3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
HADIAH PERNIKAHAN


__ADS_3

Sepulangnya dari kantor catatan sipil dengan pancaran sinar kebahagiaan yang menyelimuti mereka. Shin Mo Lan masih belum ingin masuk kerja -sudah pasti- dan memilih memberikan tanggung jawab penuh pada bawahan setia dan terpercayanya untuk menggantinya selagi dia bercuti-ria guna menikmati masa-masa indah usai melepas masa lajangnya.


Apalagi kalau bukan bulan madu.


Berjalan keluar dari kantor catatan sipil dengan Rayan dan Shin Mo Lan di depan dan Yi Feng di belakang mengekor. Tuan Muda Shin angkat bicara dengan seluruh isi kalimat adalah perintah yang tak bisa dibantah meski Yi Feng mau meminta keringanan dan belas kasihnya.


"Aku akan cuti untuk beberapa waktu yang belum diketahui. Jadi, seluruh pekerjaanku, ku alihkan padamu untuk sementara. Kau tahu cara kerjaku, bukan? Lakukanlah seperti itu. Kau cukup datang menemui ku untuk sesuatu yang penting dan genting. Hal-hal sepele lainnya tangani sendiri. Jangan ganggu waktu ku!" titah Shin Da Ming lugas.


Mendengar itu Yi Feng selaku sekretaris kepercayaan terkejut. Pada dasarnya, pemuda yang sedikit lebih muda dari Tuan-nya itu tidak terkejut dengan pengalihan tugas sementara tersebut. Sebelumnya ia sudah sering menerima tugas semacam itu. Tetapi, kali ini berbeda...


Dengan mata terbelalak kaget dia -Yi Feng- menatap horor punggung tegap Tuan-nya. Dia terkejut dan jika tidak salah dengar, telinganya tadi harus mendengar kalimat mengenai 'dalam waktu yang tidak diketahui; seluruh pekerjaan; cukup beri kabar untuk hal yang amat penting; dan terakhir... Jangan mengganggu'!


Seketika Sekretaris Yi Feng merasakan tekanan berat dipundaknya dan bencana.


Memang benar sebelumnya dia sudah biasa menerima tugas ini, tapi itu juga tidak dengan cara seperti ini. Kali ini, terasa jauh, jauh, dan jauh lebih berat dari yang di bayangkan.


"Tuan..." kalimatnya terpotong saat melihat Shin Da Ming mengangkat sebelah tangannya yang bebas sebagai isyarat 'no coment' sehingga Sekretaris Yi Feng mau tidak mau harus diam.


Dalam hati dia menjerit penuh keluhan sampai rasanya ingin menjambak rambut sendiri. "AAAAAARRRRGGGHHHH! TUAAAAAANNN... Mengapa kau memberikan ku tugas yang berat ini! Huhuhuhu... Aku tidak mau! Pekerjaan mu, kau lakukan dengan tegas dan hanya perlu mengeluarkan aura mengancam mu semuanya tunduk. Lalu, aku bisa apa?! Tuanku, tolong jangan mempersulit ku..."


Sang tuan yang menjadi pelaku pemberi beban malah tengah bermesraan dengan istrinya -Rayan- tanpa membuang sedetikpun waktu. Kini keduanya sudah memasuki mobil untuk kembali pulang. Tepatnya, pulang menuju rumah mereka sendiri dan bukannya rumah orang tua Shin.


Yi Feng ditinggalkan bak anak terlantar dengan wajah menyedihkannya menatap mobil sang tuan yang melaju menjauh perlahan dan dia ditinggalkan bersama angin yang berhembus membawa dedaunan kering.


Didalam mobil.


Sambil merangkul pinggang Rayan erat, Shin Mo Lan bertanya seraya menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta. "Sayang, ini hari pernikahan kita. Kau ingin hadiah apa dariku sebagai bentuk perayaan hari bahagia kita?" sebelah tangannya lagi digunakan untuk menggenggam dan memainkan jari-jemari Rayan yang imut-imut itu.


"Masih harus memberikan hadiah?" menoleh kearah suaminya begitu mendengar pertanyaan tersebut.


"Tidak juga. Tapi, aku yang mau. Aku ingin kau meminta apapun dariku. Jadi, aku memulainya dengan ini."


Mata Rayan berkedip polos dengan raut wajah berpikir. Ia tak lagi ragu untuk meminta bila suaminya sudah bilang begitu. Berhubung punya suami kaya yang sayang istri. Jangan ragu untuk melakukannya.


