
Siang terik hari itu, bukanlah siang yang menyenangkan. Saat dimana biasanya panas di siang hari dijadikan saat untuk bersantai sambil meminum segelas air es, kini justru dijadikan saat untuk ajang interogasi.
Tepat di ruang perjamuan Keluarga di kediaman Yu. Seluruh anggota keluarga tersebut tampak telah duduk anteng di kursi mereka sendiri dengan raut wajah yang tak jauh berbeda satu sama lain, yaitu raut wajah sinis penuh ejekan dan hinaan.
Sementara yang menjadi pusatnya hanya berdiri di tengah-tengah layaknya orang bodoh, karena ia sudah merasa lelah dan ingin segera berbaring untuk istirahat. Bila saja ia tidak ingat tujuannya kembali ke kediaman Yu itu apa, sudah bisa dipastikan ia tak akan kembali dan memilih berkelana bersama kedua sahabatnya keliling dataran yang luas ini.
Lama diam dengan sang pemimpin keluarga yang hanya menatap tajam ke arahnya sejak awal. Rayan sudah merutuki keadaannya yang menyedihkan ini, ingin rasanya ia meracuni habis seluruh anggota keluarga Yu namun ia harus bersabar karena itu bukanlah saatnya.
"Apa yang kau pikirkan dengan memilih pergi dan menghilang, kemudian kembali dengan sifat angkuhmu yang amat tidak pantas bagi gadis yang terlahir haram seperti mu?! Apa kau sudah lupa siapa dirimu?!" pertanyaan panjang pun akhirnya terlontarkan dengan menohoknya, yang mana membuat Rayan membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Bagian kalimat yang menyatakan bahwa ia kembali dengan sifat angkuh sementara dirinya hanyalah seorang anak haram dan kalimat tanya yang seolah mengingatkan tentang siapa dia sebenarnya, sukses membuat Rayan menggelengkan kepalanya dramatis dengan mata yang terpaku pada pria tua yang kalau boleh ia katai. Maka, ia akan mengatainya dengan kalimat.
SI KAKEK BAU TANAH YANG SOMBONG.
"Perubahan! Itu yang aku pikirkan! Dan kau jelas tahu mengapa bisa aku berpikir demikian!" jawab Rayan lugas.
"Jaga sikapmu!" seru lantang sebuah suara yang mengalun tajam dan tegas berasal dari Ru Jinyu. Ia mulai mengambil sikap seolah paling menjaga tata krama. Seruannya itu langsung mendapat delikkan tak suka dari para menantu lainnya.
Rayan memutar bola matanya malas kala mendengar ada yang memulai drama basi yang garing di siang hari.
"Cih! Penyihir tua berkedok ibu peri itu mulai memainkan perannya!" decih Rayan dalam hati.
"Apa yang salah dengan ucapan ku, nyonya pertama? Menurutku, bahasaku sudah termasuk sopan. Apa hanya karena aku menyebut diriku dengan kata 'aku' dan menyebut dirimu dengan kata 'kau', nyonya pertama jadi mempermasalahkan itu?!" katanya sembari menatap jengkel Ru Jinyu. "Seharusnya kau bersyukur, karena aku tidak berniat memanggilmu langsung dengan namamu! Jadi, jangan memperbesar masalah sepele seperti ini." kembali menatap dingin Yu Zhao Yan yang juga menatap dingin dirinya. "Lagipula, sopan tidaknya aku. Aku akan tetap diperlakukan tidak pantas disini. Lalu, untuk apa aku terus bertahan?! Bukankah begitu, kakek?!" lanjutnya sambil menekan kata kakek dengan tanpa takut memandang tepat di mata tajam pria tua -Yu Zhao Yan- yang kian menajam.
"Perubahan mu, sungguh mengesankan! Hanya dalam waktu 3 bulan kau sudah menjadi sangat berani! Darimana kau mendapatkan keberanian itu?!" tanya Yu Zhao Yan dengan nada beratnya yang menuntut.
Kekehan Rayan menjadi pembukanya. "Tidak ku dapat dari manapun. Aku hanya sudah mendapatkan pencerahan. Dimana aku tidak seharusnya berada di bawah kaki orang lain yang bahkan untuk menunduk pun terlalu sulit!" sindir Rayan halus.
Wajah seluruh anggota keluarganya menggelap menahan marah mendengar sindiran tersebut. Mereka jelas mengerti dan tahu apa maksud dari perkataan Rayan itu. Sebab Rayan menyindirnya walau halus namun kiasannya tidak terlampau jauh sehingga sangat mudah di pahami.
