3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
JAMUAN MAKAN MALAM 2


__ADS_3

Sepenggal kalimat yang di ucapkan Reychu amat mengejutkan semua yang hadir disana. Bahkan, mata mereka sampai terbelalak lebar saking kagetnya. Merasa tak percaya kalau Permaisuri Ahn Reychu bisa bersikap seperti itu, benar-benar tak seperti dirinya yang dulu.


Mendengar itu banyak dari mereka mulai berbisik satu sama lain. Membicarakan ketidaksopanan Permaisuri dalam bertutur kata dan keberaniannya yang tidak pada tempatnya.


"Astaga! Apa yang di pikirkan Yang Mulia Permaisuri?! Bagaimana dia bisa bicara perihal itu dengan santainya?! Tidakkah dia merusak kedudukannya sendiri?!" salah seorang mulai membicarakannya.


"Tindakannya ini bisa saja di manfaatkan oleh pihak yang tidak menyukainya. Apa dia sudah gila?!"


"Sebelumnya, Yang Mulia Permaisuri selalu pintar. Akankah ini bagian dari rencananya untuk balas dendam atau memang dia sudah menjadi bodoh karena patah hati?"


"Aku mengerti atas apa yang dimaksud Permaisuri. Dia banyak terluka bahkan dari sebelum Selir Agung memasuki istana. Wajar saja kalau sekarang dia ingin menuntut balas atas rasa sakitnya."


"Permaisuri terlalu berani!"


"Dia gila atau apa?!"


"Yang Mulia Permaisuri sekarang jauh lebih tegas dan kokoh berdiri diatas kakinya sendiri. Dia tak tampak seperti dulu yang selalu mengalah pada nasib buruk yang datang."


"Wah. Permaisuri sangat keren. Ekspresinya benar-benar mengagumkan. Bagaimana dia melakukannya?!"


"Permaisuri benar-benar telah berubah banyak!"


"Itu sangat rendah. Tidak seharusnya Permaisuri bersikap rendah seperti itu. Tidakkah dia ingat tata krama Keluarga Kerajaan?!"


Rayan dari tempatnya duduk dapat mendengar jelas semua yang mereka bisikan. Sambil menyesap teh di cangkir kecilnya, dia bergumam dalam hati.


"Tentu saja dia telah berubah. Perempuan itu bukan lagi Permaisuri Ahn Reychu yang kalian maksudkan. Melainkan sahabat ku yang gila... Reychu Velicia! Hahaha... Sungguh drama yang bagus! Lebih menarik menontonnya secara langsung! Tak ku sangka, Reychu sangat berbakat dalam berakting! Sayang sekali dia malah jadi pembunuh bayaran, bukannya menjadi aktris! Ckckck!"


Disaat semuanya saling melempar pendapat mereka masing-masing Reychu sebagai pelaku utama tampak acuh tak acuh pada respon orang-orang tentang tindakannya. Dia malah asik menyesap teh miliknya dengan anggun dan tak terganggu. Berbeda dengan Kaisar Li yang hanya bisa mencengkeram cangkir tehnya kuat-kuat. Hatinya terluka, tapi ia tak berdaya untuk mengangkat kepalanya dihadapan istrinya.


Sejak ia tahu kalau ia telah menyia-nyiakan gadis pilihan orang tuanya itu, menyia-nyiakan cinta tulus istrinya yang tak ada duanya, dan sikapnya yang tenang meski semua kesalahan tertuju padanya. Dia sadar, dia telah melakukan kesalahan. Kini cinta itu tak ada lagi dan orang tuanya pasti kecewa bila tahu kalau ia bertindak bodoh dengan mengabaikan menantu kesayangan mereka. Sementara sekarang, hatinya telah terbagi. Bila sebelumnya ia hanya mencintai Selir Agung Gong Dahye, kini hatinya terisi cinta yang lain. Yaitu, Permaisurinya, Ahn Reychu.


Cinta itu datang tanpa ia duga. Ia sampai tak tahu kapan tepatnya rasa itu muncul. Yang dia tahu, di mulai dari dia melihat kembali sosok Ahn Reychu setelah gadis itu keluar dari istana dingin usai menjalani hukuman darinya, hatinya sudah mengumumkan kalau ia menginginkannya menjadi miliknya.


Siapa yang menduga kalau kini, jangankan untuk memilikinya. Mendapatkan kembali cintanya saja adalah hal tersulit yang sekarang ini menjadi tugasnya.


