
"Halo, Tuan Muda Shin, Nyonya Shin."
...
"Oh, Halo. Tuan Muda Shin! Eh, ada Nyonya Shin juga. Hai..."
...
"Halo, Tuan Muda Shin kita bertemu lagi. Halo juga Nyonya Shin. Apakah kalian sedang istirahat?"
...
"Halo, Tuan Muda Shin, Nyonya Shin. Kita jadi sering bertemu, ya... Haha... Kebetulan saya di sini sedang menjenguk teman saya."
...
"Halo... Tuan Muda Shin..."
...
"Halo..."
...
Bla bla bla...
Bla bla bla...
Bla bla bla...
Entah sudah ke berapa kali Rayan dan Shin Da Ming berpapasan dengan Jiang Wanxi di koridor rumah sakit dalam kurun waktu yang berdekatan selama 3 hari berturut-turut. Dunia serasa lebih sempit 100 kali lipat saat mendapati wajah yang menurut Rayan sangat mengganggu hingga rasanya ingin dia cakar dan hancurkan saat itu juga.
Memang berapa banyak temannya yang sakit hingga di manapun pasti berpapasan dengan wanita itu. Rayan pikir ini sangat tidak masuk akal. Apalagi Rayan mencium bau-bau provokasi dari Jiang Wanxi melalui pertemuan yang tidak disengaja itu.
Terlebih saat menyapa dia dan suami, bisa ia dengar ada perbedaan dalam nada walau samar saat menyebutkan dua panggilan yang diperuntukkan bagi dia dan Shin Da Ming. Panggilan pertama untuk Shin Da Ming diucapkan dengan baik dan bahkan manis? Sedang saat menyebutnya samar-samar baik Rayan maupun Shin Da Ming bisa mendengar keengganan dalam menyebutkannya, tapi tak punya pilihan lain selain tetap menyapa agar tidak kelihatan tengah memiliki maksud lain dengan melakukan aksi berpapasan ini.
__ADS_1
Karena itulah wajah Rayan jadi semakin tidak enak untuk dilihat membuat Shin Da Ming ikut kesal pada pembuat onar yang menyebabkan istrinya jadi kesal. Ingin rasanya segera turun tangan untuk membereskan, tapi ingat kalau sang istri melarang.
Setelah menjauh dari berpapasan dengan Jiang Wanxi, Shin Da Ming segera berkata kepada Rayan yang sudah kelihatan cemberut lagi untuk membujuknya.
"Sudah jangan pedulikan dia. Jangan biarkan orang seperti itu merusak suasana hati mu. Lihat aku saja. Hmm? Ayo, kita kembali ke ruangan kita. Aku akan minta Yi Feng memesan makanan kesukaan mu untuk mengembalikan suasana hati mu. Aku tidak suka istriku menjadi seperti ini hanya karena orang seperti itu. Istri ku harus bahagia selalu. Hmm..." tutur lembut penuh kasih sayang dari Shin Da Ming seketika membuat suasana hati Rayan yang menurun karena Jiang Wanxi kembali meningkat karena perhatian dari suaminya.
"Uuuuh... Suamiku ini semakin manis saja. Hahaha... Baiklah aku akan mendengarkan mu, ayo." Rayan berbunga-bunga hingga langsung bergelayut manja di lengan kokoh suaminya dan keduanya pun berjalan beriringan menuju ruangan kantor Shin Da Ming.
Sementara dari sisi Jiang Wanxi, wanita itu sedang sangat senang lantaran rencananya untuk berbuat seperti ini berjalan lancar. Berbuat sesuatu seolah-olah semuanya terjadi begitu saja. Sayangnya, siapa yang ingin dia kelabui. Tentu saja, pasangan Shin itu tahu ada maksud lain darinya dengan membuat skenario seperti pertemuan mereka adalah adegan yang tidak disengaja.
Tapi, biarkan dia merasa puas sendiri.
Hanya saja, dia masih tak bisa menahan perasaan cemburu saat melihat pasangan Shin itu bermesraan. Pasalnya, di setiap berpapasan Jiang Wanxi pasti melihat keduanya saling melempar gelembung-gelembung cinta seolah dunia hanya milik berdua, sama sekali mengabaikan sekitarnya.
Itu sangat membakar hatinya. Tapi, malangnya dia tak bisa berbuat apa-apa karena tentu saja hal wajar bagi pasangan suami istri untuk bebas menunjukkan cinta kasih mereka. Orang berpacaran saja kadang lebih dari mereka yang sudah menikah. Bagaimana bisa yang sudah menikah mau kalah?
"Aku tidak mungkin melakukan hal ini lagi atau segalanya akan jadi sia-sia. Kira-kira apa yang harus ku lakukan selanjutnya? Aku tidak bisa membuang-buang waktu atau Shin Da Ming akan lepas dari jangkauan ku. Jelas, itu bukan yang aku inginkan." gumamnya mulai kembali menyusun rencana.
Dan yang uniknya, setiap petugas medis yang berpapasan dengan keduanya pasti berlalu dengan satu pemikiran yang sama, yaitu betapa romantisnya pasangan itu. Hal itu karena ada saja perilaku Rayan maupun Shin Da Ming yang membuat mereka yang melihatnya tersipu dan meleleh.
Seperti saat ini.
"Lelah, hmm..." ucap Shin Da Ming untuk Rayan seraya melangkah kebelakang sang istri dan langsung memegang bahunya untuk memijat.
