
Lapangan yang dimaksud sebelumnya kini telah ramai dikunjungi oleh para penghuni Sekte Salju Perak. Mereka pada dasarnya sudah mendengar kabar mengenai insiden tempo hari, tapi pada akhirnya semuanya berkembang menjadi rumor dengan sedikit fakta.
Hanya saja, mereka tak berani lebih dari itu. Sebab tahu, siapa tokoh yang sedang dibahas.
Namun, tiba-tiba pengumuman diumumkan pagi tadi kalau akan ada pengadilan terbuka di lapangan pelatihan didalam sekte. Hal itu cukup mengejutkan sebenarnya, faktanya hal-hal yang berbau hukum dalam keluarga Ye tidak pernah dibiarkan menjadi konsumsi publik bila hal itu bukan sesuatu yang besar. Alhasil, pengumuman itu, sudah membuat mereka menduga kalau masalah yang terjadi beberapa hari belakangan bukan masalah sepele.
Karena itu juga, tanpa mau repot-repot menduga-duga. Para penghuni baik dari sekte, kediaman yang berada didekatnya, maupun Kediaman Ye semuanya memilih menonton dan menunggu. Sebab, pada akhirnya mereka juga akan menemukan fakta sebenarnya dibalik masalah sebelumnya.
Namun, namanya manusia bergosip bukanlah hal yang akan luput untuk dilakukan sehingga saat mereka berkumpul, sebagian masih memiliki cukup suara untuk membahasnya. Tentunya dengan berbisik-bisik.
Siapa yang tidak tahu seberapa besar harga diri orang-orang di klan Ye?
Bisa jadi, bila di ukur dengan anggota keluarga kerajaan Bai. Masih lebih besar klan Ye, jika soal harga diri.
Itulah mengapa, orang-orang klan Ye cenderung menelan pil pahit daripada kehilangan muka bila ketidaksukaan terjadi antara satu sama lain. Sayangnya, mereka tak diizinkan bermusuhan hingga memilih untuk diam.
Jadi, keharmonisan yang ada didalamnya kebanyakan karena keterpaksaan. Orang-orang yang tinggal dekat dengan klan Ye sedikit banyaknya tahu bagaimana sistem keluarga itu bekerja. Tapi, orang asing pasti berpikir klan Ye adalah keluarga yang paling diimpikan oleh banyak orang. Sayangnya, tak semudah itu untuk masuk.
Kembali ke topik...
Sudah banyak orang disana dari berbagai kalangan. Ada juga keluarga Meng yang pastinya tidak akan pernah tertinggal berita. Akan tetapi, mereka memilih tidak maju untuk ikut campur karena tahu posisi mereka hanyalah dari pihak menantu. Artinya, tak seharusnya masalah rumah tangga putri mereka, mereka ikut serta sehingga yang bisa mereka lakukan adalah memantau dari jauh.
Catatan kecil yang perlu diingat. Keluarga Meng tidak tahu kalau putri kesayangan keluarga mereka memiliki kelainan itu.
Dung...
Dung...
Dung...
Bersamaan dengan suara gong yang dibunyikan, Meng Pei Yun memasuki area tersebut.
Dia berpakaian sebagaimana statusnya yang seorang selir namun bukan selir rendahan. Kedudukannya meski selir cukup dihormati. Itu semua juga tak lepas dari karakter dan sikap yang di bawanya kedalam keluarga Ye. Terutama, ketersediaan dirinya yang mau menjadi ibu bagi anak-anak pasangan orang tua Ye Zi Xian dan Ye Xiao Nan.
Saat dirinya memasuki tempat yang kini telah penuh sesak oleh kerumunan orang, dia sempat berhenti sejenak tanpa ada yang tahu apa yang tengah dirasakannya. Dipandanginya padatnya lautan manusia di lapangan tersebut dengan seksama sebelum akhirnya menarik nafas dalam-dalam guna menetralkan kecemasan mendadak yang tiba-tiba menyerangnya.
