
Jiang Wanxi mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman Jiang dengan kecepatan normal. Disepanjang perjalanan yang dilakukan wanita itu hanya memikirkan tentang rencana selanjutnya.
Dia memang sedikit banyak sudah mencari tahu tentang latar belakang Rayan yang dari hasil pencariannya tak lebih dari rakyat biasa dan dari kalangan biasa pula. Meskipun dia tak menutup perasaan aneh kala melihat Rayan ikut membantu Shin Da Ming merawat pasien.
Dia jelas tak paham mengenai pengetahuan medis, tapi dia tahu untuk bisa merawat pasien setidaknya pengetahuan medisnya harus setara perawat. Namun, melihat Rayan membantu tugas dokter juga, dia mulai merasa ada yang tidak beres. Hal ini membuatnya tak bisa menganggap remeh lawan lagi. Dikhawatirkan, Rayan memiliki sesuatu di sakunya.
Apa yang di lakukan Jiang Wanxi selama perjalanan membuatnya tak menyadari bila ada mobil yang mengikutinya dari belakang dengan gelagat siap menerjangnya.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian kala kedua mobil itu memasuki area titik buta atau area yang tidak memiliki sistem pengawasan cctv, mobil di belakang segera mendorong bagian belakang mobil Jiang Wanxi sehingga membuat si empunya terkejut dan spontan menginjak gas serta membanting setir lalu menabrak pembatas jalan. Insiden itu pun tak terelakkan.
DUGH!
DEUM!
BRUAK!
Bagian depan mobil ringsek seketika. Kaca depan pun pecah sebagian, hal itu menyebabkan luka pada pelipis Jiang Wanxi yang sempat terlindungi oleh balon pelindung otomatis yang tersedia dan kakinya pun terjepit. Rasa sakit yang di rasa membuatnya tak bisa berpikir jernih sebelum akhirnya jatuh kedalam ketidaksadaran.
Ada beberapa pejalan kaki yang melihatnya, mereka segera berusaha menolong.
"Astaga! Ada kecelakaan!"
"Ayo, bantu dia!"
"Semoga masih dapat diselamatkan!"
"Seseorang cepat hubungi ambulans!"
"Siapapun ayo bantu aku membuka pintunya! Ini benar-benar rusak parah!"
"Ada yang menghubungi polisi?"
Dan masih banyak lagi suara orang-orang yang saling bersahutan. Tapi, ternyata rekan pelaku yang menabrak Jiang Wanxi masih belum selesai dengan pekerjaannya. Dia sudah ada di lokasi, menunggu bagiannya. Dia datang dengan penampilan yang berbeda dan bersikap bak penolong baik hati.
"Sudah-sudah, Bapak-bapak, ibu-ibu. Menghubungi polisi dan ambulans tidak akan sempat. Keluarkan saja korban dan masukkan kedalam mobil saya, biar saya yang mengantarkannya ke rumah sakit. Saya khawatirkan korban terlambat diselamatkan." kata-katanya cukup untuk meyakinkan warga dan akhirnya segera menyetujui tanpa pikir panjang.
"Dia benar. Kita tidak bisa menunda. Ayo, keluarkan korban dari mobilnya dulu. Hati-hati, jangan menambah luka lagi pada korban." seru salah seorang warga sebagai perwakilan.
Akhirnya semuanya memilih melakukan seperti apa yang di katakan 'orang baik' itu.
Tanpa ada yang tahu, sebuah seringai tercetak di bibir orang tersebut seolah berkata 'misi selesai '.
Dengan cekatan namun tetap berhati-hati, Jiang Wanxi yang sudah pingsan segera di evakuasi ke dalam mobil 'orang baik' itu untuk dibantu membawanya ke rumah sakit.
"Terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya. Saya akan membantu sisanya. Polisi juga sudah dihubungi untuk mengurus kejadian ini."
Warga setuju dan 'orang baik' itu pun pergi meninggalkan lokasi kejadian untuk langsung meluncur ke rumah sakit yang dituju.
Kemana lagi kalau bukan ke MOZHILLI HOSPITAL.
Sambil mengendarai, dia menelpon seseorang dan berkata. "Misi telah selesai dilakukan. Saat ini saya sedang menuju ke rumah sakit... Baik. Jangan khawatir, kami sangat profesional dalam pekerjaan ini. Saudari anda baik-baik saja. Seharusnya, kondisinya cukup untuk menginap beberapa hari di rumah sakit sesuai keinginan anda... Ya. Senang bekerja dengan anda juga, Nona." Tuut...
__ADS_1
Panggilan ditutup.
