
Menunggu adalah apa yang sedang dilakukan oleh ketiga orang gadis disana.
Rayan dan Reychu sedang menunggu reaksi yang akan terjadi pada Ryura, sedang satu gadis lainnya sedang menunggu Rayan dan Reychu merasakan akibat dari racun yang ia berikan.
Tanpa mereka sadari, Shin Mo Lan tampaknya menerima sinyal aneh dari ketiganya. Hal itu membuatnya ikut melihat kearah Ryura yang masih tenang ditempatnya.
Dia berpikir kalau ketiganya mungkin sedang memperhatikan Ryura, karena dia sekarang menjadi calon istri dari seorang pemimpin Sekte Salju Perak.
Sejauh ini, itulah yang terlihat.
Tak ada yang tahu, seberapa kuat saat ini Ryura mencengkeram paha Ye Zi Xian hingga membuat pria itu meringis dalam diam. Ryura melakukan itu guna menahan diri dari reaksi aneh yang mulai dialami tubuhnya.
Ryura sudah menduganya kala Reychu menukar cangkir teh mereka. Ini juga bukan kali pertama saat Reychu melempar masalah kepadanya. Hanya saja, tak terpikirkan olehnya kalau efek racun yang diberikan membuatnya menjadi seperti wanita hina yang menjijikkan.
Kilatan membunuh muncul dimatanya yang menunduk tenang. Ryura juga mengabaikan ringisan yang didera Ye Zi Xian. Bagi Ryura dia butuh tempat untuk melepaskan kekacauan yang dia derita saat ini.
Karena itu, dia menoleh sedikit kearah Ye Zi Xian dalam diam. Menunggu pria itu menoleh untuk membalasnya.
Mungkin karena sehati, detik berikutnya Ye Zi Xian pun menoleh guna melihat gadisnya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Begitu ia melihatnya, apa yang ia lihat justru membuatnya tertegun.
Entah kenapa lirikan kecil dari mata Ryura yang biasanya kosong, kini tampak seperti tengah menggodanya. Belum lagi wajahnya yang bersemu merah. Secara keseluruhan, Ryura jadi terlihat sedikit sensual.
Ye Zi Xian tak bisa membantu tapi berkedip beberapa kali untuk memastikan kalau ia tak salah melihat.
Sampai sepenggal kata dari Ryura menyadarkannya kalau sesuatu telah terjadi pada pujaan hatinya.
"Bawa aku pergi!" bisiknya dengan nada sensual yang ditahan sekuat tenaga. Ye Zi Xian juga menyadari hal itu.
Cukup tahu kalau Ryura sedang tidak baik-baik saja.
Wajahnya menggelap seketika. Dalam hati dia sudah bersumpah, kalau yang terjadi pada Ryura karena ulah seseorang yang berniat mengacaukan kekasihnya, Ye Zi Xian tidak akan segan-segan untuk membunuh pelaku tersebut.
Tanpa kata, dengan aura dingin dan mencekam yang menyebar keluar dari tubuhnya, mengakibatkan seluruh ruang makan terdiam dan merasa sesak juga tertekan oleh aura yang Ye Zi Xian lepaskan.
Kaisar Agung Bai yang turut merasakannya pun memberinya tatapan ingin tahu. Tapi, sepertinya suasana hati Ye Zi Xian sedang jatuh ke bagian terburuk hingga dia tidak repot-repot melihat ke sekelilingnya dan langsung bangkit sambil menggendong Ryura ala bridal style. Dia membawa Ryura pergi begitu saja.
Rayan dan Reychu menelan ludah mereka masing-masing saat tahu kalau sepertinya kejadian ini membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya dibangkitkan.
"Rey, ini semua salah mu!" tuduh Rayan dengan suara kecil agar tidak didengar oleh orang lain kala mengingat kalau Reychu lah yang menukar cangkir teh tersebut.
