
Suasana hati Ye Zi Xian terpancar dari senyum tipis di sudut bibirnya begitu dia memasuki ruang tengah sebuah mansion yang didirikan oleh ketiga pria tampan itu untuk dijadikan tempat berkumpulnya keluarga kecil mereka kelak.
Mereka berpikir sampai kesana.
Tentu, itu artinya mansion tersebut tidak diperuntukkan bagi keluarga besar dibelakang mereka. Lagipula, adanya mansion tersebut belum diketahui dan mungkin tidak berniat untuk diberitahu kepada orang lain. Ini khusus untuk para pasangan pelintas.
Begitu kira-kira...
Sudah ada Bai Gikwang dan Shin Mo Lan didalam, tengah duduk-duduk tampan di sofa empuk mereka. Munculnya Ye Zi Xian belakangan dengan suasana hati yang baik menarik minat mereka.
"Kau tampak bahagia sekali. Ada sesuatu yang menyenangkan mu?" tanya Shin Mo Lan sambil melihat sahabatnya mendudukkan bokongnya di sofa lain disisinya.
"Ini lebih dari sekedar menyenangkan ku. Ini luar biasa membahagiakan." serunya dengan wajah berseri-seri. Jelas sekali kalau apa yang terjadi dibelakang dua sahabatnya amat istimewa bagi Ye Zi Xian.
"Beritahu aku, apa itu?" tanya Bai Gikwang kali ini. Agak penasaran dengan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh sahabatnya. Pasalnya, menurut yang dia ketahui hanya hal-hal yang berkaitan dengan istrinya yang bisa membuatnya amat bahagia.
Dan ungkapan Ye Zi Xian berikutnya menjawab semuanya.
"Aku bertemu dengan istri ku."
Meskipun sudah menduganya, Bai Gikwang tetap tertegun iri mengetahuinya. "Huh!" alhasil, dia hanya bisa mendengus jengkel secara tiba-tiba yang langsung membuat Shin Mo Lan menggelengkan kepalanya tak berdaya melihatnya.
Siapa yang tidak iri tentang hal itu. Dia pun iri, tapi dia tidak seaneh Bai Gikwang yang kecemburuannya langsung mencuat ke permukaan tanpa bisa dicegah.
Seolah tak peduli dengan keirian sahabatnya, Ye Zi Xian lanjut berbagi cerita dengan penuh semangat.
"Dia lebih cantik saat dilihat langsung daripada dari fotonya. Temperamennya sama persis... Sorot matanya yang tak terbaca dan kosong sama persis... Auranya pun sama persis... Dia benar-benar istri ku... Ryura." tiba-tiba nadanya berubah agak menyedihkan dan frustrasi.
"Akan tetapi..." kalimat tersebut kian menarik atensi dua pria yang lain untuk mengetahui hal penting apa hingga nada Ye Zi Xian menjadi begitu serius.
"Dia tidak mengenaliku." keningnya berkerut saat ingatan beberapa waktu lalu kala masih di lorong menuju toilet berputar kembali.
"Benarkah?" cetus Shin Mo Lan semakin tertarik.
Satu persatu spekulasi bermunculan dibenaknya tentang mengapa pasangan Ye Zi Xian tidak mengingat sahabatnya. Agaknya dia menebak bila ada kemungkinan kalau istrinya pun ikut tak mengingat dirinya seandainya mereka bertemu nanti.
Ini menjadi tugasnya untuk mencari tahu, bagaimana bisa itu terjadi. Kalau-kalau ada sesuatu yang tidak mereka inginkan terjadi.
"Ya. Tadi aku baru saja selesai meeting disalah satu ruang privat. Lalu, keluar saat akan makan siang bersama rekan bisnis karena seseorang menelpon ku. aku pun mengangkatnya. Setelah bertukar beberapa kata, aku memutuskan untuk mampir ke toilet sebelum kembali. Siapa yang menyangka kalau wanita itu muncul dan membuat ku jijik. Tak lama setelahnya, istri ku muncul menyela. Dia sama mendominasinya seperti dulu..." senyum Ye Zi Xian terbit lagi bila sudah mengenai sesuatu yang berarti baginya.
Lanjutnya. "... Singkat cerita, wanita itu didorong mundur oleh istri ku sampai tak bisa berkata-kata lagi. Kemudian, Ryura berlalu begitu saja tanpa menatap ku sedikitpun. Ini membuat ku sedih."
Ketiganya seketika hanyut dalam pikiran mereka masing-masing, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi untuk menyebabkan 3Ry tidak mengingat mereka.
Tapi, tak sedikitpun dari mereka yang memikirkan tentang putaran waktu yang aneh. Mereka tidak berpikir bila waktu menempatkan mereka di beberapa tahun sebelum 3Ry sendiri melakukan perjalanan waktu kembali kemasa lalu.
Mungkin terdengar aneh, mengingat mereka berpasangan mengalami kematian dimasa lalu secara bersamaan namun kembali diwaktu yang berbeda.
