
Kras!
Kraus...
Kraus...
Suara kulit kuaci yang di gigit terdengar disusul dengan suara kunyahan yang terkesan amat nikmat di makan oleh seseorang yang asik duduk santai diatas atap sebuah bangunan di Istana. Dia adalah seorang gadis yang sedang menyaksikan lalu-lalang para pelayan yang disibukkan dengan kegiatan penting hari ini.
Dia adalah Reychu.
Gadis gila itu sedang tidak bersama kedua sahabatnya. Tepatnya, Rayan memilih memanjakan dirinya dengan mandi air panas bertabur bunga mawar segar di pemandian air panas yang ada di istana. Tentunya, jangan lupakan Ruobin yang selalu mengekor gadis centil itu. Sedang Ryura, jangan tanyakan dimana gadis manekin hidup itu. Faktanya sama seperti yang sudah-sudah, gadis itu menghilang lagi entah kemana.
Jadi, daripada ia mati kebosanan akhirnya memilih menyaksikan persiapan untuk eksekusi mati siang ini. Jujur saja, ia tak sabar untuk menyaksikannya. Bahkan ia sampai berharap diizinkan untuk menjadi algojo-nya. Lama sudah ia tak memuaskan organ tubuhnya dengan yang sadis-sadis.
Tiba-tiba...
Brugh!
Mendengar suara benturan itu seketika Reychu menoleh ke kiri dan menatap ke bawah. Dapat ia lihat kalau disana sudah ada seorang pria berpakaian prajurit berlutut seraya memegang perutnya, ia terlihat kesakitan. Dihadapan prajurit tersebut ada seorang pria berpakaian pengawal pribadi Kaisar tampak baru saja selesai memukul perut prajurit itu, sedang dibelakangnya ada seorang wanita yang tampak familiar di mata Reychu.
Menyipitkan matanya memperjelas penglihatannya pada sosok wanita itu. "Itu... Bukannya istri Pangeran Kedua?" mengembalikan pandangannya seraya menaikan alisnya heran. "Apa yang dia lakukan disana?"
Tak lama senyum aneh pun terbit kala sebuah pemikiran muncul. "Hehe... Pasti akan ada yang menyenangkan untuk dilihat setelah ini." detik berikutnya iapun segera melompat turun ke tengah-tengah tiga orang tersebut.
Bruk!
Pendaratan yang serampangan selalu menjadi kekhasan dirinya.
"Yuhuuu... Ada apa gerangan yang terjadi disini?" tanyanya mengabaikan kekagetan ketiga orang itu atas kemunculannya yang tiba-tiba.
"'Ah... Ya..yang Mulia... An..anda disini?!" refleks gagap pengawal pribadi Kaisar itu begitu saja setelah matanya menangkap sosok Reychu, sang Permaisuri tepat dihadapan.
"Tentu. Kau sudah melihatnya, bukan! Sudah abaikan aku. Kembali ke pertanyaan ku! Ada apa ini, kenapa kalian malah membuat keributan disini? Ingat sebentar lagi akan ada pertunjukan bagus." sambar Reychu tanpa filter membuat yang mendengarnya bergidik. Terutama ketika kalimat 'pertunjukan bagus' di ucapkan.
Dua kata itu terkesan kejam bila diucapkan untuk sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan, seperti halnya hukuman mati. Tapi, sepertinya bagi Permaisuri Ahn Reychu tidak begitu.
"Jadi... Ayo, jangan biarkan aku menunggu!" desak Reychu dengan gaya santainya.
"Yang Mulia Permaisuri. Tolong kami!" seru prajurit yang masih berlutut itu dengan berani membuat Reychu menaikkan sebelah alisnya ingin tahu.
"Yang Mulia Pangeran Kedua, memohon izin agar diberikan kesempatan untuk bertemu dengan istrinya. Beliau bilang dia merindukan istrinya dan ingin meluangkan waktu bersama untuk terakhir kalinya." melanjutkan dengan langsung ke intinya.
Sang prajurit yang menatap dengan harap-harap cemas lantaran rasa ibanya pada Pangeran Kedua dan pengawal pribadi Kaisar yang justru berharap sebaliknya, ia tak ingin sampai Kaisar Li murka lagi. Sementara orang yang menjadi alasannya sudah berlinang air mata karena ia pun ingin sekali bertemu dengan suaminya. Tapi, sayangnya tidak bisa.
"Ouh. Kalau begitu, kenapa masih disini? Pergilah! Temui dia!" tukas Reychu gamblang mengabaikan raut wajah pengawal pribadi Kaisar yang menunjukkan tanda-tanda tidak terima.
Saat pengawal itu hendak angkat bicara, Reychu lebih dulu menyela.
"Katakan pada Kaisar Li! Aku yang akan bertanggungjawab atas apa yang terjadi saat ini. Lagipula, Pangeran Kedua akan tetap menerima hukuman mati itu. Jadi, memberikannya kesempatan untuk saling bertukar kenangan bukan masalah 'kan?" tutur Reychu dengan nada acuhnya. Tak peduli kalau wajah ketiga orang dihadapannya ini berubah menjadi pias begitu mendengar kalimat yang baru saja ia lontarkan dengan begitu santainya.