Ditengah-tengah aksi berpikirnya, sesuatu melintas dibenaknya. "Aku tahu apa yang aku inginkan." menoleh kearah Shin Mo Lan dan menatap wajah tampannya. "Tapi, aku tidak tahu apakah ini merepotkan mu atau tidak. Hanya saja, ini yang aku inginkan." Rayan merasa tak enak, sebab dia paham betul kalau yang diinginkannya sulit didapat.


"Memang apa yang kau inginkan? Katakan saja dulu, agar aku tahu seberapa sulitnya itu." ujar Shin Mo Lan santai seolah-olah apapun permintaan istrinya tidak ada yang tidak bisa ia dapatkan.


Mata Rayan berkedip penuh harap juga tidak enak hati untuk mengungkapkannya. Tapi, melihat suaminya bersikap sesantai itu seperti sudah mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Rayan hanya bisa menghilangkan perasaan tidak enak dalam hatinya.


"Suamiku..." tubuh Rayan kain mendekat untuk menempel lebih rekat ke tubuh Shin Mo Lan dengan tingkah manjanya yang paling Shin Mo Lan sukai.


Shin Mo Lan mengangkat alisnya sebagai respon dan menunggu istrinya melanjutkan kalimatnya.


"Kau tidak perlu memaksakan diri kalau apa yang aku minta sulit, oke? Aku juga tidak terlalu berharap." Rayan memulai.


"Katakan saja, sayang." Shin Mo Lan masih kukuh untuk memaksa istrinya meminta apapun padanya.


"Suamiku..." Shin Mo Lan berdehem menjawabnya. "Ini yang terlintas di benakku saat kau memintaku untuk meminta hadiah darimu. Dengarkan, ya..." Shin Mo Lan mengangguk mengiyakan.


Apapun untuk istrinya...

__ADS_1


"Suamiku, aku ingin... Rubah...!"


Ckiit...


Sang supir didepan nyaris menabrak mobil lain karena ikut mendengarkan ucapan Rayan -nyonya barunya- hingga terkejut dibuatnya.


"Rubah? Nyonya memang mengejutkan!" batinnya kaget.


...


Keheningan melanda.


Mata Shin Mo Lan mengerjab sesaat. Jujur dia juga sedikit terkejut sampai kesalahan supirnya diabaikan, sebab tidak terpikirkan olehnya bila ada kemungkinan itu yang diinginkan oleh istrinya.


"Rubah?" Rayan mengangguk membenarkan.


"Iya, rubah."


"Kenapa rubah?" bicara soal, Shin Mo Lan tak bisa tidak membayangkan siluman itu -Ruobin- yang sering bersama istrinya di kehidupan lampau.


"Kau pasti tahu. Kau tidak mungkin lupa dengan sahabat si... Sahabat ku dulu 'kan?" Rayan nyaris keceplosan sampai mengingat kalau masih ada orang lain diantara mereka.


"... Karena, dia tidak bisa dibawa kemari. Jadi, aku mau penggantinya. Pastikan yang rupanya mirip walau tidak sampai seratus persen, paling tidak dia mirip saja. Bagaimana? Apakah kau bisa mengabulkannya?" tatapan memohon Rayan sulit untuk diabaikan, terlebih untuk suami semacam Shin Mo Lan yang sayang istri.


Bagaimana bisa menolak?


"Haih. Tidak perlu memasang wajah seperti itu. Aku 'kan sudah bilang akan mengabulkan apapun permintaan mu. Jadi, aku pasti akan mencari seekor rubah untuk mu..." tiba-tiba Rayan menyela membuat Shin Mo Lan terdiam seketika.


Alhasil, Shin Mo Lan tak bisa menahan gemas dan langsung berseru. "Tutup pembatasnya!"


"Siap Tuan Muda!"


Shuut...


Kemudian, adegan dewasa terjadi, sayangnya penulis hanya bisa menyensornya demi kebaikan bersama. Hehe!


Ternyata Shin Da Ming berseru kepada supirnya agar dia tidak melihat wajah merona istrinya saat dia cumbu. Dia masih tahu untuk menjauhkan mata orang lain dari istrinya. Karena, Rayan dalam keadaan apapun hanya bisa dilihat olehnya.


Sang supir didepan menghela nafas berat dan berpikir. Selama bekerja sebagai supir pria tampan nan sukses itu, baru kali ini dia melihat betapa posesifnya Shin Da Ming atas istrinya.