"Mana aku tahu akan jadi seperti ini. Siapa sangka, kalau pria yang serupa permen karet itu akan berubah menjadi monster saat melihat orang yang dicintainya dalam masalah." jawab Reychu masih tanpa rasa bersalahnya.
"Kalau begitu kita juga harus pergi sekarang. Aku butuh waktu untuk membuat penawarnya. Aku takut efeknya akan lebih parah dari itu. Bagaimana kalau sampai ketahap 'itu'?!" was-was Rayan merasakan kegelisahannya. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana.
"Ambil hikmahnya. Setidaknya, Ryura melakukannya dengan kekasihnya. Akan gawat kalau dengan pria lain. Terlebih kalau pria itu jelek. Rusak sudah reputasi Ryura sebagai perempuan terkeren di jagat raya." lantur Reychu tak ada seriusnya.
Tak!
"Hish... Kenapa menjitak kepala ku?" sungut Reychu setelah kepala belakangnya di ketuk kuat oleh Rayan seperti yang sudah-sudah.
"Mulutmu itu! Apa perlu ku jelaskan lagi. Ini bukan masalah dengan siapa dia akan melakukan 'itu'. Aku bahkan bisa yakin seratus persen kalau Ryura pasti tidak akan peduli bila dia kehilangan keperawanannya. Masalahnya adalah dia tahu kalau cangkir yang kau tukarkan terdapat racun didalamnya. Menurut mu apa yang akan terjadi dengan pelakunya." mendengar penjelasan Rayan, Reychu mengangguk paham.
"Tentu, apalagi... Mati 'kan?" entengnya. Rayan selalu ingin tepuk jidat saat menghadapi kelakuan sahabatnya ini.
"Tepat sekali! Tapi, ini sangat beresiko. Selain karena dia adalah anak guru besar di Akademi Zhilli, dia tampaknya memiliki hubungan yang cukup baik didalam keluarga Zhilli Shin. Ini berbahaya. Apalagi dia juga masih berutang padaku. Aku belum bermain-main dengannya, kalau sampai Ryura turun tangan. Keesokan harinya, kita akan ikut melayat... Dan aku tidak mendapatkan manfaat apapun. Yang parahnya lagi, kita akan menjadi sasaran mereka yang berpihak pada si pelaku. Bagaimanapun ini terjadi saat kita ada disini! Pasti juga ada yang mengetahui kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi antara kita dan dia, sehingga bisa melimpahkan semua kesalahan pada kita! Bagian terburuknya, aku bisa gagal menikah dengan Shin Mo Lan! Ini benar-benar buruk!" terangnya singkat dengan maksud yang jelas.
__ADS_1
Walau pada akhirnya, tujuan Rayan hanya Shin Mo Lan.
"Haish. Ku pikir apa yang kau takutkan. Ternyata, karena pria itu." memutar bola matanya malas. "Kau hanya perlu menculiknya, lalu mengoleksinya seperti dulu." kata Reychu memberikan solusi sesatnya.
Tak!
"Apa lagi..." keluh Reychu saat kepalanya lagi-lagi dijitak. Dia merasa kalau kepalanya adalah samsak bagi Rayan.
"Sejak kapan aku menjadi segila dirimu? Kapan aku mengoleksi pria? Kalau ada yang mendengar kata-kata mu, mau taruh dimana wajahku. Reychu si*lan!" emosi yang ada, setiap kali Rayan berhadapan dengan Reychu.
"Ouh?! Bukankah selama ini, itu yang kau lakukan tiap kali melihat pria tampan?! Jangan berkilah, sayang!" masih tetap teguh dengan pendapatnya.
"Huff... Reychu, itu hanya foto. Kau paham." jawab Rayan datar sedatar-datarnya saking jengah nya dia.
Paviliun Mutiara.
Brak!
Pintu ditutup dengan kasar oleh Ye Zi Xian karena masih terbalut amarah mengetahui pujaan hatinya diracuni.