Dapat dilihat, diujung lapangan yang terdapat ruang pengawasan terbuka disana kini didepannya sudah disediakan panggung eksekusi lebih tinggi dari tanah yang dihubungkan langsung dengan tempat duduk para anggota keluarga Ye -yang ditempatkan di ruang pengawasan itu- tersedia selalu disana, setiap pengadilan keluarga dilakukan. Yang artinya, agenda kali ini murni diadakan khusus dari dan untuk keluarga Ye.
Walaupun namanya agenda khusus, itu terbuka untuk umum. Siapapun diizinkan untuk melihat. Ini dilakukan untuk memberikan peringatan keras kepada siapapun yang sudah bergabung atau terlahir dari keluarga Ye, untuk tidak bertindak melewati batas. Karena, hukuman klan sudah ditetapkan sedari lama dan itu bukan sekedar hukuman tertulis.
Sebenarnya, sudah sangat lama pengadilan terbuka tidak diadakan. Bisa dikatakan itu sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Siapa yang menyangka kalau akan ada kesempatan untuk mengadakannya lagi kali ini.
"PERHATIAN SEMUANYA! SAYA DONG JIA ZI, ORANG KEPERCAYAAN TUAN YE BERDIRI DI SINI ATAS PERINTAHNYA UNTUK MENGGANTIKAN BELIAU BERBICARA SEPATAH DUA PATAH KATA SEBAGAI PEMBUKAAN!" orang kepercayaan Ye Zi Xian yang wajahnya setengah ditutup itu berbicara datar namun lantang. Dengan kultivasinya yang tinggi dia mampu membuat suaranya terdengar oleh semua orang yang hadir guna menyaksikan pengadilan terbuka kali ini.
Dia mengedarkan pandangannya keseluruhan lautan manusia dibawah panggung eksekusi, baru kemudian melanjutkan.
"Beberapa hari belakangan ini, siapapun pasti sudah mendengar kabar mengenai insiden tewasnya seorang pelayan perempuan yang berasal dari paviliun Bunga Malam yang tak lain adalah paviliun Nyonya Selir Meng Pei Yun di kediaman yang ditinggali oleh calon Nyonya Ye masa depan yang baru ditemukan oleh Tuan Ye..."
__ADS_1
Para penonton dengan patuh mendengarkan dalam keheningan yang hanya fokus pada apa yang disampaikan Dong Jia Zi didepan mereka. Meski sempat tertegun sejenak kala mendengar calon Nyonya Ye masa depan disebutkan.
"... Banyak kabar simpang-siur yang mengatakan bahwa bisa jadi ini adalah perbuatan disengaja dari calon Nyonya Ye masa depan dengan maksud untuk menyebabkan kekacauan. Padahal, siapapun jelas tahu kalau beliau adalah pendatang baru disini dan alasan apa yang dimilikinya untuk berani bertindak terlalu jauh di wilayah orang lain. Terlebih, kehadirannya sebagai orang yang terpilih sudah di ketahui dan diakui oleh para tetua..."
"... Ada juga yang mengatakan kalau ini perbuatan Nyonya Selir Meng Pei Yun yang tidak merestui hubungan antara Tuan Ye dan calon Nyonya Ye masa depan. Padahal, siapapun juga memahami betul bagaimana tuan kita terikat oleh takdir pedang pusaka klan Ye. Nyonya Selir jelas tak punya alasan untuk melakukan hal itu mengingat beliau bukan setahun dua tahun menjadi bagian dari keluarga Ye kami. Sudah sepatutnya beliau memahami seluk beluk tentang klan Ye..."
Benak orang-orang membenarkannya hingga sebagian dari mereka yang pernah memberikan asumsi sembarangan segera bungkam dengan perasaan bersalah.
