
Sruuk...
Sebuah kaki bergerak menendang kerikil-kerikil kecil di tanah sambil menggerutu kesal. Sesekali ia mendongak ke arah dimana sahabatnya hilang dibawa pergi oleh seorang pria tampan tapi menyebalkan menurutnya.
Sayangnya, dia tidak bisa mengutarakan kekesalannya lantaran takut membahayakan dirinya sendiri mengingat ini bukan tempatnya berasal sebenarnya.
"Cih. Selalu begini. Masa gadis cantik seperti ku harus menerima kemalangan begini. Sudah jelas aku yang paling cantik dan mempesona, tapi kenapa tidak mendapatkan kisah romantis yang manis. Beruntungnya Reychu, Kaisar Agung Bai selalu berinisiatif mencarinya duluan. Beruntung juga bagi Ryura, Tuan Ye tidak pernah ragu untuk menunjukkan perasaan cintanya didepan umum. Sementara aku... Selalu harus aku yang merindukannya. Huh! Kesalnya!"
Dia terus seperti itu hingga tak menyadari kalau ada seseorang yang membuntutinya dari belakang tanpa bersuara.
Orang dibelakangnya tak kuasa menahan senyum menatap gadis cantik nan imut didepannya yang terus menggerutu tentang segala hal. Tak jarang ia juga mendengar dirinya disebut-sebut walau secara samar dan tidak langsung. Namun, itu cukup untuk membuatnya gemas melihat tingkah laku gadis didepannya saat ini.
Tapi, semua itu sirna ketika ia mendengar kalimat yang tidak ia sukai keluar dari mulut mungil gadisnya kemudian.
"Kalau tahu begini, mending aku cari yang lain saja. Kupikir ada banyak pria tampan di dunia ini. Meskipun tidak ada yang setampan Dia. Tapi, tetap saja... Tidak seperti Dia yang tidak memperbolehkan ku menunjukkan perasaan ku dimuka umum untuknya. Memangnya kenapa? Yang lainnya saja bisa? Kenapa aku tidak? Apa hanya aku yang mencintainya dan dia tidak? Huh... Hik...hik..." bibir gadis itu tertarik kebawah dengan menyedihkan.
Dia -Rayan-, mewek seketika.
"Aku kan juga mau... Huhu... Eh?!" belum selesai dia merengek, tiba-tiba dari belakang ada yang menarik tangannya kuat tapi tidak sampai menyakitinya.
Grep!
Bugh!
Tubuhnya berputar kebelakang dengan cepat dan langsung menubruk dada bidang yang gagah milik seseorang hingga hidungnya berdenyut ngilu karenanya. Tak sampai disana, seseorang itu bahkan tanpa ragu langsung memeluknya erat.
Rayan belum menyadarinya sebab rasa sakit pada hidungnya lebih mengganggunya.
"Ouch! Sakitnya..." keluhnya seraya mengusap-usap hidungnya yang terasa sakit.
Tak lama, ia akhirnya kembali ke kenyataan dan baru menyadari kalau tubuhnya tengah dipeluk oleh seorang pria yang belum bisa ia pastikan siapa pria itu. Akan tetapi, dari aromanya Rayan jelas tahu siapa dia.
"... Mo Lan?..." tanyanya sebelum mengangkat wajahnya untuk melihat sosok yang memeluknya dengan berani ini.
Kedua pasang mata itu saling bertubrukan dengan dalam dan penuh penghayatan.
"Kau tahu, tapi masih menanyakannya?" pertanyaan itu terdengar sedikit tidak senang walau raut wajahnya terlihat biasa saja.
Meski sebenarnya, Shin Mo Lan memang merasa sedikit tidak senang saat melihat keraguan dalam suara gadisnya kala menebak sosoknya. Ini membuatnya tidak nyaman dari lubuk hatinya, ia jadi merasa kalau kedekatan mereka belakangan ini belum cukup untuk membuat Rayan terbiasa akan dirinya.
Alasannya sepele, dia sadar bahwasanya... Dirinya tidak bisa berjauhan dengan Rayan sejak hatinya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya kepada gadis imut dalam pelukannya saat ini. Jiwa raganya selalu ingin mendekap pujaan hatinya setiap saat tanpa ada yang bisa menghalangi. Tapi, sayangnya dia dan gadisnya belum terikat oleh ikatan pernikahan sehingga dia hanya bisa menahan diri agar tidak melakukan sesuatu diluar batas.
