3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
R-V VS L-H 2


__ADS_3

Suasana tegang-tegang menyenangkan untuk orang seperti Reychu sedang berlangsung. Sebagai gadis yang kelewat tidak punya rasa takut dan sedikit masokis, Reychu benar-benar menikmati keadaan yang mengancam nyawanya kali ini. Melihat pria tampan berstatus tinggi didepannya sekarang, sangat terlihat jelas seperti ingin menerkamnya. Walau kenyataannya memang begitu.


Kaisar Li terlalu diselimuti oleh kabut perasaannya yang campur aduk. Kini di otaknya hanya ada perintah untuk menundukkan Permaisuri liarnya. Ia tak sedikitpun berpikir untuk menyetujui keinginan gadis itu -Reychu- untuk bercerai. Bagaimanapun baginya, Reychu adalah miliknya.


Sejak ia memiliki perasaan cinta tersebut.


"Jangan cari masalah, Li Hanzue. Aku tidak ingin melukaimu. Kecuali, perasaan mu tentunya." sempat-sempatnya Reychu berceletuk seperti itu di saat menegangkan begini.


"Lakukanlah yang kau mau, sayang. Selama kau tidak pergi dariku. Aku akan membiarkannya." tuturnya yang tampak tak normal. Reychu berpikir dia sudah kehilangan kewarasannya hingga gadis itu tak bisa mengendalikan ekspresi anehnya.


"Hei! Jangan gila! Aku tak ingin punya saingan! Astaga...!" geramnya yang sudah memasang kuda-kuda, kedua tangannya pun sudah siap dengan pedang pendeknya.


Melihat apa yang ada ditangan Permaisurinya, Kaisar Li mengernyit heran. "Sayang, sejak kapan kau memiliki senjata?" ia penasaran sehingga tanpa sadar menanyakannya.


Dengan konyolnya Reychu malah merespon dengan entengnya.


"Oh, ini?" dengan santai melihat pedang kembarnya. "Tentu saja aku harus memilikinya. Sebentar lagi aku akan keluar dari istana ini. Jelas, aku butuh persiapan. Eh?!" fokus Reychu teralih sesaat sebelum ia tersentak sadar akan kekonyolannya. Mengerutkan keningnya jengkel. "Kau sengaja, ya?! Sudahlah. Ini bukan urusanmu!" ketusnya. Tapi, apalah daya kalau sesuatu telah ia bocorkan sendiri.


Mendengar kalimat itu lagi, emosi yang sebelumnya reda kini mencuat kembali.


"Kau tidak akan kemana-mana!" lugasnya tajam. Matanya bahkan seperti sudah mau keluar dari tempatnya.


"Aku tidak butuh izinmu untuk pergi kemanapun!" balas Reychu berani.


Merasa tidak dihargai sebagai seorang suami. Kaisar Li gelap mata. Langsung saja ia bergerak menerjang kearah Reychu. Sedang Reychu yang melihat itu sudah siap.



Diluar kamar Permaisuri Ahn Reychu. Chi-chi menemui Ryura yang duduk di pinggir kolam yang tak jauh dari kamar Reychu. Ia tampak duduk tegap, namun matanya terpejam layaknya sedang semedi.


Meski bukan kali pertama bicara dengan Ryura walau hanya satu kata. Tetap saja, Chi-chi selalu mengalami debaran jantung yang menggila. Ia selalu waspada pada gadis pendiam didepan matanya sekarang ini.


Menarik nafas dalam-dalam, baru saja ia hendak berujar tentang maksud kedatangannya untuk menemui Ryura. Akan tetapi, sayangnya Ryura lebih dulu berkata datar.


"Dia mampu mengatasinya."


Mendengar itu, Chi-chi sempat bingung sesaat sebelum akhirnya paham maksud Ryura. Tapi, bagaimanapun ia tetap saja cemas. Reychu adalah sahabat manusianya yang pertama. Ia tak ingin kehilangan sahabatnya itu.


