3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MALAM PERTAMA (BERSAMA)


__ADS_3

Setelah menyeret suaminya keluar dari ruang tengah, Rayan mulai mengomelinya.


"Mo Lan! Mulutmu sekarang semakin tajam, yaa... Kau belajar darimana, hm?!" tutur Rayan dengan menyeret nada geram campur gemas.


Mata melotot Rayan malah terlihat lucu dan menggemaskan di mata Shin Mo Lan hingga dia tak menggubris perkataan istrinya itu dan malah fokus pada ekspresi menggemaskan Rayan. Akibatnya, saat Rayan menunggu jawaban, Shin Mo Lan malah menarik wajah Rayan dan diciumnya dengan gemas.


Cup!


Cup!


Cup!


...


Ingin rasanya ia memakannya sekarang juga, pikir Shin Mo Lan.


Karena terkejut atas tindakan suaminya, Rayan terlambat merespon. Alhasil, saat akan bertindak Shin Mo Lan yang tampaknya tahu akan gerakan Rayan segera melepaskannya.


"Mo Laaaan...!" pekik Rayan dengan suara rendah dan tertahan. Dia belum hilang kewarasan untuk meneriakkan nama pria lain dirumah mertuanya, meskipun dia tahu nama siapa itu. Tapi, yang lain tidak tahu.


Kesal juga Rayan dibuatnya. Lagi serius-seriusnya dia berbicara, suaminya malah menerkamnya. Dia jadi yakin, bila saat ini sedang didalam kamar suaminya ini yang sah dimasa lalu tapi belum dimasa kini pasti tidak ragu untuk langsung memakannya hingga tak tersisa.


Sangat agresif.


Dia tahu itu dari dulu.


Beruntung mereka berada di tempat terbuka. Tapi, meskipun demikian tetap saja. Tampaknya, Shin Mo Lan benar-benar telah belajar banyak tentang gaya hidup zaman modern. Terutama tentang budaya berpacaran dan **** sebelum menikah. Buktinya sekarang, dia bisa dengan entengnya menciumnya di muka umum. Syukurlah tidak ada orang saat ini.


Tapi, sepertinya hal itu harus mengecewakan Rayan. Karena detik berikutnya, suara seseorang masuk menyela keduanya.


Dengan begitu, Rayan tak bisa menahan rona merah yang mencuat keluar dipermukaan wajahnya dengan tak wajar.


Sejujurnya, dia malu berat.


"Aku baru tahu kalau adik kedua ku ini bisa menjadi tidak tahu malu, yaa..." nyinyir Shin Da Zhuo begitu dia masuk yang ternyata malah menangkap pemandangan dimana adiknya terlihat menciumi wajah kekasihnya dengan menggebu-gebu.


Dari sudut pandangnya saat ini, sang adik terlihat seperti orang yang kelebihan nafsu. Disisi lain dia juga baru tahu kalau adiknya bisa begitu agresif pada orang yang dicintainya, ini membuatnya tak bisa menyamakan dengan sosok Shin Da Ming 10 tahun yang lalu.


Tapi, dia tak pernah berpikir kalau ada orang lain dalam tubuh adiknya selain berpikir kalau memang beginilah jati diri adiknya.


Rayan yang mendengarnya seraya ingin mencari tempat untuk mengubur dirinya sendiri. Tidak dengan Shin Mo Lan yang justru ingin memamerkannya.


Entah belajar dari mana sikap barunya ini.


"Oh, kakak pertama sudah pulang. Kau melihatnya, ya. Maaf, kak. Aku terlalu mencintai kekasih ku. Jadi, aku tidak tahan hanya melihatnya saja. Kau tidak merasa terganggu juga, kan?!" balas Shin Mo Lan dengan tenangnya tanpa malu-malu.


Rayan yang mendengarnya seperti ingin mengeplak kepala suaminya agar dia tidak secara terbuka membicarakan tentang mereka.

__ADS_1


"Pria ini... Aku harus tahu siapa yang mengajarinya menjadi seperti ini. Memang bagus, sih. Tapi... Aaaahhhhh..." batin Rayan menjerit-jerit jadinya.


