3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MEREKA BERCERITA


__ADS_3

3Ry kembali ke rumah suami mereka masing-masing, kecuali Reychu. Maksudnya mereka kan bukan suami-istri. Saat itu jam makan malam baru saja terlewatkan.


Kediaman Shin Da Ming atau Shin Mo Lan dan Rayan Monica.


Terlihat Shin Mo Lan baru saja keluar dari kamarnya hendak mencari kepala pelayan untuk menanyakan kabar mengenai istrinya yang belum juga sampai.


Tahukah sang istri, betapa tak menentu nya hati sang suami?!


Tapi, belum sempat melakukannya matanya segera melihat sang istri -Rayan- memasuki rumah dan juga melihat kearahnya. Kecemasan yang sejak tadi terpatri diwajahnya segera lenyap tak tersisa.


Drap... Drap... Drap...


Rayan berlari mendekat dan Shin Mo Lan membuka tangannya lebar-lebar guna menyambutnya.


Saat sudah dekat, Rayan melompat ke pelukan Shin Mo Lan tanpa ragu dan disambut tanpa ragu juga. Bagai tak jumpa untuk sekian lama, Rayan dan Shin Mo Lan berpelukan erat meluapkan rasa rindu masing-masing.


"Kenapa baru pulang sekarang?! Aku sangat merindukanmu!" ungkap Shin Mo Lan dengan suara yang teredam akibat terbenam di ceruk leher Rayan.


Mendengar itu, Rayan terkekeh senang. "Maaf. Aku juga. Sangat-sangat merindukanmu!"


Beberapa saat kemudian barulah pelukan itu dilerai dengan Shin Mo Lan mendengus sambil melontarkan ajakan pada istrinya. "Ayo, kita ke kamar. Kau bau matahari. Lekas lah mandi agar bersih dan segar. Kau butuh itu. Pasti gerah kan?"


Dengan patuh Rayan mengangguk. "Eum. Sangat gerah. Tapi, aku mau dimandikan oleh mu... Bolehkan?" manja Rayan tanpa ragu apalagi malu, bahkan matanya sampai berkedip-kedip memancing suaminya.


Perkataan itu sontak membuat Shin Mo Lan menatap istrinya dengan mata membulat beserta berbagai kilatan melintas didalamnya dengan penuh arti.


"Kenapa menggemaskan sekali, hmm..." dikecupnya seluruh wajah Rayan dengan menggeram gemas karena tergoda dengan permintaan sang istri. "Bagaimana bisa aku menolaknya. Ayo, ku mandikan!" kini Shin Mo Lan justru merasa antusias.


Namun, Rayan malah menahannya. "Eh. Bukankah kau sudah mandi?" dia berkata begitu karena dapat mencium aroma segar dari tubuh suaminya yang menandakan kalau sang suami belum lama selesai mandi.


Tapi, sayangnya respon Shin Mo Lan adalah apa yang mungkin akan terjadi. "Lalu? Sudah tak apa. Semakin sering mandi semakin bersih kan?!" santai Shin Mo Lan. Entah teori darimana itu.


Meskipun mandi itu bersih, tapi tidak sampai terus-terusan melakukannya, kan?!


Shin Mo Lan tanpa niat berhenti, terus membawa sang istri ke kamar dan langsung ke kamar mandi. Itu tanpa penundaan dan Rayan walaupun dia tahu suaminya sudah mandi sebelumnya. Dia tetap tak menolak kalau suaminya mau mandi lagi bersamanya.


Hitung-hitung memupuk keromantisan agar semakin dalam.


"Baiklah kalau itu mau mu. Siapa yang menolak?!" cetus Rayan dengan nada centilnya.


Keduanya pun tertawa bahagia tanpa beban ataupun kekhawatiran, seperti tidak merasa terancam sedikitpun pada masalah yang akan datang. Sekalipun mereka sudah mengetahuinya.


Sebagaimana kebiasaan pasangan bila ditinggal berduaan, pasti akan berakhir lama.


Begitulah keduanya di kamar mandi. Tak perlu di jelaskan apa yang keduanya lakukan didalam sana. Biarkan itu menjadi rahasia pasangan.


Kalian para pembaca setia sekalian yang sudah menikah, sesekali harus melakukannya. Hehehe...


Setelah satu purnama berlalu. Eak! Keduanya pun selesai dengan aktivitas mandi plus-plus ala mereka.