"Bagaimana bisa kau begitu yakin? Dia akan terluka kalau mengatasinya sendiri. Pria itu cukup kuat!" pekiknya tak sabar dan dilanda cemas.


Tanpa membuka matanya, Ryura membalas. "Lihatlah." singkatnya. Menyuruh siluman itu untuk menyaksikan sendiri aksi sadisnya Reychu tiap kali bertarung.


Chi-chi mengernyit bingung lagi. Tapi, kembali setelahnya ia paham dan tanpa kata ia langsung kembali kekamar Reychu untuk membuktikannya, tak lupa ia sempat menggerutu tak senang dengan sikap Ryura.



Pertarungan sengit akan segera dimulai.


Berawal dari Kaisar Li yang mengulurkan tangannya secepat kilat sesuai kemampuan terlatihnya untuk menangkap Permaisurinya yang amat sangat membangkang itu.


Melihat gerakan cepatnya Kaisar Li, Reychu mengernyitkan dahinya tajam. Tanda ia tertantang dengan lawan tangguh yang satu ini. Sebelumnya, belum pernah ada yang bisa memberinya perlawanan seimbang. Kini, pria yang menjadi suami pemilik tubuhnya unjuk gigi untuk menerkamnya. Mengetahui itu siapa yang mau menolak untuk membalas.


Secepat kilat juga Reychu menghindar dari terjangan tangan Kaisar Li. Tangan kanannya yang menggenggam salah satu pedang kembar dengan posisi terbalik langsung menerjang perut Kaisar Li yang membuat pria itu sedikit terhenyak dan nyaris terhuyung kebelakang, kalau saja pertahanannya tidak cukup kuat.


Ada sedikit tak percaya kalau ternyata Permaisurinya mampu menyentuhnya. Dia akui meski pukulannya tidak terlalu terasa diperutnya, tapi tetap saja itu adalah suatu keahlian yang cukup untuk melindungi diri sendiri dari bahaya yang menyerang.


Terlebih untuk seorang perempuan.


Wajahnya menatap penuh tanya kearah Reychu yang kini menaikkan sebelah alisnya seolah menjawab kalau ia tahu Kaisar Li sedang bingung dan penasaran dengan kemampuannya.

__ADS_1


"Jangan melihat ku seperti itu. Kau kan tidak mengenal ku dengan benar. Jadi, tidak perlu terkejut kalau melihat aku cukup mampu untuk menyerang mu." lugas Reychu acuh tak acuh. Masih bisa santai disaat-saat seperti itu.


"Aku senang ternyata Permaisuri ku adalah sosok yang hebat. Kau benar-benar putri mendiang Jenderal Agung Ahn." pujinya yang entah bagaimana amarahnya tampak mereda.


Reychu yang mendapati hal itu merasa kalau apa yang tengah terjadi benar-benar berada dalam suatu kesalahan. Bagaimana bisa ia tak tersinggung seperti sebelumnya setelah ia berkata begitu. Pria didepannya tidak benar-benar gila, bukan? Itulah yang Reychu pikirkan. Tepatnya, bukan karena tak ingin Kaisar Li menjadi tidak waras, melainkan Reychu merasa ada saingannya kalau Kaisar Li sampai benar-benar menjadi gila.


"Hei! Li Hanzue! Ku peringatkan padamu, ya! Jangan gila! Itu bagian ku! Aku tak akan mengizinkan siapapun mencoba bersaing denganku!" usai mengatakan kata-kata ancaman itu Reychu segera bergerak maju untuk menyerang.


Adu kekuatan pun kembali terjadi.


Sebenarnya, ia sangat ingin melukai lawannya. Rasanya selalu ada yang kurang kalau belum melihat tubuh lawannya berlumuran darah. Akan tetapi, lawan yang satu ini tak bisa ia lukai. Cukup sadar diri kalau Kaisar Li adalah pria yang masih dicintai pemilik tubuh dan adalah seorang pemimpin negeri. Ia tahu, akan se-berbahaya apa kalau sampai kabar meninggalnya pemimpin negeri ini mati mengenaskan terlebih di tangan Permaisurinya sendiri.


