3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
DETIK-DETIK KEHANCURAN MENG RUONA


__ADS_3

"Wow. Dia beruntung! Diberi kesempatan untuk menyentuhnya! Kalau di pikir-pikir, belum ada yang dibiarkan secara sukarela begitu. Benarkan?"


"Hmhm... Sepertinya pengorbanan kali ini cukup besar juga untuknya. Ini menunjukkan betapa dia sangat mencintai suaminya. Sungguh pemandangan yang manis!"


"Oho. Mari kita main tebak-tebakan. Kira-kira, tangan wanita itu jadi cacat atau tidak?"


"Tebak-tebakan macam apa itu? Tidak berkelas sama sekali!"


"Heh. Namanya juga tebak-tebakan, apalagi objeknya ada disana sedang melakukan apa yang menjadi pertanyaan tebak-tebakan kita. Apa hubungannya dengan berkelas tidaknya?!"


"Bukan masalah tebak-tebakannya yang tidak berkelas, tapi pilihan mu untuk dijadikan tebak-tebakannya yang tidak berkelas. Seharusnya bukan itu, tapi 'seberapa besar kecacatan yang akan dia terima?'"


"Itu sama saja bod*h!"


"Tapi, susunan katanya berbeda, bod*h!"


"..."


"..."


Di dalam kegelapan suara bisik-bisik dari dua suara itu terdengar saling bersahutan dengan suasana yang tidak serasi bila melihat bangunan suram tersebut. Tapi, kedua suara itu jelas mengalun asik diantara keduanya hingga mengabaikan kelas sekitar.


Disisi lain.


Meng Ruona, melepaskan cengkraman tangannya pada dagu Ryura dengan kasar hingga wajah Ryura terhempas kesamping, lalu dengan sombongnya dia mengeluarkan selembar tisu dari tas tangan yang dibawanya guna untuk membersihkan tangan yang digunakan untuk mencengkeram dagu Ryura.


Dia bertindak seolah-olah Ryura adalah objek yang menjijikkan.


"Sekarang kuberi kau kesempatan untuk memilih..." melirik angkuh pada Ryura yang malang. "... Dan kau harus tahu apa yang terbaik untukmu." dia mengatakannya dengan kearoganan yang tinggi.


Setelah membuang tisu, Meng Ruona kembali mengatur posisi berdirinya dihadapan Ryura karena ingin segera menyelesaikannya. Aroma tak sedap dari bangunan terbengkalai ini benar-benar mengganggunya. Meng Ruona takut kuman yang ada malah merusak dirinya. Dia jijik sekali membayangkannya.


"Pilihlah! Pergi meninggalkan Ye Huan sejauh mungkin dan jangan pernah kembali untuk menampakkan diri... Atau tetaplah bersikeras untuk tinggal dan jangan salahkan aku karena kejam?!" ujarnya memberi Ryura pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan bila Ryura memilih salah satunya.


Meng Ruona memang sengaja mempersulit Ryura. Tapi...


"Ha.... Pppttt!"


Kembali, ada suara yang nyaris terdengar. Namun, karena terlalu samar Meng Ruona tak lagi mempedulikannya selain sempat terhenyak tadi.


Sementara dari dalam kegelapan, ada dua orang yang sedang sibuk. Lantaran salah satunya nyaris mengeluarkan tawa khasnya. Beruntung, temannya yang lain sigap menghentikannya atau segalanya akan berantakan.


"Jangan bocor bisa tidak?!" tekan temannya dengan berbisik kesal.


Teman yang mulutnya dibekap hanya bisa mengangguk saja.


Lama hening, Meng Ruona hampir habis kesabaran. Matanya menyalak kesal kearah Ryura yang diam saja sambil memandangnya.


Jujur saja, sebenarnya Meng Ruona sungguh tidak nyaman dengan tatapan Ryura yang seperti itu. Dimana tak bisa di artikan apa maksud dari tatapannya tersebut. Hanya saja, Meng Ruona tak ingin ambil pusing lantaran dia tak percaya bila Ryura lebih mampu darinya. Jadi, meski tidak nyaman dia lebih memilih abai.

