3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
GENTING: KEGILAAN REYCHU YANG SESUNGGUHNYA


__ADS_3

Dua orang pelayan datang membawa nampan besar berisikan beberapa menu makanan untuk Reychu dan Chi-chi makan. Kebetulan saat itu hanya ada Chi-chi sementara Reychu belum kembali dari kamar mandi.


Biasa BAB. Hehe...


Sepeninggalan dua pelayan itu usai menata piring-piring makanan diatas meja, Chi-chi pun duduk diam menunggu Reychu selesai dari panggilan alamnya.


Sebenarnya, sedari tadi dia menatap dalam menu makanan yang tersaji didepannya. Tidak tahu mengapa, dia sepertinya mencium sesuatu yang amat samar hingga rasanya seperti ilusi datang dari semua menu makanan yang ada.


Karena tidak jelas, pada akhirnya diapun mengabaikannya.


Dengan sabar Chi-chi terus menunggu sampai Reychu kembali dari urusannya.


"Kau tidak makan? Mengapa menunggu ku?" celetuk Reychu saat melihat siluman bocah itu duduk diam menunggunya.


Chi-chi menjawab sembari melihat Reychu mendudukkan dirinya di kursi yang ada dihadapannya. "Aku menunggumu, tentu saja. Lagipula, menunggu itu bukan masalah. Selama yang ku tunggu adalah kau. Haha..." katanya yang membuat Reychu ikut terkekeh mendengarnya.


"Benar. Sebagai hewan peliharaan ku, kau harus menunggu majikan mu sebelum makan. Kau tidak boleh mendahului tuan mu, mengerti!" setelah mengatakan kalimat canda tanpa filter itu, keduanya pun tertawa bersama.


"Sudah. Ayo, makan. Aku sudah lapar." kata Reychu sambil mengambil sumpitnya yang diletakkan di samping mangkuk nasi miliknya.


"Baik. Selamat makan!" seru Chi-chi begitu bersemangat. Maklum, dia sudah menunggu Reychu sedari tadi sambil menahan lapar, jadi tanpa basa-basi lagi segera dicomotnya satu demi satu setiap menu yang di sediakan dan memasukannya kedalam mulut secara berurutan.


Kecepatan menyomotnya bukan main.


Reychu yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata dengan nada menegur yang sok. "Hati-hati, nanti kau tersedak. Tidak perlu terburu-buru, aku tidak akan berebut makanan denganmu. Santai saja... Kau makan, seperti ini adalah makan terakhir mu saja." dia berkata dengan senyum terpatri diwajahnya. Masih belum memakan makanannya, hanya baru bersiap untuk menyuapi dirinya sendiri.


Chi-chi hanya menjawab dengan tidak jelas karena mulutnya sudah penuh dengan makanan sehingga Reychu tidak tahu dia bicara apa.


Dia tak tahu bahwa apa yang terjadi berikutnya akan menjadi awal bagi dirinya untuk menciptakan malapetaka besar bagi seluruh istana kerajaan Es.


Klotak!


Suara itu tidak keras tapi cukup untuk menarik atensi Reychu pada objek suara itu berasal. Karena itu, dia menoleh untuk melihatnya.


Ternyata sepasang sumpit yang sama dengan miliknya meluncur jatuh kebawah meja tanpa hambatan hingga menimbulkan bunyi. Kemudian suara susulan datang tanpa jeda yang sukses membekukan Reychu ditempatnya.


BRUGH!


BYUUURRR...!


Didepan mata kepala Reychu sendiri, dia melihat tubuh Chi-chi oleng dan jatuh dari kursinya menghantam lantai yang dingin dengan begitu keras, sebab terdengar jelas dari suara hantamannya. Tak hanya itu, suara susulan lainnya kembali datang yaitu suara semburan muntah yang dahsyat memasuki gendang telinga Reychu dengan matanya menyaksikan semua itu tanpa halangan.


Dapat ia lihat, Chi-chi jatuh dan muntah banyak darah dengan hebatnya hingga mengenai kaki rok dan sepatunya, menciptakan visual seperti dia tengah berdiri di atas genangan darah.


Tubuh Chi-chi mengejang hebat dan membiru dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya meregang nyawa. Namun, di detik terakhir sebelum kematian merenggutnya. Mulut kecil bernodakan darah itu sempat bergerak membentuk kata yang entah bagaimana dapat dilihat oleh Reychu dengan amat jelas hingga ia mampu menafsirkannya.


