3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MENGACUHKAN


__ADS_3

Hari telah berganti sore. Langit jingga mulai tampak jelas beserta udara yang kian mendingin. Walaupun begitu, seorang gadis terlihat menikmati suasana sore itu. Ia dengan ditemani beberapa pelayannya berjalan menyusuri halaman istana sembari melepas kebosanan yang melanda saat ia berada di kediamannya.


Sebenarnya ia enggan di buntuti, tapi setelah dipikir-pikir mungkin tidak buruk juga kalau mencoba menikmati statusnya saat ini sebelum nanti ia melepaskannya. Menikmati peran sebagai permaisuri dengan caranya sendiri.


Kini dalam kegiatan berjalan-jalan sorenya, di tengah perjalanan ia bertemu dengan teman baiknya, siapa lagi kalau bukan jenderal muda Long. Meskipun jenderal muda itu bukan benar-benar temannya melainkan teman pemilik tubuh, tapi tak apalah. Sekali-kali ia bersikap layaknya ini adalah hidupnya.


"Salam yang mulia permaisuri!" sapa Long Wan Shie memberi hormat dengan menunduk serta tangan yang di pautkan di depan wajahnya.


Reychu tersenyum sumringah begitu melihatnya. "Yo... Wan Shie! Santai-santai... Jangan terlalu formal denganku. Tidakkah itu membosankan?!" serunya yang merasa agak risih dengan sikap santun pria yang dekat dengan si pemilik tubuh sebelumnya.


"Maaf, yang mulia. Ini sudah peraturannya." sopan Long Wan Shie walau dengan sedikit bingung, ia merasa aneh dengan perubahan teman sekaligus gadis yang sudah dianggap adik olehnya.


Ini pertama kali baginya melihat permaisuri bersikap informal padanya meskipun sebelumnya ia sudah melihat itu pagi tadi. Tapi, tetap saja rasanya berbeda saat sedang berdua.


"Ck. Oh, ayolah... Gelar itu tak akan lama lagi aku sandang. Saat waktunya tiba, aku akan membebaskan diri dari belenggu menyebalkan itu." Reychu berdecak kesal lantaran Long Wan Shie mengabaikan permintaannya. Tanpa ia sadari kalau perkataannya cukup mengejutkan jenderal muda itu.


"Apa maksud yang mulia?" tanya Wan Shie syok, ia ingin memastikan kalau ia tak salah dengar.


Mengangguk membenarkan, Reychu menjawab santai tanpa beban. "Eum... Jangan terkejut berlebihan begitu. Aku memang berencana untuk melepaskan posisi permaisuri yang artinya aku akan menceraikan kaisar itu." ungkapnya tenang seolah kalimat itu bukan apa-apa.


"Yang mulia permaisuri!" tanpa sengaja Long Wan Shie berteriak menyebut panggilan gadis di depannya ini. "Tolong, jangan bicara sembarang! Tidak baik bagi seorang perempuan membicarakan tentang perceraian... Itu akan menjadi buruk untuk permaisuri sendiri kedepannya. Tidak akan ada pria yang mau menikahi yang mulia bila itu sampai terjadi. Yang mulia permaisuri, akan di anggap perempuan hina dan dibuang karena sudah berpisah dari kaisar! Jadi, tolong yang mulia untuk tidak berpikir demikian! Itu tidak benar!" cecarnya penuh kekhawatiran. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis muda didepannya saat ini, dimana banyak di luar sana gadis-gadis amat menginginkan posisi di sisi kaisar. Tapi, Ahn Reychu...


Reychu memutar bola matanya jengah seraya menghembuskan nafasnya enggan. "Jangan gila kau, Wan Shie! Kau pikir dengan aku tetap bertahan di sisi pria itu akan menguntungkan bagiku?! Jawabannya... Tidak sama sekali! Dia itu bodoh dan buta. Otaknya tidak pernah digunakan saat cintanya mendominasi. Pria yang kau sanjung itu, tidak lebih dari 'si budak cinta yang bodoh'. Cinta baginya adalah sesuatu yang positif sehingga dia tidak berpikir bila terkadang cinta bisa menjadi malapetaka." menarik tangannya untuk bersedekap. "Sudah begitu, kau minta aku untuk bertahan?! Yang benar saja! Lagipula aku sudah tidak mencintainya lagi. Mengingat itu, aku benar-benar merasa bodoh! Aku juga muak dengan Gong-Gong itu! Ingin rasanya membunuhnya dengan tanganku sendiri..." ucapan Reychu yang lebih terdengar antusias daripada penuh dendam di bagian akhir sukses menyambar pendengaran beberapa pelayan yang mengikutinya. Tak jauh berbeda dengan jenderal muda disana, iapun turut kaget mendengarnya.


Mereka semua kecuali Reychu, tentunya. Tak menyangka akan mendengar kalimat yang mampu membawa bencana itu dengan gamblangnya oleh permaisuri mereka.


Tanpa mereka sadari...


"Jadi, kau berniat untuk membunuh selir agung ku?" suara yang mengalun dingin tidak lagi asing di telinga Reychu menggema masuk bersamaan dengan suara langkah kaki yang berjalan kearahnya dan yang lain.