__ADS_1


Sementara Ryura hanya bergeming di tempatnya dengan pandangan lurus kearah wanita yang sejak tadi berkoar-koar tentang dia yang lebih pantas untuk Ye Huan, suaminya. Tapi, Ryura tak menganggap serius Meng Ruona sebab dia paling jelas dengan perbedaan level mereka dan Ryura tak mau merendahkan dirinya ke level seorang bibit pelakor yang bahkan tak memiliki setengah dari kemampuannya.


Apalagi sampai bermimpi bersanding dengan suaminya? Heh! Tidak perlu Ryura mengumbar ketidaksetujuan, takdir bahkan akan lebih dulu mengungkapkannya.


Kini dia harus bersandiwara hanya untuk menjebak Meng Ruona yang sebenarnya adalah pekerjaan yang merepotkan. Dia lebih suka langsung menangkap wanita itu dan mengeksekusinya daripada bermain-main seperti ini. Tapi, apa boleh buat saat dua sahabatnya ingin ikut andil. Bukankah jika dia yang turun tangan tanpa memikirkan Reychu dan Rayan, maka dua sahabatnya itu terkhusus Reychu tak akan punya waktu untuk bermain.


Sebagai sahabat yang baik, Ryura akan memberikan kesempatan untuk keduanya bermain. Meski faktanya, bukan karena dia adalah sahabat yang baik. Melainkan karena menyerahkan hal seperti ini pada Reychu dan Rayan setidaknya akan mengurangi pekerjaannya. Jadi, dia punya waktu lebih lama untuk bermalas-malasan alias bersantai.


"Kau masih tidak mau bicara?" sungut Meng Ruona mulai kesal. Matanya melotot kearah Ryura yang diam saja tak terusik sedikitpun dengan tatapan tajamnya.


"Jangan membuat ku semakin kesal, jal*ng! Aku sudah muak bahkan sejak pertama melihat mu, jadi jangan uji kesabaran ku!" Meng Ruona berbicara tentang foto pertama yang sempat heboh beberapa waktu lalu mengenai pernikahan dadakan Ye Huan dengan seorang gadis yang kini ada dihadapannya.


Dia sudah membencinya sejak saat itu.


Diamnya Ryura yang tidak terlihat takut itu benar-benar menyulut api amarah Meng Ruona hingga rasanya ingin segera melenyapkan wanita itu. Tapi, dia merasa itu terlalu mudah untuk Ryura bila langsung membunuhnya. Lagipula, Meng Ruona tidak ingin mengotori tangannya dengan membunuh Ryura. Dia justru ingin membuat Ryura membunuh dirinya sendiri setelah apa yang akan ia lakukan pada wanita yang kini menjadi pusat iri hati seluruh wanita yang ada di negeri ini.


Sesuatu tiba-tiba terlintas dibenaknya. "Ouh. Apa kau sedang mengulur waktu agar Ye Huan datang menyelamatkan mu?" sambil menatap Ryura dengan tatapan mengejek sebelum tertawa terbahak-bahak seakan-akan itu adalah hal yang sangat lucu.


Kemudian kembali tajam. "Apa kau pikir dengan diam dan mengulur waktu dia akan datang?" Meng Ruona menggelengkan kepalanya. "Tidak. Dia tidak akan datang! Bahkan dengan kemampuannya sekalipun dia tak akan datang. Kau tahu mengapa? Karena aku sudah mengurus segalanya untuk sampai disini... Dan kau hanya bisa menangisi kesialanmu itu!" diakhir Meng Ruona mendengus keras saking bencinya pada Ryura.


Selang beberapa detik kemudian usai Meng Ruona berjalan mengelilingi Ryura yang duduk terikat di kursi tua setua bangunan terbengkalai itu. Lalu, berhenti dihadapan Ryura dengan ekspresi kejam yang seolah berkata, 'kesabaranku habis!'.