Semua yang ia rasakan saat ini telah menciptakan banyak macam emosi yang rumit. Kaisar Li sampai tidak sadar kalau Gong Dahye terus memperhatikannya tanpa berkedip. Kening wanita hamil itu menekuk tajam seolah memancarkan tanda kalau ia tidak dalam suasana hati yang baik.


Tentu! Pasalnya, ia sedang dilanda cemburu. Ia cemburu melihat Kaisar Li tak berdaya hanya karena beberapa kata yang keluar dari mulut Permaisuri Ahn Reychu. Ia cemburu melihat raut wajah Kaisar Li yang kacau seolah-olah ia sangat menderita. Ia cemburu, sangat cemburu.


Belum lagi ketika beberapa kalimat terdengar dari bibir para selir lainnya yang lebih rendah darinya. Ia semakin dibuat marah, namun terpaksa harus ia tekan.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka, kalau Permaisuri akan begitu berani." kata Selir Kehormatan pelan.


"Dia sudah tidak seperti dulu lagi." timpal Selir Tingkat Tinggi sama pelannya. Tak ingin suara mereka terdengar oleh wanita hamil yang berada di barisan yang sama.


"Sepertinya, kali ini akan menjadi sulit. Takutnya, Selir Agung tidak memiliki kesempatan untuk naik tahta." cetus Selir Tingkat pertama spontan dengan mata masih melirik kearah Permaisuri.


"Apa yang kau bicarakan?! Berhati-hatilah! Akan buruk kalau sampai didengar olehnya!" tegur Selir Kehormatan.


"Apakah mungkin kedatangan gadis hadiah itu ada hubungannya dengan keengganan Permaisuri untuk melahirkan penerus kerajaan ini?" celetuk Selir Tingkat Tinggi.


"..." kalimat itu langsung membekukan yang lainnya, sehingga mereka tidak lagi berani berbicara.


Meski kecil, ternyata Gong Dahye masih bisa mendengarnya. Ia marah, namun hanya bisa memendamnya. Ia tak bisa begitu saja mengamuk atau semuanya akan menjadi kacau. Tujuannya adalah menduduki posisi permaisuri, kalau ia gagal maka semua yang sudah ia perjuangkan hingga detik ini sia-sia sudah.


Akan lebih baik bila ia memanfaatkan peluang dari apa yang sudah dilakukan oleh Permaisuri Ahn.


"Yang Mulia Permaisuri, tidakkah anda terlalu keterlaluan?! Yang Mulia tidak seharusnya berkata begitu. Anda adalah Permaisuri negara api. Bila bukan dari rahimmu bagaimana bisa tahta akan diteruskan." ucapnya dengan penuh ketulusan yang Reychu tahu seberapa palsunya itu, Rayan tak terkecuali. Namun tidak dengan pendengar lainnya. Entah mereka yang bodoh atau tuli, perkataan tersebut malah dianggap sungguhan. Reychu sampai salut dibuatnya.


Dari tempat duduk yang berbeda, kedua sahabat itu sama-sama berdecih usai mendengar kalimat penuh kerendahan hati dan rasa mengalah yang tinggi seolah-olah dia bukanlah orang yang begitu bernafsu dengan tahta kerajaan. Tapi, siapa yang tidak tahu betapa dia sangat menginginkan posisi permaisuri. Reychu bahkan tak tahu apa bagusnya posisi itu. Bagi gadis sepertinya, kebebasan adalah segalanya.


Menoleh dengan anggun, namun sorot matanya menunjukkan cemoohan yang tidak ditutup-tutupi kearah Selir Agung Gong Dahye.


"Lalu, apa kau ingin itu terjadi?" sindirnya.


"'Ah... Yang Mulia, i..itu tidak benar. Anda adalah Permaisurinya disini. Bagaimana bisa aku melanggarnya!" tutur katanya benar-benar mampu menipu, tetapi tidak dengan cengkeramannya yang menguat di dalam lengan besarnya. "Sungguh Yang Mulia. Selir ini sungguh bukan apa-apa dibandingkan dengan Permaisuri. Jadi, bagaimana bisa aku berpikir demikian!" kepalanya menunduk penuh ketidaknyamanan, layaknya ia sedih atas tuduhan tersebut.


Semua orang melihat itu menjadi berpikir kalau Permaisuri benar-benar kejam dalam berbicara.


"Oh. Benarkah?" acuh Reychu.


Melihat ketegangan yang terjadi, Kaisar Li segera turun tangan.


