3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
TAK SEPERTI DULU LAGI


__ADS_3

Lima belas menit baru saja berlalu, tapi Reychu sudah merasakan kebosanan yang luar biasa. Ia merasa seperti sudah berjam-jam.


Berbincangan ini alot, menurutnya. Itulah yang ia simpulkan. Bagaimana tidak?! Sejak awal pembicaraan mereka, hanya tentang siapa pembunuhnya, seolah tidak ada kemungkinan kalau terjadinya bunuh diri. Meskipun faktanya mereka berdua memang dibunuh, oleh Ryura -sahabatnya- lagi.


Keren bukan?!


Sambil bertopang dagu ia terus merapalkan kalimat dari mulutnya tanpa suara dengan isi kalimatnya adalah...


"Kalian takkan menemukan pelakunya dan aku kebosanan disini, kalian takkan menemukan pelakunya dan aku kebosanan disini, kalian takkan menemukan pelakunya dan aku kebosanan disini, kalian takkan menemukan pelakunya dan aku kebosanan disini, kalian takkan menemukan pelakunya dan aku kebosanan disini..." terus seperti itu di sepanjang rapat berlangsung.


Tak berbeda jauh dengan Gong Dahye. Wanita hamil itu juga sudah bosan, ingin rasanya ia menyeret kaisar kekamarnya agar bisa bermanja-manja.


Jujur saja, ia punya alasan tersendiri saat memilih bergabung dalam rapat istana kali ini. Selain karena rasa penasarannya pada kematian dua selir kaisar sekaligus, ia juga tak ingin memberikan permaisuri peluang untuk berdekatan dengan kaisar.


Tapi, siapa yang bisa menduga kalau pada akhirnya ia juga yang sakit hati disini. Pengelakkan kaisar atas kalimat yang diucapkannya hanya agar permaisuri lemah itu tidak merasa sedih, sungguh melukainya. Ia merasa dikalahkan dengan cara yang tidak elite sama sekali.


Melirik permaisuri beberapa kali dan dia hanya bisa menangkap kekonyolannya. Yaitu, bertopang dagu sambil komat-kamit tidak jelas. Entah apa yang di lakukan permaisuri Ahn di sebelah sana. Tapi dari gelagatnya, Gong Dahye yakin kalau musuhnya itu sedang merasa bosan, tidak ada yang lainnya. Melihat itu ia jadi sedikit tak terima kala lawannya hanya kebosanan tapi tidak kesal-marah-cemburu seperti dirinya. Wanita hamil itu jadi merasa bodoh sendiri.


Benar-benar! Hormon ibu hamil sangat menyusahkan!


Reychu tahu ia tengah di amati oleh wanita berbadan dua di sebelah sana. Tapi, ia sama sekali tak ingin mempedulikannya. Saat ini dipikirannya hanya, bagaimana cara mengakhiri rapat istana yang berlangsung sekarang ini. Ia benar-benar sangat ingin keluar guna menghirup udara segar di luar sana. Ia sempat tak habis pikir, pagi-pagi begini rapat?! Tidakkah mereka itu sudah membuang kesempatan untuk berolahraga di pagi hari. Kapan lagi bisa merasakan kesegaran alam tanpa polusi ini.


"Aku bosan! Aku ingin mengakhirinya!" gumamnya yang hanya didengar olehnya sendiri.


"Aku tidak mau tahu. Penyelidikan ini harus tetap di jalankan. Bagaimana pun mereka adalah selir di kerajaan Huoli. Kematian mereka bisa di jadikan peluang bagi mereka yang ingin memberontak." seru kaisar Li Hanzue serius.


