3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MENANTIKAN


__ADS_3

Pertarungan kini menjadi lebih ganas dan sengit. Kedua belah pihak tak lagi menggunakan tangan kosong. Sekarang mereka mulai meningkat lebih. Masing-masing memiliki senjata andalannya ditangan mereka.


Reychu dengan 2 pedang bermata pendek, sedang Du Yu menggunakan pedang besar nan panjangnya.


Sekali lihat, siapapun bisa tahu kalau pedang yang ada pada Du Yu memiliki berat yang tak biasa. Bahkan bisa dikatakan, berat pada pedang itu seharusnya di gunakan oleh lelaki perkasa.


Meski begitu, Reychu tak sedikitpun merasa ciut ataupun takut. Dia justru semakin menggelora. Darah psikopatnya melonjak. Kilatan nafsu membunuh tak dapat dibendung lagi.


Rayan yang melihatnya tak bisa untuk tidak menyipitkan matanya kasihan pada lawan yang dihadapi sahabatnya itu. Sementara Ryura, yang ikut merasakan aura buas Reychu yang meningkat hanya membuka sedikit matanya untuk mengintip euforia yang ada di atas panggung arena.


Terlihat jelas bagaimana Reychu luar biasa bersemangat dalam kompetisi ini.


"Kenapa tidak dari awal saja..." girang Reychu berseru seraya menghentakkan kakinya maju untuk menyerang lebih dulu.


Dia bergerak sangat cepat.


Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Du Yu yang melihatnya sedikit terkejut, sampai-sampai ia nyaris menjadi sasaran pedang di tangan kiri Reychu kalau saja dia terlambat menahan serangan tiba-tiba lawannya.


Tang!


Pedang kiri Reychu tertahan oleh pedang besar milik lawannya, tapi pedang kanannya tidak.


Saat lawannya fokus pada menahan pedang kiri Reychu, dia sepertinya lupa kalau Reychu memiliki yang lain. Alhasil, tanpa jeda dengan mudah Reychu menggores perut Du Yu yang masih terlapisi pakaian. Namun sayangnya, pakaiannya harus ikut sobek karena sayatannya.


Du Yu terkejut bukan main. Ia tak menyangka akan melewatkan sesuatu hingga mengakibatkan perutnya terluka parah.


Terlihat darah mengalir tanpa aba-aba.


Perempuan itu segera mengambil langkah mundur beberapa langkah setelah perutnya di sayat oleh Reychu yang kini menampilkan cengiran lebarnya yang justru terlihat menakutkan. Apalagi, saat melihat mata pedang di tangan kanannya yang memiliki sisa darah yang tertinggal usai tadi ia menggorok dengan gilanya perut sang lawan.


Du Yu memegang lukanya dengan meringis dan tak percaya.


Yang ia tak menduga adalah tentang cara Reychu membalas serangannya dari awal. Setiap gerakan itu terlalu liar seperti melenceng dari gerakan yang biasanya di pelajari para seniman beladiri. Sampai secara tidak langsung, kemampuannya tak bisa ia gunakan untuk mengalahkan Reychu.


Tapi, dia jelas belum ingin menyerah meski kini hatinya agak ragu. Berpikir, bila Reychu bisa dengan mudah melukainya -seperti saat ini-, lalu bagaimana dengan yang berikutnya.


Setelah sejenak berpikir, Du Yu meraih keputusan yang mantap.


Mengingat kembali alasan ia datang ke kompetisi ini adalah untuk menunjukkan pada keluarganya, kalau perempuan juga bisa setangguh laki-laki.


Ia terlahir dengan karakter tomboi. Jelas, tak akan mudah untuk menjadi feminim disaat jati diri tidak mengarah kearah itu.


Karena itu, ia harus menyelesaikannya sampai tuntas.


Sambil menahan laju darah yang terus mengalir. Dengan satu tangan ia memegang pedang, mengambil kuda-kuda dan langsung melangkah maju kembali tanpa ragu.


Reychu di sisi berlawanan, menyanjung semangat lawannya yang pantang menyerah. Jadi, diapun membiarkan si lawan menyerangnya lebih dulu.


Jujur saja, ini sudah tidak menarik lagi. Reychu sudah kehilangan minatnya untuk bertarung. Alasannya sepele, baginya kalau lawan sudah berhasil ia lukai, maka kemungkinan besar lawannya akan berakhir mengenaskan ditangannya.


Reychu menghela nafas lesu.


Dia tak punya alasan kuat untuk membunuh lawannya, apalagi hanya karena kompetisi ini di biarkan bertarung sampai mati. Tetap saja, ia tak bisa membunuh tanpa alasan yang jelas. Terlebih, dia dan lawannya tidak saling kenal. Untuk membunuhnya di atas panggung arena benar-benar bukanlah sebuah alasan.


Karena itu, kali ini ia sudah menurunkan sedikit kekuatannya. Dia hanya akan mengalahkan lawan dan membiarkan ini berlalu begitu saja. Kemudian, menantikan lawan lainnya yang bisa menjatuhkannya.


