3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
S2-UJIAN HERBAL


__ADS_3

Tap...


Tap...


Tap...


Memandang ke asal suara langkah kaki. Di sana, langsung terlihat Rayan yang tampak bergegas menghampiri rombongannya.


"Maaf-maaf... Aku terlambat. Sudah pada makan kah?"


"Mhenhurhuth mhu? Nyam... Nyam..." ucap Reychu dengan mulut penuh makanan. Melihat itu Rayan tahu, sahabatnya itu juga Ryura, Chi-chi, Furby, dan Duan Xi memilih makan duluan. Sementara Ruobin memilih menunggu Rayan. Baginya Rayan yang utama.


"Kemari lah... Kita langsung makan. Yang lainnya sudah makan lebih dulu. Habisnya menunggumu terlalu lama. Ayo..." ajak Ruobin sembari menyerahkan bekal makan Rayan.


Dengan dramatis Rayan mendekati Ruobin, lalu memeluknya. "Ooohhh... Bin-bin ku sayang... Kau yang terbaik."


Ruobin tersenyum lembut menanggapinya. Sudah biasa mendapati respon tersebut.


Sarapan pagi kembali berlangsung.


Tak lama setelahnya, mereka kembali bersantai menyambut kehangatan sinar matahari pagi.


Entah mengapa. Kebosanan mulai merayap.


Ryura, Furby, dan Duan Xi memiliki projek sendiri mengenai kompetisi yang akan di adakan di Kekaisaran Tenggara.


Hitung-hitung, pembahasan itu bisa menghilangkan kebosanan mereka.


Sedang Reychu dan Chi-chi, entah sudah menghilang kemana usai sarapan tadi. Padahal ia mau mengatakan perihal pertemuannya dengan Jun Jiu Han di bagian dalam kapal.


"Aku akan memberitahu mu mulai sekarang. Kompetisi nanti tidak terlalu menyusahkan. Itu adalah pertarungan antara hidup dan mati. Jadi, kau bisa melakukan apapun untuk menjatuhkan lawanmu. Tapi, meskipun kompetisi nya disebut kompetisi hidup dan mati. Sebagai pemenang kau bisa memilih menyelamatkan lawanmu atau tidak. Karena, itu sudah bagian dari peraturan. Bagaimanapun, pertemuan antar lawan bisa jadi adalah yang pertama sehingga tidak bisa dikatakan memiliki permusuhan. Tapi, bukan berarti tidak ada yang menjadikan kompetisi ini ajang balas dendam. Jadi, nanti aku tidak akan menahan mu. Kau bisa lakukan yang kau mau di atas arena pertarungan. Sejauh ini kau mengerti?" jelas Duan Xi.


Ryura mengangguk paham dengan datar.


"Tapi, meskipun aku bilang kalau aku membebaskan mu melakukan apapun. Aku cuma ingin kau mengalahkan murid musuhku itu. Aku tak mau menyebutkan namanya. Suara dan mulut ku terlalu berharga untuk menyebutkan nama orang buruk itu. Nanti saja saat kita sudah disana, aku akan langsung tunjukkan siapa orangnya." lagi-lagi Ryura mengangguk paham.

__ADS_1


Apalagi selain itu.


"Yang pasti, kau tak boleh terluka. Kau tidak boleh sampai kalah. Aku mendukungmu sepenuhnya." lugas Furby dengan mengepalkan tangannya ke depan tanda dukungan penuhnya.


"Kau akan ikut ke festival?" tanya Duan Xi kepada Furby.


"Tentu! Kenapa tidak?!" yakin Furby menjawab.


"Kau tidak takut kalau keberadaan mu diketahui. Mungkin untuk kultivator tingkat menengah belum terlalu bisa merasakan kehadiran mu. Tapi, mereka yang berada di tingkat tinggi berbeda. Kau bisa dalam bahaya." kata Duan Xi mengingatkan.


"Aku tahu. Tapi, aku jelas tidak akan meninggalkan Ryura. Dia sudah ditakdirkan untuk menjadi penunggang ku. Bagaimana bisa aku berpisah dengannya?!" protes Furby tak terima. Menoleh kearah Ryura yang ternyata juga sedang menatapnya. Dengan senyum tampannya ia berkata. "Lagipula, Ryura tentu tak mungkin membiarkan ku diambil oleh orang lain. Kami ini sudah menjadi satu... Benarkan?" yakin Furby dengan hati senang.


Ryura hanya berdeham sambil mengalihkan pandangannya dan bergerak menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu memejamkan matanya untuk tidur.


Dengan wajah datar Duan Xi mengalah. "Baiklah, terserah kau saja. Cuma aku ingatkan kau. Jangan sampai kau menggagalkan apa yang sudah aku rencanakan untuk Ryura. Kau paham?" ancam Duan Xi dengan memasang tampang angkuhnya.


Furby mendengus mendengar itu. "Dengar, ya. Seharusnya aku yang mengingatkan mu untuk jangan menjadi orang ketiga diantara aku dan Ryura! Dia milikku!" ancam balik Furby dengan posesif.