"Karena kau tidak ingin belas kasihan. Maka, aku tidak akan sungkan lagi!" kalimat itu diucapkan dengan dingin dan kejam sampai kedua matanya pun menatap tajam Ryura yang tetap tenang di kursinya dalam keadaan menyedihkan itu.


Setidaknya itulah yang terlihat diluar.


Sampai akhirnya...


Dug!


Tak sampai disitu saja, Ryura juga segera memutar tubuh Meng Ruona yang jatuh berlutut di depannya menggunakan kakinya dengan lancar tanpa hambatan. Kemudian, Ryura menyelipkan kedua pergelangan kakinya ke bawah ketiak Meng Ruona begitu wanita itu diposisi membelakanginya.


Tanpa jeda, tiba-tiba tangan Ryura di belakang tidak lagi terikat -karena memang tidak benar-benar terikat juga- hingga dia segera menggunakannya untuk bertumpu pada sandaran kursi tua yang ia duduki untuk menopang tubuhnya yang diangkat oleh Ryura sendiri.


Bersamaan dengan itu, dengan gesit Ryura segera meluncurkan tubuhnya kebelakang sembari mengangkat Meng Ruona dengan kakinya untuk melakukan pertukaran posisi.


Dan Meng Ruona terpaku hingga lambat merespon dikarenakan kecepatan Ryura saat melakukannya bukan main. Itu juga yang sukses membuat Bo Kang dalam kegelapan terbelalak tak percaya kalau wanita yang luar biasa pendiam ternyata seluar biasa itu juga dalam hal kemampuan.


Tak hanya Bo Kang, bahkan anak buahnya dan beberapa gigolo yang didapatnya juga terkejut hingga menganga.


Sementara Rayan dan Reychu mendengus bangga pada kemampuan sahabatnya itu.


"Memang benar-benar Ryura!" ujar hati keduanya.


Meng Ruona baru tersadar hanya saat dia merasakan sakit di pergelangan tangannya lantaran ketatnya ikatan yang di pasangkan Ryura pada wanita itu.


Seketika itu juga, Meng Ruona menjerit. "AAAARRRGGHHH! LEPASKAN AKU! APA YANG KAU LAKUKAN! BERANINYA KAU MELAKUKAN HAL INI PADAKU! LEPASKAN! AAAAAHHHH!"


Suara Meng Ruona menggema keras di ruang bangunan tua itu. Sayangnya itu tak membuat orang luar mendengarnya.

__ADS_1


Ryura bahkan tak terusik dengan jeritan itu. Dia dengan santai menyisir rambutnya dengan jari-jarinya seraya berjalan kehadapan Meng Ruona yang kini duduk terikat di kursi tua yang sebelumnya dia duduki.


Nafas Meng Ruona tersengal-sengal akibat terlalu marah. "Kau menipuku!" kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan terbengkalai itu, tidak mungkin dia tidak segera sadar bila ada yang tidak beres setelah apa yang terjadi padanya dalam waktu sesingkat itu.


"Dimana Bo Kang?" tanyanya tajam sambil tetap berusaha melepaskan ikatan yang ternyata kuat sekali itu.


Ryura diam mengabaikannya dan hanya menatapnya saja dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Tatapan khas Ryura.


"AKU TANYA DIMANA DIA?!" suaranya kembali keras lantaran kesal tidak mendengar jawaban dari Ryura, musuhnya.


Dalam hati Meng Ruona sudah gelisah dengan pikiran yang sudah melanglang buana. Dia berpikir kalau Bo Kang pasti telah mengkhianatinya. Kalau tidak, mana mungkin Ryura dalam keadaan baik seperti didepannya ini meskipun wajahnya tampak seperti lebam dan memar. Setelah apa yang terjadi, Meng Ruona akan menjadi bodoh bila tidak melihat ada kesalahan dalam rencananya.