Sekali lagi, inilah misteri hidup. Belum lagi dimensi ruang dan waktu tak pernah bisa ditebak.
Tak lama setelah melamunkan hal itu sebuah dering telepon mengembalikan kesadaran mereka ke kenyataan.
__ADS_1
Itu adalah nada dering telepon milik Bai Gikwang alias Bai Liam.
Mengeluarkan ponselnya dan melihat nama si penelepon yang masuk sebelum mengangkatnya.
Nama Chen Ki Jun, tertera disana.
"Halo." nadanya biasa.
"Halo, Tuan Muda Bai. Maaf mengganggu mu malam-malam begini." jawab seberang telpon sana.
"Tidak masalah, Tuan Muda Chen. Kebetulan saya sedang berkumpul bersama teman-teman saya. Jadi, ada hal apa yang membuat mu menghubungi ku malam-malam begini?" tanya Bai Gikwang tanpa jejak keakraban ataupun ketidakakraban, tidak juga formal maupun non formal. Nadanya apa adanya.
"Apa teman-teman yang anda maksud adalah Tuan Muda Shin dan Tuan Muda Ye?" tanya orang seberang yang disebut 'Tuan Muda Chen' itu.
"Ya." akunya singkat.
"Bagus kalau begitu. Saya jadi tidak perlu menelpon yang lainnya lagi... Begini, lusa Tuan Besar Chen, Kakek saya, mengadakan perjamuan untuk ulang tahun yang ke 95 tahunnya. Dia ingin mengundang kalian bertiga, tapi karena terlalu sibuk sampai lupa mengirimkan undangan. Jadi, saya mewakili Tuan Besar secara pribadi mengundang kalian. Saya harap kalian berkenan untuk datang." panjang lebar orang diseberang telpon menjelaskan niatnya menelpon Bai Gikwang.
Mendengar hal itu, Bai Gikwang hanya melirik dua sahabatnya yang menatapnya dengan sorot mata seolah bertanya 'ada apa?' sekilas sebelum mengambil keputusan sendiri tanpa tahu apakah dua sahabatnya setuju atau tidak.
"Suatu kehormatan bagi kami atas undangannya. Jangan khawatir, kami pasti akan memenuhi undangan. Kecuali, bila hal mendesak tak bisa dihindarkan." seketika, terdengar tawa ringan dari ujung telpon sana.
"Saya mengerti, saya mengerti. Tidak perlu sungkan. Saya cukup memahami kesibukan anda sekalian karena saya pun begitu. Baik, karena tujuan saya sudah terpenuhi. Saya tidak akan mengganggu waktu bersantai kalian lagi. Jadi, selamat malam dan sampai bertemu di perjamuan nanti." kata orang di ujung sana guna menutup pembicaraan malam ini.
"Ya, selamat malam dan sampai bertemu lagi." tuut... Panggilan keduanya pun terhenti segera.
Ye Zi Xian dan Shin Mo Lan melayangkan tatapan selidik mendengar percakapan Bai Gikwang dengan orang yang menelpon. Secara garis besar mereka bisa menebak bila mereka berdua pun tak terlewatkan. Kini hanya perlu tahu apa isi pembicaraan tersebut.
"Tampaknya kami juga terlibat." timpal Shin Mo Lan sambil menyamankan punggungnya disandaran sofa.
Meletakkan ponselnya diatas meja, baru kemudian Bai Gikwang menjawab. "Tuan Muda Chen mengundang kita ke jamuan pesta ulang tahun Tuan Besar Chen yang ke 95 tahun lusa nanti."
"Hmm... Betapa panjang umurnya pria tua itu." celetuk Ye Zi Xian asal.
"Jadi, dia mengundang kita bertiga dan kau langsung setuju tanpa berunding?" Shin Mo Lan menggelengkan kepalanya tak bisa berkata-kata. Sudah cukup terbiasa dengan sikap sewenang-wenang penguasa dimasa lalu yang sudah menjadi pensiunan Kaisar Agung Bai dari negara Es itu.
"Apakah itu perlu?" betapa arogannya.
Ye Zi Xian mengangkat bahunya acuh. "Tadi kau bilang lusa, bukan? Aku akan minta Zouji melihat jadwalku. Kalau tidak ada hal mendesak lain, aku akan pergi." dia tampaknya malas membahas kesewenangan sahabatnya dalam menyeret mereka bersama untuk urusan yang sebenarnya mereka punya hak untuk memilih.
Tapi, ya begitulah. Mereka sudah cukup dewasa untuk tidak memperdebatkan hal-hal kecil seperti ini. Lagipula, mereka ingat umur. Memakai tubuh ini selama 10 tahun di gabung dengan umur mereka di kehidupan sebelumnya yang mencapai 20 tahun lebih. Bisa dihitung bila saat ini jiwa mereka sudah berusia 30 tahun lebih dan bagi orang-orang zaman kuno, umur segitu sudah sangat tua mengingat umur 15 tahun adalah umur kedewasaan hingga siap menikah diumur tersebut.