Rayan hanya menampilkan senyum manisnya saja tanpa mau repot-repot menanggapi aura gelap yang mulai menyelimuti seisi ruang.
Dia tahu kalau saat ini semua yang hadir di sana marah dan bahkan bisa jadi mengutuknya. Tapi, apa pedulinya. Mereka saja yang berlebihan dalam menanggapi hal seperti ini. Padahal mengingat dulu perlakuan mereka kepada Yu Rayan yang asli lebih parah dari ini. Jadi, menurut Rayan ini belum seberapa.
"LANCANG!" akhirnya si kepala keluarga pun berteriak marah. Sungguh emosinya tak bisa di sentuh sedikit saja. Pria tua itu benar-benar bertemperamen buruk. Kalau diingat-ingat pun ini sudah untuk kesekian kalinya ia marah-marah.
Rayan jadi berpikir. "Apa dia tidak takut kena serangan jantung mendadak?!"
Sambil menunjuk kearah Rayan dengan tangan kirinya murka. "KAU! SUNGGUH TIDAK TAHU DIRI! KAU PIKIR SELAMA INI DIMANA KAU TINGGAL, HAH?! SIAPA YANG MEMBERIMU MAKAN?! SIAPA YANG MEMBERIMU KEHIDUPAN, HAH?! BAHKAN APA KAU SADAR DARAH SIAPA YANG MENGALIR DI DALAM TUBUHMU?! DAN APA KAU LUPA KALAU KAU JUGA KU BIARKAN MENGGUNAKAN MARGA LELUHUR KU?! HARUSNYA KAU CUKUP TAHU DIRI UNTUK TIDAK MELEWATI BATAS MU!" terang Yu Zhao Yan dengan teramat geram. Gigi-giginya bergemeletuk saat rahangnya mengetat. Ia benar-benar marah.
Bibir Rayan terkatup menipis. Bukan takut, melainkan tak menyangka akan mendengar kalimat yang menunjukkan bahwa apa yang selama ini didapatkan si pemilik tubuh tidak ada artinya. Dengarlah dari cara bagaimana pria tua yang siap di makamkan itu mengeluarkan uneg-unegnya. Mengatakan semua yang tidak sepantasnya di ungkit. Mendengarnya saja sudah bisa dipastikan kalau Keluarga tersebut tidak pernah ikhlas memberikan apa yang mereka pernah berikan pada Yu Rayan yang asli. Sekalipun itu barang bekas, makanan basi, dan tempat tinggal reyot.
"Hah?! Kau dengar itu Yu Rayan?! Aku yang mendengarnya benar-benar ingin segera menghabisi mereka semua. Bagaimana bisa manusia seperti mereka dibiarkan hidup?! Seandainya sampai saat ini kau masih berada di tubuh mu... Aku bisa menjamin kalau tidak akan pernah ada hari ini untuk kau alami..." batin Rayan prihatin.
__ADS_1
"Hanya itu?! Kenapa tidak kau katakan segalanya yang lebih dari ini! Aku yakin kau masih punya banyak simpanan kalimat yang sudah bisa kau lontarkan padaku." Rayan tersenyum sinis. "Aku tidak habis pikir. Ternyata masih ada manusia sejenis kalian. Benar-benar membuat kotor bumi saja." sarkas Rayan dengan nada santainya.
"Dasar anak haram tidak tahu diuntung! Kau masih berani berbicara lagi!" bentak Yu Ji Xu yang akhirnya membuka suaranya. Ia sudah tidak lagi mampu menahan amarahnya yang telah menumpuk dan meluap pada akhirnya. Tidak terima ayahnya di tentang sedari awal dan tidak terima kalau anak haram itu memilih memberontak.
"Aku tidak menyangka. Putri haram dari saudara ketiga benar-benar memiliki nyali yang besar. Lihatlah dia... Seperti gadis angkuh yang berkuasa... Benar-benar konyol!" nyinyir Yu Chen sinis sambil melirik menghina kearah saudaranya, yakni ayah Yu Rayan. Yu Ran Yuan yang memilih diam tanpa mau melihat apa yang sedang berlangsung saat ini.
Tatapan muak ditujukan Rayan ke pria yang tak lain pamannya yang baru pertama ia jumpai sebagai Rayan Monica. Ia pikir pria itu hanya diam saja dan enggan ikut bergabung dalam acara tak berfaedah ini, tapi ternyata diamnya seorang Yu Chen jauh lebih memuakkan daripada paman satunya.
