3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
SEKAMAR BERTIGA


__ADS_3

Tepat tengah malam Ryura dan Furby sampai di penginapan yang Duan Xi tempati.


Tak ingin berlama-lama, Ryura segera bergegas masuk untuk menemui yang lainnya. Ia ingin memberikan penawar yang ia janjikan sejak awal secepatnya.


Begitu sampai di depan pintu kamar inap tersebut, tanpa perlu mengetuk lagi ia langsung saja masuk dan yang pasti akan kembali mengundang keterkejutan dari yang lainnya. Sebab, ia tak pernah menunjukkan tanda-tanda akan hadir tetapi tiba-tiba saja sudah berada didekat mereka.


"Astaga... Syukurlah aku tidak punya riwayat penyakit jantung. Murid satu ini bisa membuatku mati konyol bila terus seperti itu." gerutu Duan Xi saat ia kembali di kejutkan oleh kemunculan Ryura yang tiba-tiba. Tapi sayangnya, ia tak bisa marah pada murid yang dalam 3 bulan berguru padanya adalah orang yang tak mengalami perubahan berarti selain kemampuan beladiri nya yang meningkat pesat.


Ia seperti melihat patung batu prasasti yang di panjang untuk waktu yang lama tanpa mengabaikan perawatan rutinnya sehingga semakin lama patung itu semakin berharga.


Gadis tak berekspresi itu menghampiri Rayan dan menyerahkan hasil curiannya. Kenapa dibilang curian?! Karena memang Ryura baru saja pulang dari aksi menyelinap nya ke tempat tinggal orang lain kemudian mencuri sesuatu dari mereka. Yaitu, penawar racun untuk Reychu.


"Akhirnya..." celetuk Rayan lega seketika itu juga.


Rayan menerima botol kecil yang di sodorkan padanya tanpa perlu bertanya lagi. Ia sudah cukup tahu apa itu, karena kemampuan Ryura dalam mendapatkan suatu barang yang memiliki kaitan dengan sesuatu cukup patut untuk di sanjung. Sejauh ini, gadis 'manekin hidup' itu tak pernah salah menebak.


Merasa tak ada yang perlu di pastikan, segera saja Rayan meminumkan penawar tersebut kepada Reychu yang masih bergerak gelisah lantaran nafasnya yang tak bisa di atur namun masih bisa bertahan karena Rayan telah memberikan ramuan herbal hasil racikannya yang berkhasiat untuk menghambat penyebaran racun lebih luas.


"Chu-chu... Sembuhlah... Aku berjanji akan selalu disisi mu mulai sekarang." doa Chi-chi seraya memandang sendu Reychu yang baru saja menenggak penawarnya.


"Jangan khawatir. Dia akan segera sembuh." ujar Rayan sambil mengusap puncak kepala Chi-chi. Ternyata Ruobin yang melihat itu tampak cemburu, terlihat dari bola matanya yang berotasi.


"Manja!" celetuknya mencibir. Dibalas lirikan kesal namun acuh dari Chi-chi.


Mendengar itu Rayan terkekeh kecil lalu menyikut perut Ruobin pelan. "Sudah. Jangan kurang kerjaan begitu." jedanya. "Sekarang bantu aku dulu. Pesankan kamar lain di dekat kamar ini. Biar guru Duan Xi dapat beristirahat." pintanya, lalu menoleh kearah Duan Xi. "Guru, tak apa 'kan kalau aku, Ryura, dan Reychu disini? Aku akan memesankan kamar lain untuk mu. Guru tidak mungkin tetap berjaga semalaman, bukan?" tuturnya meminta izin dengan santun. Ia sedikit tak enak hati karena harus mengusir penghuni kamar yang sebenarnya sekaligus mengganggu waktu istirahat gurunya .


Pria itu pendek itu cukup memaklumi situasi yang ada. "Tentu, bukan masalah. Kita sudah menjadi bagian dari keluarga. Jadi, jangan sungkan. Tapi, bisakah aku meminta sesuatu padamu Rayan... Tolong ingatkan Ryura. Ia punya seorang guru disini, setidaknya sapa aku walau tidak ingin mengobrol. Kelakuan nya sedikit menyinggung ku." ucap Duan Xi ketus dengan mata yang menyorot penuh sindiran kearah Ryura yang hanya diam di tempatnya.


