3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
DI SAAT YANG SAMA


__ADS_3

Di saat yang sama, takdir seperti ingin menjalankan rencananya dalam sekali jalan dan semua itu berkaitan walau tak ada kesepakatan. Semua itu hanya untuk menyingkirkan seorang Reychu, sedang orang yang dimaksud sama sekali masa bodoh.


Saat ini Reychu sedang menunggu makanan datang, jadi dia mengisi waktu menunggunya dengan bersenda gurau dengan sahabat silumannya, yaitu Chi-chi.


Disela-sela itu, Reychu pun memperkenalkan permainan ular tangga pada Chi-chi dengan membuatnya sendiri. Meski awalnya bingung, tapi Chi-chi segera memahaminya setelah Reychu memainkan beberapa kali sebagai contoh.


Keduanya sangat riang memainkannya dengan jitakan kecil di kening sebagai hadiah bagi yang kalah.


"Hahahaha... Kau kalah lagi!" riang Reychu.


"Tunggu dan lihat saja! Aku pasti akan mengalahkan mu! Aku tak akan membiarkan mu menang lagi!" tekadnya yang mengundang tawa Reychu kian keras.


Bahkan Reychu merasa perutnya dikocok bila melihat betapa seriusnya Chi-chi dalam memainkan permainan itu. Benar-benar tak tertahankan.


Dilain tempat, di penginapan yang berbeda dengan penginapan yang ditempati oleh Rayan dan Ryura, sekelompok dari Organisasi Pembunuh Bayaran menerima merpati pos dari pelanggan mereka yang tak lain adalah seseorang dari lingkungan istana.


Meski sampai sekarang, Sun Duo dan yang lainnya tak tahu siapa pelanggannya. Tapi, siapa yang peduli bila bayarannya menggiurkan.


Begitu merpati pos sudah ditangan, sebuah tabung kecil yang diikatkan pada kaki merpati tersebut segera dibuka dan diambil selembar kecil kertas dari sana.


Sebuah perintah tertera.


Usai dibaca, kertas itu segera dilipat dan disimpan di celah baju bagian dadanya, bagaimanapun dia masih memerlukannya.


Lalu, Sun Duo segera mengeluarkan perintahnya. "Kita bergerak sekarang. Pelanggan ingin kita ambil posisi dulu di istana. Karena, tempat itu penuh penjagaan, pelanggan sudah menyiapkan rute untuk kita masuk dengan mudah. Disana kita akan mengamati situasinya dulu, karena sebenarnya bukan hanya kita yang bergerak."


"Huh... Ini terdengar seperti target kita adalah sesuatu yang rumit." ujar salah satu bawahannya berkomentar.


Tapi, Sun Duo masih mengangguk membenarkan. " Benar! Dia sepertinya memang rumit hingga sulit untuk di singkirkan. Bagaimana bisa orang-orang di istana bahkan membutuhkan begitu banyak usaha hanya untuk membereskannya?!"


Usai mengatakan itu, segera Sun Duo selaku pemimpin memerintahkan bawahannya untuk bersiap, karena mereka akan pernah saat itu juga.


Disisi lain Kaisar Agung Bai juga sudah menerima laporan konkrit mengenai insiden Reychu yang diracuni. Ahn Reychan memberikan hasil yang dia dapatkan dari penyelidikan sembunyi-sembunyi.


"Salam hormat Yang Mulia! Bawahan mu datang untuk melapor!" sapa Ahn Reychan begitu ia memasuki ruang kerja penguasa Kekaisaran Utara itu.


Melihat kedatangan Ahn Reychan, Kaisar tak perlu berpikir lagi untuk apa pemuda kakak dari kekasihnya datang, jika bukan untuk melaporkan hasil dari titahnya sebelumnya.


"Katakan!" tanpa mau berbasa-basi.


Segera Ahn Reychan pun membisikkan hasil laporannya. Mendengar kata perkata yang keluar dari bibir bawahannya dengan serius cukup mampu menghasilkan reaksi yang mengejutkan Kaisar Agung Bai.


"Kau yakin?!"