Sebagaimana yang didengar. Ini tentu saja ulah seseorang yang sudah kalian, para pembaca pikirkan.
Di tempat lain, panggilan baru saja terputus seorang wanita sudah menampilkan ekspresi sumringah yang licik.
Sambil bersedekap dada dan menatap keluar jendela dari kamarnya, dia berkata. "Kau harus berterimakasih padaku, adikku sayang. Lihat, betapa perhatiannya aku sampai memberimu peluang untuk mendekati Shin Da Ming. Karena, istrinya sekarang menjadi sangat waspada padamu. Maka, luangkan waktumu untuk mengurusnya. Kuharap kau tidak mengecewakan ku. Betapa bahagianya aku bila segalanya berjalan sesuai rencana. Hahaha... Kenapa tidak sedari dulu aku sepintar ini. Hahaha..."
Tring...
Nada notifikasi dari ponsel Ryura berbunyi membuat Ryura yang sedang memainkannya langsung melihat tanda itu. Dengan wajah datar khasnya, Ryura langsung membuka pesan yang masuk.
Setelah memeriksanya dia kembali menggerakkan ibu jarinya di atas layar untuk beberapa saat. Bersamaan dengan itu, Ye Zi Xian keluar dari ruang pakaian dengan penampilan yang siap untuk bekerja.
"Ikut denganku hari ini?" tanya Ye Zi Xian seraya bercermin di cermin rias istrinya untuk memastikan kembali penampilannya sempurna. Dia melakukan itu semata-mata hanya untuk menyenangkan mata istrinya.
Dia tampaknya lupa betapa sempurnanya dia.
Rambut putihnya yang panjang diikat rendah memberikan kesan elegan dan heroik layaknya seorang bangsawan dari masa lalu.
Ya, memang begitu kan?
"Ikut." usai menjawab, Ryura bangkit dari duduknya dengan penampilan yang sama siapnya. Ternyata dia sudah lebih dulu bersiap daripada sang suami.
Ryura berjalan mendekati suaminya dan membantu melihat penampilannya.
Ryura mengangguk seraya menarik senyum tipis namun indah yang hanya bisa dilihat oleh Ye Zi Xian. Hal itu selalu membuat Ye Zi Xian merasa menjadi orang yang paling istimewa untuk sang istri. Sebab, hanya dia yang bisa melihat apa yang tak bisa dilihat oleh orang lain dari istrinya.
"Selalu sempurna."
Cup...
Kalau sudah begini, Ye Zi Xian selalu tak tahan untuk tidak mencium Ryura. Akhirnya, sesi itupun harus dilewati dulu sebelum keduanya benar-benar berangkat bekerja.
Keduanya melangkah keluar kamar bersama menuju ruang makan untuk sarapan lebih dulu dengan Lai Zouji yang sudah hadir sebagaimana mestinya.
"Selamat pagi, Tuan Muda Ye dan Nyonya Muda Ye." sapanya yang sudah menjadi rutinitas.
Kedua majikannya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ketiganya pun sarapan bersama. Lalu, berangkat ke kantor setelahnya.
Didalam mobil, Lai Zouji memberikan laporannya.
"Tuan, perusahaan x mengajukan proposal. Mereka berharap tuan bisa meresponnya dengan cepat."
"Berikan padaku berkasnya untuk ku lihat dulu."
"Baik."
__ADS_1
Di keheningan sesaat, Ryura memanggil Lai Zouji. "Sekretaris Lai."
Tubuh Lai Zouji menegak dengan sendirinya. "Ya, Nyonya Muda!" jawabnya lugas.
"Sadap kamera cctv kamar inap VVIP no. 10 di gedung Phoenix di MOZHILLI HOSPITAL."
"Ya?! ... Baik!" permintaan Nyonya Muda-nya memang selalu tak terduga. Tapi, melihat Tuan Muda Ye diam saja selama ini artinya perintah istrinya sama dengan perintahnya. Jadi, meskipun dia selalu dibuat bingung, pada akhirnya dia tahu juga apa yang ingin di lakukan oleh majikan perempuannya ini.
Hal itulah yang selalu menarik dari sosok Ryura. Misterius dan misterius.
Seperti sekarang ini. Bukan hal baru lagi bila Ryura angkat bicara, dan itu selalu yang keluar adalah apa yang diperlukan. Tak pernah mendengar majikannya ini berbicara diluar hal penting. Basa-basi pun rasanya tak ada dalam kamus majikannya. Tapi, tak masalah. Bukan urusannya juga untuk memikirkan hal semacam itu. Dia hanya perlu patuh dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
Bukankah ada baiknya memiliki majikan wanita yang to the poin seperti Ryura? Dengan begitu dia tak perlu mendengar rentetan kalimat panjang penuh emosi dan drama seperti kebanyakan wanita kaya lainnya yang sering dia dapati.
