
Ketegangan dan keresahan mengelilingi diri pelayan dari paviliun Bunga Malam, sementara 3Ry justru menunjukkan minat yang mirip dengan pemangsa yang menemukan mangsanya.
"Wohoho... Lihat siapa tikus kecil yang tidak beruntung ini? Bagaimana dia bisa masuk ke sarang ular begitu mudahnya? Tidak takut mati kah?" berondong Reychu dengan beberapa pertanyaan menggunakan nada jenaka khas dirinya.
Terlihat jelas, dia begitu senang menggoda lawannya.
"Jangan menggodanya, Rey. Dia sudah hampir mengompol, karena ketakutan." ejek Rayan dengan raut wajah polos tak berdosa.
"Hahaha... Tidak, Ray. Jangan mengompol. Itu terlalu sederhana. Kenapa tidak mati saja?" sambungnya bersekongkol dengan Rayan.
"Hem... Mati, ya?!" pura-pura berpikir. "Tidak buruk. Bagaimana menurutmu, Ryu?" menoleh kearah Ryura yang sejak tadi hanya diam menonton kesenangan dari samping. Meski wajahnya tak ada sedikitpun perubahan.
"Terserah." akhirnya setelah lama diam, hanya itu yang dikatakannya.
Sementara, seorang perempuan yang tidak lain adalah pelayan dari paviliun Bunga Malam tempat Meng Pei Yun tinggal, sudah tak bisa lagi menahan dirinya yang telah ketar-ketir ketakutan hingga dengan ceroboh mau mencoba melarikan diri dari 3Ry melalui jendela terbuka yang tidak sengaja dilihat dari ekor matanya.
Ketakutannya ini bukan ketakutan karena lawannya lebih kuat. Ketakutan si pelayan ini lebih kepada, lantaran ketahuan langsung oleh orang yang ingin di celakai.
Namun, sayang seribu sayang...
Meskipun menguasai ilmu beladiri, tapi dia masih kalah cepat dari gadis-gadis 3Ry.
Wush...
Tak!
Sebuah pedang berukuran lebih pendek daripada pedang normal pada umumnya melesat melewati wajah pelayan perempuan itu dan langsung menancapkan diri di kusen jendela yang hendak ia lewati. Hal itu sukses menghalangi pelayan tersebut dengan guncangan keterkejutan yang diakibatkan, hingga membuatnya spontan berhenti sejengkal dari pedang yang menancap dengan sombongnya itu.
"Mau kemana, hmm...?" suara rendah namun terdengar mengerikan datang dari belakang tiba-tiba dan ternyata itu adalah suara milik Reychu yang juga adalah pelaku pelempar pedang pendek sebelumnya.
Sedang pedang lainnya langsung diarahkan tepat ke leher pelayan perempuan tersebut sampai membuat dia menahan nafasnya dengan tubuh menegang kaku.
"No..no..nona... A..ampuni saya... Sa..saya tidak bermaksud u..untuk me..melakukannya! Sungguh!" ujar pelayan itu dengan terburu-buru sambil tersendat dan tergagap. Ia memilih menyerah begitu saja. Siapa tahu mereka mau berbelas kasih padanya, pikirnya.
Hanya saja dia tidak berpikir kalau para gadis akan berani menjadi lebih kejam di tempat kekasih mereka.
"Oh... Benarkah?! Kenapa aku tidak percaya, ya?!" Reychu meledek sambil terus menekan mata pedangnya ke leher pelayan perempuan yang berhasil ia tahan.
"Daripada meminta ampun, kau pasti lebih ingin mati kan? Mengaku saja... Tidak usah malu... Aku akan dengan senang hati membantu. Hehehe..." lanjutnya.
Mata pelayan sudah terbelalak seperti akan keluar dari tempatnya. Percaya tidak percaya dengan keberanian gadis itu. Kemudian, tanpa sadar ia mengarahkan matanya kearah Ryura yang dari tadi diam saja guna ingin meminta belas kasihan.