Meski tampaknya racunnya tidak berbahaya. Tapi, melihat tingkat keagresifan Ryura meningkat dari sebelumnya. Ye Zi Xian bisa pastikan, Ryura akan kehilangan reputasinya dalam sekejap jika saja ini dilihat oleh orang luar. Walaupun ia ragu kalau Ryura adalah tipe gadis yang mau repot-repot memikirkan reputasinya.
Tapi, sekarang...
Apa yang harus ia lakukan?
Deg!
"Sayang, jangan menggodaku atau aku akan mengambilnya malam ini!" tegasnya memberi peringatan lebih awal.
Dibawanya Ryura ke ranjang dan diletakkan segera. Siapa sangka, kalau secepat kilat keadaan langsung berbalik.
Zruugh!
Kini, Ye Zi Xian berada di bawah Ryura yang dengan santainya mendudukkan dirinya di atas perut Ye Zi Xian yang keras.
Bukannya senang, Ye Zi Xian malah berkerut tak senang. Amarahnya menjalar dengan cepat hingga siap meledak kapan saja.
Itu terjadi bukan karena dia tidak lagi menyukai Ryura, melainkan karena dia tahu keagresifan Ryura bukan atas keinginannya sendiri. Dia sudah pernah melihat Ryura agresif sebelumnya, tapi sikap itu terlihat keren dan lebih menggoda dimatanya. Tidak seperti saat ini yang diyakini dibawah pengaruh racun.
Keagresifan Ryura saat ini benar-benar murahan dan Ye Zi Xian tidak suka itu. Tetapi meskipun demikian, Ye Zi Xian masih tetap tak bisa bertindak kasar untuk menghentikan tingkah laku Ryura yang tidak wajar ini. Dia akan bertindak saat waktunya tepat.
"Ryura sayang... Aku akan benar-benar membunuh orang itu yang berani merusak kesayangan ku menjadi seperti ini. Aku bersumpah...!" desis Ye Zi Xian diiringi seringai dendam di bibirnya sambil membiarkan Ryura bergerak menggodanya sesuai dengan reaksi yang seharusnya ditimbulkan. Dia tahu cepat atau lambat pengaruh racunnya akan hilang juga.
Hanya saja, melihat Ryura semakin kehilangan kesadarannya dan terus bereaksi dibawah kendali racun tersebut, semakin marah dia.
"Siapapun itu! Aku akan menghancurkannya hingga tak lagi bisa bereinkarnasi! Beraninya dia meracuni gadis ku!" amuknya dari dalam hati sambil terus mengawasi Ryura yang kian liar menggodanya dari atas tubuhnya.
Sampai-sampai, kerah lehernya sudah jatuh melorot dan memperlihatkan tulang selangkanya yang indah. Tapi, sayang... Kondisi yang tidak benar ini sama sekali tidak membangkitkan gairahnya untuk memakan Ryura.
Bila melihat Ryura dalam keadaan seperti ini, ada setitik kebanggaan dalam diri Ye Zi Xian. Yaitu, dia bangga pada dirinya sendiri karena dia tidak tertarik pada Ryura yang seperti ini. Dia lebih mudah tergoda dan menjadi sulit menahan diri bila Ryura yang sesungguhnya yang ia lihat.
Tanpa Ryura -yang baik-baik saja- menggodanya, dia sudah tergoda lebih dulu. Sampai setingkat itulah ketertarikannya pada Ryura. Maka dari itu, Ryura yang dibawah pengaruh racun seperti saat ini, sama sekali tidak menggugah nafsunya.
__ADS_1
"Sayang, aku suka kau yang agresif seperti saat kau dengan berani mencium bibir ku waktu itu. Tapi... Sikap agresif mu yang seperti ini hanya bisa membangkitkan kemarahan ku. Aku sangat tidak suka! Oleh karena itu, pelaku yang membuat mu seperti ini harus siap menanggung akibatnya! Ini adalah konsekuensi dari berhasil membuat seorang Ye Zi Xian marah!" ucapnya sambil memandangi wajah Ryura diatasnya dengan dingin namun lembut.