"... Karena itu, masalah yang terjadi beberapa hari kebelakang tidak bisa di anggap sepele. Ini sudah termasuk mencemarkan nama baik klan... Tuan Ye sudah melakukan penyelidikan secara pribadi dan menyeluruh atas persetujuan dari Tetua Ye untuk masalah ini. Jadi, diadakannya pengadilan terbuka hari ini adalah tak lain yaitu untuk menjelaskan sekaligus menghukum pelaku kejahatan siapapun itu agar menyadari seberapa besar kesalahan yang telah diperbuatnya untuk klan Ye. Tidak peduli siapa yang bersalah. Apakah itu Nyonya Selir Meng Pei Yun atau calon Nyonya Ye masa depan yang bahkan belum resmi menjadi bagian dari keluarga?! Tapi, mengingat beliau sudah diakui, maka beliau sudah dihitung kedalamnya..."
Keringat dingin mengalir segera dipunggung para penonton kala membayangkan hukuman apa yang akan diberikan klan Ye ditempat terbuka seperti ini untuk pelakunya. Menilik dari apa yang pernah mereka dengar tentang hukuman dalam keluarga Ye.
Tak ada penjelasan yang signifikan tentang hal itu selain tiga kata... Mengerikan, menyakitkan, dan kejam.
Tapi, tampaknya hari ini mereka akan menyaksikannya secara langsung.
Disisi lain, Meng Pei Yun sudah mengalami keringat dingin yang membasahi tubuhnya dari balik pakaiannya. Meski dipermukaan dia tampak tenang seperti apa yang disebutkan tidak ada hubungannya dengan dia, berbanding terbalik dengan yang ada didalamnya.
Dia gemetar ketakutan.
Benar apa yang dikatakan Dong Jia Zi, bahwa sebagai bagian dari keluarga, Meng Pei Yun tahu betul apa yang boleh dan tidak dalam keluarga Ye. Tapi, sepertinya karena dorongan hatinya yang egois dan gila dia menampik semua itu dengan mudahnya. Tak ayal, kini dia merasakan ketakutan. Apalagi melihat bagaimana Ye Zi Xian yang kelihatannya akan turun tangan langsung menangani masalah ini.
Membuat dia tak bisa berpikir bagaimana caranya agar dapat menyembunyikan wajahnya dari terekspos. Alih-alih takut dihukum mati, Meng Pei Yun malah lebih takut kalau Ye Zi Xian sampai tahu tentang perasaannya terhadap dirinya. Selain malu, dia juga tak siap untuk dibenci oleh pria yang dicintainya itu.
Walaupun dia sudah merasakan jarak yang mulai dibentang oleh Ye Zi Xian sejak lama, bentangan jarak itu lebih terlihat jelas sejak hari itu.
"Maka dari itu, hal paling penting dalam masalah ini akan di sampaikan langsung oleh Tuan Ye. Mari kita persilahkan Tuan Ye kita untuk memulainya." ujar Dong Jia Zi seraya mengundurkan diri dari hadapan audiens serta mempersilahkan Ye Zi Xian melangkah maju mengambil tempatnya sebelumnya.
Pria itu maju dengan aura yang tak terbantahkan. Begitu memukau, begitu dingin, begitu tinggi, hingga siapapun yang melihatnya tidak bisa menahan rasa hormat dan kekaguman serta keseganan terhadap pria itu.
Dengan tangan terkait di belakang punggungnya, gestur tubuhnya tegap nan gagah berbalut hanfu hitam yang bersulam gambar harimau putih dari benang perak, sorot matanya yang dalam nan tajam juga dingin, wajahnya tampan yang tanpa ekspresi, tak terlewatkan juga rambutnya yang panjang berwarna putih keperakan yang dibiarkan tergerai bebas hingga berayun karena ditiup angin.
Siapa yang tahu kalau dia mulai sering menggerai rambutnya sejak mengenal Ryura. Tampaknya ingin mengikuti gaya rambut kekasih manisnya itu.