Bukan maksud apa, hanya saja ia tak ingin diantara mereka berdua tidak ada kedekatan yang akrab mengingat tak lama lagi ia akan menunjukkan ke muka umum sosok murid yang ia banggakan. Akan aneh rasanya bila yang bersikap antusias hanya dirinya tapi tidak dengan muridnya.


Telinga Ryura menangkap maksud dibalik perkataan yang Duan Xi sampaikan. Sehingga ia pun langsung menoleh guna memandang pria hebat yang telah menjadi gurunya walaupun pendek dan tua.


Ryura tak akan menampik fakta bahwa pria tua pendek itu berjasa besar padanya. Tak hanya memberinya pelajaran yang luar biasa tapi juga diistimewakan. Namun, lagi-lagi. Memang pada dasarnya ia yang tak bisa mengekspresikan diri hanya bisa diam saja. Cukup maklum kalau gurunya memiliki perasaan seperti itu.


Berbeda dengan dua sahabatnya yang acuh saja dengan sikapnya.


Di datangi gurunya yang sedang duduk di kursi yang ada di kamar tersebut tanpa aba-aba membuat Duan Xi seketika waspada. Sejujurnya ia masih tak bisa menebak apakah ia sudah atau belum mampu memahami maksud dari setiap tindakan yang murid kesayangannya lakukan. Gadis itu kelewat pendiam sehingga sulit untuk di lihat.


Tapi, siapa sangka yang dilakukan Ryura membuat yang lainnya tercengang termasuk Duan Xi. Kecuali Rayan tentunya.

__ADS_1


"Maaf. Bila aku telah menyinggung mu." begitulah kata singkatnya seraya sedikit menunduk memohon maaf.


Ruobin yang melihatnya sampai tak bisa menahan matanya untuk berkedip. Sedang Chi-chi hanya mematung ditempatnya dengan bulu kuduk yang meremang, entah mengapa yang dilihatnya saat ini membuatnya merinding dari pada terenyuh. Kalau Duan Xi, jangan ditanya lagi. Pria tua yang pendek itu membisu kehilangan kata-kata nya dan hanya menatap tak percaya pada gadis yang baru saja menegakkan tubuhnya.


Ketiganya tak menyangka kalau gadis seperti Ryura bisa meminta maaf kepada orang lain.


Rayan yang melihat itu justru tertawa renyah. Merasa lucu pada mereka bertiga yang tampak kocak dengan ekspresi cengong seperti itu.


"Hahaha... Ya ampun. Tolong kondisikan wajah kalian tuan-tuan. Jangan terkejut. Hehe..." godanya menjeda sambil terkekeh. "Sepertinya kalian masih belum bisa memahami sosok Ryura seperti apa... Biar ku beritahu, ya... Ryura itu memang pendiam juga tak berekspresi. Tapi, perlu di ingat kalau dia bukanlah orang yang menjunjung tinggi harga dirinya sehingga tidak mau meminta maaf. Hanya saja ia terlalu acuh pada hal yang berbau perasaan seperti itu. Ibarat kata, siapa pun yang ingin berteman dengannya harus memiliki ketahanan batin yang kuat agar tidak mudah tersinggung atas segala sikapnya..." sambung nya santai seolah itu tak penting.


Mereka yang mendengarnya, seketika itu juga menjadi paham walau masih banyak tanda tanya nya. Tapi, tidak dengan Ryura yang malah tenang dalam diamnya tanpa terganggu dengan ungkapan dari sahabatnya itu.


"Oh.. ha..ha.. Baiklah. Aku mengerti sekarang." kata Duan Xi agak ragu. Tapi, ia masih terus mencerna kalimat yang di lontarkan Rayan tentang Ryura. Setidaknya itu adalah informasi penting mengenai murid kesayangannya, jadi tak boleh terlewatkan.


Ruobin berdehem guna mengatasi rasa canggungnya. "Ehem... Baiklah. Aku akan pergi untuk memesan kamar lain." selanya kikuk. "Rayan, ku letakkan kau di peraduan tepat di samping Reychu, ya. Aku akan pergi memesan dulu nanti aku kembali lagi." lanjutnya seraya mengangkat tubuh Rayan untuk di tengkurapkan di samping Reychu dikarenakan bokongnya masih terasa perih. Alhasil gadis imut itu hanya bisa terungkap di atas peraduannya.


"Tidak usah kembali lagi. Lekaslah istirahat biar aku dan yang lainnya langsung istirahat juga. Aku yakin kau juga sudah lelah bukan? Jangan paksakan dirimu. Aku tidak apa-apa. Hm..!" tutur Rayan lembut minta pengertian karena bagaimanapun Rayan juga tak nyaman kalau sampai teman tampannya jadi kelelahan karenanya.