"Chu-chu... Maaf, aku lengah..."


Sebelum akhirnya, takdir mengambil kembali untuk kedua kalinya sosok penting dalam hidup Reychu.

__ADS_1


Saat ini, tak ada yang terjadi pada Reychu selain diam membeku di kursinya seraya menatap kosong kearah lantai atau tepatnya kearah tubuh Chi-chi yang tergeletak mengenaskan dilantai yang dingin itu.


Sorot mata itu sama seperti saat dia mendapati kematian Tina di kehidupan sebelumnya didunia modern.


Cahaya dimatanya hilang dalam sekejap, cuaca negeri Es yang sudah dingin menjadi lebih dingin karena kekosongan yang baru saja Reychu alami.


Dia benar-benar membeku bak patung sekali lagi.


Di tempat lain, Ryura yang tengah memejamkan matanya tiba-tiba terbuka. Saat ini mereka sedang berkumpul membahas apa yang harus dilakukan, karena sebenarnya mereka tak tahu harus mulai dari mana. Bagaimanapun, ini masalah dari dalam istana. Bukan perkara mudah untuk ikut campur. Walau sebenarnya, bisa-bisa saja bila menerobos.


Tapi, mereka membawa Ye Zi Xian dan Shin Mo Lan bersama mereka. Artinya, butuh rencana yang lebih baik lagi.


Tetapi, gerakan Ryura yang mendadak itu berhasil menyentak Ye Zi Xian yang duduk disisinya.


"Ada apa, sayang?" pertanyaan itu menarik perhatian yang lain.


Tapi, bukannya menjawab Ryura justru menanyakan hal lain. "Kau bisa membuat Aray?"


"Untuk apa Aray?" tanya Rayan menyerobot.


Mendengar Ryura menanyakan soal Aray, Rayan segera menerima firasat buruk tentang hal ini.


(Siapa yang tahu apa itu Aray? Beritahu author. Sebab sejauh ini author tak tahu harus cari penjelasan soal itu dimana. Bukannya tidak tahu, tapi menjelaskannya author mengalami kesulitan. Berbagai macam novel wuxia, xianxia, dan huanxia sudah author jelajahi. tapi, untuk menjelaskan dengan benar author masih butuh bantuan. Jadi, bagi yang paham betul apa itu Aray beritahu author ya... Biar bisa di revisi nanti.)


Lagi, Ryura tak menjawab apapun seperti menegaskan kalau dia hanya butuh jawaban bukan pertanyaan balik. Melihat keseriusan Ryura, Ye Zi Xian segera menjawab. Karena, dipikir-pikir nanti dia juga akan tahu untuk apa Aray itu bukan? Jadi, dia tak banyak bertanya lagi.


Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan, Ryura segera bangkit dari duduknya yang sedari tadi menjadi pusat perhatian yang lain.


"Ryu, ada apa?" Rayan kini bertanya dengan perasaan yang mulai cemas tak tahu mengapa. Pikiran buruknya mulai mengembara.


"Kita ke istana sekarang." tanpa menunggu respon yang lain, Ryura segera berjalan pergi dengan Ye Zi Xian mengikutinya dibelakang dan disusul yang lain.


Keseriusan keadaan membuat mereka menganggap ini adalah hal yang genting. Karena itu, mereka diam dan mengikuti saja.


Kembali ke istana, tepatnya ditempat Reychu berada saat ini. Tiba-tiba saja tawa mengerikan menggelegar dari kamarnya.


Atau tepatnya, dia lah yang menciptakan tawa penuh kengerian itu hingga beberapa pelayan yang berada di luar kamar masih dapat mendengarnya. Bagaimanapun saat ini masih siang.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA...!!!"


Bulu kuduk orang-orang tak dapat dicegah untuk berdiri dengan merinding mendengar tawa mengerikan itu sampai-sampai mereka mulai menduga kalau sesuatu pasti telah terjadi didalam kamar Reychu.


Benar. Memang sudah ada yang terjadi...


Segera, beberapa pelayan ada yang melarikan diri saking takutnya, ada juga yang memilih bertahan karena penasaran.


Sementara, di dalam kamar...