Kalau dirinya tidak punya masalah dituduh seperti itu, tapi hal itu akan membuatnya kehilangan kebebasannya dalam melakukan banyak hal. Sudah pasti kalau ia akan ditandai menjadi Permaisuri yang mengerikan dan pembunuh keji. Lagi-lagi julukan itu bukan masalah baginya, yang jadi masalah adalah kalau ia tak bisa berkelana dengan bebas karena menjadi buronan negara api.


Siapa yang mau mengalami kesulitan seperti itu? Reychu jelas tak mau.


"Dan berhentilah berpikir untuk mendapatkan ku. Aku tetap dalam keputusan ku. Kalau aku akan segera mengakhiri pernikahan ini. Kau dengar?! Dan sudah seharusnya kau paham dengan apa yang aku katakan!" lantangnya ternyata malah kembali menyulutkan amarah Kaisar Li yang baru saja berpikir untuk mendamaikan keadaan mereka saat ini.


"Kau benar-benar tak bisa di atur, Permaisuri Ahn..." katanya menggeram marah. "Aku sudah katakan! KAU-SELAMANYA-MILIKKU!!" terangnya sambil menegaskan tiga kata diakhir kalimatnya.


Reychu hanya menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dan merasa aneh sendiri dengan kelakuan pria beristri banyak dihadapannya ini.


"Aku juga sudah mengatakan... KALAU, AKU-TETAP-AKAN-MENCERAIKANMU!!" balas Reychu tak kalah tegas pada empat kata terakhir.


Kembali Kaisar Li tak terima dengan perkataan istri sahnya itu, sehingga ia berganti menyerang lebih dulu dengan kekuatan yang lebih besar. Reychu yang merasakannya bahkan menjadi terkejut. Tapi, jangan berpikir kalau ia akan berubah menjadi takut...


Gadis itu malah menjadi lebih sumringah. Layaknya, seorang anak kecil yang berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


Seringai menghiasi wajah cantiknya. "Aku suka lawan yang kuat." serunya riang dan ikut maju menyerang.


Pertarungan sengit kali ini benar-benar terjadi. Pukulan demi pukulan dilayangkan, tendangan demi tendangan diberikan. Mengelak, menghindar tak perlu ditanyakan lagi seberapa seringnya terjadi.


Menggunakan kemampuan meringankan tubuh, keduanya berputar-putar mengelilingi seluruh sudut ruang kamar Reychu yang entah bagaimana masih bisa menjaga keamanan tatanan barang yang ada disana.


Keduanya saling terengah-engah, tapi tidak menunjukkan kelelahan atau tepatnya hanya Reychu yang sedikit merasa lelah. Bagaimanapun kekuatan Kaisar Li lebih unggul darinya. Tapi, ia cukup puas dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya.


Kaisar Li senang bukan main kala melihat Permaisurinya sudah berada di bawah kukungannya sambil menggenggam pergelangan tangan istrinya yang sudah liar sejak keluar dari Istana Dingin beberapa hari lalu.


Didekatkannya wajah tampan Kaisar Li kehadapan wajah cantik Permaisuri Ahn Reychu yang cukup berani membalas tatapannya.


"Kau harusnya tahu perbandingan kekuatan kita, sayang. Bagaimanapun pada akhirnya aku yang akan berhasil mendapatkan mu." tuturnya dengan intonasi suara yang rendah, dalam, dan serak. Amat seksi dan sensual kalau saja yang mendengarnya adalah gadis normal.


Sayangnya, Reychu tergolong abnormal.


Dadanya naik-turun karena nafasnya tersengal. Tapi, tak sedikitpun terkecoh dengan suara pria yang berhasil menangkapnya itu.


"Kau terlalu cepat mengambil kemenangan mu, sayang. Faktanya, siapapun yang akan menang... Aku akan tetap pada keputusanku!" tandasnya lumayan serius. Ternyata perlakukan Kaisar Li tidak cukup untuk membuat Reychu menjadi serius.


