
Perjalanan mereka kini ditempuh dalam waktu 2 jam sebelum akhirnya sampai ke desa terdekat dengan dermaga Negara Angin yang berada disisi barat. Selama perjalanan itu juga setengah waktunya di gunakan untuk melihat pemandangan indah nan subur di tanah Benua Tenggara dan sisa waktunya di gunakan untuk tidur, kecuali Ryura dan Furby, yang lainnya sudah masuk ke alam mimpi.
Sepanjang perjalanan yang kereta mereka lewati, Ryura tak sedikitpun merubah raut wajahnya meskipun sudah disuguhkan keindahan alam yang luar biasa memanjakan mata. Dia melihat, tapi hanya melihat. Tidak ada keinginan untuk memujinya ataupun yang lain.
Teramat sulit untuk membuat dirinya dapat menunjukkan reaksi yang sewajarnya ditunjukan oleh orang-orang normal kebanyakan.
Tapi, sebenarnya Ryura akui pemandangan di Benua Tenggara atau kebanyakan orang menjulukinya sebagai Benua Musim Semi merupakan pemandangan paling indah dari negara tempat pemilik tubuh ini berasal. Disana selain panas juga lumayan gersang. Berpikir sejenak, mungkin karena itu adalah Negara Api jadi cenderung panas dan gersang seperti namanya.
Sayangnya, dia bukan orang yang tidak punya kerjaan sehingga mau menyibukkan diri untuk sekedar memikirkan hal yang sepele seperti itu.
Hampir tiba. Dari kejauhan Ryura sudah mulai melihat satu demi satu bangunan rumah gaya kuno yang berdiri dengan jarak yang berbeda-beda. Mulai dari berjauhan hingga semakin lama semakin terlihat bangunan itu dibangun berdekatan dan pada akhirnya Ryura dapat melihat desa yang indah juga asri dengan hiruk-pikuk yang tidak tampak seperti desa kecil.
Ternyata, pada kenyataannya desa itu memang bukan sekadar desa kecil yang tak terlihat di Negara Angin. Seperti halnya desa-desa kecil pada umumnya yang terbelakang dan diabaikan.
Desa itu bernama Desa Dambao, desa di ujung barat Negara Angin.
Desa dengan keindahannya tersendiri, karena terdapat pohon-pohon berbunga yang beraneka warna. Tiap kali angin bertiup, beberapa bunga itu akan ikut terbawa angin hingga beterbangan dan semakin memperindah tampilan alam asri di desa itu.
Tak terasa gerbong kereta mereka masuk juga ke dalam desa usai menembus gerbang desa.
Jalanan yang halus dari tanah selebar 2 meter di apit oleh tebaran rumput hijau yang sepertinya bukan jenis ilalang sehingga rumput pendek itu menjadi penyempurna lingkungan desa.
Rumah-rumah yang dibangun memiliki ukuran yang sama, seolah disengaja dengan jarak antara satu dengan yang lain beragam. Meski begitu, secara keseluruhan desa Dambao termasuk desa yang luas dengan jumlah penduduk yang banyak dan terjaga kelestariannya.
Sepanjang jalan memasuki area desa Ryura hanya memandangi semua yang terpampang didepan matanya tanpa berkata apapun. Furby pun memilih diam saja, meskipun ia sebenarnya tidak nyaman dengan keterdiaman mereka. Tapi, karena tak tahu harus memulai dengan topik apa Furby memilih ikut diam dan fokus pada perjalanan dia dan yang lainnya. Paling tidak harus bisa tiba sebelum festival dimulai.
Tiba-tiba...
"WAAH... INIKAH SURGA DUNIA? INDAHNYA....!!!" celetuk Reychu ketika kepalanya entah kapan muncul di jendela kereta sambil menyingkap tirai jendela disana.