Dengan sedikit pertimbangan akhirnya Ruobin pun menerima usulan tersebut.


"Baiklah. Tapi, berjanjilah. Panggil aku bila sesuatu terjadi pada mu." Rayan mengangguk paham.


"Kau juga segeralah istirahat. Selamat malam!"


"Malam!"


Duan Xi melangkah keluar lebih dulu. Disusul Ruobin dan tinggallah Chi-chi disana yang entah sejak kapan sudah berada di atas peraduan tepat di sisi Reychu yang lain seraya menggenggam tangannya dengan raut wajah sedih.


"Chi-chi... Kau juga istirahatlah. Jangan cemaskan Reychu. Gadis gila itu akan sadar dan bisa kembali bermain bersamamu esok hari. Hm..." kata Rayan meminta pengertian pada siluman kelinci tersebut. Chi-chi yang tak punya alasan untuk menetap apalagi setelah melihat wajah datar Ryura yang matanya menyorot kosong seolah tak bernyawa itu pun akhirnya memilih pamit pergi setelah mencium singkat pipi Reychu dengan sayang.


Kini tinggallah ketiganya.


Setelah sekian lama, akhirnya mereka kembali merasakan tinggal sekamar bertiga.


Dilihatnya Ryura yang bergerak menuju kursi dimana Duan Xi duduki sebelumnya.


"Ryu. Apa yang kau lakukan disana? Mengapa lama sekali?" keluarlah pertanyaan yang sejak tadi di tahan oleh Rayan mengingat ada yang lainnya di kamar tersebut.


Ryura yang baru saja menyandarkan punggungnya hanya melirik santai sahabatnya.

__ADS_1


"Membereskan pengacau." jawabnya singkat.


Kening Rayan berkerut bingung. "Pengacau?! Siapa?"


"Selir."


"Selir!" pekik Rayan tertarik. "'Ah, ya. Reychu kan permaisuri. Tidak heran kalau ada yang ingin dia mati cepat." sambungnya lalu terkekeh kemudian. Berkata seolah nyawa sahabatnya tak ada artinya.


Sambil tengkurap ia menoleh memandang Reychu yang kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia tersenyum lega melihatnya. Kembali menoleh kearah Ryura yang duduk tenang di kursinya.


"Siapa saja yang terlibat?"


"Dua selir."


"Wow! Apa yang akan Reychu lakukan bila mendengarnya?! Ia pasti tak akan terima. Namun sayang, sudah lebih dulu dihabisi sahabatnya. Hihihi.." celetuk Rayan melucu. Ryura acuh dengan itu.


"Kurasa besok akan menjadi berita yang menghebohkan negara api ini. Dua orang Selir Kaisar mati dalam satu malam. Ckckck... Mengerikan." katanya lagi yang sama sekali tak dipedulikan oleh Ryura.


Hening sesaat, sebelum akhirnya pergerakan kecil dari Reychu menarik perhatian Rayan yang berada di sampingnya.


"Eukh!" erang Reychu terdengar.


"Rey!" menoleh memandang dengan berbinar kepada Ryura. "Ryu! Reychu telah sadar!" serunya senang. Ryura hanya melihat sekilas lalu kembali bersikap biasa. Dia tidak seantusias sahabatnya, tapi bohong bila ia tidak ikut lega mendapati sahabatnya telah siuman.


Perlahan tapi pasti, kedua kelopak mata itu mulai mengerjap dan tak berselang lama terbuka sempurna. Namun, ada yang aneh dari sorot matanya...


Seperti... Marah?!


"AAARRRGGHH...!" teriaknya mengagetkan Rayan sedang Ryura lagi-lagi hanya melirik sekilas. Ia masih tak peduli.


"SI*LAAAANN...! BERANINYA MERACUNIKU...!!!" teriakkannya berlanjut seraya menghempaskan tangannya hendak memukul peraduan tempatnya berbaring.


Tapi, sayangnya pukulan itu meleset...


Plak!


"AAAAAAAAAAHHHH...!!! REYCHUUUUUU....!!!"


Ryura mengerjapkan matanya polos kala melihat sendiri bagaimana tangan Reychu melayangkan geplakan tepat ke bokong Rayan dengan mulusnya sampai membuat Rayan berteriak akibat rasa sakit yang kembali menyerang nya.

__ADS_1



__ADS_2