Tepat setelah mengatakan itu, kaki Reychu segera ditekuk dan mendorong pinggul Kaisar Li dengan ujung telapak kakinya hingga tubuh gagah dan besar Kaisar Li terpental memutar keatas kepala Reychu dan kemudian jatuh mendaratkan punggungnya ke ujung peraduan dan menghancurkan dinding pembatas yang tepat dibelakangnya adalah tempat biasa Reychu berganti pakaian.


Gubrak!


Sakit? Tentu. Tapi, setidaknya tidak seberapa. Ia segera bangkit walau harus menderita nyeri dan memar pada punggungnya. Kembali tak menyangka kalau Permaisurinya kini menjadi sangat kuat.


Reychu sudah bangkit dengan kerennya, lalu berdiri dengan tenang dan gagah tak lupa pedang kembar yang masih setia didalam genggamannya.


"Aku tak ingin mendapat masalah dengan melukaimu, Li Hanzue! Jadi, enyah-lah!" kata Reychu dengan nada biasa seolah-olah yang baru saja terjadi bukanlah apa-apa.


Kaisar Li tak menjawab. Ia hanya diam dan terus memandangi istrinya dengan seksama. Hatinya bertanya-tanya, mengapa baru sekarang ia mengetahui betapa mempesonanya istri sahnya itu. Tapi, sayang sekali...

__ADS_1


Ia belum juga bisa membuat gadis itu kembali jatuh hati padanya dan malah terus memintanya untuk membuat surat cerai.


Kaisar Li dilanda kebingungan.


Reychu yang melihatnya, tahu akan hal itu. Tapi, dia tidak cukup baik untuk berbelas kasih pada orang lain.


"Aku masih menunggu dekrit mu, Yang Mulia! Aku yakin kau tahu apa yang sudah seharusnya kau lakukan!" tekannya membuat perkataan bermakna kan ancaman bagi Kaisar Li.


Menarik nafas panjang, Kaisar Li masih bungkam. Ia tak bisa benar-benar menyakiti gadis itu. Meski ia tahu, ia sangat marah pada istrinya sebelumnya, tapi bukan berarti ia sampai hati menyakitinya. Yang ia lakukan tadi adalah bentuk dari rasa tak terimanya atas tuntutan Reychu yang selalu meminta pisah darinya.


Sebelumnya, ia bahkan sempat berpikir untuk menyetubuhi Ahn Reychu untuk membuatnya terikat padanya. Tapi, apa yang ia dapatkan tadi dari istrinya cukup menyadarkan dirinya kalau cinta tak bisa dipaksa. Meski begitu, ia masih tak bisa begitu saja melepas Ahn Reychu dari genggamannya. Ia masih berpikir bahwa dirinya masih memiliki kesempatan untuk bersatu kembali dengan istrinya, Permaisurinya.


Ia tidak akan menyerah semudah itu. Untuk sekarang, akan dia anggap selesai. Tapi, akan ia pikirkan jalan keluarnya setelah ini. Bagaimanapun, Reychu akan tetap menjadi Permaisuri negara api. Ia tak ingin yang lain.


Menghembuskan nafasnya berat. Menatap lagi dengan dalam penuh perasaan pada gadis yang kini menjadi gadis tercintanya. Mungkin, menggeser kan sedikit posisi Selir Agung Gong Dahye di hatinya.


Berjalan memutari peraduan, melewati dinding pembatas yang hancur berantakan menuju kehadapan istrinya yang ia lihat begitu berkemampuan hebat. Hal itu tak bisa membuat ia tidak mengingat mendiang kedua mertuanya yang telah tiada.


Reychu yang merasakan kalau pria tampan itu tak memiliki aura mengerikan seperti sebelumnya. Dapat ia pastikan kalau pria itu memilih mengalah. Setidaknya, itu menguntungkan baginya. Ia sungguh tak ingin melukai Kaisar Li bukan karena memiliki perasaan padanya, melainkan hanya tak ingin bermasalah dengan kerajaan Huoli. Ia hanya ingin pergi dari istana dengan tenang.