Memikirkan itu, Reychu merasa kembali memiliki harapan untuk merasakan kekalahan.

__ADS_1


Jadilah...


Dengan terseok-seok Du Yu berusaha bertahan untuk terus menyerang. Paling tidak, meski kalah pada akhirnya itu bukanlah kekalahan yang memalukan. Sebagai seorang dengan jiwa petarung sejati, Du Yu lebih memilih kalah karena mendapatkan lawan yang lebih kuat daripada berhenti karena merasa tidak berdaya.


Keduanya kembali saling menyerang dengan Reychu yang cenderung memilih menghindar dari setiap serangan.


Ditengah-tengah pertarungan mereka, Du Yu yang tidak tahan melihat lawannya menghindar seolah dia membiarkannya untuk dapat mengalahkan lawan atau kata lain tampak seperti tengah merendahkan dirinya.


Du Yu yang merasa tersinggung, lantas berseru yang hanya bisa didengar oleh keduanya saja.


"Apa yang sedang kau lakukan? Jangan meremehkan ku hanya karena aku sudah terluka oleh mu!" geramnya.


Masih menghindar, Reychu yang mendengarnya malah menaikkan sebelah alisnya dengan santai.


"Kau terlalu banyak berpikir. Siapa juga yang berniat meremehkan mu?! Lagipula, aku begini karena sudah tak lagi bersemangat untuk bertarung dengan lawan seperti mu. Kondisi ini membuat ku bisa menebaknya dengan jelas... Pada siapa akhirnya kemenangan diraih." kalimat bernada enteng itu ia ucapkan seraya menghindari serangan lawan yang baginya bukanlah apa-apa.


Mengabaikan ekspresi jelek Du Yu yang merasa kalau gadis didepannya ini kelewat sombong, tapi disisi lain Du Yu menyetujui perkataannya mengenai pada siapa kemenangan itu akan diraih.


"Aku sudah tak memiliki minat untuk melawan mu. Kau masih kurang kuat. Lain kali, berlatihlah lebih banyak lagi. Kau masih lebih lemah dariku." mendengar itu, Du Yu tak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya.


Kata-kata Reychu lebih kepada menjengkelkan di telinganya daripada menyinggungnya.


Sampai beberapa saat kemudian, Du Yu ambruk dalam posisi berlutut. Ia sudah terlampau kelelahan tidak bisa memaksakan diri lebih jauh lagi. Sedang Reychu masih dengan santainya berdiri didepan lawannya seraya menatap lawannya dengan acuh tak acuh.


Kemudian, Reychu menunjuk Du Yu dengan pedangnya tepat di depan wajahnya. Du Yu mendongak dengan wajah pucat. Sepertinya, ia mulai kehabisan darah.


"Kau kalah! Karena aku baik, aku akan melepaskan mu. Tapi, kau tak perlu berterima kasih padaku hanya karena membiarkan mu tetap hidup. Kau tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang harus aku habisi. Jadi, bergembiralah." gamblangnya. Detik berikutnya, dia sadar atas apa yang ia lakukan pun berseru dengan bangga.


"Heh! Aku ini memang berhati baik!"


Keheningan aneh di Area Shaozu pun lambat-laun mulai diisi kembali dengan sorak-sorai. Meski sejujurnya para penonton masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


Di sana, Kaisar Agung Bai Gikwang sambil memejamkan mata erat dan menutup mulutnya dengan satu tangan dan tangan lainnya mencengkeraman lengan kursi dengan kuat sampai tubuhnya bergetar.


Ye Zi Xian yang melihat kelakuan aneh pria disampingnya hanya melirik pemuda di belakangnya yang sebelumnya dikatakan bermarga Ahn, marga yang sama dengan Ahn Reychu.


Menggerakkan dagunya kearah junjungan pemuda Ahn itu dengan sorot mata bertanya, 'apa yang terjadi padanya?'. Tapi, pemuda itu hanya mengedikan bahunya tanda tak tahu.


"Kau gila, Yang Mulia." celetuk Ye Zi Xian dengan berani.


Mendengar itu, Kaisar Agung Bai Gikwang sudah tak bisa menahan tawanya lagi. Seketika tawanya pun keluar, beberapa bangsawan lainnya melihat kearahnya dengan penuh tanda tanya. Tapi, si empunya tawa mengabaikannya.


Menoleh kearah Ye Zi Xian, lalu berkata. "Kau akan tertawa kalau mendengar apa yang dia katakan. Ini benar-benar menghibur! Hahaha..."


Ye Zi Xian yang tidak terlalu tertarik pada pertarungan Reychu, tidak berniat untuk tahu apa yang terjadi hingga bisa berakhir dengan begitu mudahnya. Karena faktanya, fokusnya bukan pada Reychu.


"Terserah kau saja!"