Bila dihitung, seharusnya mereka sudah memiliki anak yang memanggil mereka ayah saat ini.
Memikirkan hal itu, membuat mereka semakin tak sabar untuk membawa pulang 3Ry agar segera dihamili. Eh? Di nikahi dulu sebagai pasangan hidup mereka, baru kemudian memikirkan hal itu setelahnya.
Begitu...
"Maka, sudah ditetapkan." konfirmasinya langsung diterima.
Kedua sahabatnya yang lain hanya menaikkan bahunya tak peduli lagi. Sudah terbiasa.
__ADS_1
Mereka pun kembali ke topik awal sebelum Tuan Muda Chen menghubungi.
"Zi Xian, kau bilang tadi kau bertemu dengan wanita itu, kan?" tanya Bai Gikwang tiba-tiba.
"Ya, kenapa kau bertanya?" balik Ye Zi Xian bertanya sambil menatap langsung wajah tampan sahabatnya.
Bai Gikwang menggunakan tangannya yang diangkat sebagai isyarat 'tunggu'. Gelagatnya seperti sedang menyelidiki sesuatu. Lalu beralih ke sahabat yang satunya.
"Kau juga punya, Mo Lan?" kini pertanyaan yang bisa dibilang sama dilemparkan ke arah sang dokter.
"Ya, mantan pacar pemilik tubuh ini mulai sering muncul. Itu benar-benar mengganggu ku." bicara soal ini membuat Shin Mo Lan tak bisa menahan ekspresi jijik dan tidak senangnya karena ada parasit yang siap menempel.
"Berarti kita bertiga memilikinya." seru Bai Gikwang seraya membenarkan.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal ini?" tanya Ye Zi Xian merasa Bai Gikwang menemukan sesuatu dan ingin memberitahukan pada mereka.
"Menurut kalian, ini buruk atau tidak?" memandangi wajah dua sahabatnya tanpa menggubris pertanyaan Ye Zi Xian. Baginya, yang ingin dia bahas benar-benar penting.
Dua sahabatnya sudah menunggu Bai Gikwang meneruskan kalimatnya yang belum selesai dia ucapkan.
"Masing-masing dari kita memiliki pengganggu. Bila suatu saat nanti ingatan pasangan kita kembali. Apakah mereka akan berpikir kita berselingkuh?" pertanyaan tersebut cukup sensitif hingga dua lainnya mulai lebih serius dan bertingkah seperti masalah ini cukup pelik dan darurat.
Tampaknya beginilah ciri-ciri pria setia.
"Ku harap tidak. Mereka cukup berpikiran terbuka." pendapat Shin Mo Lan yang sebenarnya agak membantah kebenarannya. Dia tidak siap bila Rayan marah padanya.
"Kau berpikir begitu?! Aku justru merasa khawatir. Ku harap kalian tidak lupa bagaimana perangai mereka saat dulu kita di ganggu oleh wanita lain." Ye Zi Xian, ketiganya segera mengungkit kembali masa lalu dengan serius.
"Kupikir yang kau katakan tidak salah juga. Apalagi di zaman ini perempuan sudah berani menggoda di muka umum, tidak peduli apakah mereka sedang merendahkan harga diri atau tidak. Dan pasangan kita, mereka bekerja sebagai pembunuh bayaran di era ini. Dengan begitu, apakah nanti mereka akan melenyapkan pengganggu-pengganggu itu begitu tahu kalau pasangan mereka memiliki hal-hal manis disekitarnya?" Bai Gikwang, mulai membawa kedua sahabatnya menduga-duga segala macam kemungkinan.
Keheningan menyambut setelah itu...
Tak lama kemudian, Shin Mo Lan duluan angkat bicara.
"Cukup. Tak perlu pikirkan tentang itu. Lagipula, berapapun banyaknya pengganggu kita paling tahu kalau dihati kita hanya ada mereka. Benar bukan?"
Kepala Ye Zi Xian dan Bai Gikwang mengangguk setuju. "Persis seperti itu."
Kesibukan mereka saat membahas hal ini, benar-benar terlihat lucu.
"Sudah. Kita bisa membahas itu begitu mereka pulang kembali bersama kita. Kita akan langsung bicarakan dengan mereka agar tidak terjadi kesalahpahaman. Hal itu, benar-benar hal yang mengerikan meski terdengar sepele." jelas Shin Mo Lan dan disetujui oleh dua lainnya.
Setelah itu ketiganya pun membicarakan hal lain sampai mereka lelah dan memilih beristirahat langsung di mansion tersebut, sebab ada banyak kamar disana.
up lagi zeyeng...πππ
...hujan disini. sejuknya....π§οΈπ§οΈπ§οΈ...
selamat membaca say...
__ADS_1