Itu memang harus di syukuri.
Jadi, Lai Zouji segera bergerak untuk menjalankan perintah.
Entah kebetulan atau apa, setibanya 'orang baik' yang mengantar Jiang Wanxi ke rumah sakit bertepatan dengan kedatangan Shin Da Ming dan Rayan.
"DOKTER, TOLONG! ADA SESEORANG YANG TERLUKA DISINI. TOLONG, DOKTER-SUSTER... SIAPAPUN!" teriak 'orang baik' itu terdengar alami seperti dia benar-benar panik.
Dengan tergesa-gesa dia mengeluarkan Jiang Wanxi yang tak sadar diri dengan luka-lukanya dari dalam mobil dan menggendongnya sesaat sebelum beberapa perawat dengan sigap datang membawa brangkar dorong yang akan menjadi tempat Jiang Wanxi di letakkan.
Sebagai orang yang bekerja di bidang medis, sudah tentu baik Shin Da Ming maupun Rayan terdorong untuk bergegas melakukan penyelamatan akan tetapi, insting Rayan menyuruhnya untuk menjauhkan suaminya dari pasien yang satu ini. Padahal, dia belum melihat dengan jelas siapa calon pasien rumah sakit yang saat ini membutuhkan pertolongan segera.
Sampai dia dan suaminya mendekat hendak melakukan pekerjaannya. Tiba-tiba mata Rayan menyipit tajam dan langsung menahan Shin Da Ming seraya berkata. "Biarkan ini menjadi bagian ku. Kau urus saja pasien yang lain!" terdengar jelas nada peringatan didalam sepenggal kalimat itu.
Tapi, Shin Da Ming begitu peka untuk tahu kalau istrinya mulai menunjukkan ke posesifannya. Perlahan senyum bahagia tercetak di bibirnya dan dengan santai mematuhi apa mau sang istri. Apalagi saat matanya menatap kearah pasien untuk melihat siapa gerangan yang membuat istrinya ini langsung waspada.
Ternyata oh ternyata...
Jiang Wanxi rupanya. Tidak heran sang istri sudah siap mengeluarkan cakarnya.
Shin Da Ming pun diam ditempatnya dan membiarkan Rayan beserta perawat memasuki ruang gawat darurat, sementara dia mulai mengatur apa yang perlu dilakukan dan kembali melakukan pekerjaannya yang lain. Bukannya tak ingin menunggu sang istri, tapi Rayan sudah mengatakannya tadi.
Sebenarnya, Rayan tak pernah seposesif ini bahkan saat sang suami menangani pasien wanita yang lain. Jika begini, artinya insting seorang wanita kala ada ancaman disekitarnya yang menyangkut suaminya secara otomatis aktif sehingga menjadi seperti yang Rayan alami saat ini.
Waktu berlalu begitu saja dan Jiang Wanxi sudah di pindahkan ke kamar inap yang paling mahal, semua itu tak lepas dari ulah Rayan yang masih tak melepaskannya meskipun lawannya sedang sakit.
Rayan memang tetap Rayan. Jiwa kriminalnya sudah sangat mendarah daging.
"Pasien ini biar jadi urusan ku. Kalian lakukan tugas kalian yang lain. Bila aku membutuhkan bantuan, baru aku akan memanggil kalian." Rayan memang mengatakannya sambil tersenyum lembut layaknya kebanyakan dokter lakukan. Tapi, entah bagaimana para petugas medis yang lain diam-diam merasakan ada yang tidak beres dari caranya mengatakan kalimat itu.
Seolah-olah ada niat lain untuk pasien. Tapi, mereka tidak mengatakan apapun dan memilih diam serta mematuhi yang dikatakan Rayan.
Bagaimanapun dia istri Bos mereka, berarti bos mereka juga.
Bukannya tak ada yang mempertanyakan kelayakan Rayan saat pertama kali turun tangan mendampingi Shin Da Ming dalam melakukan perawatan pada pasien. Tapi, aura Shin Da Ming menahan mereka untuk bertanya dan mencegah atau apapun itu kata sempat ragu atas kemampuan Rayan. Sampai mereka sendiri melihat kemampuan yang 11-12 dengan kemampuan Shin Da Ming, akhirnya mereka tidak lagi berpikir ingin menyuarakan protes mereka pada Rayan yang jelas-jelas tak memiliki lisensi seorang dokter.
__ADS_1