"HEI, RYURA! KITA AKAN KEMANA SETELAH INI? BERHENTILAH SEJENAK, AKU LAPAR! CACING DI PERUT KU TIDAK BISA MENUNGGU LEBIH LAMA LAGI!" teriak Reychu langsung tanpa peduli bahwa suaranya ternyata sampai ke telinga beberapa penduduk desa Dambao yang tampaknya baru akan pergi ke ladang untuk bertani, terlihat dari cangkul dan keranjang yang mereka bawa.
Para penduduk desa mulai berbisik tentang kemunculan pendatang asing ke desa mereka dari arah barat. Mereka tahu rombongan 3Ry sudah pasti datang dari dermaga.
Mendengar itu Ryura hanya melirik sekilas walau tidak tepat pada objeknya langsung, kemudian bergumam tanpa peduli dapat didengar atau tidak.
Reychu pun tak ambil pusing apakah kata-katanya didengar oleh Ryura atau tidak, karena ia jelas tahu meskipun Ryura sedang tidur semua panca inderanya tetap berfungsi dengan baik. Karena itu, sebenarnya Ryura adalah gadis yang amat sensitif pada sesuatu yang membuatnya tidak senang, akan tetapi siapapun yang belum mengenalnya akan sulit untuk mengetahui apa yang bisa membuatnya tidak senang itu.
Dan ternyata, teriakan Reychu mampu membangunkan Rayan dan yang lainnya dengan gerakan tersentak kaget. Tapi, kapan dia memperhatikan itu?!
"Si*lan kau, Reychu! Kau mau membunuh ku ya? Aku terkejut tahu!" pekik Rayan kesal seraya mengusap dadanya yang masih merasakan jantungnya berdebar kencang lantaran kaget, belum lagi pusing kepalanya yang didera akibat terbangun tiba-tiba.
Reychu mendengar itu langsung menoleh ke dalam kereta tempat dimana Rayan berada.
"Kau terkejut?! Wow, itu mengejutkan ku! Aku tidak tahu kau bisa tidur nyenyak didalam ruang sempit seperti ini. Dan... Kau bilang apa tadi? Membunuh mu?! Hahaha... Aku baru tahu ternyata kau tahu kalau aku sempat memikirkannya!" entengnya Reychu berujar tanpa menyadari mata Rayan telah terbuka lebar akibat marah yang telah sampai di ubun-ubun.
"Kau bilang apa tadi..." seru Rayan meminta pengulangan, meski sebenarnya tidak karena ia sudah sangat jelas mendengar kalimat tersebut. Bagaimana bisa dia tak mendengarnya dengan jelas. Hanya saja, itu Rayan lakukan cuma agar Reychu mengulang kalimatnya sehingga ia bisa langsung menghajarnya di detik berikutnya.
"Oh, kau sudah mulai tuli, ya? Kasihan... Tapi, tak perlu khawatir... Kau masih tetap cantik walau cacat."
Bugh!
Tendangan pun melayang telak ke kaki Reychu begitu gadis gila itu menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Ouch!" keluhnya tak sempat menghindar karena tak terpikirkan akan di tendang oleh sahabatnya.
"Mati sana kau! Bisa-bisanya kau berkata begitu padaku! Mulutmu itu beracun sekali! Siapa yang mau dengan perempuan seperti mu, hah! Aku bertaruh kau akan menjadi perawan tua hingga kau mati!" amuk Rayan dengan perasaan buruk yang campur aduk.
Duan Xi, Ruobin, dan Chi-chi bergumam malas dalam hati. "Mereka mulai lagi..."
Mereka memilih diam dan tak ingin ikut campur urusan kedua gadis itu.
Kedua gadis yang katanya sahabat karib itu selalu seperti ini. Tiada hari tanpa bertengkar. Tapi, tak pernah benar-benar sampai saling bermusuhan.
Unik, bukan?
"Apa?! Jangan asal kalau bicara! Aku tidak merasa akan menjadi perawan tua! Lagipula, mulutmu juga tidak kalah beracun dariku. Mana bisa kau mengatai ku se-kasar itu! Walau mulutku beracun tidak ada yang akan menyangkal betapa cantiknya aku! Kau bahkan sampai iri, kan?" timpal Reychu tak mau kalah tapi tetap dalam mode santai.