__ADS_1
Ketiganya hanya bisa membatin. "Mengerikan!"
Usai perdebatan tadi yang pada akhirnya dimenangkan oleh Reychu. Kini Reychu, Yu Chan Yi dan prajurit penjaga itu telah berjalan memasuki Penjara Kerajaan Huoli. Tempat yang tidak pernah dirawat dan dibiarkan memburuk dari waktu ke waktu hanya untuk menyiksa siapapun yang menghuninya.
Melihat semua itu, mulut manis Reychu pun tidak tinggal diam.
"Wah... Benar-benar jelek tempat ini. Lihat! Disana terdapat lumut. Tidak! Disana juga! Eugh... Menjijikkan! Tapi, sungguh! Ini adalah konsep yang bagus. Membuat tempat semacam ini menjadi buruk untuk menyiksa mereka yang tinggal. Ngomong-ngomong, apakah wanita itu dan keluarganya menderita disini?! Ku pikir itu pasti!" celetuknya panjang lebar seraya menyebarkan pandangannya ke segala arah. Memperhatikan apa yang disuguhkan di dalam penjara itu.
Tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang terlihat meringis ketika mendengar kalimatnya. Meski bukan pertama kalinya lagi, tetap saja mereka selalu dibuat syok oleh kata-katanya.
Permaisuri ini, tahu bagaimana membuat orang mati kutu.
Tak lama mereka pun sampai di tempat yang dituju. Tanpa menunda lagi, segera Yu Chan Yi berlari tergopoh-gopoh kearah penjara dimana suaminya ditempatkan. Matanya kembali dialiri air mata, ia amat merindukan suaminya dan air mata itu semakin mengalir deras kala melihat bagaimana penampakan suaminya yang begitu kumuh dan tak terurus. Padahal, baru tinggal semalam.
Suasana haru yang menyayat itu harus di hancurkan dengan ejekan seseorang yang sebenarnya tidak bermaksud mengejek. Pada dasarnya saja, mulutnya terlalu lemes.
"Ouw... Apa yang terjadi? Baru kemarin kau masuk dan sekarang sudah menjadi begitu buruk. Kau jadi tidak berbeda jauh dengan gembel dan pengemis. Biar ku tebak! Tubuh kebanggaan mu itu pasti sudah bau dan kotor... Penuh kuman dan sangat tidak mengenakkan untuk dipandang, apalagi disentuh!"
Jleb!
Kalimat itu ditujukan untuk Pangeran Kedua Li Fang Ye yang baru saja akan mengeluarkan semangatnya begitu melihat wajah istrinya. Tapi, mulut tajam Reychu membekukannya.
"Salam hormat hamba kepada Yang Mulia Permaisuri..." salamnya dengan perasaan mengambang, antar bersalah dan tak berdaya.
"'A... 'A... 'A..." menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan kanan, tanda tidak terima. "Jangan panggil aku begitu! Karena sebentar lagi aku akan melepaskan diri dari jabatan itu. Itu artinya sebentar lagi aku akan menjadi janda cerai nya Kaisar Li. Hahaha..." ungkapnya dengan begitu riang, tak peduli sudah bagaimana rupa dari ekspresi wajah mereka yang mendengarnya.
Ugh!
Seharusnya mereka merasa sedih, takut, dan miris bila mengingat hal itu. Tapi, entah bagaimana... Cara Reychu mengatakan kalimat mengerikan itu justru tidak terdengar mengerikan. Pasangan suami-istri itu cenderung terkejut dan merasa tersindir oleh kata-katanya.
Tak ingin mengganggu lagi, Reychu pun tidak lagi mempedulikan pasangan tersebut.
Sementara, Pangeran Kedua dan istrinya langsung kembali melanjutkan apa yang tertunda tadi.
Meski terhalang jeruji penjara, keduanya masih bisa saling menyentuh dan itu cukup membuat hati keduanya membuncah akan perasaan lega dan rindu yang terbayarkan.
Masih dengan mata yang berlinang air mata, Yu Chan Yi mengutamakan kerinduannya.
"Suamiku! Aku sungguh merindukanmu! Apa kau baik-baik saja? Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau diperlakukan dengan baik oleh mereka? Lihatlah, mereka bahkan tidak mengizinkanmu mandi! Apa kau sudah makan? Hm.. katakan padaku!" serbu Yu Chan Yi dengan segala pertanyaannya yang di utarakan dengan menggebu tidak sabaran.
Mendengar perhatian kecil itu, wajah kuyuh dan pucat Pangeran Kedua Li Fang Ye berseri-seri bahagia. Bagaimana tidak, pujaan hatinya begitu perhatian meski tahu ia adalah seorang yang buruk.
Sambil menyentuh hati-hati dan lembut wajah istrinya, ia berkata dengan tak kalah lembut.