"Ini sulit yang mulia. Kematian mereka akan memerlukan penyelidikan yang panjang. Pasalnya, hasil pemeriksaan semalam pada selir tingkat ketiga cukup mengejutkan. Ia diduga telah meminum racun. Setelah di periksa racun yang diminumnya pun bukan berasal dari kawasan kerajaan ini. Racun itu langka, meski terbuat dari tumbuhan yang mudah di jumpai. Dalam hal ini, kami masih harus terus menyelidiki nya. Belum lagi, mengenai kebakaran yang tiba-tiba terjadi di kediaman anggrek. Bahkan jasad yang mulia selir tingkat kedua saja sudah sulit untuk dikenali akibat turut terbakar dalam bara api kebakaran malam itu " seorang ketua penyidik kerajaan bersuara. Ialah salah satu orang yang ikut memeriksa kekacauan yang terjadi malam tadi.


"Tapi, ini tetap tidak bisa di biarkan. Saya sempat mempertanyakan tentang keamanan di Harem kerajaan Huoli. Bagaimana bisa tidak menyadari akan kehadiran penyusup? Memangnya kemana saja para penjaga?" seru perdana menteri dengan nada kesal yang siapapun akan menganggap itu terdengar nyata, tapi Reychu yang tersenyum miring dengan tipisnya, ia tahu kalau itu hanya bentuk cari mukanya perdana menteri. Pria tua itu seperti ingin mencari-cari masalah orang lain.


Sungguh kekanakan!


Siapa lagi kalau bukan ayahnya Gong Dahye, Gong Duyoung. Pria itu secara tidak langsung tengah menyindir menteri pertahanan yang juga bertanggung jawab atas keamanan istana.


Menteri pertahanan yang merasa tersindir pun tak tinggal diam. "Keamanan istana tidak ada yang berubah. Penjagaan ketat tak sedikitpun dikendurkan. Saya sendiri yang telah memastikannya, yang mulia. Saya bisa menjamin para prajurit yang berjaga tidak melonggarkan kewaspadaan mereka." jelasnya sambil sedikit melirik benci pada perdana menteri.


"Lagipula, saat mereka memberikan laporan tentang kejadian itu. Mereka sendiri tidak melihat apalagi merasakan kehadiran penyusup. Prajurit yang berpatroli pun tak menemukan apapun yang bisa dijadikan barang bukti bila ada yang menyusup ke dalam istana." lanjutnya.


Lagi, Reychu terkekeh kecil. Ingin rasanya ia berteriak memberitahukan kepada semua orang kalau yang melakukannya adalah sahabatnya. Tapi, tentu saja itu tidak mungkin. Bisa terancam hidupnya bila itu terjadi.

__ADS_1


"Cari terus... Sampai ke lubang semut pun kalian takkan menemukannya. Ryura-ku terlalu hebat untuk jadi lawan kalian. Kasihan sekali..." ledeknya dalam hati. Sangat senang melihat mereka yang ada di dalam aula rapat ini sedang diselimuti kebingungan.


Karena sudah benar-benar bosan, Reychu pun berdiri tanpa aba-aba hingga membuat orang-orang yang ada disana terhenyak dan seketika itu juga aula rapat menjadi sepi. Dengan memasang wajah polos ia memindai semua wajah yang hadir.


"Kenapa? Apa pergerakan ku mengganggu kalian?" tanyanya masih dengan wajah sok polosnya itu.


Kaisar mengernyit tak suka. "Permaisuri Ahn. Apa yang sedang kau lakukan? Rapatnya belum selesai. Jangan berpikir kau bisa pergi tanpa persetujuan dariku." lugasnya yang hanya di balas dengan tatapan malas oleh lawan bicaranya.


"Apa masalah mu, yang mulia kaisar Li? Kau masih mengharapkan saran dariku?" lalu terkekeh. "Aku tersanjung." lanjutnya, kaisar tak tahu harus berkata apa saat itu.


Perhatian Kaisar Li Hanzue terfokus saat ia dibuat tertegun kala matanya terkunci dengan mata Reychu. Jujur saja, ia tak suka saat mata itu tak lagi memiliki binar cinta didalamnya untuk dirinya. Ia jadi merasa tidak tahu malu bila mengingat apa yang sudah ia lakukan dulu pada permaisurinya dan sekarang seperti tengah mengharapkan cintanya lagi.