"Nona Ryura tolong saya... Tolong maafkan saya... Kasihanilah saya, Nona... saya hanyalah orang suruhan! Saya tidak bersalah!" pekiknya minta tolong pada gadis yang sebenarnya akan menjadi target junjungannya, sayangnya gadis itu bahkan tak bergeming sedikitpun dari posisinya.
"HAHAHA...!"
Reychu dan Rayan tak bisa menahan tawa mereka melihat lelucon yang terjadi dihadapan mereka.
Pelayan itu sendiri, begitu mendengar tawa menggelegar dari dua gadis disana justru memberikannya getaran kecemasan ke dalam hatinya.
Di sisa-sisa tawanya, Reychu berceletuk ria seraya mengejek. "Kau... Hahaha... Apa yang kau lakukan, wahai pelayan perempuan? Apa kau baru saja memohon padanya?" menunjuk Ryura dengan dagunya sebagai tanggapan atas kekonyolan yang dilakukan pelayan didepannya ini.
Kemudian, ia menggelengkan kepalanya kasihan. "Jangan bod*h! Meminta tolong padanya, kau bukannya berumur panjang. Justru, malah langsung menuju gerbang neraka! Karena dia tak punya belas kasih! Sebelas-dua belas dengan Dewa Kematian!" intonasi di kata-kata terakhirnya ia rendahkan menjadi berbisik yang menyeramkan untuk didengar.
Tubuh pelayan itu seketika menegang hebat mendengarnya. Baru menyadari arti dari apa yang Reychu ucapkan, bahwasanya baik dia maupun junjungannya sama sekali belum mengenal dengan jelas orang seperti apa Ryura itu. Yang mereka tahu hanya, ketiga gadis itu dibawa langsung oleh Tuan Ye dan dua pria tampan nan berkuasa lainnya adalah gadis-gadis tidak jelas dan tampak lemah dilihat dari fisik mereka yang tak terlihat kuat sama sekali.
Tapi, sepertinya mereka -pelayan dan junjungannya- telah melupakan sesuatu.
Seharusnya, mereka tidak dengan mudah meremehkan orang lain. Apalagi yang baru ditemui.
__ADS_1
Merasa sudah terdesak dan tak memiliki jalan keluar. Pelayan itupun tak punya pilihan lain selain menyerang 3Ry demi keberlangsungan hidupnya. Bagaimanapun dia tak ingin mati begitu saja. Lagipula, dia juga bukan sembarang pelayan.
Sebagai pelayan dari keluarga ahli beladiri, sudah semestinya menghadirkan pelayan yang juga memiliki keahlian yang sesuai untuk diimbangi dengan tuan yang akan mereka layani.
Karena itu, dia juga termasuk seorang ahli beladiri, hanya saja dia berasal dari rakyat biasa sehingga kedudukannya tidak bisa lebih dari itu.
Langsung saja, disikutnya perut Reychu hingga membuatnya dapat terlepas dari cengkeraman gadis berambut sebahu itu. Sayangnya, pelayan tersebut tidak tahu kalau rencana dadakannya sudah terbaca oleh Reychu yang mana kini malah tersenyum penuh arti kearah si pelayan sambil bergerak mengambil pedangnya yang tertancap sebelumnya.
Menyenangkan sekali, pikirnya.
Kemudian berkata kepada kedua sahabatnya yang lain tanpa melihat kearah mereka. "Serahkan dia padaku!"
Usai berkata begitu Reychu langsung melesat menuju kearah pelayan yang mulai memberontak itu dengan gerakan cepat tanpa memberikan kesempatan untuk lawannya mengelak.
Beruntung, sebelum Reychu sempat melukainya suara Rayan menggema menghentikannya tepat waktu. "Jangan melukainya! Cukup buat dia lebih menurut." ada rencana dibaliknya.
"CK!" Reychu berdecak seraya mendelik kearah Rayan sebagai bentuk protesnya karena sahabatnya telah mengganggu kesenangannya.
Rayan yang dilihat begitu hanya mengedikan bahunya acuh.
Huh!
