karyawan dirumah sakit ini sudah pernah melihat Master Shin dan istrinya. Kau... Haih..." sambil menggelengkan kepalanya menyayangkan ketidakberuntungan rekannya ini, lalu lanjut ke pekerjaannya tak mau meneruskan percakapan yang akan membuat rekannya semakin menyedihkan.


Sementara rekannya yang malang hanya bisa mencebikkan bibirnya dan gigit jari ikut mengasihani diri sendiri.



Melany Gong berjalan menuju kamar temannya yang ingin dia besuk. Ya, Jiang Wanxi adalah temannya. Keduanya berteman atau bersahabat sejak duduk di bangku SMA, tapi sudah jarang berkomunikasi sejak memasuki dunia kerja. Keduanya memiliki kesibukan masing-masing.

__ADS_1


Beberapa hari lalu Melany Gong mendapatkan kabar dari grup chat teman sekelas SMA dulu yang masih dipertahankan hingga saat ini, kalau Jiang Wanxi mengalami kecelakaan dan berakhir di rumah sakit. Sebenarnya saat itu dia sudah ingin langsung membesuk, tapi kesibukannya yang tak bisa di tinggal membuatnya menunda dan hanya bisa mengabari lebih dulu sebelum menemukan waktu luang untuk membesuk.


Dan akhirnya, hari ini adalah waktunya.


Dia harus berjalan menuju lift sebelum tiba di lantai tempat kamar Jiang Wanxi berada.


Ting!


Pintu lift terbuka, diapun masuk kedalam kotak besi berjalan itu.


Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka dan dia keluar. Baru beberapa langkah meninggalkan ruang lift dia berpapasan dengan Rayan dan perawatnya.


Tidak ada tegur sapa, tepatnya Rayan tak melakukannya karena tidak mengenal Melany Gong. Tapi, Melany Gong sempat terhenyak kala melihatnya sebab dia juga sudah melihat berita menghebohkan tempo lalu.


Sedikit tak percaya dalam hati Melany Gong, kalau Rayan ternyata sangat cantik dan menawan bila di lihat secara langsung. Dalam hati dia bergumam tak heran kalau Shin Da Ming menyukainya. Akan tetapi, setelah berpikir begitu dia langsung mengenyahkannya sebab merasa secara tidak langsung menyamakannya dengan Reychu dan Bai Liam sang pria incarannya. Karena bagaimanapun, Shin Da Ming dan Bai Liam bersahabat.


Dia belum tahu tentang pertemanan 3Ry. Karena, berita itu tidak terlalu digembar-gemborkan. Terlebih Melany Gong hanya berfokus pada fakta kalau pria incarannya sudah memiliki seorang wanita disisinya.


Hanya sepersekian detik mereka berpapasan dan Rayan dan perawatnya langsung memasuki lift yang sedang kosong sementara Melany Gong melanjutkan langkahnya menuju kamar inap Jiang Wanxi.


Begitu tiba...


Yang terlihat dimatanya ada ekspresi marah sang sahabat yang sedang duduk di ranjang rumah sakit.


Dengan bingung dan penasaran dia bertanya sambil berjalan mendekat. "Hei, ada apa dengan wajahmu? Aku datang menjenguk malah disuguhkan ekspresi seperti itu. Tidak menyenangkan sama sekali." niatnya menghibur Jiang Wanxi, tapi tampaknya wanita yang masih sakit itu terlalu marah.


Tertegun sejenak. "Oh, kau sudah datang..." menghela nafas berat. "Huh. Maaf membuatmu melihat betapa buruknya suasana hatiku saat ini. Tapi, sungguh aku tidak bisa menahannya. Wanita itu benar-benar membuat ku marah." keluh Jiang Wanxi, wajahnya kembali memerah bila mengingat percakapan tadi bersama Rayan.


"Wanita itu? Siapa dia? Apa dia baru saja dari sini?" tanya Melany Gong.


"Tentu saja. Eh! Seharusnya kau sempat bertemu dengannya di koridor tadi. Dia belum lama keluar. Dia seorang dokter." Jiang Wanxi memberitahu.


"Wanita yang bersama perawat tadi?" tebak Melany Gong yang dibenarkan segera oleh Jiang Wanxi.