"Oh, paman Chen. Aku tidak tahu kalau kau cukup jeli dalam mengamati anak haram ini. Aku tersanjung mendengarnya. Haruskah aku memberi sedikit ilmu 'bernyali besar' ku pada putri-putri mu?! Aku yakin mereka akan menjadi luar biasa!" usai kalimat bernada sindiran tersebut di ucapkan saat itu juga Yu Chen menatap tajam penuh peringatan kepada Rayan yang hanya membalasnya dengan senyuman manis menggetarkan hati.
"Jangan bermimpi! Putri-putri ku tidak sehina dirimu! Jadi, jelas saja kau tak pantas memberi ajaran apapun kepada siapapun!" sergah Yu Chen yang berhasil memancing kekehan Rayan.
"Aku hina?! Lalu, apa kabarnya dengan kalian yang selama ini menindasku dan menyiksaku? Aku atau kalian yang hina? Kenapa terdengar tidak adil, ya?!" tutur Rayan dengan nada merajuk sedih yang jenaka.
"Kau sungguh tak punya malu!" tangkas Yu Ming Luo cepat. Ia sebenarnya sangat jijik melihat Rayan yang kian sempurna, walaupun ia berusaha untuk menampik semua itu namun tetap saja... Tidak semudah mematahkan ranting rapuh yang telah gugur dari pohonnya.
Tawa renyah Rayan menggema ringan. "Aku?! Tidak tahu malu?! Yang benar saja..." masih mempertahankan senyumnya yang kini tampak seperti senyum yang merendahkan saat ternyata senyum itu diarahkan pada sepupunya yang baru saja mengeluarkan suaranya.
Sambil menggerakkan tangannya untuk menyelipkan helaian rambut yang menjuntai bebas ke depan telinganya agar bisa ia pindahkan kebelakang kembali.
"Kau tahu, kakak sepupu ku yang cantik! Akan lebih baik kau diam saja. Tidakkah kau takut aku membocorkan sifat jal*ng mu kepada yang lain?" kening Yu Ming Luo langsung mengernyit bingung sekaligus tidak terima di katai seperti itu. Rayan berucap dengan santainya tanpa beban.
"Jangan sembarangan! Aku tidak memiliki sifat seperti mu!" balasnya berdesis dengan kembali melemparkan kata 'jal*ng' kepada Rayan seolah mempertegas kalau sebutan itu lebih cocok untuk Rayan bukan dirinya.
"Ayolah, kakak! Haruskah aku mengatakan kalau kakak tampan itu begitu menggairahkan. Sampai-sampai membuat seorang gadis dari keluarga hebat rela menyerahkan dirinya begitu saja?!" ungkapnya yang melenceng dari pembicaraan awal. Yu Ming Luo tertegun mendengarnya namun ia masih tak paham.
"Apa yang kau bicarakan gadis bod*h! Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Yu Zhao Yan kesal bersampul marah.
"Oh... Tentu tidak. Aku hanya mengatakan itu untuk kakak Ming Luo. Aku yakin ia paham. Sangat disayangkan kalau ia tidak mengerti juga. Padahal saat itu gangnya benar-benar sepi sehingga cukup untuk melakukan pemanasan yang luar biasa." Rayan tersenyum penuh kemenangan dengan sinis nan licik kala melihat wajah pias Yu Ming Luo begitu ia mengutarakan beberapa petunjuk. Rayan yakin gadis yang lebih tua sedikit darinya itu tahu kemana arah pembicaraannya.
"Si*lan! Apa dia ada disana hari itu?!" tanya Yu Ming Luo dalam hatinya. Gadis itu cemas dan gelisah. Ia tak ingin sampai ada yang mengetahui apa yang ia sudah lakukan dengan kekasihnya.
"KAU SUNGGUH SUDAH MELEWATI BATAS MU!" bangkit berdiri kemudian berteriak Ru Jinyu tak terima saat ada yang menghina putri pertamanya, terlebih lagi yang menghina adalah anak haram. Ia merasa benar-benar direndahkan. "Jangan melemparkan apa yang lebih pantas untuk dirimu ke orang lain!" tunjuknya dengan emosi yang membuncah kearah Rayan yang memandang tajam membalas makian yang kembali harus ia dengar.
Sakit tidak seberapa, dibandingkan dengan marah karena merasa hinaan dan makian yang sesungguhnya tidak pantas untuk si pemilik tubuh harus ia terima. Sebenarnya Rayan bisa saj bertindak lebih, tapi ia hanya bisa membungkam mulutnya saat agar tidak menyalahi tujuannya karena belum saatnya.