"Matamu buta! Siapa yang bilang kau lebih cantik dariku?! Di lihat dari segi manapun, aku jauh diatas mu!" pekik Rayan membalas. Ia sedang diselimuti kekesalan di pagi hari. Benar-benar sial, menurutnya.
Tanpa sadar keduanya telah melantur ke topik lain.
"Kau itu lebih pendek dariku. Apa yang bisa kau banggakan?!" ejek Reychu langsung.
"Aku tidak pendek. Tubuh ini hanya belum berkembang!" tak mau mengakui kalau tubuh yang dia tumpangi memang berukuran mungil.
"Haha... Kau tidak bisa mengelak lagi! Memangnya berapa usiamu sekarang? Sampai kau bisa berkata belum berkembang! Lihat aku! Betapa matangnya tubuh ini!" Reychu mulai bergerak untuk menunjukkan apa yang sedang ia banggakan. "Kau lihat ini!" di takupnya dada kembarnya secara terang-terangan. Tiga lainnya yang diam sejak tadi, tidak bisa tidak terkejut dengan tindakan Reychu.
Ruobin sampai menahan nafas dibuatnya, siluman rubah perak itu tak bisa menahan naluri rubah nya yang menyukai hal-hal demikian. Dia bahkan menjadi sulit mengendalikan diri hingga mengumpat dalam hati atas tingkah gila Reychu. Sedang Duan Xi dengan cepat menunduk memalingkan wajahnya yang kini memerah. Memilih untuk tidak melihatnya lebih lanjut. Dia tak ingin matanya ternodai dengan kegilaan Reychu sambil terus berucap syukur didalam hatinya, tentang keputusannya mengambil Ryura sebagai muridnya.
Sementara, Chi-chi segera menutup kedua matanya dengan telinga panjangnya. Dia jelas tahu apa itu. Hidupnya jauh lebih lama dari sahabat manusianya. Kapan dia masih menjadi bocah siluman yang polos?!
Berlanjut ke Reychu dengan kegilaannya. "Lihat... Besar bukan! Ini kalau di remas akan sangat memuaskan! Sedang punya mu... Aku bahkan ragu dia ada seukuran kepalan tanganku." tak lupa ia menggoyangkan miliknya dengan bangga.
"Oh, ayolah! Akui saja... Kau masih bukan apa-apa dibandingkan denganku... Iyakan?! Hmmm..." masih senang mempermainkan Rayan.
"Kau..." belum sempat Rayan membalas pintu kereta telah dibuka lebih dulu dan disana sosok misterius datar Ryura sudah berdiri tegak nan dingin. Sekilas ia tampak seperti pelayan yang membukakan pintu mobil untuk majikannya.
Dilihatnya Rayan dan Reychu bergantian sampai membuat kedua gadis itu kikuk dan serba salah. Baru sadar kalau suara mereka pasti mengganggu ketenangan Ryura. Tapi, Rayan tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengadu.
"Ryu, dia gila! Kau harus memberinya pelajaran!"
"Apa?! Aku?! Jangan beraninya kau melimpahkan semuanya padaku!" tak terima Reychu atas apa yang Rayan adukan, iapun ikut mengadu. "Salahkan dia! Dia yang sok imut dan sok cantik ini selalu tak mau kalah denganku!"
"Apa katamu..."
Layaknya anak kecil yang bertengkar, begitulah keduanya saat ini.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Ryura pun mengulurkan kedua tangannya kearah sahabatnya dan detik berikutnya...
Brugh!
"Akh!"
"Oukh!"
Keduanya mengeluh kesakitan bersama, sebab Ryura dengan tak berperasaan nya melempar keduanya keluar dari dalam kereta dengan tidak ada lembut-lembutnya. Sementara yang masih tersisa di dalam kereta tercengang melihatnya.