"Oukh... Ya, disitu... Haah... Enak sekali. Pijatan suamiku memang yang terbaik." seru Rayan sambil menikmati pijatan dari suaminya dan itu dilakukan sambil berjalan.
Benar-benar seolah dunia milik berdua.
"Aku kan sudah bilang untuk tidak terlalu memaksakan diri. Aku tidak suka melihat mu kelelahan." agaknya Shin Da Ming tengah mengomeli istrinya.
"Apaan? Aku suka melakukannya, apalagi bersamamu. Bisa melihat berbagai ekspresi mu saat merawat pasien. Itu benar-benar luar biasa tampan. Pesona mu bertambah saat kau sedang bekerja. Aku jadi mengerti mengapa diluar sana banyak yang mengklaim bahwa kau adalah dokter pria idaman semua orang. Bahkan aku pernah mendengar kalau para dokter pria diluar sana juga ingin bisa terlihat seperti mu saat sedang bekerja. Bukankah itu luar biasa." sorot mata Rayan terlihat jelas memuji, memuja dan merasa beruntung karena menjadi wanitanya Shin Mo Lan.
Shin Mo Lan tersenyum dibelakang seraya menggelengkan kepalanya tak berdaya melihat tingkah menggemaskan sang istri. Lalu berkata. "Sebenarnya mereka juga bisa terlihat seperti itu. Mereka hanya butuh lebih percaya diri dan menghayati benar-benar perannya sebagai petugas medis. Keinginan untuk menjadi orang yang mengobati harus lebih tulus. Dengan begitu pesona itu akan keluar dengan sendirinya." jedanya. "Pernahkah kau mendengar mengenai anak kecil lebih peka terhadap ketulusan seseorang?"
__ADS_1
Rayan mengangguk sambil bergumam. "Hmhm." Dia mendengarkan dengan baik perkataan suaminya.
"Kepekaan itu juga yang membuat kebanyakan orang menyukai seseorang yang dianggap luar biasa. Meskipun tak jarang kepekaan itu tidak berfungsi ketika obsesi dan kecenderungan berpihak mengambil alih." terang Shin Mo Lan seraya melepaskan pijatannya kala dirasa sudah cukup, lalu beralih merangkul pundak Rayan.
Ctak!
Rayan menjentikkan jarinya tanda setuju. "Yaaa, kau benar. Hal itulah yang sering terjadi. Tidak heran kebanyakan manusia menganggap orang-orang seperti itu 'buta'. Buta mata dan buta hati." Shin Mo Lan mengangguk membenarkan.
"Beginilah siklus kehidupan."
Keduanya bercengkrama dengan santai mengabaikan karyawan rumah sakit yang dibuat melting oleh keduanya dan lagi seolah tidak menyadari kalau ada salah seorang petugas medis yang tengah berjongkok di balik dinding lorong koridor lain. Dia terlihat menyedihkan dengan mata sembabnya yang merah seperti habis menangis. Tampaknya sesuatu terjadi padanya.
Bila dilihat dari penampilannya, dia benar-benar mengundang orang-orang untuk merundungnya. Tapi, saat ini matanya terbuka seolah sinar pencerahan menerpanya.
"Benar! Aku hanya perlu lebih percaya diri! Aku tidak bisa terus seperti ini! Tidak bisa!!!" semangat menggebu-gebu melonjak dalam dirinya seketika hingga siapa saja yang mungkin melihatnya saat ini pasti memberikan tatapan horor padanya saking ngerinya semangat yang sedang dia kobarkan.
Hari ini sangat melelahkan sehingga begitu pekerjaan selesai, pasangan Shin itu segera pulang. Saat sampai di parkiran, Lagi-lagi wajah Jiang Wanxi terlihat. Meski masih jauh, tapi dari jarak sejauh itu masih tetap bisa melihat dan bahkan mendengar bila yang lain memanggil. Jadi, karena Rayan tak ingin sampai bertemu lagi. Dia bergegas mendorong suaminya masuk mobil.
"Apalagi mau wanita itu!" Sungutnya menarik perhatian Shin Da Ming.
"Ada apa, sayang?" Tanyanya bingung melihat tiba-tiba sang istri bersungut-sungut seperti itu.
"lihat kesana! Siapa yang percaya kalau yang terjadi ini normal?! Dia benar-benar meminta kematian! Ayo, cepat masuk dan pulang. Jangan sampai dia menyapa kita lagi seolah-olah kita benar-benar tidak sengaja bertemu lagi. Siapa yang mau dia tipu?! Huh!" kata Rayan seraya mendorong Shin Mo Lan untuk memasuki mobil bagian kemudi.
Shin Mo Lan hanya menurut saja.
Sing!
Semua itu terjadi secepat kilat sampai Jiang Wanxi yang sudah menunggu sejak tadi dan ingin kembali melakukan aksinya untuk terakhir kali sebelum dia melakukan aksi lainnya. Dia sudah diperlihatkan adegan menghindar dari pasangan Shin itu. Tampak jelas Rayan tak repot-repot menutupi gerakannya yang ingin menghindar. Bahkan Rayan sempat mengirimkan peringatan melalui tatapannya yang walaupun singkat Jiang Wanxi menerimanya.
Dia jadi membeku. Tak menyangka lawannya benar-benar tak mau bermain halus. Alhasil, dia menghentakkan kakinya ke tanah saking kesalnya.
Huh!
__ADS_1