Lagi-lagi mereka disana selain Reychu tak bisa bila tak menahan nafasnya. Otak mereka mendadak tak dapat bekerja dengan baik. Pasokan oksigen pun seakan menipis. Ini sungguh masalah, pikir mereka.


Sementara Reychu yang juga mendengarnya segera menoleh untuk menghadap langsung si pemilik suara. Siapa lagi kalau bukan kaisar Li Hanzue.


Akan tetapi, bukannya terkejut atau takut dia malah melemparkan tatapan jenaka beserta seringai khasnya yang selalu menjurus kepada kegilaannya.

__ADS_1


"Ouh... Lihat siapa yang datang." katanya mengabaikan pertanyaan kaisar sebelumnya.


"Jawab aku, permaisuri..." desis Kaisar sembari menekan sesuatu yang mulai tak mengenakkan di dadanya.


"Soal itu... Kau sudah mendengarnya. Apalagi yang kau inginkan?!" jedanya dan kembali melanjutkan kala melihat tatapan menuntut dari kaisar. "Aku memang berniat membunuh wanita itu... Tapi, kalau hal itu kesampaian... 'Kan tidak ada yang tahu. Siapa yang akan menduga nantinya dia mati di tangan ku, atau..." jedanya lagi sedikit agak lama bermaksud untuk membuat mereka yang disana penasaran.


"Ditanganmu!" lanjutnya dengan nada rendah tepat di depan kaisar yang seketika itu juga terbelalak mendengar perkataan yang menurutnya tidaklah pantas.


"Permaisuri... Apa kau benar-benar ingin kembali dihukum?!" tuturnya dingin.


Mengedikkan bahunya acuh. "Hukum saja. Bahkan bila itu hukuman mati sekalipun, bukan masalah untuk ku."


"Kenapa kau jadi seperti ini?" akhirnya pertanyaan yang paling ingin di ucapkan keluar juga. Nadanya kali ini rendah namun tidak dingin, lebih kepada sendu. Tapi, tetap dengan suara yang tegas.


"Aku?!" tunjuk Reychu pada dirinya sendiri. "Seperti apa yang kau maksud?! Apa yang kau maksud seperti, aku yang tidak lagi lembut dan anggun?! Atau aku yang tidak lagi memperhatikan mu?! Atau aku yang tak lagi cinta padamu?!" menarik bibirnya merasa lucu. Sepertinya Reychu senang bermain-main dengan kaisar yang selalu di katai bodoh itu.


Kaisar tertegun mendengarnya. Sesungguhnya hatinya ingin berteriak pada permaisuri nya agar tidak berkata seperti itu. Tapi, justru mulutnya kelu untuk bicara seolah seluruh suaranya tersendat di tenggorokan. Ia sedih bila benar seperti apa yang Reychu katakan.


Kaisar diam tak bersuara. Reychu semakin yakin ada sesuatu yang mengusik pria tampan didepannya ini.


Semua yang ada disana terdiam, tak tahu harus berkata apa. Bahkan kaisar yang mempunyai otoritas tinggi pun tak bisa berbuat apa-apa.


Menarik senyum miring. "Karena tidak ada yang perlu di bicarakan. Juga karena kehadiran mu yang menggangu waktu kebersamaan ku dengan Long Wan Shie yang sudah lama tak bertemu. Maka, dari itu aku akan pergi. Jujur saja, melihat mu lebih lama membuat ku mengantuk. Hoamm..." Reychu menguap lebar hingga harus ia tutup dengan sebelah tangannya kemudian berbalik dan beranjak pergi.


Sebelum menjauh Reychu sempat berujar tanpa ingin berbalik lagi. "sampai jumpa, Wan Shie. Kuharap lain kali kita punya waktu banyak untuk mengobrol. Ada pengganggu itu sedikit menyebalkan." katanya yang bernadakan santai malah membuat mereka yang masih ada di tempatnya segera menoleh guna melihat kaisar, karena siapa yang tidak tahu kalau baru saja permaisuri Ahn menyindir kaisar secara terang-terangan.


Bukannya marah, kaisar justru dibuat melankolis. Ia sedih dan merasa kehilangan begitu permaisuri mengacuhkannya. Ada perasaan tidak terima dan tidak rela.


"Sungguh kah tidak penting lagi? ...kau sudah banyak berubah Ahn Reychu. Perubahan mu membuatku rindu kau yang dulu..." batin kaisar lirih perih.



Makan malam pun tiba. Kaisar memberi perintah untuk diadakannya makan malam untuk dirinya, permaisuri, dan seluruh selirnya. Entah apa yang terpikirkan olehnya hingga Ingin mengumpulkan penghuni Harem ke ruang makan Keluarga kerajaan.


Kini semuanya telah hadir dengan dia berada di tengah dan sisi kanannya terdapat permaisuri, berlanjut ke selir kehormatan, selir tingkat tinggi, dan selir tingkat pertama, lalu disisi kiri kaisar terdapat selir agung, berlanjut ke selir tingkat kedua, dan berakhir di selir tingkat ketiga.