Namun, siapa yang menduga kalau ternyata Rayan tidak sampai menangkap maksud dari apa yang sudah ia lakukan selama ini.
Hal ini jelas membuatnya frustrasi. Belum lagi ketika mendengar dia lebih memilih mencari yang lain daripada mencoba melekat padanya begini. Seketika, ketidaksenangan membara dihatinya.
__ADS_1
Alam bawah sadarnya segera berkata, bahwasanya. "Rayan miliknya! Miliknya! Dan akan selalu menjadi miliknya! Selamanya!"
Begitulah awal bagaimana dia bisa bergegas menarik Rayan langsung kedalam pelukannya. Ia tak mau sampai mendengar kalimat mengerikan lainnya lagi hanya karena Rayan merasa tidak puas atas dirinya.
Memikirkannya saja, sudah bisa membuatnya marah.
Huh!
"Oh. Pria tampan ku!" senang Rayan begitu mengetahui siapa yang memeluknya dan langsung membalas pelukan pujaan hatinya itu tanpa ragu, tak lupa senyum sumringah terukir jelas di bibirnya hingga seketika menyurutkan ketidaksenangan dalam diri Shin Mo Lan tanpa hambatan.
Dia turut senang melihat senyum indah itu terpatri dihadapannya.
"Aku tidak salahkan? Kau memelukku saat ini? Kau memelukku duluan?!" serbunya dengan kebahagiaan yang membuncah seperti Shin Mo Lan yang tidak pernah mau berinisiatif melakukannya lebih dulu.
Shin Mo Lan terkekeh geli melihat tingkah kekasihnya yang begitu menggemaskan dimatanya. "Tentu! Aku tidak punya pilihan lain selain bertindak sedikit lebih agresif atau aku akan mendapati kesayangan ku mencari yang lain keluar sana. Kau harus tahu! Kalau tidak ada yang seperti diri ku di luaran sana!" jujurnya.
Mata Rayan terbelalak mendengarnya, lalu terkikik sambil mengangguk setuju dengan malu kemudian. "Habis. Sulit sekali bertingkah mesra denganmu. Kau pasti akan selalu memberikan banyak batasan. Bukannya aku tidak tahu akan niat baik mu. Tapi, kau juga tak bisa melupakan fakta bahwa aku bukan berasal dari sini. Aku hidup di jaman dimana hanya ada sedikit batasan dalam sebuah hubungan. Bersikap mesra dimuka umum adalah hal biasa. Tapi sekali lagi, aku cukup sadar diri. Saat ini aku tidak berada di duniaku. Aku ada di dunia mu. Aku harus menghormati apa yang ada disini." bibirnya manyun dengan ekspresi cemberut.
Rayan kembali bermelas manja tanpa niat melepaskan gelayutannya di pinggang ketat prianya. "Hanya saja, aku iri pada kedua sahabat ku. Mereka bersama kekasih mereka, tidak ragu untuk bermesraan di manapun mereka mau. Aku yang merasa lebih tahu tentang apa itu asmara malah gagal mempraktikkannya. Lihat, seharusnya mereka yang iri padaku tapi malah aku yang iri pada mereka. Bagaimana aku tidak kesal... Aku kan juga..."
Belum usai ia berucap Shin Mo Lan sudah lebih dulu membungkamnya dengan bibirnya.
Cup!
Itu hanya sebuah kecupan yang dilayangkan oleh sang pria bertujuan agar dapat mengalihkan perhatian kekasihnya dari memikirkan rasa iri hati atas kemesraan orang lain dan mulai fokus pada mereka berdua saja.
Meski hanya kecupan, bagi Rayan itu sesuatu yang sudah luar biasa karena dilakukan oleh seorang Shin Mo Lan.
Ditatapnya dalam wajah merona Rayan yang syok akibat kecupan darinya.
Faktanya, begini-begini Rayan masih orisinil. Belum tersentuh tanda-tanda, bentuk-bentuk cinta bahkan dari kehidupan modernnya. Wajar saja kalau ia segera tertegun hingga membeku ditempat. Otaknya mendadak mati, jiwanya seolah melayang entah kemana.
"...Yang..."
"...Ayang..."
"...Sayang..."
"...Rayan sayang..."
Beberapa kali Shin Mo Lan memanggilnya, belum ada sahutan dari Rayan membuat pria itu mulai panik. Takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi kepada kekasihnya. Untungnya, Rayan segera kembali ke kesadarannya.