"Oh, apakah nyonya pertama mengerti mengenai apa yang aku katakan?! Ya, ampun. Aku lega mendengarnya!" nyinyir Rayan tetap dengan tersenyum manis.
"Tentu aku mengerti! Kau berusaha untuk mengatai putriku telah melakukan hal yang tidak pantas diluar sana bukan?! Aku tidak bodoh untuk mengartikan kata-kata mu!" semuanya tertegun mendengarnya penjelasan singkat dari Ru Jinyu. Jelas saja, seketika itu pula seluruh pasang mata memandangnya tajam.
"SUDAH CUKUP! AKU SUDAH TIDAK BISA MENTOLERIR LAGI TINDAKAN MU INI!" Yu Zhao Yan berteriak amat marah.
"PENJAGAAAA...!"
__ADS_1
Panggilan tersebut membuat yang lainnya paham namun tidak dengan Rayan yang merasa bingung. Untuk apa penjaga di panggil, begitu pikirnya.
Namun, kalimat berikut yang menggema segera menyadarkannya, kalau akhirnya...
"PENJAGA! SERET ANAK HARAM YANG TIDKA TAHU DI UNTUNG INI! DAN BERIKAN IA HUKUMAN! PUKUL DIA HINGGA 50 KALI TANPA JEDA! KALIAN DENGAR!"
"SIAP, TUANKU!"
Setelahnya, Rayan di tangkap dan diseret ke tempat hukuman. Ia memberontak pinta dilepas. Ia tak pernah menyangka akan secepat ini merasakan apa yang namanya hukuman ala jaman kuno.
"LEPASKAN AKU! AKH... LEPASKAN..!!! KAU MENYAKITI KU!!!" ia sadar kalau kali ini tidak akan lolos dengan mudah.
Sebenarnya bisa saja ia mengalahkan mereka semua seandainya ia masih punya cukup tenaga. Pasalnya, sebagian besar tenaganya telah ia kuras untuk perjalanan panjang kembali kesini. Sedang sisanya jelas saja tidak akan cukup untuk sekadar melawan, terlebih mereka berjumlah banyak.
Ia jadi ingat, bila yang berada di posisi ini adalah Ryura ataupun Reychu. Bisa ia pastikan kedua sahabatnya itu masih mampu melawan. Terutama Ryura, gadis yang hanya hidup dalam diam itu memiliki kemampuan lebih dalam hal pertahanan. Sedang Reychu, kegilaannya lah yang lebih membantu.
Sepertinya, Rayan harus pasrah kali ini.
Bruk!
Tubuhnya langsung dihempaskan begitu saja di papan hukuman sehingga membuatnya merasakan rasa sakit sebagai hidangan pembukanya sebelum hidangan utama, dimana ia di tengkurap kan di papan tersebut dengan kedua tangan yang di rentangkan lalu di ikat agar tidak mengganggu proses berlangsungnya hukuman. Lalu barulah selanjutnya...
"MULAI HUKUMANNYA!" perintah Yu Zhao Yan dengan tanpa ragu, Rayan sempat melirik tajam kearah pria tua itu sambil mengutuk dalam hati.
Sebuah papan segera dilayangkan ke arah bokongnya dengan kuat.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Rayan nyaris tidak kuasa merasakan sakit yang teramat sangat itu, digigitnya bibir bawahnya kuat. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresi meringisnya kala rasa sakitnya menjalar hingga seluruh tubuh.
"Si*lan!!! Ini benar-benar sakit... Akh..! Kau pria tua, benar-benar minta dibunuh! Akh... Astaga, Ryura aku dipukul... Hiks... Akh... Sakit si*lan! Pinjami aku jiwamu yang seakan tidak hidup itu... Agar aku tidak terlalu merasa sakit... Akh...! Lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah aku sembuh nanti! Kalian semua tidak akan aku lepaskan!" Rayan membatin dengan segala rasa yang ia tampakkan. Mulai dari meringis kesakitan, merengek pada Ryura yang jelas tidak ada di dekatnya, kemudian berakhir dengan Rayan yang bersumpah untuk menghabisi seluruh keluarga Yu.
Kali ini juga ia tak akan memberi Keluarga Yu ampun!
maaf udah buat kalian nunggu...
seharusnya author upnya kemarin, tapi berhubung ada kerjaan lain yang gak bisa di tunda jadi author geser deh harinya.
__ADS_1
semoga kali ini tidak mengecewakan ok...
selamat membaca...