"Tapi, sayang... Aku bosan, kau tahu?! Sepanjang berbincangan ini, tak sedikit pun aku mendapati ada celah untuk mengambil sebuah solusi. Semuanya hanya beradu dengan argumen masing-masing, seolah perkataannya lah yang benar." untuk pertama kalinya Reychu bersikap serius selama ia tinggal di zaman kuno ini.


Di tatapnya seluruh hadirin disana dengan tatapan tegasnya. Itu ia lakukan bukan tanpa sadar, melainkan karena kebosanannya yang sudah mencapai puncaknya dan benar-benar ingin segera meninggalkan tempat itu.


Sesungguhnya, berdiam diri bukanlah bagian dari dirinya.


"Dengarkan aku! Aku tidak akan mengulanginya!" jedanya. "Aku perintahkan bagi siapapun yang turut andil dalam masalah ini... Fokuskan penyelidikan pada dua selir itu saja untuk saat ini sebagai langkah pertama! Periksa secara menyeluruh, apapun yang berkaitan dengan kejadian yang menimpa mereka! Termasuk praduga kalian! Lalu, kumpulkan semua bukti yang didapat dan laporkan pada kaisar. Tanpa terkecuali! Bahkan kalaupun tidak ada bukti, laporan tetap berjalan!" tekannya. "Setelahnya tunggu perintah lebih lanjut dari kaisar! Baik selir tingkat kedua maupun tingkat ketiga, buat penyelidikan secara terpisah. Mereka punya kasus yang berbeda!" lirikan intimidasi ia layangkan. "Aku memberikan waktu 1 minggu untuk kalian menyelidiki kedua kasus tersebut. Bila sampai batas waktu yang sudah ditentukan, masalah ini tak juga menemukan titik terang. Maka, kesimpulan akhirnya adalah..." Reychu menjeda sesaat. Para hadirin rapat menanti kelanjutannya.


"Mereka mati karena sudah takdirnya. Selir tingkat kedua mati karena kelalaiannya dan selir tingkat ketiga yang mati karena kebodohannya sendiri. Entah ia benar-benar berpikir untuk bunuh diri atau tidak... Yang pasti tidak ada yang sedang dalam perseteruan diantara mereka. Jadi, bisa di pastikan kalau mereka mati karena ulah mereka sendiri." usai berkata demikian, dalam hati ia tertawa lepas. Merasa geli sendiri dengan apa yang ia ucapkan.


"Itu saran dariku, yang mulia. Sisanya menjadi urusanmu! Sudah selesai, bukan?! Kalau begitu aku pergi!" katanya tak takut, ia bahkan mengabaikan kaisar yang tak kunjung menghentikan tatapan sedih, kagum dan rindunya. Tapi, apa peduli Reychu dengan hal itu.


Setelahnya iapun segera beranjak pergi dari sana begitu saja meninggalkan semua orang yang mulai berbisik-bisik menanggapi sikap permaisuri yang ternyata tetap bisa di andalkan seperti dulu, meski kini nada bicaranya dua kali lipat lebih tegas dan mendominasi dari yang dulu.


Sedang kaisar hanya mengikuti langkah permaisurinya dengan matanya. Dalam hati ia merasa tenang karena kemampuan istrinya itu tak ada yang berubah. Permaisuri masih bisa bersikap tegas dan cerdas dalam membantu menangani masalah yang sedang mereka hadapi. Hanya disayangkan, prilakunya yang sekarang.


"Kau masihlah permaisuri ku..." gumam kaisar tanpa tahu kalau gumamannya terdengar oleh selir agung Gong Dahye yang masih duduk di sampingnya dengan tangan yang kini mengepal kuat.


Wanita hamil itu merasa semakin cemburu.


"Si*lan! Aku benar-benar membencimu Ahn Reychu! Tunggu saja pembalasan dariku!" batinnya menggeram marah akibat cemburu yang melingkupi jiwanya.



Keluar dari aula rapat kerajaan, Reychu memilih berjalan-jalan. Terlintas di benaknya untuk mengunjungi kediaman anggrek yang kini sudah hangus dilahap api semalam.