Tapi, percayalah. Dia tidak akan berhenti marah sebelum pelakunya tertangkap.
Ditempat lain, seorang gadis mengamuk tak karuan. Ia marah karena rencananya gagal. Dari awal sampai akhir perjamuan, tidak ada yang dinantikannya muncul. Ini membuatnya marah.
"Si*lan! Bagaimana bisa terjadi?!" menoleh kearah pelayan suruhannya.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN?! APA KAU TIDAK MELAKUKAN APA YANG KU PERINTAHKAN?" dia -Jiang Yu Na- berteriak memarahi pelayannya.
Sedang si pelayan, dia berlutut sambil menangis ketakutan. "N..nona... Sa..saya be..be..benar-benar melakukan s..sseperti apa yang anda perintahkan, Nona. Su...sungguh... Huhu..."
"Lalu kenapa bisa gagal?! Kau tahu bukan aku membuat racun itu dengan susah payah, terlebih dalam waktu singkat... Kegagalan ini membuat usahaku sia-sia!" makinya terus dengan wajah yang sudah tak bisa dikatakan seberapa tak sedapnya wajah itu untuk dipandang.
"Ampun Nona! Pelayan ini salah! Tapi, sungguh. Saya melakukan semua yang anda perintahkan." pelayan itu terus terisak sambil memohon maaf pada junjungannya.
Pelayan kepercayaan Jiang Yu Na pun angkat bicara. "Nona, bila pelayan ini sudah melakukan sesuai perintah. Maka kemungkinan lainnya adalah bahwa mereka bukan orang yang bisa diremehkan." dia berkata demikian untuk mengemukakan pendapatnya.
Dengan nafas yang terengah-engah akibat marah, Jiang Yu Na masih mendengarkan perkataan pelayannya.
Melirik sekilas, lalu berkata dengan tajam. "Jadi, maksud mu... Ada kemungkinan mereka sudah menduga hal ini akan terjadi?"
"Bisa jadi seperti itu, Nona?"
"Tapi, tidak mungkin bisa begitu detail! Pasti ada sesuatu yang tidak aku ketahui!" ucapnya semakin tidak senang dihatinya, kala tahu kalau dia tidak hanya gagal tapi juga mendapati kalau ia memiliki lawan yang kuat.
"Pergi dan cari tahu kebenarannya! Aku ingin tahu apa yang menyebabkan mereka bisa bebas dari rencana ku." perintahnya tak mau dibantah.
"Baik, Nona!" pelayan bisa apa selain menuruti keinginan junjungannya.
Pelayan pergi dan tinggallah dia seorang diri di kamarnya.
Berjalan kearah meja rias, kemudian mendudukkan dirinya disana. Dipandanginya wajah sendiri sambil bersumpah.
"Tak ada yang bisa mengambil Shin Mo Lan dariku. Dia milikku!"
Sementara di tempat lain, Rayan sedang menghadap Shin Mo Lan dan membujuknya agar memberikan beberapa bahan herbal yang sedang dibutuhkan saat ini.
Bukan tak punya di ruang penyimpanan milik Ruobin, hanya saja beberapa bahan yang dibutuhkan tidak dia miliki.
Shin Mo Lan yang mendengarnya tidak memerlukan waktu berpikir lama untuk memberikan apa yang Rayan minta dengan begitu mudah. Disisi lain diapun sebenarnya penasaran dengan kemampuan Rayan dalam bidang ini.
what up sodara2...
Thor up ******lagi******... ***hihi.
Ni Thor kasih visualnya yang mirip2 dikit. susah sih nyarinya. Wokeh***.
(pinterest)
__ADS_1