Penampilan itu tak bisa tidak memesona kaum hawa yang hadir disana. Baik yang sudah menikah maupun yang masih perawan. Hanya saja, seluruh kaum hawa tak ada yang berani membayangkan berada di sisi pria itu terlepas dari apakah dia sudah memiliki pasangan atau belum. Yang pasti, keturunan keluarga Ye benar-benar tak bisa di inginkan sekalipun ingin dengan mudahnya.
Itu juga berlaku untuk Meng Pei Yun yang kedua matanya memancarkan binar terpesona atas apa yang dilihatnya saat ini dari Ye Zi Xian.
Jika dia tak ingat dimana dia berada di situasi apa saat ini. Sudah pasti pancaran cinta dimatanya akan dibiarkan terlepas untuk membuktikan ketulusan cintanya.
"Tuan ini tidak akan berbasa-basi lagi. Langsung saja, saya akan mempersilahkan orang yang terlibat untuk hadir sebelum saya menjelaskan apa yang perlu di jelaskan." katanya singkat, padat, dan datar kemudian sedikit memutar badannya untuk menatap tepat ke sosok Meng Pei Yun yang menjadi sosok yang dimaksudkan olehnya.
"Nyonya Selir Meng, anda di persilahkan untuk maju." lanjutnya.
Saat ini dia sedang tidak dalam posisi sebagai putra dalam keluarga, melainkan seorang pemimpin. Maka, cara menyebutkan nama kerabatnya tentu juga berubah sedikit berbeda dan disetarakan dengan orang lain.
Ye Zi Xian, terlihat sekali bila dia mengambil peran sebagai pimpinan Sekte dan kepala keluarga Ye sehingga tidak aneh bagi mereka yang -mengerti- mendengarnya kala Ye Zi Xian menyebut Meng Pei Yun dengan sebutan 'Nyonya Selir' dan bukan 'Ibunda Selir'.
__ADS_1
Mendengar ini, Meng Pei Yun tidak bisa tidak terkejut dan gugup parah. Hal pertama yang dipikirkannya adalah dimana Ryura sehingga kepalanya bergerak untuk mencarinya.
Suaranya ditahan agar tidak kelihatan kalau dia sedang gugup. "Ehm... Tuan Ye. Dimana nona Ryura? Kupikir dia juga harus hadir disini seperti yang anda maksudkan dengan 'orang yang terlibat', kan?"
Tidak ada yang menyadari kilatan tajam melintas di mata Ye Zi Xian. "Benar. Tapi, masalah ini di mulai dari pelayan Nyonya Selir Meng yang memasuki kamar nona Ryura lebih dulu. Jadi, kita bisa melewatkan bagian Nona Ryura untuk ditempatkan setelah anda." Ye Zi Xian beralasan dengan mulus menggunakan nada datarnya.
Juga, ketika dia berbicara demikian tak ada yang menyadari kalau dia sebenarnya memberikan waktu luang untuk Ryura datang, walaupun dia tidak tahu dimana kekasihnya itu berada sekarang. Karena dia sudah menaruh kepercayaan yang tinggi pada kekasihnya itu. Jadi, tak perlu dipertanyakan mengapa jam segini Ryura belum juga tiba. Dia hanya bisa berpikir kalau Ryura pasti memiliki sesuatu untuk dilakukannya dan akan segera muncul nanti.
Di sisi luar panggung, para anggota keluarga kerajaan di berikan tempat untuk menonton dari jarak yang tidak terlalu jauh. Mereka semua menonton dengan tenang sembari berspekulasi berbagai macam dugaan.
Mereka memikirkan apa yang akan dilakukan Ye Zi Xian pada ibu sambungnya dan apa yang akan terjadi Meng Pei Yun bila mana dia diketahui bersalah.
Bai Min Wang berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari atas panggung. "Jika, Nyonya Selir Meng benar-benar di pihak tersangka. Aku pikir akan ada pertumpahan darah disini."