"Permaisuri, berhentilah. Selir Agung tidak akan berpikiran sepicik itu. Dia tidak gila akan tahta ku." tukasnya tanpa sadar menggeram marah dengan nada rendahnya. Ia tak senang dengan kata-kata sindiran Permaisurinya yang terdengar menekan Selirnya. Sedikit rasa kecewa merayap dihatinya.


Mendengar kalimat pembelaan tersebut, Selir Agung Gong Dahye diam-diam tersenyum penuh kemenangan. Sedang Reychu, kala mendengarnya justru menatap aneh wajah tampan Kaisar Li yang sedikitpun tidak mempan mempengaruhinya.


"Jadi, maksudmu aku ini picik dan gila tahta? Sehingga aku berpikir, aku harus memantau Selirmu agar dia tidak mengambil posisi ku... Dan ternyata itu adalah salah untuk ku pikirkan? Begitu?" Kaisar Li terdiam tak bisa berkata-kata. Tentu saja ia tak bermaksud begitu, hanya saja, saat mendengar Permaisuri berkata demikian secara tidak sadar ia sedikit memikirkan hal yang sama.


Melihat pria disampingnya diam, Reychu sudah tahu apa artinya. Ia jadi terkekeh karenanya. "Haha... Kaisar Li, aku akan bertanya padamu! Apa aku tampak seperti itu dari dulu? Apa Ayahanda Kaisar dan Ibunda Permaisuri sebelumnya tidak pandai menilai, sehingga mereka berbuat salah dalam memilihkan pasangan hidup untuk putranya? Apa aku sungguh seperti yang orang-orang pikirkan?" tanyanya beruntun seraya menatap tepat di kedua bola mata jernih Kaisar Li yang memandangnya sayu. "Apa kau sungguh mengenalku? Di bagian mananya aku terlihat gila tahtamu? Tidakkah kau berpikir terlalu buruk tentang ku?" balas Reychu telak.


Jangan main-main dengannya. Adu mulut bukanlah hal sulit untuknya. Ibarat kata, bila seseorang melempar kotoran padanya, diapun tidak akan sungkan melempar balik kotoran yang bahkan lebih kotor dan jorok dari yang orang lain lemparkan.

__ADS_1


Tidak membiarkan Kaisar Li berbicara, Reychu kembali melanjutkan. Ruang perjamuan menjadi tegang, seluruh yang hadir memilih diam dan menyaksikan. Mereka tak berani bahkan sekedar mendengus. Takut keadaan semakin kacau. Pasangan pemimpin negara api sedang dalam suasana yang panas.


"Jika aku ingin, aku sudah memberimu obat perangsang sejak malam pertama pernikahan kita agar aku bisa segera melakukan hubungan intim denganmu tanpa menunggu kau menginginkannya! Kalau perlu berkali-kali hingga aku hamil! Kemudian, aku tinggal melahirkan anakku untuk siap menjadi penerusmu, kemudian aku tidak usah mempedulikan mu lagi! Dan aku jadi tidak perlu repot-repot menunggu bahkan sampai aku tak lagi memiliki kesempatan tepat saat Selir Agung memasuki istana! Apa aku sebodoh itu hingga harus mengalami penderitaan sampai detik ini?!" sarkasnya dengan santai, namun penuh hinaan. Mengabaikan ekspresi kaget orang-orang yang hadir disana kala mendengar kalimat gamblangnya yang tak ragu-ragu juga tanpa malu.


Sebenarnya, itu bukan perkataan yang baik untuk di ucapkan.


Macam-macam spekulasi mulai bermunculan dibenak para pendengar. Termasuk Kaisar Li sendiri. Pikirannya membenarkan penjelasan Permaisuri. Seketika, rasa bersalah kembali menyeruak didalam hatinya. Dia merasa menjadi orang yang paling bersalah atas penderitaan Permaisurinya.


Selir Agung Gong Dahye bahkan sampai tak memiliki kata-kata yang tepat untuk membalasnya. Hal itu membuat ia semakin marah, jiwanya berkobar dengan kemarahan. Merasa tak terima kalau begini saja ia tak bisa menginjak harga diri Permaisuri.


"Permaisuri, aku mengerti atas kesedihan mu. Tapi, tolong tenanglah. Kita bisa membicarakannya dengan baik. Ini tidak benar untuk dikatakan di muka umum." sela Selir Agung Gong Dahye, bermaksud untuk menyalahkannya yang tidak tahu malu berkata demikian.