"Yang Mulia Kaisar Agung Bai. Anda tampaknya sangat menikmati acaranya." seru Kaisar Agung Qin merasa lega juga senang. Bagaimanapun, sejak awal ia sudah melihat ketidaksenangan pemuda yang berstatus sama dengannya itu.


Tentu saja, itu tidak baik menurutnya. Oleh karenanya, mendengar jawaban penguasa muda itu ia akhirnya merasa lega.


"Kau benar! Aku menikmatinya!" singkatnya.



Usai pertarungan Reychu dan Du Yu. Pertarungan berikutnya berlangsung dengan biasa saja. Tidak lebih meriah ataupun kurang meriah dari tahun sebelumnya.


Secara keseluruhan, tidak buruk.

__ADS_1


Nama demi nama di serukan dan mereka melakukan kompetisi tanpa jeda. Bukannya tak ada jam istirahat, tapi mengingat durasi kompetisi hari ini yang harus menyelesaikan 26 peserta dalam sehari. Membuat mereka tak berhenti.


Lagipula, para penonton tidak dilarang membawa makanan. Jadi, tidak ada alasan untuk menjeda. Begitu pula dengan para petinggi.


Terlebih malam akan datang, para penonton bisa menyerbu banyak makanan saat itu tiba.


Kompetisi berlangsung dengan seru dan menggugurkan satu persatu nama peserta serta menyisakan sisanya.


Pihak lawan Duan Xi pun sudah maju lebih dulu.


Perempuan itu menang. Duan Xi yang melihatnya, tahu kalau anak didik musuhnya kuat dan tak bisa diremehkan. Tapi, ia jelas yakin pada Ryura tak peduli apa.


Sampai pada dua undian terakhir, dimana sore telah datang.


"SELANJUTNYA! INI ADALAH PERTARUNGAN TERAKHIR! MARI KITA SAKSIKAN PERTARUNGAN SEKALIGUS PENUTUP KOMPETISI HARI INI...!!! INI DIA, TUAN NIE GASHUANG DAN NONA RYURA!!! BERIKAN TEPUK TANGAN MERIAH UNTUK KEDUANYA...!" seru sang pembawa acara.


Reychu dan Rayan kembali bersemangat begitu nama itu terdengar.


Menoleh kearah Ryura yang masih duduk tenang. Lalu, berkata dengan penuh semangat.


"Ryura, lakukan yang terbaik. 'Ah, tidak. Maksudku kau harus menang. Kalahkan pria itu..." kata Rayan mendukung.


"Benar! Kalau perlu habisi saja sekalian." timpal Reychu kemudian.


"Naiklah, murid ku. Kini giliran mu." seru Duan Xi disela-sela Reychu dan Rayan yang begitu bersemangat mendukung temannya.


Tanpa tergesa-gesa. Ryura membuka matanya dan diam sejenak sebelum bangkit dan berjalan kearah panggung arena dengan langkah santai.


Saat dia muncul, seketika Area Shaozu hening. Tak ada yang bisa mengartikan bagaimana bisa begitu. Tapi, dalam hati setiap penonton, mereka jelas akan keanehan yang muncul bersamaan dengan kemunculan Ryura.


Sebagian dari mereka yang memiliki kemampuan kultivasi mulai berbisik-bisik mengenai sesuatu yang aneh dalam diri Ryura, peserta terakhir ini.


Tak hanya dia, yang berada di bagian atas pun sampai mengerutkan kening serempak.


"Ini..." bingung Kaisar Agung Qin kala melihatnya. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya merasa gadis yang mulai mengambil posisi di atas panggung arena tampak tak biasa.


Sedang kedua pria bersahabat mulai mendekatkan wajah mereka dan berbisik.


"Dia tak memiliki aura, bukan?" tanya Kaisar Agung Bai memastikan.


"Sepertinya begitu." jawab Ye Zi Xian agak ragu.


"Dia tak biasa." perkataan itu disetujui oleh Ye Zi Xian.


Tak hanya mereka yang menonton, Nie Gashuang yang menjadi lawannya pun merasakan keanehan itu. Tanpa sadar, bulu kuduknya berdiri tiba-tiba. Tapi, tak ingin hal itu mengganggunya, diapun mengabaikannya.


"Ehem. Baiklah, mari kita mulai!" kikuk pembawa acara yang ikut merasakannya.


Kemunculan Ryura membawa kesenyapan yang tak biasa. Wajah datar nan kosong tak berekspresinya amat mengusik orang-orang yang melihatnya. Bagaimanapun, dia jelas berparas manis. Lalu, mengapa begitu terlihat tak bernyawa.


Belum lagi gerakannya yang santai dan tidak tergesa-gesa, Ryura juga tampak tak bisa diprediksi apakah dia mengikuti kompetisi ini dengan minat atau tidak.


Mereka hanya bisa bungkam dan membiarkan mata mereka menyaksikan apa yang akan terjadi setelah ini.



maafkan daku para pembaca tersayang.


ini dia. semoga kalian suka.

__ADS_1


__ADS_2