Wen Shiming disebelahnya menimpali sambil mengangguk setuju. "Benar. Keluarga Meng di negeri Lembah Beku ini pasti tidak akan tinggal diam. Meski kedudukannya tidak sehebat klan bangsawan yang ada di negara Es kita, kedudukan mereka di negara ini bisa dianggap sama dengan kedudukan klan bangsawan di negara Es. Mereka sama-sama kuat dan terpandang dengan sejarah yang panjang. Bila, kesalahan dijatuhkan kepadanya ini akan buruk."
"Hm. Aku hanya berharap, mereka dapat mengevakuasi para wanita dan gadis lebih dulu. Kasihan bukan kalau sampai mereka terlibat." Bai Min Wang tersenyum miring penuh makna saat mengatakannya. Seolah sengaja dibuat tidak sengaja menampilkan perasaan peduli.
Bagi yang cukup mengenalnya, bagaimana bisa Wen Shiming tidak menyela dengan tak senang.
Istrinya menoleh ganas. "Apa maksud mu, suamiku?" sebutan diakhir sangat penuh penekanan. "Kau benar-benar sudah tak menginginkan matamu lagi, ya? Jangan berpikir aku tidak berani mencongkelnya!"
Bai Min Wang tertawa riang sebelum menoleh kearah wanita muda yang sudah terikat janji pernikahan dengannya. "Hahahaha... Jangan begitu kejam, istri ku. Kalau kau mencongkel mataku, nanti siapa yang akan memuji kecantikan mu itu... Hm?" godanya.
Wen Shiming namanya, adalah wanita yang dulunya terpaksa dia nikahi kala sang ayahanda Kaisar Agung mengeluarkan dekrit perjodohan padanya. Dulu, dia tentu merasa tak terima. Tapi, lambat-laun dia tak bisa menampik bahwa ada rasa dihatinya untuk istrinya ini. Dia suka menggodanya hanya demi menarik perhatiannya. Sebab, sikapnya yang angkuh itu mengandung keacuhan yang membuatnya geregetan tiap kali berhadapan langsung dengannya.
Belum lagi sebenarnya Wen Shiming ini, diam-diam tapi mau nan malu. Itulah mengapa dia menutupinya dengan sikap angkuhnya. Hanya saja, temperamennya saat cemburu tak pernah gagal dilihat oleh Bai Min Wang yang selalu membuat hati pria itu berbunga-bunga dengan bahagia.
"Makanya, punya mata dijaga. Kau masih mengurus mereka? Kau lupa ini adalah sekte tersohor di dunia seni beladiri. Anak kecilnya paling banyak sudah mampu menguasai dasar-dasarnya. Kau lebih baik diam dan jangan ikut campur." lihat kan? Begitulah Wen Shiming bila lepas kontrol dari rasa cemburunya dan itu juga yang dia suka darinya.
"Kalau begitu, kau harus lebih kuat mengikatku, istriku. Atau aku akan lepas lagi." mata Bai Min Wang melengkung seperti bulan sabit saat matanya menyipit karena dorongan dari senyum di bibirnya seraya menatap penuh damba kepada istrinya yang berada disebelahnya.
"Huh. Seperti kau berani sekali untuk lepas. Hm!" ketusnya menyenangkan untuk didengar oleh Bai Min Wang.
Yang lainnya hanya mampu menggelengkan kepalanya atas apa yang dilakukan oleh pangeran ketiga ini pada pasangannya.
"Berhentilah saling menggoda. Lihat situasi, dasar kalian ini!" cetus Bai Ning Wei pada akhirnya dengan rada jengkel.
selamat membaca. maaf dh buat kalian menunggu. sebenarnya dh mo di update dari semalam. eh ternyata mati lampu yg bikin sinyalnya terganggu, jadi baru bisa pagi ini.
maaf ya 🤭🙏
(pinterest) abaikan baju putih nya. susah cari yang sesuai. 🤭
__ADS_1