Rayan baru saja keluar dari ruang pakaian setelah Shin Mo Lan lebih dulu selesai. Tampaknya Rayan lama memilih baju tidur apa yang akan dia kenakan. Akhirnya, pilihannya jatuh pada baju tidur satin bertali spageti yang panjangnya diatas lutut.


Dia berjalan mendekati ranjang dan menaikinya. Kemudian duduk di sebelah Shin Mo Lan yang terlihat masih fokus memeriksa email yang masuk. Dia benar-benar akan menyibukkan dirinya selama sisa 2 bulan yang disepakati agar nanti saat bulan madu, semuanya beres dan tidak ada yang mengganggu.


Rayan menyandarkan tubuhnya disisi Shin Mo Lan seraya melirik iseng layar ponsel sang suami yang menyala dan Shin Mo Lan menyempatkan mengecup kening sang istri sebelum melanjutkan memeriksa email yang tersisa sebelum akhirnya beberapa saat kemudian terselesaikan.


"Bagaimana hari yang kau lewati hari ini?" tanya Shin Mo Lan setelah meletakkan ponselnya ke lemari nakas disebelahnya, baru kemudian fokus pada sang istri yang sudah dia bawa ke pelukannya.


"Sangat menyenangkan." jawab Rayan lalu menjedanya sesaat sambil mendongak. "Tapi, apa kau tahu?! Hari ini kami menangkap penguntit!" seru Rayan terdengar bangga.


"Apa!" sementara Shin Mo Lan justru tersentak. "Lalu, bagaimana?! Apa kau terluka?! Ada yang sakit?!" Shin Mo Lan menyerbu dengan banyak pertanyaan yang membuat Rayan mendengus malas.


Tapi, masih tetap tidak melewatkan kesempatan menggoda suaminya. "Iya, aku kesakitan. Disini." tunjuk Rayan kearah yang seketika membuat Shin Mo Lan terdiam.


"Sayaaaaang..." tekan Shin Mo Lan dengan nada rendah yang seolah mengatakan 'jangan menggodaku atau kau akan terima akibatnya'.


Lantas hal itu membuat Rayan tertawa terbahak-bahak merasa raut wajah suaminya yang menjadi sangat lucu.


Melihat Rayan tertawa, Shin Mo Lan hanya menyipitkan matanya gemas melihat kejahilan sang istri.


Tak ingin membuat suaminya benar-benar memakannya lagi, Rayan pun menghentikan candaannya. "Baik, baik. Mari kita lanjutkan topik yang tadi."


Membenarkan posisi duduknya, baru kemudian Rayan melanjutkan. "Jadi, begini. Seperti yang aku dan dua sahabat ku bicarakan untuk menggunakan waktu selama 2 bulan sebelum pernikahan Reychu dan Yang Mulia, eh! Bai Gikwang maksudnya. Untuk menyelesaikan masalah yang mungkin bisa menjadi kendala di kehidupan rumah tangga kita. Ingat kan?"


Shin Mo Lan mengangguk membenarkan.


"Nah, jadi... Hari ini salah satu dari hama rumah tangga kita bertiga pasang ini sudah bergerak. Tampaknya dia menyewa gangster untuk menjadi penguntit atau apalah... Dan sasarannya adalah Ryura." jelas Rayan.


Kening Shin Mo Lan segera berkerut mendengarnya. "Lalu, apa yang kau maksud dengan menangkapnya? Apa kalian benar-benar menangkapnya seperti yang ku bayangkan?" tanya Shin Mo Lan sembari membayangkannya.


"Hehehe..." tawa aneh Rayan menjelaskan segalanya.


"Lalu, bagaimana selanjutnya?"


"Kami bertarung 3 lawan banyak. Huh! Memang pada dasarnya mereka masihlah penjahat amatiran, jadi kemampuan mereka masih kalah jauh dari kami bertiga..." belum selesai Rayan bercerita, Shin Mo Lan sudah memotongnya.


"Bertiga? Bodyguard yang kami pekerjaan dimana?" cecar Shin Mo Lan merasa tak senang mendengar kalau istrinya yang berkelahi sedang para bodyguard yang dipekerjakan malah tidak melakukan apa-apa.


"Tenang, sayang. Mereka ada, kok. Hanya saja, kami meminta mereka diam saja padahal mereka sudah mendesak kami untuk ikut membantu. Tapi, kau tahu betul seperti apa kami. Rasanya tidak puas bila ada yang membantu. Jadi, begitulah... Jangan marah. Mereka sudah melakukan pekerjaan dengan baik selain yang satu itu. Oke?!"