Meksi Reychu sangat ingin melihat darah segar langsung dari sumbernya, tapi dia tidak punya pilihan lain selain menurut. Bukan apa-apa, Rayan juga bukan tipikal orang yang akan mengganggu kesenangan orang lain kalau bukan karena ada suatu hal yang penting.
Jadilah, Reychu hanya bisa menurut.
Reychu pun menggunakan serangan menggertak. Walau menggunakan pedang, Reychu cukup lihai untuk tak sedikitpun membuat lawannya tergores bahkan pakaiannya pun selamat. Akan tetapi, pelayan itu malah tersudut sendiri karena tertipu oleh serangan yang Reychu layangkan. Berulang kali dia berpikir akan mati bila mata pedang itu menyayat kulitnya. Namun, selain suara tebasan dia hanya merasakan tubuhnya tetap baik-baik saja.
Syut...
Shaaa...
Shaaa...
Otak pelayan itu kosong sejenak sebelum akhirnya disadarkan oleh tendangan Reychu diperutnya sampai membuat ia terjengkang kebawah kaki Rayan dan Ryura.
Keadaannya persis seperti bola kaki yang di oper kesana-kemari.
Saat hendak bangkit sambil menahan sakit diperutnya, tiba-tiba saja punggungnya ditekan kuat oleh sesuatu dan saat dilihat ternyata itu adalah Reychu yang menggunakan kakinya untuk menekan punggung pelayan penyusup tersebut.
Ekspresi horor tergambar jelas di wajah pelayan itu kala mendapati dirinya saat ini sudah terjebak di tengah-tengah 3Ry.
Karena ketakutan dan keputusasaan memenuhi otaknya, diapun mulai melantur yang tidak jelas.
"Jangan bunuh saya! Kalian tidak bisa membunuh saya! Kalian akan dalam masalah jika saya sampai mati ditangan kalian! Asal kalian tahu saja, aku ini adalah pelayan setia dari Nyonya Selir Meng Pei Yun! Ibu sambung yang paling disayang oleh Tuan Ye! Beliau tidak akan tinggal diam, bila tahu pelayan Ibunya mati begitu saja ditangan pendatang seperti kalian! Tidak hanya itu... Kalian juga akan berhadapan langsung dengan Tuan Ye! Beliau pasti tidak akan membiarkan orang-orang tidak jelas seperti kalian mengotori tempat ini!" pelayan itu menyemburkan kalimatnya dengan menggebu-gebu, seolah ia sedang diburu sesuatu.
"Akhirnya, bicara sendiri dia 'kan?" batin Rayan dan Reychu licik.
Ternyata begitulah cara mereka membuat pelayan itu buka suara. Bahkan tanpa mereka bertanya. Betapa senangnya...
Sayangnya, respon 3Ry tidak seperti yang pelayan itu harapkan disisa-sisa kesempatan yang dianggap ada.
Gadis yang masih menekan punggungnya -Reychu- malah terbahak sambil berkacak pinggang. Gadis satunya yang berparas imut -Rayan- memilih bersedekap dada seraya memandang prihatin kearah pelayan malang dibawahnya. Sementara, gadis terakhir dengan wajah paling datar -Ryura- justru sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Hahaha... Kau ini bicara apa, hah? Cuap-cuap tidak jelas! Hahaha..." Reychu tertawa mengejek pelayan menyedihkan itu sepuas hatinya.
"Kasihan sekali..." timpal Rayan.
Pelayan tersebut yang ditertawakan menciut seketika. Tubuhnya meringsek meringkuk seolah mencoba menjauhkan diri dari 3 gadis mengerikan didepannya saat ini yang malah menertawakannya daripada ketakutan ketika nama 'Tuan Ye' disebut.
__ADS_1
Menyadari bahwa melarikan diri itu sia-sia, pelayan tersebut ketakutan bukan main hingga tak tahu harus berbuat apa.
"Sudah, Rey!" seru Rayan saat Reychu masih asik menertawai pelayan perempuan dikakinya ini.
"Haha... Baik... Baiklah... Ha... Ha..."