"Beraninya dia! Bo Kang, kau berani mengkhianati ku seperti ini! Lihat bagaimana aku akan berurusan denganmu! Aku tidak terima ini! Seharusnya tidak seperti ini! Bukan ini yang aku rencanakan! AAAARRRGGHHH!" keluhnya dalam hati.


"Seperti inikah penampakan seorang wanita yang katanya lemah lembut bagai marshmellow meleleh?! Tapi, mengapa kasar sekali?! Ckckck... Tidak terlihat lembut sama sekali." sebuah kalimat diucapkan oleh suara yang datang mendekat dari balik bayangan.


Muncullah Reychu dengan wajah tengilnya bersama Rayan yang menyusul dibelakangnya sambil menggelengkan kepalanya melihat gelagat Reychu yang sudah bisa di tebak mau berbuat apa dia.


"Ka..kalian!" mata Meng Ruona terbelalak saat melihat ada dua wanita lagi yang tiba-tiba muncul. Dia jelas tahu siapa keduanya.


Siapa lagi kalau bukan kekasih dan istri dari sahabat karib pria yang dicintainya.


"Kau terkejut? Sama aku juga! Aku sangat kaget saat melihat bagaimana menggelikan sekaligus menjijikkannya kau saat berbicara dengan istri dari pria ubanan itu. Tidakkah kau berpikir bila selera mu terlalu tinggi!" menyebalkan sekali ekspresi Reychu untuk dilihat. Kepribadiannya yang gamblang benar-benar tiada obatnya.


"K..kau...!" Meng Ruona tak bisa berkata-kata ketika diserang oleh mulut pedas Reychu.


Reychu sendiri abai pada ketidakberdayaan Meng Ruona. "Ku beritahukan pada mu, ya. Pria yang rambutnya putih bak lansia itu sama sekali tidak cocok untuk mu. Kau tahu kenapa? Karena, pria ubanan itu hanya cocok dengan sahabat ku yang bagai mayat hidup ini. Coba kau perhatikan dengan seksama, prianya beruban sedang wanitanya setengah hidup. Sungguh ditakdirkan bukan!" Reychu menerangkan sambil tak lupa memindai Ryura dengan kedua tangannya dari kepala sampai kaki agar diperhatikan oleh Meng Ruona.


"Jadi, cobalah untuk sadar diri. Kau tidak masuk kategori untuk cocok dengan pria itu. Ck...!" sambung Reychu dengan pongahnya.


Grugh!


Meng Ruona tersadar dari terpakunya akan omongan Reychu lalu bergerak mencoba melepaskan diri sambil tak lupa berujar tak mau menyerah.


"Bukan giliran mu untuk mengomentari urusan ku! Bagiku, tidak peduli apa yang kau katakan... Ye Huan hanya bisa cocok denganku! Hanya aku! Lepaskan aku sekarang! Dasar pel*cur kalian semua!"


"Huh! Kau cantik, tapi mulutmu bau busuk, ya! Pantas saja aku merasa jijik!" cetus Reychu sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan Meng Ruona.


Rayan disebelah memutar bola matanya jengah. "Cukup, Rey! Menyingkirlah, kini giliran ku."


"Huh! Kau tidak bisa ya biarkan aku bersenang-senang sedikit!"


"Matamu sedikit! Biar ku ingatkan, kau sudah berceloteh sejak kita keluar tadi. Jadi, minggir. Ini bagian ku!" kata Rayan sembari mendorong Reychu kepinggir agar tidak menghalangi jalannya.


Reychu hanya bisa mengalah meski tidak puas.


"Mau apa kau?!" jerit Meng Ruona kala melihat Rayan mendekat dengan sesuatu ditangannya. Entah apa itu sebab tidak terlalu terlihat di ruangan temaram sana.


Namun, firasat buruk tak terelakkan seketika menyeruak didalam hatinya.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Hanya ada hadiah kecil untuk mu dari kami bertiga. Mohon diterima, ya..." tutur Rayan dengan lembut dan jangan lupa senyumnya yang tidak berbahaya. Justru karena tidak berbahaya lah, Meng Ruona merasa semakin buruk.



__ADS_2