__ADS_1
"Ini baru murid ku!" bangga Duan Xi dalam hati.
"Hahaha... Rasakan itu! Siapa suruh kalian berisik!" ledek Furby dalam hatinya dari depan kereta, tak lupa pula terkikik bahagianya melihat momen tersebut.
"Ou... Itu pasti sakit." batin Ruobin dan Chi-chi meringis bersamaan.
Tanpa menunggu Rayan dan Reychu bangkit, Ryura sudah lebih dulu menaiki kereta dan melanjutkan perjalanan mengabaikan kedua sahabatnya yang kini mulai meneriaki nya juga mengejarnya.
"RYURA! TUNGGU! KAU TIDAK BISA MENINGGALKAN KAMI SEPERTI INI!" teriak Rayan sambil berlari mengejar kereta yang terus melaju pergi.
"RYURA...!!" Reychu pun tak tinggal diam.
Tak lama kemudian, mereka pun lelah dan berhenti sejenak untuk menetralkan nafas mereka..
"Ini salahmu!" tuduh Reychu langsung seraya membungkuk memegangi lututnya.
"Aku?! Kau yang salah! Kenapa jadi aku!" Rayan mengamuk tak terima sambil berkacak pinggang. Dadanya masih naik-turun lantaran terengah-engah.
"Kalau kita tidak bertengkar Ryura tak akan menurunkan kita seperti ini." terang Reychu mulai kembali melangkahkan kakinya perlahan. Bagaimanapun, kakinya nyaris mati rasa akibat berlari mengejar kereta.
Ikut menyusul. "Jadi, kau salahkan aku? Apa kau sadar siapa yang memulai duluan!"
"Ya, kau lah!"
"Aku lagi?!"
"Ya, lalu siapa? Aku? Ya, tidak mungkinlah..."
Mereka terus seperti itu di sepanjang jalan, seolah tak lagi peduli dengan kereta yang sudah mulai menyerupai titik hitam dari kejauhan.
Mereka tidak takut sama sekali akan ditinggalkan. Karena, ini bukan kali pertama mereka berakhir malang berdua seperti ini. Di kehidupan sebelumnya bahkan lebih sering.
Entahlah, mengapa mulut mereka kalau sudah di pertemukan tak bisa diam walau sebentar. Alhasil, Ryura yang tak tahan sampai mendepak mereka sebagai bentuk pembelajaran. Sayangnya, itu tak membuahkan hasil apapun. Rayan dan Reychu seperti sudah tercipta seperti itu untuk satu sama lain.
Kereta yang sudah jauh itu terus saja bergerak.
Dari dalam Ruobin bertanya pada Ryura. "Nona Ryura, apa tidak apa-apa mereka di tinggal begitu?" sebenarnya ia ingin ikut turun tadi, tapi sorot mata tak terbaca Ryura menakutinya seperti memberi tanda untuk tidak ikut campur. Jadilah, dia didalam saja.
"Tidak!" singkat, padat, dan tak jelas. Tapi, tak bermaksud untuk menjelaskan lebih rinci.
"Biarkan saja. Itu bagus untuk mereka." celetuk Duan Xi kemudian.
"Bagaimana bisa kau berkata begitu?" bingung Ruobin.
"Mereka tak bisa diam kalau sudah berdekatan. Jadi, meskipun kemungkinannya kecil. Dengan begini mereka tahu kalau mereka sedang dihukum." jelas Duan Xi menurut apa yang ia analisis sendiri. Tapi, itupun tidak sepenuhnya salah. Sebagian begitulah rencananya, sisanya karena Ryura merasa terganggu.
"Kasihan Chu-chu." cemberut Chi-chi sambil mengintip melalui jendela untuk melihat kedua gadis yang semakin lama semakin tertinggal jauh dibelakang.
Hingga tak terasa mereka sampai juga di pusat Desa Dambao. Desa yang lebih mirip seperti kota kecil.
__ADS_1
(pinterest)
selamat membaca gaess πππ