"Istirahatlah. Maaf, kalau aku sudah mengganggu waktu mu dengan kemarahan ku. Tapi, sungguh. Aku tidak akan menceraikan mu. Kau istriku dan selamanya begitu." nada suaranya rendah dan terdengar begitu putus asa. Melangkah lebih dekat hingga pria itu mampu menjangkau tubuh mungil istrinya dan memeluknya. Tak ingin melewatkan kesempatan, Kaisar Li memeluk erat tubuh itu dengan penuh perasaan.


Sedang Reychu yang menerimanya hanya diam karena ia tak ingin repot-repot menanggapinya. Setidaknya, pria itu akan segera pergi setelah ini. Jadi, biarkan saja. Siapa yang peduli dengan perkataannya yang harusnya menyentuh ditelinga orang lain, tapi dengan mudahnya tertepis dari hati Reychu yang sulit untuk bditembus.


Cup!


Kecupan manis dan sayang ia berikan di pucuk kepala Reychu, berpikir kapan lagi memiliki kesempatan seperti saat ini?!


Dengan enggan Kaisar Li melepaskan pelukannya. Sebelum benar-benar terlepas, pria itu menyempatkan diri untuk memandangi wajah Permaisurinya dari jarak yang amat dekat itu. Sebuah senyum tipis namun amat tulus dan manis terpatri di bibirnya untuk beberapa saat. Reychu yang melihatnya tak sedikitpun tergoyahkan. Ia acuh saja, seolah menjelaskan kalau senyum seperti itu sudah sering ia lihat sampai ia tak lagi menganggapnya sesuatu yang perlu di pikirkan.


Lagi, menghembuskan nafasnya berat. Kaisar Li benar-benar melepaskan sisa sentuhannya dari tubuh Reychu dan dengan berat hati mengangkat kakinya untuk beranjak pergi meninggalkan kamar Permaisuri Ahn.


Sebelum, melangkah keluar dari pintu kamar itu. Kaisar Li menyempatkan diri menoleh kebelakang guna melihat istrinya, tapi... Tebak apa yang ia lihat?


Ia justru melihat gadis itu mengelus sayang benda yang ia ketahui adalah pedang pendek yang terlihat kembar, karena ada dua buah.


Merasa sedih, sebab kedudukannya di hati istrinya kalah dengan sepasang pedang kembar itu.


Barulah, setelahnya ia pergi dan kembali ke kediamannya.


Sejenak keadaan kembali normal meski kamar Reychu tampak sedikit berantakan.


Chi-chi pun keluar dair persembunyiannya yang sejak tadi ia jadikan tempat untuk memantau keadaan dan keselamatan sahabatnya. Ia sempat terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia sedikit tak percaya kalau Reychu cukup mampu melakukan hal itu. Dia pun jadi mengerti mengapa Ryura bisa begitu santai dan tenang tanpa repot-repot untuk membantu sahabatnya.


Ternyata, itu karena Reychu mampu melakukannya sendiri.


"Chi-chi! Kau kembali! Dari mana saja?" tanya Reychu seolah yang terjadi tadi tak pernah terjadi.


Siluman kelinci itu tak tahu harus berkata apa. Ia kehilangan kosakatanya dan hanya tersenyum kikuk seraya menggaruk kepalanya canggung.


Reychu tak terlalu peduli dengan itu.


Tapi, tidak untuk setelahnya. Begitu ia berbalik matanya sudah menangkap keberadaan Ryura di kursi yang gadis itu duduki sebelumnya. Menatap datar sahabatnya itu yang lagi-lagi bak hantu gentayangan ia sudah muncul saja.


"Lain kali, beri tahu aku kalau kau mau membiarkan ku menangani masalah ku sendiri. Jangan seperti tadi. Aku sampai bingung sesaat. Si*lan!" gerutu Reychu yang diabaikan Ryura.


Sudah biasa!


Tak lama setelah itu, suara yang amat mereka kenal menggema tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"AKU PULANG....!"



__ADS_2