__ADS_1


Menghadapi wajah imut nan menggemaskan milik istrinya, Shin Mo Lan lemah hingga dia memilih mengalah. "Baiklah. Lalu, apa yang terjadi setelah itu."


"Terimakasih, suamiku sayang. Setelah itu, menjadi urusan Ryura. Seperti kata ku tadi. Penguntit itu mengincar Ryura. Jadi, artinya itu urusan Ryura. Nanti, bila sudah giliran hama rumah tangga kita. Baru aku yang akan turun tangan. Kau cukup fokus menyelesaikan pekerjaan mu agar bulan madu kita tidak terganggu nantinya. Oke?" terang Rayan menjelaskan segalanya seperti itu bukan masalah besar dan Shin Mo Lan pun merespon dengan cara yang sama.


Memang Pasangan serasi hingga ke akarnya.


"Aku bisa apa jika kau yang memintanya. Baiklah, apapun untuk mu. Yang pasti kau bisa menjamin satu hal..." Rayan segera menyambungnya.


"Aku harus baik-baik saja dan bila masalahnya pelik, segera hubungi suamiku tercinta."


"Istri pintar." puji Shin Mo Lan dengan bangga tak lupa mendusel ujung hidungnya di pipi tembem Rayan hingga keduanya terkikik senang berdua.


Kemudian, keduanya sedikit bercerita lagi sebelum akhirnya tidur dengan saling berpelukan tentunya.



Di kediaman Reychu dan Bai Liam atau Bai Gikwang.


Sesampainya Reychu di rumah keluarga masa depannya dengan Bai Gikwang, Reychu langsung masuk menuju dapur. Pikirannya satu saat ini...


Dia haus.


Saat masuk area dapur, dia malah bertemu dengan Butler Tian yang baru saja selesai memberikan instruksi kepada salah satu pelayan disana.


Baru saja akan berbalik suara Reychu membuatnya sigap menoleh kearah suara itu.


"Hola, Butler Tian!" Reychu melambai dengan santainya seolah mereka seumuran dan berteman akrab.


"Oh?! Anda sudah kembali!" seru Butler Tian dengan raut terkejut sekaligus lega. Meski dia masih belum terbiasa dengan sikap calon Nyonya-nya yang terlalu gaul.


Greek!


Reychu menarik salah satu kursi pantry dan mendudukinya. Lalu, dengan santai memerintah. "Butler Tian, aku haus. Aku mau jus mangga campur jeruk campur buah naga campur alpukat tanpa gula."


Mata Butler Tian berkedip beberapa kali saat dia merasa telinganya salah mendengar pesanan sang majikan. "Maaf, Nyonya... Anda minta jus mangga kan?" pria itu mengulang pertanyaannya agar lebih jelas.


Tapi, Reychu malah menggoyangkan jari telunjuknya. "Nonono! Bukan jus mangga. Tapi, jus mangga campur jeruk campur buah naga campur alpukat tanpa gula."


Butler Tian terdiam sejenak saat dia akhirnya sadar kalau telinganya masih berfungsi dengan baik. Buktinya dia benar-benar mendengar pesanan langka dari Reychu.


Jus mangga campur jeruk campur buah naga campur alpukat? Siapa yang pernah mencobanya? Dan bagaimana rasanya?


Tapi, Butler Tian bisa apa. Dia hanyalah seorang pelayan bagi tuannya. Lakukan sajalah.


Reychu menunggu selama beberapa saat sambil mengajukan pertanyaan pada Butler Tian. "Dimana Liam?" Reychu tak lupa dengan nama asli tubuh yang dipakai kekasihnya.


"Ooohh.." Reychu ber'oh'ria seraya menganggukkan kepalanya. Namun, di detik berikutnya hampir membuat Butler Tian menumpahkan jus yang sedang dibuatnya.


Bersyukur jantungnya baik-baik saja.


"BAI LIAAAAAAAAAMMMMM...!!!"


Teriakkan menggelegar dari suara Reychu menggema di seluruh ruang dan sudut tanpa meninggalkan celah. Saking kerasnya teriakkan itu, para pekerja yang masih bekerja sukses dibuat kaget hingga gerakan mereka terhenti sebelum kembali melanjutkannya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.


Tapi, yang di teriakkan adalah satu-satunya orang yang memberikan respon berbeda.


Wush!


Hal itu bahkan sampai membuat Butler Tian tercengang.


"Sayang!" seru Bai Gikwang secepat langkahnya saat ini kala menerjang Reychu yang duduk dengan sebuah pelukan erat dari belakang.