Selanjutnya, tangan Rayan bergerak santai kearah meja guna untuk mengambil cangkir diatas sana yang tak jauh darinya. Lalu, diambilnya teko yang juga tersedia disana untuk dituangkan isinya kedalam cangkir yang terdapat ditangannya.
Dengan gerak-gerik santai namun penuh pengertian, Rayan menyerahkan cangkir berisi air kepada pelayan perempuan yang sudah bergetar ketakutan diatas lantai yang dingin.
Kewaspadaannya hilang entah kemana.
Suara yang lemah lembut melantun indah di pendengaran si pelayan. "Minumlah dulu. Ini akan membuatmu tenang." senyum di wajah Rayan begitu lembut diperlihatkan hingga si pelayan tak menaruh curiga sedikitpun. Dia bahkan lupa bagaimana para gadis itu memperlakukannya tadi.
"Terimakasih." getar suara pelayan itu berucap sambil menerima cangkir yang Rayan berikan.
Ekspresi Rayan masih lembut, lain dengan Reychu yang malah sudah menarik senyum kasihan yang dibuat-buat sambil menggelengkan kepalanya.
Gluk... Gluk... Gluk...
Air dalam cangkir seketika habis ditenggak oleh sang pelayan, baru setelah itu senyum lembut di wajah Rayan berubah menjadi seringai licik.
Melihat itu, si pelayan akhirnya menyadari ada sesuatu yang salah.
Dengan mata terbelalak lebar, ia melihat kearah cangkir yang masih ditangannya dan wajah Rayan secara bergantian. Baru setelahnya...
"K..Kau... Kau..." semua kosa kata tersangkut di tenggorokannya sampai ia tak tahu harus berkata apa saat menyadari kalau ia baru saja ditipu.
Prang!
Cangkir ditangannya jatuh dan untungnya tidak sampai pecah.
"Kau apa, Nona pelayan?" tanya Rayan main-main dengan nada centilnya. "Ini adalah apa yang harus kau terima. Karena sudah berani mengusik kami. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ingin nyonya mu lakukan pada kami. Dia hanya seorang wanita gila yang tak tahu diri, begitupun pengikutnya. Apa dia pikir, dirinya begitu hebat hingga kami yang tampak tak berdaya ini bisa di usik begitu saja? Tidak! Itu salah besar!" jelasnya pada pelayan yang racun didalam tubuhnya mulai menunjukkan reaksi.
Ya, air yang diminum pelayan tadi adalah air yang sudah dicampurkan racun mematikan kedalamnya. Racun yang sebenarnya ditujukan kepada Ryura selaku sasaran sesungguhnya dari Meng Pei Yun. Sedang Reychu dan Rayan adalah bonus bila mereka ikut mati.
Itulah yang dipikirkan Meng Pei Yun sebelumnya. Tak peduli, Reychu dan Rayan terlibat atau tidak. Baginya, karena keduanya adalah orang terdekat Ryura, maka tidak ada bedanya.
Tapi, sayang... Bukannya rencana berjalan mulus, pelayannya pun harus mati karena hal itu.
Tubuh pelayan itu mulai mengejang dan perlahan membiru, terlihat jelas dari wajahnya yang menegang dari waktu ke waktu itu.
Semakin lama, kondisinya kian menurun.
Dengan disaksikan oleh 3Ry yang berdiri menjulang disekelilingnya, saat itulah ia baru tahu bahwa ketiga gadis dihadapannya adalah bukti nyata dari kelemah-lembutan yang dapat mendatangkan kematian.
Brugh!
Tubuh pelayan itu pun ambruk setelah tak lagi memiliki daya dan dengan mata sayu yang perlahan tertutup rapat. Reychu entah sengaja atau tidak malah mengambil teko diatas meja dan di jatuhkan di dekat tubuh tersebut.
Rayan yang melihatnya, tak bisa bila tidak memberikan tatapan datar kearah sahabatnya yang tidak jelas ini.
"Huh... Kau ini..."
"Apa? Ini biar lebih dramatis!" jawab Reychu dengan ekspresi bod*hnya.
akhirnya up lagiπ π π π π π
__ADS_1