"Selir Agung Gong Dahye! Jangan bersikap manis dihadapan ku. Itu akan membuat ku ingin segera menelan mu hidup-hidup... Kau yang paling tahu apa yang kurasakan! Tidakkah kau lelah! Jangan menjadi gunting dalam lipatan atau bayimu akan mengalami kesialan!" tukasnya enteng yang cukup menarik kembali kesadaran orang-orang di aula perjamuan. Bahkan Rayan yang mendengarnya sampai menggelengkan kepalanya takjub.


"Permaisuri!" pekik Kaisar Li akhirnya. Sejak tadi ia diam meratapi rasa bersalahnya dan tidak berharap istri yang sudah berhasil membuatnya jatuh hati akan berkata dengan begitu kejam untuk anaknya yang belum lahir, bahkan sampai menuduh selir kesayangannya adalah orang yang buruk.


"Apa" acuhnya tak terkejut dengan pekikan pria disampingnya. "Kau marah? Haha... Aku bahkan bisa menjamin kemurkaan mu bila kau tahu betapa tebalnya topeng Selir Agung!" lanjutnya mengejek dengan teka-teki, lalu kembali menyesap teh miliknya lagi dengan khidmat. "Tapi, berhubung aku belum memiliki bukti jadi aku diam." entengnya.


Menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Kaisar Li mengingatkan dirinya, kalau Permaisuri bertindak demikian karena rasa sakit hatinya dan tidak benar-benar berpikir begitu. Terus ia yakinkan dirinya akan hal itu. Setelah tenang, tanpa menunggu diambilnya tangan Permaisuri lalu digenggamnya dalam telapak tangannya yang besar.


"Maaf. Maafkan aku. Aku telah salah selama ini. Tidak seharusnya aku mengabaikan mu dari awal. Dulu aku terlalu muda untuk bisa menerima semuanya. Mulai sekarang aku akan berusaha memperbaikinya. Kau tak perlu khawatir." kata-kata lembutnya diiringi genggaman yang makin mengerat menyalurkan perasaan cinta yang dalam mencoba untuk menarik perhatian Permaisurinya, meski ia tahu tangan yang ukurannya lebih kecil darinya tak menunjukkan tanda-tanda mau menerima apa yang ia lakukan. Tangan itu terasa hampa di telapak tangannya yang besar.


Melirik sejenak tangannya yang digenggam, kemudian bergerak untuk melihat si pelaku genggam. Bisa ia lihat bagaimana cinta Kaisar Li terpancar di kedua bola matanya kala menatapnya. Sukses membuatnya merinding ngeri.


Menarik tangannya kembali hingga terlepas, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kaisar Li dan berbisik. "Jangan buang-buang waktumu untuk mencintai ku. Karena, keputusan ku tidak berubah. Aku masih akan menunggu hari perceraian kita tiba. Lebih baik kau persiapkan dirimu untuk kemungkinan yang lain. Barang kali, kau akan mengalami kejatuhan yang lebih menyakitkan nantinya. Bersabarlah... Aku sedang mengumpulkan bukti-bukti itu untuk ku tunjukkan padamu." ditariknya kembali bibir itu dan memperbaiki duduknya untuk kembali menikmati sajian makanan malam ini. Meninggalkan Kaisar Li dengan tanda tanya besar dalam kepalanya.


Setelahnya, semuanya dengan canggung kembali seperti semula. Tak banyak yang berbicara, takut mereka melakukan kesalahan dengan itu. Tapi, jauh didalam diri mereka keinginan untuk berpendapat kata baiknya dari bergosip sangat kuat. Hingga dengan sabar tidak sabar mereka ingin segera mengakhiri perjamuan malam ini.


Tak jauh berbeda dengan Selir Agung Gong Dahye yang juga terdiam. Kalimat yang diucapkan saingannya sungguh mengencangkan detak jantungnya. Ia tak percaya gadis itu bisa dengan begitu mudahnya mengatakan itu. Meski sebelumnya ia sudah pernah mendengar ke-gamblangan Reychu dalam berbicara, namun tetap saja ia masih sering dibuat kaget hingga nafasnya serasa terhenti.


Tanpa ia sadari di barisan paling ujung para dewan, dimana Rayan duduk. Sahabatnya Reychu itu terlihat terus mengamati wanita hamil itu dengan amat seksama. Entah mengapa ada sesuatu yang aneh darinya dan Rayan tengah mencaritahu hal aneh apa itu.



🌫️🌧️☔


hari ini hujan turun lumayan deras...


dengan hawa dingin yang menyapa...


hari ini ku lanjutkan untuk kalian gaess...

__ADS_1


dengan harapan kalian makin suka...


ummuach😘


__ADS_2