Karena kursi pantry tidak memiliki sandaran, Bai Gikwang menjadi lebih leluasa memeluk Reychu.


Grep!


Oh!


Reychu agak tersentak dibuatnya. "Kau cepat juga menjawab panggilan ku."


"Harus. Aku sudah sangat merindukanmu sejak tadi. Uh... Sangat merindukanmu..." ungkapnya tanpa malu bahkan saat Butler Tian menjadi penonton disana sambil memegang segelas jus pesanan Reychu.


Situasi ini menciptakan ruang gelap tak kasat mata untuk memisahkan dunia penuh bunga dari pasangan didepannya saat ini dan dunia kesepian miliknya. Ini rasanya tidak enak sama sekali.


"Ehem. Nyonya, ini jus yang anda inginkan."


Sepasang sejoli itu serempak melihat kearah Butler Tian dan segelas jus yang sudah diletakkan di atas meja pantry dan fokus Bai Gikwang ada pada warna jusnya.


"Air kobokan dari mana ini?" celetuk Bai Gikwang tanpa ragu yang membuat Butler Tian tertegun sambil melirik Reychu, dia agaknya penasaran dengan respon calon Nyonya-nya saat mendengar kalimat yang lumayan menyinggung itu.


"Oh ini." jawaban Reychu di jeda, sebab dia menyelinginya dengan menenggak beberapa teguk jus yang warnanya tak bisa dijabarkan lagi.


"Aahhh... Luar biasa. Kau mau? Ini namanya jus campur." sambung Reychu.


"Kau yakin? Tapi, kenapa warnanya sangat mengerikan?" Bai Gikwang bertanya lagi karena merasa jus itu sudah merusak suasana romantis antara dirinya dan Reychu.


Benar-benar tak sedap dipandang.


"Tidak, ini bagus." jedanya. "Bagus untuk menakut-nakuti orang. Hahahaha..."

__ADS_1


"Ya, dan aku ketakutan. Hahahaha..."


Sekali lagi, Butler Tian semakin menyadari perbedaan dunia antara dia dan majikannya.


"Aku harus bertanya pada diriku sendiri lagi. Kenapa aku bisa bekerja disini? Ehm. Tapi, sepertinya tidak usah. Kapan lagi aku menemukan majikan yang murah hati. Bagaimanapun gajinya sangat memuaskan. Hehe..." batin Butler Tian dengan perasaan tak bisa dijelaskan. Antara keberuntungan dan kemalangan memiliki majikan seperti Bai Liam dan Reychu Velicia.


Setelah urusan di dapur selesai, kedua sejoli yang belum resmi menikah di zaman kuno dan modern ini berpindah ke kamar.


Ya, keduanya memilih tidur sekamar. Katanya agar semakin lekat.


Bai Gikwang yang sudah selesai mandi hanya tinggal menunggu kekasihnya mandi. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu dan Reychu sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Setelan piyama berpotongan pendek baik lengan maupun celananya, tapi karena model longgar dan didukung oleh aura Reychu yang tidak vulgar membuat gadis itu tidak terlihat menggoda.


Tapi, meskipun demikian. Sebagai pria yang mencintai seorang wanita. Sekalipun Reychu tidak terlihat menggoda, di mata Bai Gikwang justru akan menjadi sebaliknya. Pakaian tertutup ataupun terbuka, berkepribadian vulgar atau tidak, bagi Bai Gikwang keduanya sama saja.


Pada akhirnya, Bai Gikwang tetap harus lebih banyak berusaha menahan diri seraya mengingat kalau kesabarannya tinggal 50 hari lagi. Karena bagaimanapun, dulunya dia adalah seorang Kaisar dari suatu kerajaan. Pantang baginya berhubungan dengan yang bukan istrinya. Tapi, berhubung dia sudah berada di zaman yang berbeda, sang mantan Kaisar itu ikut sedikit mengubah budayanya.


Maksudnya, tidak apa tidak berhubungan intim tapi masih satu kamar. Seperti dirinya dan Reychu saat ini.


Reychu mendudukkan dirinya disebelah Bai Gikwang yang duduk di tepi ranjang sambil merebahkan kepalanya di pundak lebar Bai Gikwang.


Keduanya menghadap cermin panjang yang biasa digunakan untuk bercermin guna melihat penampilan sempurna si pemilik cermin.


Tapi, keduanya tidak menatap kearah itu sehingga pantulan keduanya tidak dilihat.