"Aku tidak sampai begitu saat bersama istri ku sekalipun aku mencintainya. Kami sudah cukup harmonis..." sang supir menyetir sambil berpikir sejenak sebelum kembali bergumam


"Apa aku kurang mencintai istriku? Kurasa tidak mungkin. Aku cukup mencintainya sampai rela mencari pekerjaan yang gajinya tinggi agar bisa menafkahi dia dan anak kami dengan baik. Aku juga yang mengejarnya dulu sebelum menikah. Bagaimana bisa aku kurang mencintainya?! Apakah ini perbedaan antara cinta orang kaya dan orang miskin?" dia menggeleng.


"Ini tidak masuk akal. Haish! Terserah Tuan Muda sajalah. Bukan urusan ku juga! Fokus, fokus! Jangan sampai menabrak! Gaji ku bisa dipotong!"


Diapun kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya dan mengabaikan sepenuhnya apa yang sedang terjadi dibalik pembatas yang sudah tertutup hingga semua kegiatan di bagian kursi belakang menjadi rahasia.


Ingin tahu? Berimajinasi lah sendiri! Hahahaha...


__ADS_1


Biarkan penulis memberikan sedikit bocoran secara garis besar melalui dialog untuk episode yang akan datang tapi belum diketahui episode yang ke berapa. Silakan menebak...!


...


"Kau menjauh darinya. Dia milikku!"


"Galak sekali. Aku kan hanya bermain dengannya apa masalahnya. Lagipula kami ini bersaudara!"


"Kau pikir aku peduli! Apapun alasannya, dia hanya bisa bersama ku termasuk bermain."


"Kau konyol sekali. Itu sama saja dengan mengekangnya! Kau pikir aku akan diam saja!"


"Kau siapa ikut campur? Ini tidak ada hubungannya denganmu!"


"Wah! Apa kau bilang? Aku saudaranya. Bagaimana bisa ini tidak ada hubungannya denganku? Kau mau mengajak ku berkelahi ya?"


"Oh. Hanya saudara. Kenapa repot-repot. Aku justru jodohnya. Kelak saat besar nanti aku akan menikahinya. Jadi, mulai sedini ini aku akan bersamanya agar tidak ada yang mengambilnya dariku termasuk saudaranya. Kau punya masalah dengan itu?"


"Kau... Kau... MAMA! DIA MAU MENCULIK PUTRIMU...!"


"Mamp*s kau! Orang tua kami pasti tidak akan mengizinkannya! Terutama Papa! Huh!"


"Siapa takut. Cuma orang tua jodoh ku 'kan? Mereka juga tidak bisa menghalangiku untuk bersama jodohku. Aku akan meminta orang tua ku juga agar menangani orang tua mu untuk ku. Apa yang sulit dengan itu."


"KAU! AAAAAARRRRGGGHHHH! AWAS KAU, YA! AKAN AKU CABIK-CABIK KAU SUATU HARI NANTI!"


"Tenanglah... Kita memang tidak pernah menang bila bertengkar dengannya. Kupikir biarkan saja. Kita akan maju kalau dia berani berbuat macam-macam yang menyakiti saudari kita. Sekalipun dia adalah anak dari sahabat Mama dan Papa."


"Huh!"


"Kau sudah dengar dari saudaramu, kan? Mulai sekarang menjauh lah dari jodohku sejauh-jauhnya. Jangan mencoba jadi pengganggu diantara hubungan kami berdua!"


"Si*lan kau! Kau yang pengganggu! Berapa usiamu sekarang sampai berani memisahkan kami dari saudari kami?! Jangan sok dewasa kau!"


"Tenanglah!"


"Jangan terpancing emosi! Kau tahu dia bagaimana kan?"


"Justru karena aku tahu, aku jadi ingin membelahnya dan mengeluarkan isi perutnya lalu menggorengnya dalam genangan minyak panas!"


"Kau bertanya berapa usia ku? Sudah tentu lebih tua darimu..."


"Apanya yang lebih tua! Kau hanya lebih tua satu bulan dari kami!"


"Ouh. Satu bulan juga masih termasuk lebih tua. Bukankah aku tetap dilahirkan lebih dulu? Kau bodoh, ya?!"


"Lihat! Kau lihat dia!"


"Huh... Melelahkan sekali..."


__ADS_1


__ADS_2