Menarik diri dari bisikan itu untuk langsung menatap wajah Ahn Reychan guna memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Selalu tahu reaksi junjungannya, Ahn Reychan mengangguk membenarkan tanpa ragu.


"Seratus persen yakin, Yang Mulia!" lugasnya.

__ADS_1


Sorot matanya menajam bak pisau yang baru diasah. "Bagaimana bisa ini terjadi tepat dibawah hidung ku?" nadanya jelas marah, namun dikemas dengan kedinginan. Tak lupa, tangannya terkepal kuat seolah mampu meremukkan tulang jari-jarinya sendiri.


Menoleh sedikit kearah Ahn Reychan yang berdiri disampingnya, namun tidak benar-benar menatapnya. Kaisar Agung Bai menjatuhkan titah dengan tegas tanpa pertimbangan lagi. Artinya, dia sudah cukup bertoleransi.


"Tak perlu pikir panjang lagi! Seret semua yang berhubungan dengan ini! Mulai dari dalangnya hingga bawahan-bawahannya tanpa terkecuali! Sudah cukup aku diam membiarkan Reychu mengatasinya sendiri! Beraninya mereka! Apa mereka tidak menganggap ku ada!!!"


Kemarahan Kaisar Agung Bai meningkat seiring titahnya diucapkan. Bahkan suhu ruangan pun segera turun ketitik terendah hingga mampu menyesakkan dada Ahn Reychan yang masih ada disana.


Tak mau membuat kemarahan junjungannya kian meningkat, Ahn Reychan segera membungkuk menerima perintah.


"Segera dilaksanakan, Yang Mulia!" setelahnya, pria itupun menghilang dalam sekejap mata meninggalkan Kaisar Agung Bai yang dikuasai amarah.


"Berani menyentuh milik ku... Tak akan aku lepaskan!" desisnya penuh kebencian.


Masih disaat yang sama. Di sebuah dapur istana. Seorang pelayan yang bertugas didapur menerima perintah lagi untuk melakukan hal yang sama seperti sebelumnya sekali lagi. Jujur saja, dia melakukannya bukan tanpa rasa takut. Sebagai seorang pekerja yang bertahan hidup dibawah tuannya, apalagi yang bisa dilakukan selain menanggung beban masalah junjungannya meski dia sendiri sebenarnya tidak ingin terlibat, namun harus ikut terseret kebawah demi sebuah kesetiaan.


Seorang pelayan dapur tersebut masuk dengan jantung yang rasanya mau terlepas dari tempatnya, ia berusaha bersikap biasa saja dan berjalan menuju beberapa hidangan yang sudah disiapkan untuk Reychu. Tak perlu bertanya yang mana makanannya, selama porsinya lebih besar itu adalah milik Reychu.


Dengan hati-hati dan tetap waspada, dia mengeluarkan sebotol porselen putih yang ukurannya dapat disembunyikan dalam satu genggaman tangan saja. Langsung, dituangkan isinya ke dalam semua menu yang disajikan agar kali ini tidak gagal lagi.


Bubuk putih yang keluar dari dalam botol porselen itu sangat mudah meleleh begitu dituangkan di segala macam objek. Karena, itu begitu bubuk tersebut jatuh keatas makanan dia langsung menghilang dan tak terlihat lagi sehingga tak ada yang curiga bila sesuatu sudah ditaruh didalamnya.


Tak ingin berlama-lama lagi, segera setelah melakukan tugasnya pelayan dapur itu segera pergi menjauh dari sana. Tak lama kemudian, pelayan yang bertugas mengantarkan makan ketempat Reychu pun datang dan langsung mengangkat semua makanan tersebut dengan hati mencibir jijik sekaligus cemburu kepada sosok Reychu yang sebenarnya hanya karena dia iri pada keberuntungan Reychu yang bisa makan enak tanpa usaha apapun.


Disana semuanya berjalan lancar, tanpa ada yang mengetahuinya.


Melihat sang istri yang selalu menyendiri, namun kali ini sepertinya ia merasa ada sesuatu yang lain darinya. Lantas, dihampiri Ryura dari belakang dan langsung memeluknya sambil meletakkan dagunya di bahu kesayangannya itu.