"Bagus... Sangat bagus... Apakah aku kurang cukup baik dengan membiarkan kalian berbuat semaunya?! Tapi, masih ingin menyingkirkan ku?! Haruskah kukatakan keberuntungan hidup ku sangat bagus!" katanya dengan nada rendah yang dalam dan mendayu-dayu dengan kengerian seperti hantu.

__ADS_1


Tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh mati Chi-chi, tiba-tiba suhu di ruangan tersebut naik dengan cepat. Tak sampai disitu, tiba-tiba juga api muncul dari bawah kaki Reychu yang menyebar seketika seperti habis terkena bahan bakar yang dituangkan di lantai, dengan cepat melahap seisi kamar tanpa ragu.


Reychu ditengah-tengah api itu sama sekali tidak merasakan apa-apa. Dia hanya menatap tubuh mati itu yang tergeletak bersimbah darah dengan menyedihkan. Reychu mengendalikan elemen apinya hingga tidak sampai membakar Chi-chi.


Dikelilingi api, Reychu bangkit dari kursinya yang segera hancur akibat dilalap api begitu ia meninggalkan kursi tersebut. Reychu berjalan kearah Chi-chi dengan perasaan tak menentu, kemudian berjongkok untuk mengambilnya dari lantai.


Dia menggendong Chi-chi bak menggendong bayi.


Sambil memandang wajah mungil Chi-chi yang membiru akibat racun mematikan yang tanpa sengaja ia konsumsi tadi, kini tubuh Chi-chi hanyalah seonggok daging busuk yang siap untuk dimusnahkan.


Reychu tak memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya, karena kinerja racunnya sangat cepat. Belum lagi, semua penawar ada pada ruang dimensi penyimpanan milik Chi-chi. bagaimana dia bisa mengambilnya?


Reychu yang sudah gila menjadi semakin gila.


Sambil mengelus pipi chubby Chi-chi Reychu berujar dengan nada setengah gilanya.


"Mereka tidak tahu apa yang baik buat mereka, Chi-chi... Mereka malah memprovokasi aku sedemikian rupa... Bo*oh bukan?! Benar. Mereka memang b*doh! Haruskah kita membumihanguskan mereka?!"


Tentu, Chi-chi tak akan menyahutinya. Tapi Reychu tak masalah dengan itu.


Segera setelahnya, wajah Reychu yang biasanya penuh kejenakaan kini berubah dingin dan tajam. Bersamaan dengan itu api kian membesar melahap habis dengan cepat sebagian besar isi kamar tanpa celah.


Diluar sana, para pelayan sudah menjerit ketakutan saat melihat api dan asap hitam melambung tinggi ke awan. Kabar itu segera sampai ke telinga Kaisar Agung Bai, hingga pria itu langsung meluncur ketempat Reychu berada dengan Qing gongnya.


Melihat kamar Reychu dilalap api, Kaisar Agung Bai tercengang. Dia cemas sekaligus heran. Sebab, Kaisar Agung Bai bisa merasakan bila api yang muncul ini bukan api biasa. Ini adalah api dari atribut seseorang.


Nama Reychu segera terlintas dibenaknya. Ya, Kaisar Agung Bai tahu Reychu memiliki elemen api pada dirinya.


Tapi, yang tidak dia tahu adalah apa yang membuat Reychu melakukan hal ini.


Setelah beberapa saat, sebuah siluet muncul perlahan dari arah pintu yang sudah hangus terbakar, disana ada Reychu yang berjalan santai keluar dengan sesuatu dalam gendongannya.


Kaisar Agung Bai menyipitkan matanya untuk melihat apa itu.


Setelah sosok kekasihnya kian mendekat, baru Kaisar Agung Bai tahu siapa yang Reychu gendong.


Kaisar Agung Bai terpana melihatnya. Tak menyangka dia akan melihat siluman yang selalu bersama Reychu mati dengan tragis seperti ini.


Tapi, ada hal lain yang paling mengejutkannya. Yaitu, saat Reychu melihatnya dan tersenyum yang anehnya mengerikan di dukung kalimat berikutnya.


"Eh, ada kekasih ku. Gikwang, Chi-chi mati... Tahukah kau apa artinya itu..."


Kaisar Agung Bai tak punya kata untuk diucapkan. Karena dia tahu, dia sudah terlambat...



Boom boom boom...πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯


inikah yang kalian tunggu2. yey, Thor sudah melakukannya. semoga kalian suka. oke...

__ADS_1


__ADS_2