"Sepertinya kau kelelahan." ujar Bai Gikwang seraya mengusap punggung tangan Reychu yang di letakkan diatas pahanya.


"Tidak." bantah Reychu bergeming.


"Tapi, kau tidak seenergik sebelumnya. Istirahat saja kalau lelah." Bai Gikwang masih begitu perhatian.


"Tidak." dan Reychu juga masih pada pendiriannya.


"Lalu, kau mau apa?" detik-detik Bai Gikwang mengalah demi pujaan hati tercinta.


"Seharian ini aku sudah bermain. Malam ini aku akan bersamamu." entah virus mana yang menjangkiti Reychu, tiba-tiba dia berbicara seperti Rayan.


Oh, Reychu memang kadang kala melakukannya. Sebab, dia tidak bisa meniru Ryura yang bak manekin berjalan.


"Oh, manisnya... Aku terharu." meleleh sudah hatinya begitu Reychu memanaskannya dengan api cinta.


Padahal, itu hanya seperti sepenggal kalimat.


"Harus." Reychu bangga pada dirinya sendiri karena bisa juga menjadi manja seperti Rayan. Tapi, dia agaknya sedikit lupa kalau itu menjadi seratus persen berhasil karena Bai Gikwang sungguh-sungguh mencintainya.


Jika dia melakukannya dengan orang lain... Jangan tanyakan itu!


"Oh ya, aku mau cerita."


"Tentang apa?"


"Yang terjadi hari ini!"


"Oh, bicara soal itu. Ada yang ingin kutanyakan juga."


"Hm. Apa itu?"


"Kenapa bodyguard yang dipekerjakan untuk melindungi mu dan sahabat mu tidak menjawab telpon ku? Aku tidak senang karena hal itu."


Reychu mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menjawab. "Itu karena kami yang melarang."


Bai Gikwang tertegun. "Tapi, kenapa?"


"Bukan apa-apa. Jadi, inilah yang ingin aku ceritakan." jedanya. "Kami melarang para pria kekar itu menghubungi kalian agar kami lebih leluasa."


Mata Bai Gikwang menyipit mendengar kalimat tak jelas itu. Pikirannya sudah mulai bercabang negatif.


Tapi, Reychu yang tidak menyadarinya terus bercerita sambil tetap bersandar pada bahu Bai Gikwang.


"Tadi, ada yang menguntit Ryura. Itu berarti menguntit kami juga kan. Karena itu, kami perlu memberinya pelajaran. Kami memilih tempat di pinggiran kota yang terdapat tanah lapangnya. Di sanalah kami bergerak. Kau tahu, aku hampir membunuh mereka kalau saja Rayan dan Ryura tidak mengingatkanku. Semua ini akan jadi buruk kalau sampai terjadi. Karena itu juga, kami tidak membutuhkan bodyguard saat itu."


"Kenapa begitu? Kan ada aku." merasa aneh mendengar Reychu masih memikirkan hal itu, mengingat Reychu tipikal orang yang tidak akan peduli pada hal semacam itu.


"Bukan begitu, bagaimanapun aku masih memikirkan mu. Kau akan di pandang menyedihkan kalau aku menjadi penjahat."


"Kenapa memikirkan hal tak penting seperti itu?" Bai Gikwang sedikit tak percaya Reychu bisa memiliki pemikiran demikian. Padahal, dia tidak peduli.


"Aku memang suka melakukan segala hal sesuka hati. Tapi, sekarang aku memilikimu. Jadi, ada yang harus diperhatikan. Sekalipun kau tidak melarang." ungkapnya dalam mode setengah serius dan Bai Gikwang mendengarkan dengan baik.


Lanjutnya. "Lagipula, seperti yang Ryura katakan. Dia menginginkan kehidupan rumah tangga yang damai. Apalagi akan ada anak diantara kita. Bukankah alasan ini cukup untuk membenarkan pemikiran itu."Reychu sudah menarik kepalanya dari pundak lebar Bai Gikwang.


Perkataan itu membuat Bai Gikwang tertegun. Dia cukup salut mengetahui Reychu sudah memikirkan hal itu. Jika, di pikir-pikir. Benar adanya.


Anak-anak mereka kelak harus hidup lebih baik dari kehidupan kedua orang tuanya.


"Baik. Dengarkan kamu saja."


Reychu tertawa kemudian. Tak tinggal diam. Bai Gikwang segera menyerang. Di gelitiki perut Reychu hingga membuat si empunya tertawa terpingkal-pingkal.


__ADS_1


__ADS_2