Ia bertanya dengan suara lembut dan mesra. "Apa yang kau pikirkan?"


Ryura tak bergeming sedikitpun, namun masih menjawab. "Sesuatu."


"Lalu, beritahu aku apa itu?"


"Perpisahan kita!"


Mendengar kalimat yang paling dibencinya itu, Ye Zi Xian segera melepaskan pelukannya dan langsung membalikkan tubuh Ryura agar menghadap dirinya.


"Coba katakan lagi! Aku akan menghabisi mu hingga tak bisa turun dari ranjang lagi selamanya!" sentak Ye Zi Xian tak suka.


Tapi, bukan Ryura namanya bila itu saja sudah membuatnya terpengaruh.


"Itu akan terjadi." ungkapnya.


"Aku tahu. Tapi, aku tak mau mendengarkannya dari mulut mu. Kau tak tahu betapa aku tersiksa tiap kali memikirkan hal itu. Kau milikku Ryura! Kau tidak akan kemana-mana tanpa izin dariku!" Ye Zi Xian nyaris mengamuk diketahui dari auranya yang berubah kelam dan mencekam, tapi dengan mudah Ryura meredamnya.


Cup!

__ADS_1


Sebuah kecupan saja cukup. Tapi, Ryura masih bergerak untuk memeluk tubuh keras dan gagah itu lalu menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Dari sana, dapat ia dengar betapa cepatnya detak jantung suaminya yang menandakan begitu marahnya dia mendengar ucapannya.


Tapi, Ryura hanya berkata yang sebenarnya. Ini pun ia lakukan agar suaminya tidak terlalu kaget bila cepat atau lambat dia dan kedua sahabatnya pergi meninggalkan mereka disini.


"Kita saling memiliki satu sama lain, Xian... Tapi, takdir tetaplah takdir. Kita tak akan pernah bisa melawannya..." kalimat panjang nan lembut terucap dari bibir Ryura.


Mungkin para pembaca baru mengetahuinya, tapi Ye Zi Xian tidak. Dia sudah beberapa kali mendengarnya. Terutama, mendengar namanya disebut dari bibir manis Ryura.


Xian...


Xian...


Xian...


Ye Zi Xian tak bisa membendung ledakan bahagia dari dalam hatinya tiap kali mendengar namanya disebut melalui bibir sang istri hingga dia akan selalu menciumnya dengan gemas saking sukanya namanya disebut dengan bibir kesayangannya ini.


Seperti sekarang...


Cup~...


Ciuman lama dan dalam dilakukan Ye Zi Xian seperti ingin melahap habis bibir istrinya, sedang Ryura tak pernah menolak apapun inginnya sang suami. Inilah yang paling disukai Ye Zi Xian dari Ryura.


Dia adalah gadis yang tidak malu-malu, tapi juga tidak terlalu agresif. Sehingga, bagi Ye Zi Xian porsinya pas dan seimbang.


Usai berciuman mesra, Ye Zi Xian lantas menempelkan keningnya dengan kening Ryura seraya meresapi keintiman berdua.


Kemudian dia berkata dengan nada rendah yang hanya dapat didengar oleh Ryura.


"Aku tahu. Tapi, aku tak akan mengakuinya. Kau milikku Ryura! Milikku seorang!" tegasnya tak mau kalah dan tak mau dibantah.


Ryura pun tak melanjutkannya lagi dan membiarkannya. Lagipula, kegigihan Ye Zi Xian untuk tak mau mengakui kehebatan takdir pun sudah tak memiliki celah untuk digoyahkan. Jadi, biarkan saja.


Keduanya berpelukan erat seolah tak bisa dilepaskan lagi.


Tapi, meskipun demikian... Ryura tak urung memikirkan waktu dia dan sahabatnya yang kian terkikis.


Ryura sudah merasakannya.


Dalam waktu dekat, hari itu akan tiba.


Dia hanya berharap, semuanya seperti yang ia sebutkan sebelumnya tentang tujuan 3Ry datang ke dunia kuno ini.



Alhamdulillah up lagi....


semoga kalian suka...

__ADS_1


dukung author selalu yaaa...πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2