"Ya! Kau melihatnya kan? Dia orangnya!" kemarahan kembali menyesakkan dadanya.


Kening Melany Gong berkerut memikirkan kebetulan ini.


"Jadi, kau benar-benar menyukai Shin Da Ming?" tanya Melany Gong guna memastikan.

__ADS_1


Kini giliran Jiang Wanxi yang mengerutkan keningnya. "Kenapa kau bertanya. Bukankah kau sudah tahu?!"


"Ya, memang. Tapi, kupikir selama ini itu hanya kekaguman semata. Siapa yang tidak tahu kalau sebelumnya Shin Da Ming pernah menjalin hubungan dengan kakakmu. Jadi, aku tidak berpikir kau memiliki pemikiran seperti itu untuk kekasih kakakmu. Ya, meskipun itu sudah menjadi cerita lama. Tapi... Bukankah selama ini tidak terlihat kalau kau ingin memperjuangkannya? Jadi, kukira hanya begitu saja." jelas Melany Gong setelah menemukan fakta baru.


"Hah... Sudahlah, tidak mengherankan juga kalau kau tidak tahu. Kita sudah sangat lama tidak memiliki waktu luang bersama. Jadi, tentu saja tidak ada kesempatan untuk berbagi cerita." jedanya dan balik bertanya. "Kau sendiri. Masih menyukai pria itu?"


Seutas senyum memuja ditampilkan. "Baru kemarin aku bertemu dengannya."


Jiang Wanxi berpikir sejenak tentang apa agenda kemarin. "Apa itu acara teater?" Melany Gong mengangguk.


"Kau tahu juga rupanya."


"Tentu. Aku juga mendapatkan undangan, hanya saja kemalangan membuatku tak bisa datang. Tunggu...! Itu artinya kau bertemu dengan kekasih pria itu juga, kan? Kudengar mereka selalu bersama."


"Jangan bicarakan soal dia. Wanita itu lebih liar dari dugaan ku." emosi Melany Gong terusik kala Reychu disebut meski tidak secara langsung namanya.


Jiang Wanxi menghela nafas kesal saat benaknya menarik sebuah kesimpulan.


"Ya, ini benar-benar menjengkelkan." matanya menyipit ganas. "Baik kau maupun aku memiliki musuh di garis yang sama. Benar, kan?" melirik Melany Gong dengan tatapan penuh maksud.


Melany Gong memandang ekspresi wajah sahabatnya sembari mendengarkan dengan seksama apa yang ingin Jiang Wanxi utarakan. Agaknya dia tahu kemana arah pembicaraannya.


"Bagaimana kalau kita bekerjasama untuk menyingkirkan keduanya? Istrinya Shin Da Ming dan kekasihnya Bai Liam!"


"Tampaknya kau benci sekali pada wanita itu."


"Sangat. Sampai ingin rasanya aku menyiksanya dulu sebelum melenyapkannya!" tatapan penuh kebencian dan kemarahan terpancar di kedua bola mata Jiang Wanxi yang menatap lurus keluar jendela kamar inapnya yang super mahal itu.


Bicara soal kamar inapnya, membuat dia ingin menumpahkan seluruh darahnya. Rayan membuatnya membayar mahal atas kamar yang dia tempati. Dia tahu, karena baru tadi diberitahu. Siapa yang tidak marah. Meskipun dia banyak uang, bukan berarti dia tak berotak saat menggunakannya.


Rayan benar-benar mengibarkan bendera perang padanya sejak awal.


Sementara, Melany Gong berpikir sejenak. Dia perlu memastikan ini pilihan yang tepat. Sebab, tampaknya seorang Reychu bukan lama yang mudah. Mengingat dari bagaimana Reychu tetap tersenyum nakal saat memberinya peringatan yang sekilas membuat orang berpikir dia tidak serius, tapi Melany Gong justru merasakan sebaliknya.


Agak tak percaya kalau perempuan seperti Reychu memiliki sesuatu seperti itu.


Tak lama keputusan pun dia pilih.


"Baik. Kupikir itu bukan ide yang buruk. Memang akan lebih cepat bila kita melempar satu batu untuk menyingkirkan 2 burung sekaligus." tuturnya dan Jiang Wanxi tersenyum senang mendapatkan rekan yang tepat.

__ADS_1



__ADS_2