__ADS_1


Makanan pun telah tersaji di meja masing-masing. Ada beraneka ragam macam menu makanan yang pastinya akan di nikmati seluruhnya. Bahkan Reychu tak menampik kalau saat ini ia benar-benar ingin melahap habis makanan yang ada di depan matanya.


Kaisar sempat melirik permaisuri nya sejenak dan bahkan sempat menarik senyum tipis, dari situ dapat dilihatnya kalau gadis itu sudah sangat tidak sabar untuk memakannya. Maka dari itu ia pun langsung membuka suara untuk mengizinkan para penghuni haremnya menikmati makanannya.


"Baiklah, silahkan dinikmati makanannya." tukasnya dan yang lainnya pun segera memulai acara makan malam mereka.


Suasana hening tidak ada yang berani bersuara dan itu wajar saja karena memang seperti itulah peraturan di kerajaan dalam kegiatan makan mereka. Tapi, sepertinya hal itu tak membuat Reychu menurut.


"Waah... Lezatnya... Jauh lebih lezat dari makanan yang ku makan di kediaman tulip. Mungkin karena pelayannya sudah di perintahkan seseorang agar tidak menyediakan makanan lezat untuk ku." katanya yang terlihat berujar sendiri namun cukup bisa mengambil perhatian seluruh orang yang menghadiri acara makan malam saat itu. Ia tak peduli karena terlalu menikmati makanannya.


"Ya ampun. Permaisuri, jangan seperti itu. Makanan di istana memang selalu enak. Mungkin karena yang mulia permaisuri tidak meminta dibuatkan makanan seperti itu makanya pelayan tidak melakukannya." sambut selir agung Gong Dahye karena panas yang menjalar tiba-tiba di hatinya kala melihat kaisar melirik permaisurinya bahkan juga tersenyum tipis barulah ia memulai acara makan malam nya. Cemburu? Tentu saja. Tapi, ia juga tak bisa sembrono untuk melancarkan aksinya kalau tidak ingin ketahuan oleh kaisar.


Kaisar diam namun memperhatikan kedua wanita yang sepertinya cukup penting untuknya. Meski yang satunya baru-baru ini ia anggap. Ia hanya ingin melihat akan sejauh mana perdebatan kecil ini berlangsung, sejujurnya ia tak ingin salah langkah lagi seperti halnya di masa lalu.


Kepala Reychu bergerak guna agar mudah melihat suara siapa yang begitu masuk kedalam telinganya malah menambah tebal kotoran yang ada. Ia tahu siapa, tapi tetap saja. Suaranya itu menjengkelkan untuk didengar.


"Apa aku perlu melakukannya disaat mereka seharusnya tahu apa yang harus aku makan." meletakkan sumpit yang tadi ia pegang ke tampatnya. "Selir Gong. Kau bersikap seolah kau yang paling mengerti disini. Jangan kau pikir bila si kaisar itu berada di pihakmu maka aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku permaisurinya disini, prioritas utama kedua setelah kaisar sudah seharusnya aku. Tapi, sepertinya sistem kerajaan sekarang sudah tidak dapat si tolong lagi." ujarnya panjang lebar dengan dingin kemudian segera berdiri hendak bangkit, namun Kaisar yang sejak tadi diam mengamati pun angkat suara.


"Permaisuri Ahn, mau kemana kau? Makan malamnya belum selesai!" tanya kaisar lantang.


Permaisuri hanya menoleh enggan kearahnya dan kaisar dapat melihat itu.


"Kau ajari selirmu itu cara agar tidak merusak kedamaian orang lain. Asal kau tahu saja. Kau dan dia sama-sama merusak mataku." kaisar terdiam. Ia tak bisa berkata-kata lagi padahal sebelumnya ia paling cepat tersulut bila ada yang berkata tidak sopan seperti itu. Tapi, kini kaisar cenderung memikirkan perkataan permaisuri nya yang tidak mengenakkan dihatinya. Jelas saja sikap kaisar yang demikian menjadi tontonan para selirnya. Membuat mereka menimbulkan banyak pertanyaan dari perubahan kaisar.


Usai berkata demikian, Reychu pun beranjak pergi namun sepertinya ia kembali berujar tanpa menghentikan langkahnya. Ia benar-benar acuh terhadap kaisar.


"Kaisar Li. Jangan lupa, mulai sekarang mintakan juru masakmu untuk memasakkan makanan enak dan antar kekediaman ku. Ku harap kau tidak mengecewakan ku." ucapnya tegas tak terbantahkan layaknya seorang penguasa.


Kaisar masih terus diam sambil memandang tubuh ramping itu keluar dari ruang makan Keluarga kerajaan.


Sepertinya tidak ada yang menyadari perubahan sikap permaisuri yang biasanya terlihat bertindak gila dengan caranya bicara yang selalu di warnai senyum khas miliknya. Bahkan ia keluar dengan sikap dinginnya setelah membalas perkataan Selir agung dengan nada rendah namun serius.


Apakah sesuatu telah terjadi padanya?!


__ADS_1


__ADS_2