Mata Duan Xi terbelalak mendengar kalimat yang baru saja Furby keluarkan dari mulutnya. "Heh! Apa-apaan kau ini?! Tingkah mu seperti suami yang takut istrinya diculik saja. Lagipula, kau pikir bisa bertahan lama kalau nanti jodoh Ryura muncul?" bertindak mengelus janggut putihnya sambil berpikir. "Aku memiliki firasat, bahwa jodoh Ryura istimewa. Kau mungkin bukan tandingannya. Hahaha...!" ujarnya, namun tak lupa dengan sedikit ledekan.


Di sisi Rayan dan Ruobin.


Keduanya juga sedang terlibat percakapan mengenai hal yang Rayan temui sebelum sarapan tadi.


"Bin-bin, kau harus ikut dengan ku." ajak Rayan dengan agak memaksa.


Kening Ruobin berkerut mendengar ajakan tersebut. "Memangnya kau mau kemana?" tanyanya.


"Kau tahu tidak. Sebenarnya tadi itu aku terlambat kembali, karena aku bertemu dengan seorang pelajar. Kupikir begitu... Soalnya, dia tampak muda dan terlihat seperti seseorang yang sedang mengenyam pendidikan. Aku juga tidak tahu dia sedang belajar apa... Tapi, yang aku tahu dengan pasti adalah..." binar di kedua matanya benar-benar terlihat sangat antusias. "Dia membawa beberapa herbal di dalam sebuah ruangan di dalam kapal ini. Dia juga bilang, kalau dia tidak sendiri. Kau tahu apa artinya itu..." nada bicara yang sangat familiar bagi Ruobin selama mengenal Rayan, membuat siluman rubah perak itu tahu apa yang sedang terjadi.


Bersedekap dada dengan ekspresi berpikir. "Jadi, maksud mu... Kau ingin bergabung dengan mereka untuk melihat apa yang sedang ingin mereka lakukan dengan herbal yang mereka bawa, begitu 'kan?" tebak Ruobin yang langsung di sambut dengan cengiran Rayan yang tampak seperti seorang penguntit yang tertangkap basah.


Puk!


"Kau memang yang terbaik!" puji Rayan usai memberikan pukulan ringan di lengan Ruobin yang besar dan keras. Untungnya, tangan Rayan tidak merasakan sakit karena memilih memukulnya.

__ADS_1


"Tadinya, aku ingin memberitahu yang lain tentang ini. Tapi, lihatlah..." sambil menyapukan pandangannya kearah tiga orang yang sibuk dengan urusan mereka, sedang dua lainnya entah kemana perginya.


"Kalau begitu tidak usah saja. Nanti biar aku yang beritahukan pada Furby dan Chi-chi, agar mereka tidak perlu mencari kita. Kau tidak lupa tentang siapa kami ini, bukan?" terang Ruobin merujuk pada identitas dirinya yang seorang siluman dan kemampuan mereka yang bisa ber-telepati antar sesama.


"Hahaha. Aku sering melupakan yang satu itu. Habisnya, kalian ini lebih sering menjadi manusia daripada hewan siluman. Aku jadi terbiasa dengan wujud yang ini." jujurnya sembari menunjuk dada Ruobin sebagai bentuk dari arti ucapannya.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo, kita datangi mereka. Aku akan ikut denganmu." lugas Ruobin.


"Baik. Mari kita pergi. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang ingin mereka perbuat dengan herbal-herbal itu. Kira-kira bisa di jadikan racun tidak, ya..." Rayan berseru dengan riang sambil berjalan dengan melompat-lompat kecil nan berirama.


Ruobin yang melihatnya hanya tersenyum. Dia ikut senang dengan keriangan sahabat manusianya itu.


Akhirnya, keduanya pun berjalan bersama dengan Rayan berada didepan. Mereka berjalan menuju ruangan tempat dua pelajar muda sebelumnya berada.



Pak!


Suara bantingan terdengar nyaring di dalam sebuah ruang. Beruntungnya, wadah yang dibanting tidak sampai pecah.


Seseorang yang sedikit menampilkan ekspresi was-was nan kaku itu memilih diam melihat temannya menunjukkan kekesalannya, karena kegagalan yang mereka alami untuk kesekian kalinya.


Dadanya sampai naik-turun akibat terlalu kesal.


"'E... T..Tan... Te..tenanglah... Ki..ki..kita masih bisa mencobanya lagi. Namanya juga ujian, guru tidak mungkin memberi tugas tanpa membuat kita berusaha. Lagipula kita masih memiliki persediaan herbal untuk percobaannya." Jun Jiu Han sangat berhati-hati dalam mengungkapkan apa yang ingin ia katakan. Tapi, responnya tetap mengerikan.


Wajah gelap bercampur merah dengan sorot mata berapi-api dilayangkan langsung oleh Hong Tan. Sepertinya, kekesalan pemuda itu sudah benar-benar mencapai puncaknya.


Sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, Jun Jiu Han berkata guna menyelamatkan diri.


"Baik-baik. Aku akan diam."


"Huh. Dia mengerikan saat marah. Ini membuat ku bertanya-tanya. Apa yang menjadikan ku begitu nyaman berteman dengannya?!" gumam batinnya.


__ADS_1


__ADS_2