Rayan ingat dengan jelas orang seperti apa Shin Mo Lan dulu. Dia tak menduga akan ada sedikit banyak perubahan dari sosoknya yang dulunya tenang dan damai menjadi acuh tak acuh dan agresif. Meskipun, yang terakhir memang sudah dimiliki sejak dulu. Tapi, dulu dia masih tahu tempat. Tidak dengan yang sekarang.


Dimana dia mau, dia tidak ragu menyerang.


Sungguh sudah hilang urat malunya.


Rayan bergidik memikirkan betapa tergila-gilanya Shin Mo Lan padanya. Meskipun, dia tidak menampik kalau dia menyukainya.


"Maaf, mengecewakanmu. Sayangnya, aku tidak tertarik." jawab Shin Da Zhuo datar.


Shin Mo Lan memberinya tatapan kasihan sambil berkata. "Kak, lain kali jangan mengucapkan kalimat itu sebagai jawaban saat ada pertanyaan terkait atau orang lain akan berpikir kau... Belok."


Dibawah tatapan tercengang sang kakak, Shin Mo Lan langsung menarik Rayan pergi untuk mengikutinya mencari tempat yang lebih nyaman untuk berduaan. Tanpa peduli kalau dia baru saja menyulut api pada seseorang.


Saat tersadar kembali, lawan bicaranya sudah menghilang. Dengan emosi yang menumpuk Shin Da Zhuo menggemakan nama adiknya hingga nyaris memenuhi seluruh rumah.


"SHIN! DA! MING!"


Cuit... Cuit... Cuit...


Burung-burung yang bertengger di pohon dekat jendela langsung terbang berhamburan ke segala arah.


Diruang tengah para anggota keluarga juga dikagetkan dengan suaranya, belum lagi para pekerja. Mereka sampai menghentikan sejenak kegiatan mereka lantaran tersentak kaget.


Meski begitu, mereka nyatanya tidak merasa asing dengan kejadian tersebut. Sebab, faktanya ini bukan kali pertama sang Tuan Muda pertama menggemakan nama adiknya dengan begitu keras dan penuh emosi.



Kini kedua pasangan Bai Gikwang dan Reychu tengah menikmati makan malam setelah beberapa saat lalu kepala pelayan memanggil mereka untuk makan.


Dimeja makan, Bai Gikwang dan Reychu duduk berhadapan.


"Kau suka makanannya? Aku sudah memberitahukan koki rumah tangga tentang makanan kesukaan mu. Tapi, aku masih ingin tahu apakah ada yang lain." tanya Bai Gikwang disela-sela kegiatan makannya.


"Ini baik. Enak. Aku tidak pilih-pilih juga. Santai saja. Cukup dengan tidak menaruh racun saja, semua baik-baik saja." Reychu menjawab dengan asal-asalan karena fokusnya saat ini ada di menu makanan yang sedang dimakannya.


Sebab, meski Reychu bilang dia tidak pilih-pilih, nyatanya dia melahap semuanya tanpa ragu sambil sesekali mengangguk seolah mengomentari bahwa makanan itu enak di lidahnya tanpa bersuara sedikit pun.


Bai Gikwang diseberang sambil menopang dagunya dengan telapak tangan, dia menatap kekasihnya sekaligus calon istrinya dengan khidmat. Meskipun cara makannya tidak ada anggun-anggunnya, Bai Gikwang tetap menyukainya. Dia sampai senyum-senyum sendiri dibuatnya tanpa melepas pandangan dari sosok Reychu yang makan bak orang kelaparan.


Bai Gikwang pikir, mungkin karena Reychu sudah 3 bulan tertidur sehingga dia benar-benar lapar.


"Hati-hati. Nanti kau tersedak. Makan perlahan, kau tidak akan kekurangan. Kau masih bisa meminta koki rumah tangga untuk membuatnya lagi kalau kau mau, sayang." jelas Bai Gikwang penuh perhatian.