Ia langsung bertanya usai tersentak akibat ulah Shin Mo Lan yang begitu berani. "Hah?! Apa yang kau lakukan barusan?" tanya Rayan seraya mengerjapkan matanya cepat. Ia butuh konfirmasi saat ini atas apa yang baru saja terjadi.
Dia ingin tahu apakah kecupan tadi itu sungguhan?
__ADS_1
Astaga, dia ingin kepastian.
Mendadak, ia merasa seperti berubah menjadi orang bodoh dalam waktu singkat.
Shin Mo Lan yang mendengar pertanyaan tersebut agak bingung. Sekilas terlihat dibenaknya kalau Rayan tidak senang dengan apa yang dia lakukan.
"Apa kau tidak suka dengan apa yang ku lakukan? Jangan khawatir aku tidak akan melakukannya lagi kalau kau..." seperti dia sebelumnya, kini sebelum Shin Mo Lan berhasil menyelesaikan kalimatnya Rayan sudah langsung bergegas menghentikannya dengan menggunakan ciuman maut miliknya.
Cup!
Dia bertindak lebih agresif. Itu dia lakukan, karena merasa prianya terlalu kaku dan kuno.
Intinya, jangan salahkan dia yang agresif saat ini. Siapa suruh Shin Mo Lan memulainya lebih dulu. Tentu, Rayan tak akan melewatkan kesempatan ini.
Sementara Rayan asik menyesap bibir manis kekasihnya, disisi lain Shin Mo Lan justru mematung kaku karena terkejut, persis seperti yang terjadi pada Rayan sebelumnya. Tak terpikirkan olehnya kalau Rayan-nya yang menggemaskan bisa menjadi agresif seperti ini.
Tapi, sialnya dia tidak dapat menolak pelakuan kekasihnya. Dia seperti boneka yang membiarkan dirinya di perlakukan sesuka hati oleh pemiliknya.
Lambat-laun iapun ikut terhanyut. Seolah mendapatkan pelajaran baru tentang seperti apa itu berciuman, Shin Mo Lan pun akhirnya mulai ikut bergerak menyusul Rayan yang masih asik seperti tidak mau lepas.
Akhirnya, keduanya pun berciuman dengan sebagaimana berciuman yang sebenarnya. Mengabaikan tempat dimana mereka berpijak saat ini.
Untungnya tidak ada yang melintas disana atau siapapun itu akan mengalami serangan jantung akibat suguhan romatika sepasang kekasih yang prianya adalah seseorang yang tak mungkin tidak dikenal oleh penduduk Kekaisaran Utara.
Namun, sepertinya harus ada yang dikoreksi sedikit.
Nyatanya, tidak benar kalau pasangan kekasih itu tidak ada yang melihatnya. Sebenarnya, di atap bangunan yang berada didekat mereka terdapat sesosok manusia berhanfu putih berdiri dibawah sinar matahari dengan berani hingga memberinya kesan bak bidadari yang turun dari kayangan.
Wajahnya tak bisa dilihat karena kilau cahaya yang bersinar dibelakangnya. Tapi, siapapun yang mengenalnya akan langsung bisa menebak hanya dengan melihat siluet atau auranya.
Ya! Dia adalah Ryura.
Gadis itu tengah menonton kemesraan sahabatnya dengan kekasihnya yang tampaknya tidak menyadari keberadaannya atau tepatnya tidak merasa akan aura kehadirannya.
Tak ada ekspresi apapun diwajahnya selain datar dan kosong. Hingga tak bisa dibilang kalau ia tengah iri atau sebagainya.
Tak lama setelah memperhatikan adegan romansa itu, pandangannya segera bergerak naik dan lurus kedepan. Karena dia berada di atas ketinggian, hamparan lembah yang berada di luar kediaman Ye dan Sekte Salju Perak dapat di lihat dengan jelas.
Dipandanginya dengan kosong kearah yang tidak dapat diketahui oleh siapapun itu. Tapi, tampaknya ada sesuatu yang sedang dia tunggu.
Angin berhembus mengayunkan setiap helaian rambutnya yang tergerai tanpa diikat. Menciptakan fantasi yang indah dalam visual dirinya. Hanfunya yang putih, rambutnya yang hitam nan berkilau ditambah wajahnya yang datar bak patung namun manis menawan mampu memberikan rasa yang tak biasa bagi siapapun yang melihatnya.
Kemisteriusan tak akan tertinggal bahwa dari sorot matanya yang tak terbaca itu.
Sekilas dia seperti bukan makhluk dari dunia fana.
__ADS_1
Terlalu luar biasa.