Dengan ditemani pelayan-pelayannya Reychu pun mendatangi kediaman yang hangus itu .

__ADS_1


Beberapa penjaga tampak berjaga disana, namun apa pedulinya.


Dalam diam ia mengamati kerangka kayu yang tersisa dari kebakaran semalam. Benar-benar tak ada yang bisa di selamatkan. Miris sekali?!


"Ryura sungguh tidak tanggung-tanggung dalam bertindak. Ia selalu bekerja dengan sangat bersih. Hebat!" pujinya dalam hati. Senang karena bisa menjadi sahabat dari 'mayat hidup' itu.


"Pagi yang mulia permaisuri. Akhirnya kita bisa bertemu kembali. Sepertinya sudah lama, ya?!" sapanya dengan menampilkan senyum manisnya yang malah ditanggapi alis terangkat oleh Reychu.


Hatinya memberi tanda ketidaksukaan pada pria yang tampak mirip dengan kaisar Li Hanzue. Meskipun murah senyum, tapi entah mengapa ia merasa pengantin baru pria di depannya ini ada sesuatunya.


Ia mencoba mengingat-ingat tentang siapa pria itu gerangan. Setelah mengorek kembali ingatannya, ternyata dia adalah adik laki-laki kesayangannya kaisar Li Hanzue.


"Oh, pangeran kedua Li Fang Ye rupanya..." balas Reychu dengan senyum culasnya, Li Fang Ye sedikit terhenyak melihat itu. Tak menyangka kalau kilatan tak suka terlihat jelas di matanya, padahal dulu ia amat baik dan ramah pada semua orang meskipun orang lain memandangnya buruk setelah sering di sebut cemburu atas kasih sayang kaisar pada selir agungnya.


Ia memang pernah melihatnya di acara penyambutan namun kali ini terasa berbeda karena ia yang terlibat langsung dalam percakapan dengan permaisuri kakaknya itu.


Melihat lawan bicaranya tertegun karenanya, ia terkekeh saja.


Itulah Reychu, yang memang tak pernah mau menutupi ekspresi apapun dari dalam dirinya. Karena inilah dia.


"Ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Reychu tanpa minat dan pangeran Li Fang Ye menyadarinya.


Lelaki itu jadi bingung harus berkata apa.


"'Aah... Tidak ada, aku hanya ingin menyapa saja. Belakang ini aku melihat kakak ipar sudah banyak berubah. Sudah tidak lagi sama seperti yang dulu. Padahal dulu kakak ipar begitu lemah lembut." ungkapnya jujur.


Dengan acuh Reychu menyahuti perkataan Li Fang Ye.


"Tentu! Hidup itu harus ada tujuan agar tetap berjalan. Berhubung kakak mu itu sudah tak bisa di di harapkan lagi hatinya. Kenapa aku harus repot-repot bertahan. Lagipula, meskipun aku tidak lagi sama seperti dulu, aku tetap tahu bagaimana caranya menjaga sikap. Walaupun tiap kali aku melihat kaisar dan selir Gong, aku selalu ingin memenggal kepala mereka. Tapi, apa boleh buat. Tidak menyenangkan rasanya kalau langsung menghabisi mereka sebelum membalas mereka berkali-kali lipat dari yang pernah mereka lakukan padaku. Bukankah begitu?!" jujurnya santai yang malah membuat pangeran kedua Li Fang Ye merinding.


"Ia seperti yang di bicarakan orang-orang sekarang ini!" batinnya tak menduga.


"Hahaha..." pangeran kedua hanya bisa tertawa canggung, ia tak tahu harus menjawab seperti apa. Kalimat yang di utarakan permaisuri benar-benar berani. Otaknya sampai mendadak kosong lantaran bingung harus apa.


Ia memikirkan banyak hal, termasuk kesungguhan dalam ucapan sang permaisuri.



jangan lupa like dan votenya sertakan komen juga yaaa....๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2