"Tentu, aku tahu. Sejak aku masuk ke rumahmu. Aku tidak berpikir untuk sungkan lagi. Ini juga rumahku, kan. Maka, jadilah itu." balas Reychu tanpa ragu. Dia benar-benar mampu membuat orang tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Mungkin bisa dikatakan, kalau dia adalah satu banding sejuta dari orang-orang yang tidak kelewat mudah dan tak ragu-ragu hingga rasanya tidak tahu malu mengklaim sesuatu milik orang lain sebagai miliknya meskipun sudah disebutkan begitu.


Ini membuat orang berpikir bahwa bila seorang Reychu bertamu dan tuan rumah berkata 'anggaplah rumah sendiri' bisa bayangkan setelahnya...


Kurang lebih seperti itu...


Bai Gikwang saja sampai bingung bagaimana membalasnya. Karena, meski cara penyampaiannya terkesan tak tahu malu. Apa yang dikatakan Reychu benar adanya. Ini rumah masa depan mereka berdua. Saat Reychu sudah menginjakkan kakinya disini, maka dia sudah menjadi bagian darinya.


"Baiklah. Makanlah yang banyak kalau begitu. Agar gizi mu terpenuhi. Jadi, begitu kita menikah dan siap dengan program kehamilan. Bayi kita tidak akan kekurangan asupan." Bai Gikwang berbicara dengan keyakinan dan Reychu hanya mengangguk-angguk saja tanpa menghentikan kegiatan makannya.


"Setelah ini, apa kau mau berkeliling? Sekalian membantu lambung mu mencerna makanan." ajak Bai Gikwang yang pada dasarnya, dia sendiri yang tidak sabar untuk menunjukkan kondisi rumah mereka pada Reychu terutama jumlah kamar calon anak-anak mereka.


"Oke. Aku juga ingin tahu seluruhnya, agar bisa beradaptasi lebih awal. Eh! Aku sudah bisa tinggal disini mulai malam ini kan?"


"Tentu saja. Aku membawamu kemari memang itu tujuannya."


"Bagus kalau begitu. Soalnya, aku mau pamer pada yang lain. Akan aku buat mereka iri. Hahaha... Huk!" Reychu nyaris tersedak saat dia tertawa dengan mulut penuh makanan.


"Hati-hati, sayang..." peringatan kekasihnya untuk sekian kalinya seraya menyodorkan air mineral untuk membantu menenangkan. Mirip seperti merawat anak kecil.


Reychu menerima air mineral itu dan menenggaknya segera sebelum akhirnya tenggorokannya lega.


"Aku terlalu bersemangat. Hahahaha..." masih saja...


Kembali ke topik sebelumnya. "Kupikir mereka tidak akan merasa iri saat kau memamerkan rumah kita pada mereka." pendapat Bai Gikwang sambil bergerak guna mulai makan, tapi masih sesekali memandangi Reychu yang tengah makan.


"Kenapa?" tanya Reychu ingin tahu.


"Mereka juga pasti menempati rumah baru mereka. Shin Mo Lan dan Ye Zi Xian juga mempersiapkan rumah untuk keluarga kecil mereka setelah bertemu kembali. Jadi, aku pikir rumah mereka harus cukup bagus untuk tidak sampai merasa iri pada milik orang lain." jelas Bai Gikwang sebelum menyuapi dirinya sendiri dengan sesuap nasi.


"Begitu kah?!" Bai Gikwang mengangguk membenarkan.


"Hmm..."


Berpikir sejenak, Reychu kembali berujar seperti sudah mendapatkan pencerahan. "Tidak apa-apa. Aku yakin model rumahnya berbeda. Kami bisa bersaing untuk menunjukkan rumah siapa yang paling bagus. Hahaha..." lagi-lagi...


Kwak...Kwak...Kwak...


Bai Gikwang berkedip tak tahu harus berkata apa lagi. Alhasil, dia hanya mengedikkan bahunya acuh dan membiarkan saja kekasihnya mau berbuat apa.


"Ya, sudah. Terserah padamu saja."


"Thank you, Honey!"


"You are welcome, Sweet heart!"


Mereka pun segera menyelesaikan makan malam sebelum mulai menjelajahi seisi rumah.

__ADS_1



❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2