"Aku baik! Jangan khawatir! Meski tidak sempat mandi, tapi aku masih tetap tampan untukmu, bukan?" godanya yang langsung dihadiahi pukulan manja sang istri di lengannya. Itu sukses membuatnya terkekeh senang, bisa melihat langsung wajah yang dirindukannya itu kembali merona merah.
Ibu jarinya yang besar mengelus area yang memancarkan semburat merah di pipi istrinya dengan bibirnya yang tetap tersenyum.
__ADS_1
"Aku merindukanmu!" lirihnya dalam dan penuh perasaan. Tak ada kebohongan dalam tutur katanya selain ketulusan yang berlipat ganda. Sembari menatap dalam mata indah istrinya dan mulai menyelaminya dengan perasaan yang dimilikinya melalui tatapan keduanya.
Yu Chan tentu tersentuh dan terharu. Jantungnya berdegup kencang dengan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Suaminya ini selalu bisa membuatnya bahagia hanya dengan kata-katanya.
Tiba-tiba, ia teringat akan sesuatu.
Segera diraihnya telapak tangan besar sang suami yang satunya lantaran satunya lagi masih bertengger manis di pipinya.
"Suamiku, ada yang ingin aku katakan pada mu!" ujarnya perlahan. Meski berat untuk dikatakan, tapi ia tak bisa menyembunyikan apa yang ingin ia sampaikan.
Meski pada akhirnya akan tetap ditinggal pergi, setidaknya suaminya bisa pergi dengan bahagia usai mendengar kabar ini. Begitu pikir Yu Chan Yi.
"Katakanlah! Aku akan menawarkan..."
Ditatapnya mata tajam suaminya yang berkilau dan indah itu kuat. Menarik nafas dalam-dalam sebelum ia mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Aku hamil!"
BOOM!
Sesuatu telah menghantam jantungnya. Ia terkejut bukan main. Ini berita besar hingga senyum bahagia terpatri di bibirnya. Ia tak bisa mengatakan apa-apa setelah mendengar itu. Yang ia tahu, apa yang sangat ia harapkan telah terjadi. Dimana ia ingin anak dari sang istri, buah cinta dirinya dan sang istri, bukti dari cinta yang mereka miliki.
Tapi, sedetik kemudian ia merasa sedih. Ini kabar gembira. Hanya saja, datang diwaktu yang tidak tepat.
Dengan tetap tersenyum bahagia sekaligus sedih, Pangeran Kedua Li Fang Ye berujar penuh kasih. "Aku bahagia mendengarnya... Tapi, maafkan aku karena tidak bisa ada untukmu kedepannya... Sungguh, aku tidak ingin meninggalkan mu sendirian. Aku belum menua bersamamu, belum melihat tumbuh kembang buah hati kita hingga ia menikah. Aku ingin bisa menimang cucu bersamamu dihari tua. Maafkan aku... Hiks..." tak lagi kuasa ia menahan segala gejolak rasa yang terpendam dihatinya. Yu Chan Yi yang melihatnya pun turut merasakan apa yang suaminya rasakan.
Di takupnya wajah sang suami dengan cinta. "Berhenti mengatakan hal-hal itu. Aku masih belum menyerah. Aku akan mencoba membujuk Kaisar Li, walau aku tahu itu tak akan berhasil. Tapi, sebelum hukuman itu terjadi. Kita masih memiliki kesempatan. Tolong jangan menyerah! Kau harus menguatkan aku! Kau harus semangat demi kita dan bayi kita!" seraya menarik tangan suaminya dan di letakkan diperutnya yang masih rata itu.
"Tolong! Kami membutuhkan mu!" lirih Yu Chan Yi tak berdaya dengan air mata yang kembali mengalir tepat di hadapan suaminya yang merasa jantungnya seperti diremas dan dihancurkan tanpa ampun.
Ia tak bisa melihat pujaan hatinya seperti ini.
Mengangguk membenarkan. "Ya, aku akan selalu ada untukmu. Bersamamu. Untuk kita! Untuk keluarga kecil kita." sumpahnya yang tak bisa tinggal diam bila sudah melihat keterpurukan sang istri.
Tanpa mereka sadari, Reychu dan penjaga yang tadi datang bersamanya menyaksikan adegan mengharukan itu. Bahkan, si penjaga sampai dibuat menangis.
"Aku jadi merindukan istri ku! Hiks!" Katanya dengan mata berkaca-kaca.
Reychu hanya menatap datar penjaga tersebut, lalu memutar bola matanya jengah.
"Kalau begitu pulang sana. Peluk istri mu dan bilang padanya. Kau akan berhenti dari pekerjaan ini agar bisa selamanya bersama istrimu." gamblang Reychu seperti biasa.
Penjaga itu mendelik terkejut mendengarnya. "Yang Mulia, apa yang kau katakan? Aku tidak bisa berhenti dari pekerjaan ini... Mau ku beri makan apa keluarga ku kalau aku jadi pengangguran." semburnya tak terima. Ia bahkan seperti melupakan siapa yang diajak bicara.
"Hehe! Ternyata kau masih ingat tentang itu!" ledek Reychu diiringi kekehannya.
selamat membaca gaess....
__ADS_1
Thor cayang kalian....
πππππππ